Kamis, 18 Januari 2018

Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah

Sebagian orang yang bangga atas amal ibadahnya. Mereka sangat percaya diri dengan amal ibadahnya sehingga tidak berhajat lagi kepada Allah. Tetapi ada sebagian manusia yang kehilangan harga diri di hadapan Allah karena terperosok ke satu lubang dosa. Ia kemudian berusaha bangkit dari keterpurukannya itu dengan memohon ampunan-Nya dan berusaha memperbaiki diri serta menyadari dirinya sebagai manusia adalah makhluk yang dhaif di hadapan kuasa Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Kerapkali Allah membuka pintu ketaatan untukmu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaannya. Namun terkadang Dia menakdirkanmu sebuah dosa, dan itu menjadi wasilahmu sampai ke hadirat-Nya.”

Muhammadiyah Asli

Bagaimana maksud hikmah dari Syekh Ibnu Athaillah ini? Syekh Syarqawi mencoba memahami catatan Syekh Ibnu Athaillah dengan uraian berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammadiyah Asli

Artinya, “Itu terjadi karena ketaatan kita kerapkali disertai dengan bencana yang mencederai keikhlasan seperti takjub atas amal, pengandalan amal, perendahan (dalam hati) terhadap orang yang tidak mengamalkan ketaatan itu. Ini mencegah penerimaan amal. Sementara dosa seseorang yang disertai dengan penyandaran diri dan permohonan ampunan kepada Allah, perendahan terhadap diri sendiri, dan penghormatan terhadap mereka yang tidak melakukannya, menjadi sebab datangnya maghfirah dan wasilahnya sampai ke hadirat-Allah,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihaya’il Kutubil Arabiyah, juz I, halaman 72).

Bagi Syekh Syarqawi, amal ibadah bukan sekadar lahir. Amal ibadah mencakup lahir dan batin. Artinya, ketika seseorang melakukan shalat, puasa, zakat, haji, atau umrah, maka batinnya juga harus ikut beribadah dalam bentuk penahanan diri dari sifat tercela yaitu ujub, tinggi hati, dan merendahkan orang lain yang tidak mengamalkan ibadah itu. Orang yang beribadah secara lahiriyah saja belum sampai kepada Allah seperti keterangan Syekh Zarruq berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi saya, amal ketaatan itu adalah sebuah anugerah Allah. Sedangkan penolakan Allah atas amal itu adalah bentuk penahanan-Nya yang disertai anugerah. Tetapi anugerah yang disertai penolakan berubah menjadi penahanan karena apalah artinya sebuah amal ketaatan tanpa penerimaan?” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 96).

Di sisi lain, kejatuhan seseorang pada sebuah kesalahan dan maksiat yang membuatnya tak percaya diri di hadapan Allah dan membuatnya berhenti dari penghinaan terhadap orang lain, membuka jalan baru baginya untuk sampai kepada Allah sebagaimana disinggung Syekh Burhanuddin Al-Hanafi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Lebih dari itu, Allah menakdirkanmu sebuah dosa dan menjadikannya sebagai wasilah bagimu untuk sampai di hadirat-Nya karena kesombongan dan pamer orang yang beramal kepada Allah, kefakiran orang yang bermaksiat dan perendahan diri di hadapan-Nya. pasalnya, mahar atas penampakan pengantin-pengantin perawan itu adalah kefakiran, kerendahan, dan tak punya kepercayaan diri (di hadapan-Nya). Renungkanlah bagian ini,” (Lihat Syekh Burhanuddin Al-Hanafi As-Syadzili, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 77).

Penting untuk dicatat bahwa uraian ini jangan dipahami sebagai anjuran untuk berhenti beribadah secara lahiriah atau anjuran untuk berbuat dosa. Uraian ini merupakan buah perenungan Syekh Ibnu Athaillah sebagai koreksi atas sebagian dari kita yang tidak lagi membutuhkan rahmat Allah dan menjadi tinggi hati bahkan cenderung memandang rendah mereka yang tidak beramal seperti kita.

Pada hikmah ini Syekh Ibnu Athaillah mendorong kita untuk menyempurnakan ibadah lahir dengan ibadah batin. Murid Syekh Abul Abbas Al-Mursi ini mengajak kita semua untuk merendahkan diri di hadapan Allah, memperbaiki diri, menghargai orang lain, dan memandang mereka dengan pandangan rahmat. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Sejarah Muhammadiyah Asli

Ini adalah web log Muhammadiyah Asli. Ini Jalan Tak Terduga Menuju Allah Menurut Ibnu Athaillah di Muhammadiyah Asli ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock