Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA

KH Achmad Syaichu dilahirkan di daerah Ampel, Surabaya, pada hari Selasa Wage, 29 Juni 1921. Ia adalah putra bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Chamid dan Ny. Hj. Fatimah. Pada usia 2 tahun ia sudah yatim, ditinggal wafat ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Achmad Syaichu bersama kakaknya, Achmad Rifai, diasuh ibunya.

Untuk memperoleh pendidikan agama, Syaichu belajar kepada K. Said, guru mengaji bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Pada usia 7 tahun ia sudah mengkhatamkan Al-Quran 30 Juz. Selain belajar agama, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, sebuah sekolah yang dikelola Muhammadiyah. Tak lama belajar di sekolah ini, oleh H. Abdul Manan, ayah tirinya, dipindahkan ke Madrasah Taswirul Afkar. Lembaga pendidikan ini didirikan KH Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur, dan KH Dachlan Achyat. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal-bakal Nahdlatul Ulama.

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA

Untuk membantu meringankan beban ibunya yang harus menghidupi putra-putranya, setelah H. Abdul Manan wafat, pada usia kanak-kanak Syaichu sudah sudah mulai bekerja di perusahaan sepatu milik, Mohammad Zein bin H. Syukur. Dan terpaksa untuk beberapa lama ia tidak melanjutkan sekolah.

Muhammadiyah Asli

Syaichu kembali kebangku sekolah sesudah selama dua tahun bekerja dan memiliki bekal yang relatif cukup. Ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Sambil belajar, ia kembali bekerja pada seorang tukang jahit kenamaan di Pacar Keling, Mohamad Yasin. Di Nahdlatul Wathan ia dibimbing seorang guru yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangannya yaitu KH Abdullah Ubaid. Selain itu ia juga berguru kepada KH Ghufron untuk belajar ilmu Fiqh.

Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Ny. Fatimah yang sudah dua kali menjanda diperistri KH Abdul Wahab Chasbullah. Di bawah bimbingan ayah tirinya itulah Syaichu berkembang menjadi pemuda yang menonjol. Kepemimpinannya mulai tumbuh.

Muhammadiyah Asli

Sekolah sambil bekerja seolah-olah menjadi pola hidup pemuda Syaichu. Setamat dari Nadlatul Wathan, ia kembali bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut. Selama bekerja dibengkel itu, ia melakukan kegiatan dakwah di lingkungan kawan-kawan sekerja.

Setahun kemudian, 1938, KH Abdul Wahab Chasbullah mengirimkan Syaichu ke Pesantren Al-Hidayah, Lasem asuhan KH Mashum. Selama di pesantren ini, ia menjadi santri kesayangan Mbah Mashum. Sesudah 3 tahun belajar di Lasem, ia terpaksa harus boyong ke Surabaya, karena ia terserang penyakit tipes (typus) yang cukup serius.

Pada tanggal 5 Januari 1945, pada usia 24 tahun, Syaichu mempersunting Solchah, putri Mohamad Yasin, penjahit kondang asal Pacar Keling yang pernah menjadi majikannya. Sesudah berkeluarga, ia membuka home industry sepatu di rumahnya, dengan 15 orang karyawan.

Ketika terjadi penyerbuan tentara Sekutu ke kota Surabaya, ia bersama istrinya mengungsi ke Bangil. Pada tahun 1948, sesudah Surabaya kembali aman, ia pulang ke kota kelahirannya. Mulailah ia terjun sebagai sebagai pengajar di Madrasah NU. Di samping mengajar, ia juga menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan. Itulah awal mula Syaichu mulai terlibat di organisasi NU.

Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya periode 1948-1950, ia ditunjuk sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum (Tanfidziyah), bersama KH. Thohir Bakri, KH. Thohir Syamsuddin dan KH. A. Fattah Yasin. Karier Syaichu di organisasi terus menanjak dengan cepat. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Kota Besar Surabaya.

Awal tahun 1950-an ia mendaftarkan diri menjadi pegawai pemerintah dan bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala. Baru setahun di Pengadilan Agama, ia pindah ke Kantor Agama Kotapraja Surabaya.

Pada tahun 1953, Syaichu terpilih menjadi ketua LAPANU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Dan pada pemilu 1955, ia diangkat menjadi anggota DPR dari Fraksi NU, dan pada tanggal 25 November 1958 ia ditunjuk sebagai Ketua Fraksi NU. Dalam kurun waktu 15 tahun sejak ia menjadi anggota DPRDS di Surabaya, akhirnya ia mencapai puncak karir di gelanggang politik, dengan menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966. Di NU sendiri ia pernah menjadi salah seorang ketua PBNU, sampai tahun 1979 (ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang).

Kepemimpinan dan ketokohan KH. Achmad Syaichu tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga sampai ke level internasional. Pengakuan itu terbukti dengan dipilihnya KH. Achmad Syaichu sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) dalam konferensinya yang pertama di Bandung, tanggal 6-14 Maret 1965. KH. Achmad Syaichu yang di kenal sebagai pengagum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu berhasil mengembangkan misi dakwah Islamiyah dan misi perjuangan bangsa Indonesia dalam pentas politik internasional.

Sekian lama KH. Achmad Syaichu menekuni dunia politik, tak menyurutkan perhatian dan minatnya dalam dunia dakwah Islamiyah. Malahan semangat mengembangkan dakwah Islamiyah itulah yang dijadikan motivasi dalam keterlibatannya di pentas politik. Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, ia mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkannya menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren.

Pesantren Al-Hamidiyah yang kini berdiri cukup megah di daerah Depok, merupakan saksi bisu yang menunjukkan betapa besar dan luhurnya cita-cita yang dikandung KH. Achmad Syaichu. Dari pesantren juga berakhir di pesantren. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, RMI NU, Internasional Muhammadiyah Asli

Rabu, 07 Februari 2018

KH Abdullah Sattar: NU Benteng Indonesia

Sumenep, Muhammadiyah Asli. Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dan kontribusi besar terhadap Indonesia. Dengan luasnya jaringan pesantren yang dimiliki, NU menjadi benteng negeri ini, khususnya dari dekadensi moral.

KH Abdullah Sattar: NU Benteng Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdullah Sattar: NU Benteng Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdullah Sattar: NU Benteng Indonesia

"Andai tak ada pesantren dan Nahdlatul Ulama, Indonesia rusak," papar KH. Abdullah Sattar saat memberikan ceramah pada Haflatul Imtihan Yayasan Nurul Huda, Ging-Ging, Bluto, Sumenep, Rabu (29/7) kemarin.

Sementara kekuatan NU, menurut dai asal Lumajang itu, ada di Jawa Timur. Sunan tertua ada di Jawa Timur, yaitu Sunan Ampel.

"Jawa Timur bergolak, Indonesia akan bergolak. Tapi luar Jawa Timur bergolak seperti di Papua beberapa hari lalu, Jawa Timur tetap adem ayem (damai)," paparnya.

Muhammadiyah Asli

Ia juga mencontohkan, di Banten banyak kiai, tapi tak sesakral ulama di Jawa Timur. "Jawa Timur menjadi rujukan ulama Indonesia," tuturnya.

Muhammadiyah Asli

Sedangkan kekuatan NU di Jawa Timur ada di Madura. Bahkan, proklamator dan presiden pertama RI Soekarno, juga pernah belajar ke Madura.

"Bung Karno pernah nyantri ke K. Khalil (Bangkalan). K. Khalil pencetak NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), ungkapnya.

Bahkan, menurut penuturan cucu K. Khalil kepada dirinya, keris Bung Karno yang konon katanya tak mampu diangkat ribuan orang Belanda adalah pemberian K. Khalil Bangkalan. (M. Kamil Akhyari/Anam)

Foto: KH. Abdullah Sattar memberikan ceramah pada Haflatul Imtihan Yayasan Nurul Huda, Ging-Ging, Bluto, Sumenep, Rabu (29/7).

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Kyai, Hadits Muhammadiyah Asli

Rabu, 24 Januari 2018

IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pelatihan Protokoler

Probolinggo, Muhammadiyah Asli - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nadlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo menggelar pelatihan protokoler, Sabtu (26/11) sore. Pihak pengurus IPNU-IPPNU berharap pelatihan ini dapat memaksimalkan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan pelajar NU.

Kegiatan yang dilaksanakan di aula di Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces ini diikuti oleh para pengurus IPNU-IPPNU se-Kabupaten Probolinggo. Sebagai narasumber hadir Kasubbag Protokol Pemkab Probolinggo Hermanto.

IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pelatihan Protokoler (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pelatihan Protokoler (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pelatihan Protokoler

Ketua IPPNU Probolinggo Nur Hakimah Ismawati mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mencetak kader yang ahli dalam bidang keprotokoleran. Sebab saat ini keprotokoleran sudah tidak bisa dipisahkan dari setiap kehidupan.

“Sebuah acara jika tidak didukung dengan keprotokoleran yang baik, maka acara tersebut terasa kurang begitu sempurna. Karena seorang protokol harus mampu mengatur sebuah acara dengan baik. Tetapi tidak semua orang bisa tanpa adanya penguasaan teknik-teknik keprotokoleran,” katanya.

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Menurut Isma, penguasaan bidang keprotokoleran sangat dibutuhkan, terutama oleh kader IPNU-IPPNU yang notabene selalu bergelut dengan berbagai macam kegiatan. Hal ini dikarenakan seorang protokol tidak hanya fokus membawakan acara seremonial, tetapi mengatur kegiatan secara keseluruhan.

“Dengan adanya pelatihan ini kami mengharapkan agar ke depan tumbuh dan muncul kader-kader IPNU-IPPNU yang ahli di bidang keprotokoleran sehingga bisa mengisi di acara-acara NU, banom NU serta khususnya di IPNU-IPPNU sendiri,” pungkasnya.

Dalam kesempatan ini para pengurus IPNU-IPPNU tersebut diberikan teknik-teknik menjadi seorang protokol yang baik dalam sebuah kegiatan oleh Hermanto. Mereka diberi pemahaman apa saja yang harus dilakukan agar sebuah acara dapat berjalan dengan baik. Karena kuncinya ada di seorang protokol. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nasional, Kajian, Makam Muhammadiyah Asli

Selasa, 16 Januari 2018

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri

Kediri, Muhammadiyah Asli

Ahad pagi (16/10), Tim Kirab Resolusi Jihad 2016 berkesempatan berziarah ke? makam para pendiri dan sesepuh Pondok Pesantren Lirboyo di Jalan KH Abdul Karim, Lirboyo, Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Upacara penyambutan dihelat setelahnya.

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri

Salah seorang pengasuh Pesantren Lirboyo KH Muhammad Anwar Manshur berkenan memberikan sambutan. Ia menyemangati dan mendoakan Tim agar perjalanan kirab menjadi bentuk amal saleh.

Kiai Anwar lalu menceritakan, santri Lirboyo tidak lepas dari perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia. Pada masa Resolusi Jihad tahun 1945, banyak santri Lirboyo diberangkatkan ke Surabaya dan lama bertahan di sana.

Muhammadiyah Asli

Setelah masa Resolusi Jihad usai, para santri dan kiai kembali ke pondok pesantren. Hal itu sebagai tanggung jawab membina masyarakat lewat jalur agama. Kiai Anwar berpesan agar semangat perjuangan para santri dapat diteruskan.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar menyampaikan apresiasi dengan adanya kegiatan Kirab Resolusi Jihad. Menurutnya, pelaksanaan kirab juga menjadi torehan sejarah yang positif bagi Kediri dan NU.

Terkait dengan peringatan Hari Santri yang di dalamnya akan dilakukan pembacaan satu miliar shalawat Nariyah, ia menyampaikan sangat terkesan. Menurutnya, baru NU-lah yang berinisiatif seperti itu.

"Saya bayangkan satu miliar itu bukan jumlah yang sedikit. Jadi saya kaget sekali," ujarnya.

Ia berharap, dengan pembacaan satu miliar shalawat Nariyah akan membantu Indonesia dari berbagai persoalan yang melanda dewasa ini. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Ubudiyah Muhammadiyah Asli

Selasa, 09 Januari 2018

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis

Jember, Muhammadiyah Asli. Santri adalah manusia biasa. Karena itu, santri tidak boleh hanya terpaku pada pengabdiannya di bidang dakwah dan ilmu agama. Santri juga harus pandai mencari celah berwirausaha, sehingga perlu belajar bagaimana berwira usaha yang baik. 

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis

Demikian dikatakan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat membuka Workshop Santri Enterpreneur di pesantren Nuris, Antirogo Jember, Rabu malam (7/4). 

Menurut Kiai Muhyiddin, santri yang menjadi pengusaha atau pengusaha yang santri, mempunyai nilai lebih dan membanggakan. 

Muhammadiyah Asli

“Kalau bukan santri jadi pengusaha itu sudah biasa, tapi kalau santri itu luar biasa,” jelasnya.

Kiai Muhyiddin menambahkan, pesantren dan NU perlu mendorong santri agar mempunyai semangat dan keterampilan untuk berwirausaha. Saat ini, katanya, ketrampilan berwirausaha menjadi tuntutan yang tidak bisa dielakkan, lebih-lebih lapangan kerja begitu sulit. 

Muhammadiyah Asli

“Harapan kita, santri kelak tidak menggantungkan rezeki kepada orang lain kalau bisa mandiri dan berwirausaha,” lanjutnya sambil menambahkan bahwa para kiai tidak sedikit yang sukses usahanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) Jember, M. Ya’la yang menjadi narasumber menegaskan bahwa, saat ini peluang santri untuk berbisnis dan berwirausaha terbuka lebar.  Zaman semakin maju, semakin banyak peluang bisnis yang bisa dilakukan. Karena itu, katanya, santri harus peka terhadap peluang pelaung yang ada. 

“Untuk tahap awal, tidak usah besar-besar, berusaha kecil-kecilan juga bisa asalkan prospektif,” tuturnya.

Workshop tersebut mendapat perhatian dari santri. Buktinya, sekitar 400 santri putra dan putri hadir memenuhi aula pondok putri Nuris. Workshop itu sendiri digelar hasil kerjasama antara RMI Cabang Jember dan Hipsi serta pesantren Nuris.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq  

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, IMNU, Olahraga Muhammadiyah Asli

Minggu, 07 Januari 2018

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD

Sukabumi, Muhammadiyah Asli. Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Simpenan dan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi berupaya berperan di tengah-tengah masyarakat baik secara jam’iyah maupun jama’ah. Untuk peran tersebut, GP Ansor perlu meningkatkan kapasitas dan kreativitas pemuda, salah satunya melalui Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD).

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD

Dua GP Ansor yang bertetangga tersebut menggelar PKD untuk pertama kalinyaa di Pondok Pesantren Al-Hidayah Kampung Cihurang RT 3/8, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan pada (25/2) dengan tema Membentuk Pemuda Ansor yang Cerdas demi Kokohnya Persatuan Kebangsaan.?

Menurut Ketua PAC GP Ansor Simpenan Tendi Satriadji berharap kegiatan itu menjadi titik awal kemajuan GP Ansor Kecamatan Simpenan dan Palabuhan Ratu dan bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi PAC lainnya.?

Saat ini, kata dia, di Simpenan dan Palabuhanratu, pemuda dari mulai berumur 17 tahun sudah mulai jauh dari pondok pesantren sehingga membaca dan memahami Al-Qur’an sangat rendah. Tak hanya itu, kepedulian mereka terhadap kegiatan hari hari besar keagamaan sangat minim.

Muhammadiyah Asli

“Kami sangat khawatir moral dan paradigmanya ini bisa terpengaruh dan terpancing dengan isu-isu yang berbau SARA dan menebar konflik mengatasnamakan Islam,” katanya kepada Muhammadiyah Asli, Jumat (3/3).

Berdasarkan kehawatiran ini, lanjutnya, sehingga kami mengambil sikap untuk meraih para pemuda dengan cara mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar ? yang ? dalam AD/ART Organisasi, yaitu sebagai tujuan organisasi menegakan ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Kajian, Fragmen Muhammadiyah Asli

Jumat, 22 Desember 2017

Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah

Mekkah, Muhammadiyah Asli. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari berbagai negara menggelar acara Silaturrahim dan Musyawarah di Rubath Jawa yang terletak di distrik Misfalah, Kota Mekkah, Arab Saudi. Musyawarah antara lain membahas rencana pelaksanaan Konferensi Internasional NU.

Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah

Kegiatan yang digelar Kamis (30/10) malam lalu merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan bertepatan dengan musim haji. Hadir perwakilan PCINU dari berbagai negara, antara lain, Ahmad Fuad Abd Wahab (Ketua Tanfidziyah PCINU Arab Saudi), Miftakhul Munif (Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan), Landy T. Abdurrahman (Ketua tanfidziyah PCINU Mesir), Muhammad Taqi (PCINU Syiria), La Ressa Beddu Kulasse (PCINU Lebanon), Rifqi Maula (Sekretaris PCINU Maroko dan  juga ketua PPI Maroko).

Silaturrahim ini  juga dihadiri berbagai pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu di negara-negara Timur Tengah dan dari Kota Mekkah sendiri. Tampak kader-kader GP Ansor dari Kota Jeddah juga turut menghadiri acara.

Muhammadiyah Asli

Selain menjadi ajang ramah-tamah dan sambung rasa antar pelajar, aktivis dan pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama dari berbagai negara, forum  ini juga membahas hasil Konferensi Internasional NU yang telah digelar di Istanbul, Turki (18-19 Mei 2014) tentang optimalisasi Forkor PCINU LN (Forum Koordinasi Pengurus Cabang Istimewa NU Luar Negeri) sebagai wadah diskusi online antar pengurus dan tentang lokasi Konferensi Internasional selanjutnya tahun 2015 yang diusulkan dengan pilihan lokasi, Eropa di Jerman, Timur Tengah di Mesir atau Asia di Jepang.

Muhammadiyah Asli

Dengan berbagai pertimbangan terutama visa sebagai syarat utama masuk negara lain. Forum musyawarah merekomendasikan lokasi Konferensi Internasional PCINU Luar Negeri yang rencananya akan digelar di medio antara Mei atau Juni tahun 2015 untuk digelar di Jepang.

Yang tak kalah penting, menyikapi berbagai gerakan radikal yang mewabah di negara-negara timur tengah dan upaya mengcounter paham-paham radikal untuk tidak berkembang luas. dalam forum ini, PCINU Mesir mengemukakan pembuatan Jurnal Ilmiah dengan topik Deradikalisasi Agama yang ditulis dengan tiga bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pengurus yang hadir dan berkompeten dalam masalah ini bersedia akan menyumbangkan karya ilmiahnya. Dalam hal ini, PCINU Mesir menyatakan kesanggupan untuk menjadi penanggung jawab dalam proses terbit dan publikasi.

Usai musyawarah, acara dilanjutkan dengan pemberian ijazah sanad Asmaul-Husna, ijazah sanad Al-Quranul-Karim dan doa penutup oleh Syekh KH Jamhuri Al-Banjari Al-Makky yang merupakan salah satu Ulama Kota Makkah asal Indonesia. (Ridho El-Qudsy/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Halaqoh, Ubudiyah, Kajian Muhammadiyah Asli

Kamis, 14 Desember 2017

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Oleh Irfan Nuruddin

---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni Pondok? Langitan, perihal sosok Jokowi,? bagaimana keislamannya dan kiprah dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.

Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu shohih, tsiqoh, aku iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?

Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari sumber yang tsiqoh, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang aku tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor Jokowi.

Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi di Mata Kiai Lokal

“Pak, keislaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya keislaman Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad? 22 Juni di ndalem beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.

? “Islam-imanipun Jokowi miturut kulo sae, saestu sae (baik, benar-benar baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq, (Pengasuh PP Al Muayyad).

Muhammadiyah Asli

Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena beberapa anggotanya sama mencalonkan dirimenjadi Wali Kota, Pak Jokowi sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat, adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil mantu oleh orang-orang? yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak tho Gus?” jawab beliau lugas.

? ? “Tapi kulo gih tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain, hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe… Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau sengau menahan isak.

Muhammadiyah Asli

Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan pertanyaan rasanya tidak mampu.Terbawa suasana yang tiba-tiba mengiris-ngiris kalbu.

? “Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus, bacaannya tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan seperti itu menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi kafir?” Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.

Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut. Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih masih dan dasyhat, sehingga pada waktu ? Jokowi sowan ke Pak Dul Kareem (begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti itu, tetapi menawi kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir, nasrani,… kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau ibu saya yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),”? kata Jokowi ditrukan Pak Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.

Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur, setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin. Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN dan PKS-mambu-mambu sitik (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).

Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga kebijakannya, terutamapada umat Islam?”

? “Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat Islam subtantif Gus, tur yo merakyat tenan, umat Islam di Solo itu kan mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi ? Pak Jokowi untuk mengangkat ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional, minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada lagi,jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.

Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan? dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil di sekitarnya.

? “Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar untukmenghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak ? salah untuk berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan marak… podo ditumpakke? jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek Wali Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa dihargai),” ? cerita PakDul Kareem panjang lebar.

Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan semrawut, dan? sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal Ahbabul Musthofa saat ini.

Solo saat ini jadi lebih hijau dhohiron wa bathinan, peringatan hari besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir dan mengkhatamkan Al Qur’an.

? “Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, kulo ngiro niku isinya arto Gus, tapi jebule stiker (saya kira isinya uang, tapi sertanya isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua Selamat Dunia Akhirat.”

Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000 stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang puluhan juta. Jebule cuma stiker.

Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi adalah salah satu pembinanya.

? “Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados ketua PCNU Solo, jadi gih saget bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem dengan antusias.

? “Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu juga kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca yang di depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal untuk hal seperti itu, nyuruh ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat ketika Jokowi ngangkati gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam pembukaan apa itu, aku lupa.

? Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya dari keluarga muslim yang baik, ? yang juga telah melakukan rukun Islam kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta, dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu, Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya. ? Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah ? “Akulah yang paling Islam, Akulah yang paling benar” yang lain KW.

Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak Dul Kareem dalam ranah politik dia.

“Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan hanya bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan saya dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah kulo yang salah, kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan sampluk. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.

Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan, dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.

Wallohu a’lam bisshowab.

Irfan Nuruddin, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara, Kajian Muhammadiyah Asli

Selasa, 05 Desember 2017

Kitab Sirajut Thalibin Dibajak

Jakarta, Muhammadiyah Asli

Salah satu kitab kuning karya ulama besar Nusantara Syekh KH Ihsan bin Dahlan dari Jampes Kediri, Sirajut Thalibin, dibajak oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut, Lebanon. Nama pengarangnya diganti syekh Ahmad Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi.

Penggantian nama pengarang ini kemungkinan karena kesalahan dari penerbit. Namun bisa jadi disengaja karena nama pengarang di dalam halaman pengantar kitab ini juga diganti. Tidak hanya itu, sambutan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ary dalam kitab asalnya dibuang. Sementara keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis.

Kitab Sirajut Thalibin Dibajak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Sirajut Thalibin Dibajak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Sirajut Thalibin Dibajak

Pembacakan telah terjadi sejak 2006 yang lalu dan baru diketahui setelah kitab ini tersebar di Indonesia. Informasi pembacakan ini diperoleh dari salah seorang alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Forum Mahasiswa Alumni Lirboyo (Formal) di Jakarta juga telah melakukan pengecekan ulang, dan ternyata memang terjadi pembajakan karya di bidang tasawuf yang sudah mendunia ini.

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli telah membandingkan kitab terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah dengan kitab asal yang diterbitkan oleh Darul Fiqr yang juga di Beirut Lebanon. Nama Syekh Ihsan bin Dahlan Al-Kadiri atau di kalangan pesantren lebih dikenal dengan Kiai Ihsan Jampes diganti dengan Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

Dalam halaman pengantar, nama Syeih Ihsan Jampes di paragraf kedua juga diganti, dan penerbit menambahkan tiga halaman berisi biografi Syekh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat pada 1886. Sementara keseluruhan isi dalam pengantar itu, bahkan keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis dengan kitab asal.

Muhammadiyah Asli

Penerbit juga membuang taqridhah atau semacam pengantar dari Syekh KH Hasyim Asy’ary Jombang dan Syekh KH Abdur Rahman bin Abdul Karim Kediri dan Syekh KH Muhammad Yunus Abdullah Kediri.

Diduga pembajakan dengan mengganti nama pengarang ini hanya untuk kepentingan pasar. ”Nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan mungkin lebih dikenal terutama oleh masyarakat Arab,” kata Abdur Rosyid, pengurus Formal yang juga bekerja di salah saru penerbitan Islam di Jakarta.

Di berbagai pondok pesantren di Indonesia nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan pun tidak asing lagi. Syekhi Ahmad Zaini Dahlan terutama dikenal sebagai pengarang Kitab Syarah Jurumiyah, kitab dasar di bidang ilmu nahwu. Kitab Jurumiyah ini hampir pasti dipelajari oleh para santri yang memulai pendidikan di pesantren.

Kitab Sirajut Thalibin adalah syarah atau penjabaran dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali. Sirajut Thalibin ini sempat mendapatkan pujian luas dari ulama Timur Tengah dan kini menjadi referensi utama para mahasiswa di Mesir dan negara-negara Timur Tengah yang lain. Menurut Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj, kitab ini juga dikaji di beberapa majelis taklim kaum muslimin di Afrika dan Amerika. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian Muhammadiyah Asli

Kamis, 30 November 2017

Puluhan Ribu Umat Islam Hadiri Konser Habib Syech

Pekalongan, Muhammadiyah Asli. Puluhan ribu ummat Islam di Pekalongan dan sekitarnya hadiri pagelaran konser sholawat Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaff yang berlangsung di Jalan Hasanuddin Senin (14/1).

Puluhan Ribu Umat Islam Hadiri Konser Habib Syech (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Umat Islam Hadiri Konser Habib Syech (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Umat Islam Hadiri Konser Habib Syech

Acara konser sholawat dalam rangka peringatan Haul Habib Mohammad bin Yahya dan peringatan Maulidur Rasul SAW 1434 H. serta pelantikan masal 12 ranting NU yang digelar oleh Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Pekalongan Timur.

Meski sebelum konser dimulai Pekalongan sempat diguyur hujan sejak sore, tak menyurutkan langkah pencinta lagu lagu Habib Syech untuk hadir menyaksikan dan mendengarkan secara langsung penampilan sang idola yang cukup fenomenal.

Muhammadiyah Asli

Diawali dengan lagu sholawat NU, Habib Syech langsung menggebrak dengan lagu lagunya yang hits dilantunkan secara bersambung diiringi gerakan tangan puluhan ribu pengunjung dan berbagai atribut bendera dan spanduk yang tiada henti. Bahkan di tengah tengah ribuan pengunjung terdapat bendera NU dan Badan Otonomnya untuk ikut dikibarkan selama konser berlangsung.

Muhammadiyah Asli

Sebelum konser dimulai, Habib Syech mengingatkan peda pengunjung untuk lebih hati-hati dan waspada terhadap barang bawaannya seperti handphon, perhiasan dan uang. Pasalnya, hampir disetiap dirinya menggelar konser selalu terdapat banyak korban para copet yang mengambil kesempatan padatnya pengunjung.

Dengan gayanya yang khas, Habib Syech mampu menghipnotis puluhan ribu pengunjung mulai dari anak anak, remaja hingga orang tua yang duduk secara rapi meski harus berdesakan untuk terus mengikuti lantunan lagu demi lagu yang tidak asing di telinga ummat Islam.

Ketua Pengurus MWC NU Pekalongan Timur RM Firdaus mengatakan, kegiatan konser sholawat Habib Syech dilakukan dalam rangka memperingati haul Habib Mohammad bin Yahya sekaligus memperingati Maulidurrasul Muhammad SAW 1434 Hijriyah serta pelantikan bersama 12 ranting NU di Pekalongan Timur yang telah mendapatkan SK dari PCNU Kota Pekalongan.

Dikatakan, untuk menyemarakkan acara, pihaknya bersama Muslimat dan Fatayat NU juga menggelar kegiatan penunjang antara lain yakni jalan sehat warga NU, bazar dan fashion show serta khitanan masal yang diikuti 24 anak. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz P

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian Muhammadiyah Asli

Senin, 27 November 2017

Menulis Adalah Pertobatan Menjadi Manusia Berpikir

Kudus, Muhammadiyah Asli. Dalam ilmu mantiq (logika), manusia disebut sebagai hayawanun natiq (makhluk yang berpikir), tetapi belum  beranjak sebagai status hayawanun katib wal qori (manusia yang menulis dan membaca) bila tidak mendokumentasikan dalam bahasa yang baik dan mudah dipahami.

"Karena itulah, menulis merupakan sebentuk pertobatan kita menjadi manusia yang yang punya kuasa menyebarkan pikiran maupun gagasan," kata penulis Muda dari el Wahid Center Semarang Nafiul Haris saat menjadi pembicara Latihan Jurnalistik Dasar (LDJ) Forum Komunikasi pimpinan Komisariat (Forkapik) IPNU-IPPNU kecamatan Dawe di Aula SMA Hidayatul Mustafidin Dawe, Kamis (2/5).

Menulis Adalah Pertobatan Menjadi Manusia  Berpikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Menulis Adalah Pertobatan Menjadi Manusia Berpikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Menulis Adalah Pertobatan Menjadi Manusia Berpikir

Di depan peserta yang sebagian pelajar MA/SMA itu, Haris memberikan motivasi dan teknik penulisan. Dikatakan, menjadi penulis itu harus memiliki sikap percaya diri bahwa karya tulis ini sangat bermanfaat, benar dan berdaya tahan.

Muhammadiyah Asli

"Kalau bahasa ekstrim, penulis harus sombong dulu untuk meyakinkan kalau kita punya pikiran dan ide yang layak dibaca khalayak umum," tandasnya.

Muhammadiyah Asli

Untuk menjadi penulis handal, ujar mahasiswa Fisip Hubungan Internasional Unwahas Semarang ini, para pelajar harus mulai memperbanyak membaca. Tanpa membaca, hampir bisa dipastikan akan menjadi serpihan gagasan yang kurang sistematis dan mendalam.

"Menulis itu kelanjutan dari membaca. Ibarat sekeping mata uang, membaca dan menulis itu bersaudara," imbuhnya.

Ditambahkan, untuk merampungkan tulisan harus mendiskusikan tulisan dengan orang lain. Dengan begitu, akan tahu kekurangan karya dan pikiran yang ditulis.

"Yang perlu diingat cara penulisannya, dimulai dari mencari masalah, melengkapinya dengan bahan bacaan, lalu mendiskusikan apa yang telah kita tulis," tandas Haris panggilan akrabnya.

LDJ yang berlangsung Kamis-Jumat (2-3/5) ini dibuka PC IPNU Kudus dengan jumlah peserta 30 pelajar MA/SMA se Kecamatan Dawe. Berbagai materi dasar jurnalistik seperti pengenalan teknik  penulisan  berita, sastra, artikel dan praktek hunting mencari berita.

Disamping M. Nafiul Haris, yang menjadi fasilitator lainnya adalah Pimpinan Umum majalah IPNU-IPPNU Pilar Abdul Rochim dan jurnalis Muhammadiyah Asli di Kudus.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Cerita Muhammadiyah Asli

Rabu, 22 November 2017

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin mengeluhkan masih adanya paham liberal yang yang berkembang di kalangan NU, bahkan di dalam kepengurusan NU.

Bagi salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, keberadaan faham itu sudah terlalu dalam merusak keyakinan yang selama ini ada di NU. "Keberadaan mereka sudah sangat memprihatinkan, membahayakan," kata Kiai Maruf Amin kepada Muhammadiyah Asli di rumahnya, Ahad (9/12).

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU

Tidak hanya itu, menurut Ketua Dewan Mustasyar PKNU itu, akibat dari banyaknya orang berpaham liberal di dalam NU, status faham keagamaan yang dianut NU sendiri pun kini dipertanyakan.

"Sekarang ini yang jelas Ahlussunnah wal Jamaah itu malah MUI. NU malah dipertanyakan statusnya," tegasnya setengah berkelakar.

NU yang selama ini identik sebagai simbol Ahlussunnah wal Jamaah, menurut Kiai Maruf, memang layak diragukan kemurniannya, "Sebab terlalu kuatnya arus paham liberal yang ada di dalamnya, sampai menjalar ke mana-mana," tuturnya.

Muhammadiyah Asli

Karenanya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengharapkan agar NU secepatnya kembali seperti saat pertama kali NU didirikan pada tahun 1926.

Caranya, dengan membersihkan kembali NU dari pemikiran-pemikiran liberal-sekuler dan dikembalikan pada paham Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai jalan yang telah dirintis oleh para salafus shalih.

Muhammadiyah Asli

Menurut Kiai Maruf, sebenarnya jalan kembali itu sudah jelas ada, bernama Khittah Nahdlatul Ulama yang diputuskan di Muktamar Situbondo (1984) dan ditegaskan kembali dalam Muktamar Solo (2004). Hanya saja masih kurang sosialisasi, apalagi sampai prakteknya di lapangan.

"Kita hanya butuh penegasan, akar-akar liberal di NU itu harus segera dipotong, agar tidak berkembang biak menjalar ke tempat lain. Ini sudah pada tingkat bahaya," tegas kiai Maruf. (sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Fragmen, Kajian Muhammadiyah Asli

Kamis, 16 November 2017

Konferensi Internasional ICIS Digelar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah

Situbondo, Muhammadiyah Asli. Konferensi internasional yang diprakarsai International Conference of Islamic Scholars (ICIS) pekan depan digelar di pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Konferensi bertaraf internasional ini bertujuan meneguhkan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai moderat yang dimiliki Islam.

Konferensi Internasional ICIS Digelar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Internasional ICIS Digelar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Internasional ICIS Digelar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah

Salah seorang panitia KH Misbahussalam mengatakan, konferensi yang berlangsung pada (28-30/3) akan dihadiri perwakilan ulama dari mancanegara termasuk negara-negara Timur Tengah. Antara lain dari mereka adalah Syekh Wahbah Az Zuhaili (Syiria), Ali Jumah (Mesir) Syekh Muhammad Yisif (Mufti Maroko), Syekh Abdul Karim Ad-Dhibaghi, Syekh Hasani Lancene bin Muhammed.

“Sedangkan dari dalam negeri di antaranya KH Qurais Syihab, KH Maruf Amin, KH Tholhah Hasan, dan peserta dari pengasuh pesantren,” ujarnya ? usai mengikuti rapat persiapan di pendopo pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jumat (21/3).

Muhammadiyah Asli

Kiai Misbah menambahkan, konferensi tersebut paling tidak diharapkan dapat menghasilkan putusan untuk memberi masukan dan manfaat terhadap kondisi negara-negara Timur Tengah yang saat ini terus menerus dilanda konflik.

“Ini mungkin merupakan sumbangan pemikiran bagi negara-negara untuk keluar dari konflik yang berlatar belakang sentimen keagamaan,” ungkapnya.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu, Sekjen ICIS KH Hasyim Muzadi menuturkan, pesantren asuhan Kiai Azaim itu dipilih untuk memenuhi permintaan almarhum KH Fawaid Syamsul Arifin. Diceritakannya, almarhum ? KHR Achmad Fawaid As’ad pernah mendatangi rumahnya seraya meminta agar dalam satu abad pesantren yang diasuhnya itu ? diselenggarakan pertemuan ulama internasional.

“Pesantren ini sangat bersejarah. Di tempat ini pernah diselenggarakan Muktamar NU 1984 yang mencetuskan nilai-nilai Islam moderat dan Khitthah NU,” tukasnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

?

Foto: Dokumentasi ICIS III di Jakarta, 2008

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional, Halaqoh, Kajian Muhammadiyah Asli

Rabu, 06 September 2017

Perempuan Indonesia Jauh Lebih Banyak Peran

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Ketimbang perempuan di luar negeri, perempuan Indonesia lebih memiliki kesempatan lebih lapang. perempuan Indonesia lebih memiliki kebebasan bergerak di banyak lapangan seperti sosial, politik, ekonomi, budaya, agama, keorganisasian, dan sebagainya.

Perempuan Indonesia Jauh Lebih Banyak Peran (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan Indonesia Jauh Lebih Banyak Peran (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan Indonesia Jauh Lebih Banyak Peran

Demikian dinyatakan Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali saat mengisi materi diskusi “NU dan Dinamika Aliran di Indonesia” dalam rangkaian acara Orientasi Kepemimpinan Ormas Perempuan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (18/1).

H Asad menceritakan pengalamannya ketika tinggal di Timur Tengah. Gerakan perempuan di luar negeri seperti Libanon, Saudi, dan sejumlah negara Timur Tengah lainnya, menurutnya, sangat terbelenggu.

Muhammadiyah Asli

Ia mengambil contoh di Libanon pada 1980an. Pemerintah di sana hanya memberikan kuota 2 kursi menteri bagi perempuan. Itu pun hanya untuk pajangan. Sementara Saudi baru setahun lalu memiliki majelis syuro yang menampung aktivis perempuan. Pun karena pemerintah Saudi mendapat tekanan internasional.

Sedangkan perempuan di Eropa baru memiliki hak pilih setelah Perang Dunia Kedua. Tetapi posisi mereka juga di belakang kalangan laki-laki, terang H Asad di hadapan sedikitnya 90 peserta orientasi yang diselenggarakan PP Muslimat NU dan Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Sabtu-Ahad (18-19/1).

Muhammadiyah Asli

“Wanita Indonesia punya peran lebih banyak. Tidak hanya di lapangan politik, mereka memiliki keleluasaan bergerak di banyak sektor termasuk perekonomian dan sosial. Bahkan, keunggulan mereka setaraf tetapi juga melebihi kalangan laki-laki di Indonesia,” jelas H Asad.

Ini bisa terjadi, tegas H Asad, hanya karena berkah dari UUD 1945 yang mengayomi segenap warga termasuk gerakan perempuan.

Ketika ditanya perihal arah gerakan Muslimat NU, H Asad mengusulkan agar Muslimat NU menekuni bidang pendidikan PAUD, etika, pesantren, juga ekonomi melalui kredit usaha rakyat selain kaderisasi, peningkatan kapasitas kader, dan advokasi warga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Syariah, Kajian Muhammadiyah Asli

Minggu, 20 Agustus 2017

775 Jamaah Haji Probolinggo Dilepas dari Miniatur Ka’bah

Probolinggo, Muhammadiyah Asli - Sedikitnya 775 orang jamaah calon haji Kabupaten Probolinggo secara resmi dilepas oleh Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo HA. Timbul Prihanjoko, Ahad (4/9) dini hari dari wisata religius Miniatur Ka’bah di Desa Curahsawo Kecamatan Gending. Pelepasan ini dilakukan usai Shalat Subuh berjamaah di area Miniatur Ka’bah.

Pemberangkatan para tamu Allah ini dihadiri Forkopimda Kabupaten Probolinggo, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo H Busthami, Ketua PD IPHI Kabupaten Probolinggo KH Masrur Nashor, Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i, Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi dan beberapa Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.

775 Jamaah Haji Probolinggo Dilepas dari Miniatur Ka’bah (Sumber Gambar : Nu Online)
775 Jamaah Haji Probolinggo Dilepas dari Miniatur Ka’bah (Sumber Gambar : Nu Online)

775 Jamaah Haji Probolinggo Dilepas dari Miniatur Ka’bah

Sebanyak 775 orang jamaah haji ini terbagi atas dua kelompok terbang (kloter). Yakni kloter 63 dengan menggunakan 10 unit bus dan kloter 64 dengan menggunakan 8 unit bus. Mereka menuju ke Asmara Haji Sukolilo Surabaya dengan dikawal mobil Patwal polisi dari Polres Probolinggo.

Muhammadiyah Asli

Suasana sekitar Miniatur Ka’bah menjadi semakin ramai dengan kehadiran ribuan pengantar jamaah haji yang sudah memadati lokasi sejak malam harinya. Meskipun demikian, secara umum arus lalu lintas lancar berkat kesigapan petugas dan kesadaran para pengantar jamaah haji dalam mematuhi ketentuan yang ada.

Dalam sambutannya Wabup Probolinggo HA Timbul Prihanjoko menyampaikan ucapan selamat jalan dan selamat menunaikan ibadah haji kepada seluruh jamaah haji. ”Selamat jalan dan selamat menunaikan ibadah haji, semoga amal ibadah Bapak dan Ibu diterima Allah dan menjadi haji mabrur. Semoga selamat selama perjalanan, saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air nanti,” ungkapnya.

Suasana semakin khidmat tatkala kumandang azan dan iqomah oleh Ustad Kholisun yang dilanjutkan dengan doa bersama oleh Ketua PD Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Probolinggo KH Masrur Nashor. Seluruh jamaah haji dan hadirin mendengarkan kumandang adzan sebagai pengantar keberangkatan jamaah haji.

Muhammadiyah Asli

Seluruh jamaah haji diberangkatkan secara resmi ditandai dengan pengibaran bendera oleh Wabup Timbul disertai kumandang sholawat hingga seluruh bus yang mengangkut jamaah haji meninggalkan Miniatur Ka’bah menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

Sebelum berkumpul di Miniatur Ka’bah, para jamaah haji berangkat dari enam titik pemberangkatan sesuai daerahnya masing-masing. Keenam titik itu, Masjid Ar-Rohmah Kecamatan Leces, Masjid Ar-Royyan Kecamatan Tongas, Masjid Sunan Ampel Kecamatan Gending, Masjid Baitur Rohmah Kecamatan Maron, Masjid Agung Ar-Raudlah Kecamatan Kraksaan dan Masjid Baitur Rohman Kecamatan Paiton.

Jamaah haji yang tergabung dalam Kloter 63 dan 64 akan berangkat ke Jeddah, Saudi Arabia dengan nomor penerbangan SV 5735 dan SV 5701. Rencananya jamaah haji ini akan kembali ke Kabupaten Probolinggo pada 14 dan 15 Oktober 2016 mendatang. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Amalan, Kajian, Santri Muhammadiyah Asli

Rabu, 09 Agustus 2017

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Mataram, Muhammadiyah Asli. Pondok Pesantren Abhariyah Jerneng ? Asuhan Rais Syuriyah PCNU Lombok Barat TGH Ulul Azmi keluar sebagai juara Group A setelah mengungguli Pesantren Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah dengan skor 2-0 di Stadion Kediri Lombok Barat, Senin (21/9).

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Babak penyisihan Liga Santri Nusantara (LSN) Zona NTB sudah berjalan dua hari dengan jadwal tiga kali pertandingan setiap hari. Pagi satu kali pertandingan dan sore dua kali pertandingan.

Jalannya pertandingan

Muhammadiyah Asli

Kemenangan Abhariyah diraih setelah Hariadi, pemain dengan nomor punggung 6 menjebol gawang Qomarul Huda dari Bagu di babak pertama.

Muhammadiyah Asli

Kemudian di babak kedua, pemain lini tengah, Lalu Zainul Hafidz dari Abhariyah melepaskan tendangan dari luar kotak penalti hingga kembali menjebol gawang lawan. Kedudukan 2-0 bertahan hingga pluit panjang berbunyi tanda pertandingan telah selesai.

Suharto, Pelatih Abhariyah ? menargetkan, timnya bisa meraih kemenangan pada semi final yang akan dihelat Jum’at (25/9).

Guru senior Abhariyah ini juga berspesan kepada pemain asuhannya agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan bermain sportif. "Saya berpesan kepada semua pemain dan para suporter agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan tetap mejaga sportivitas," katanya. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Pahlawan Muhammadiyah Asli

Sabtu, 22 Juli 2017

Lewat Gerakan Sedekah dan Dakwah, PWNU Sumut Bagikan Beras ke Kaum Dhuafa

Medan, Muhammadiyah Asli



Selama bulan Ramadhan 1438 H, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara (Sumut) melalui Gerakan Sedekah dan Dakwah (Gaswah)-nya melakukan Safari Ramadhan ke masjid-masjid di daerah tersebut. Dalam setiap kunjungan, PWNU Sumut menyalurkan bantuan beras yang dihimpun lewat Gaswah kepada kaum dhuafa.

Lewat Gerakan Sedekah dan Dakwah, PWNU Sumut Bagikan Beras ke Kaum Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Gerakan Sedekah dan Dakwah, PWNU Sumut Bagikan Beras ke Kaum Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Gerakan Sedekah dan Dakwah, PWNU Sumut Bagikan Beras ke Kaum Dhuafa

Ketua Gaswah NU Sumut H Khairuddin Hutasuhut Kamis (15/6) mengatakan, selama kunjungan Gaswah NU Sumut, baik sebelum maupun pada bulan Ramadhan ini, ternyata masih banyak masyarakat butuh bantuan dan selama ini belum mendapatkan perhatian pemerintah.

"Banyak masyarakat miskin yang belum tersentuh dengan berbagai program pemerintah. Hal ini dikarenakan persoalan administrasi kependudukan sehingga saat Tim Gaswah PWNU Sumut turun langsung mendapat sambutan haru dari penerima bantuan," ujar Khairuddin.

Disebutkan, tak jarang penerima bantuan menangis, dan merasa terharu karena mereka merasa masih ada yang memperhatikan. Karenanya PWNU lewat Gaswah-nya akan terus menyalurkan bantuan beras hingga ke kabupaten/kota di Sumatera Utara.

Muhammadiyah Asli

Selama Ramadhan, Gaswah sudah menyalurkan satu ton lebih beras kepada kaum dhuafa. Penyaluran dilakukan di masjid-masjid yang dikunjungi Tim Safari Gaswah bersama PWNU Sumut.

Dalam kegiatan Safari Ramadhan Gaswah, diisi ? tausiah ? oleh ustadz-ustadz dari PWNU Sumut di antaranya Ustadz H Hamdan Yazid, Ustadz H Sariman Alfaruq, dan Sori Monang Rangkuti, Ketua Lembaga Dakwah NU Sumut.

Dalam waktu dekat, PWNU Sumut bersama Tim Gaswah akan melakukan Safari Ramadhan ke Masjid Islamiyah Simpang Selayang, dan Masjid Nurul Rubiah di Desa Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang.

Ditambahkan Khairuddin, aktivitas Gaswah terus berkesinambungan setiap bulan. Beras yang disalurkan merupakan hasil sedekah umat Islam dan pengurus NU.?

"Walapun jumlahnya tidak seberapa tapi bantuan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat," ujar Khairuddin Hutasuhut, seraya mengajak umat Islam dan warga Nahdliyin untuk menyalurkan sedekahnya berupa beras melalui Gaswah Sumut, mulai porsi kecil hingga besar.

Muhammadiyah Asli

Bagi masyarakat yang ingin bersedekah bisa menyampaikannya ke sekretariat ? Gaswah di kantor PWNU Sumut di Jalan Sei Batanghari Nomor 52 Medan, telepon 061-4536120. Panitia juga bersedia menjemput sedekah beras ke alamat pemberi.

Ketua Tanfidziah PWNU Sumut H Afifuddin Lubis yang selalu hadir dalam kegiatan Gaswah mengatakan, apa yang dilakukan Gaswah patut diapresiasi dan didukung oleh seluruh warga Nahdliyin. Apalagi kegiatannya sangat menyentuh masyarakat akar rumput.

"Mari kita dukung gerakan Gaswah NU Sumut sehingga ? warga miskin di Sumatera Utara dapat terbantu," ujar Afifuddin.

Di sela-sela kegiatan juga dilakukan sosialisasi Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (Unusa), yakni lembaga pendidikan perguruan tinggi yang dibentuk dan didirikan oleh PWNU Sumut. (Hamdani Nasution/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian Muhammadiyah Asli

Sabtu, 24 Juni 2017

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Assalamu’akaikum Pak Kiai. Saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya tidak puasa untuk ibu yang menyusui. Anak saya usianya sudah 1,6 tahun tapi makannya sulit sekali dan hanya mengandalkan ASI, apakah boleh saya tidak puasa demi anak saya dan bagaimana cara qodlonya atau bayar fidyahnya atau apa? Mohon penjelasan mengingat anak saya yang kedua ini agak kurusan dan sering dikomplain oleh bidan puskesmas karena berat badannya di bawah standar. Makasih (Umi, Bandung)

 

Jawaban

Puasa Bagi Ibu Menyusui (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Bagi Ibu Menyusui (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Wa’alaikum salam ww. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa perempuan yang menyusui itu diperbolehkan tidak berpuasa sepanjang berpuasa itu bisa membahayakan kesehatan dirinya dan anaknya atau salah satunya. Menurut madzhab syafi’i, jika seorang perempuan yang sedang menyusui melakukan puasa dan dikhawatirkan akan membawa dampak negatif pada dirinya beserta anaknya, atau dirinya, atau anak saja maka ia wajib membatalkan puasanya. Dan baginya berkewajiban meng-qadla` puasanya. Namun jika dikhawatirkan membahayakan anaknya saja, maka ia tidak hanya berkewajiban meng-qadla` tetapi ada kewajiban lain yaitu membayar fidyah. Hal ini sebagaimana dikemukakan Abdurrahman al-Juzairi:

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammadiyah Asli

“Madzhab syafii berpendapat, bahwa perempuan hamil dan menyusui ketika dengan puasa khawatir akan adanya bahaya yang tidak diragukan lagi, baik bahaya itu membahayakan dirinnya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja. Maka dalam ketiga kondisi ini mereka wajib meninggalkan puasa dan wajib meng-qadla`nya. Namun dalam kondisi ketiga yaitu ketika puasa itu dikhawatirkan memmbayahakan anaknya saja maka mereka juga diwajibkan membayar fidyah”. (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-2, h. 521). 

Sedangkan fidyah yang harus dibayarkan adalah satu mud (berupa makanan pokok) untuk setiap hari yang ditinggalkan yang diberikan kepada orang miskin atau orang faqir. Satu mud kurang lebih 675 gram beras, dan dibulatkan menjadi 7 ons.

Untuk mengetahui apakah puasa perempuan yang sedang menyusui itu membahayakan atau tidak, dapat diketahui berdasarkan kebiasaan sebelum-sebelumnya, keterangan medis atau dugaan yang kuat. Hal ini sebagaimana dikemukakan as-Sayyid Sabiq:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammadiyah Asli

“Untuk mengetahui apakah puasa tersebut bisa membahayakan (bagi dirinya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja)bisa melalui kebiasaan sebelum-sebelumnya, keterangan dokter yang terpecaya, atau dengan dugaan yang kuat” (As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Kairo-Fath al-I’lam al-‘Arabi, 2001, juz, 2, h. 373)

Setelah kita mengetahui kedudukan hukum berpusa bagi orang yang sedang menyusui. Lantas bagaimana dengan waktu pelaksanaan qadla` sekaligus pembayaran fidyah, jika ia meninggalkan puasa dengan alasan apabila tetap melakukan puasa akan membahayakan anaknya.

Bahwa alasan kewajiban untuk meninggalkan puasa bagi orang yang sedang menyusui adalah adanya kekhawatiran akan membahayakan dirinya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja.

Dari sini dapat dipahami bahwa kewajiban qadla` tersebut bisa dilakukan setelah bulan ramadlan dan di luar waktu menyusui. Sedang mengenai teknis pembayaran fidyah boleh diberikan kepada satu orang miskin. Misalnya jika yang ditinggalkan ada 10 hari maka ia wajib memberikan 10 mud. Sepuluh mud ini boleh diberikan kepada satu orang miskin atau faqir.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Baginya boleh mendistribusikan semua jumlah fidyah kepada satu orang karena setiap hari adalah ibadah yang independen”. (Muhammad Khatib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 1, h. 442)

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, dan semoga bermanfaat. Saran kami bagi Ibu yang sedang menyusui untuk selalu memperhatikan kesehatannya, begitu juga kesehatan sang buah hati. Dan jika merasa masih kuat berpuasa tetapi kemudian ada masalah kesehatan segeralah berkonsultasi kepada dokter. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Hikmah, Kajian Muhammadiyah Asli

Minggu, 04 Juni 2017

NU Padang Sebarkan 1.000 Al-Quran

Padang, Muhammadiyah Asli. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Padang berhasil mengumpulkan seribu lebih Al-Qur’an yang bakal dibagi-bagikan ke masjid/musholla di Kota Padang. Pengumpulan Al Qur’an tersebut dimaksudkan untuk turut mendukung program Magrib Mengaji yang dicanangkan Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat.

Demikian diungkapkan Rais Syuriah PCNU Kota Padang HM Guswandi Syas di aula PWNU Sumbar Jalan Ciliwung 10 Padang, Senin (14/5).  Menurut Guswandi, Al-Qur’an tersebut berasal dari sumbangan warga Nahdhiyin dan donator lainnya serta dari Kamenag Sumbar.

NU Padang Sebarkan 1.000 Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Padang Sebarkan 1.000 Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Padang Sebarkan 1.000 Al-Quran

“Direncanakan dalam waktu dekat Al-Qur’an yang sudah terkumpul tersebut segera dibagikan kepada masjid/musholla yang membutuhkan di Kota Padang. Kami mengamati cukup banyak masjid yang masih kekurangan  Al-Qur’an. Di samping Al-Qur’an yang ada juga sudah sebagian sudah usang,” tambah Guswandi.

Muhammadiyah Asli

Menurut  Guswandi, pengumpulan dan penyebaran Al-Qur’an tersebut juga bagian dari upaya mendukung program Magrib Mengaji yang dicanangkan Kementerian Agama Sumatera Barat. 

Muhammadiyah Asli

Dengan semakin banyaknya Al Qur’an di masjid, diharapkan akan semakin mendorong suksesnya program Magrib Mengaji tersebut. Jika Al-Qur’an kurang di masjid/musalla, tentu juga menjadi kendala dalam menyukseskan program tersebut.

Direncanakan penyerahan Al-Qur’an tersebut bersamaan dengan louncing LAZISNU Kota Padang, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nadhlatul Ulama (LKKNU) dan lembaga lainnya di NU Kota Padang. 

“Insya Allah kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan warga Nahdliyin di Kota Padang dan kota/kabupaten sekitarnya,” kata Guswandi.

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor : Bagindo Armaidi Tanjung 

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Sejarah, Bahtsul Masail Muhammadiyah Asli

Senin, 29 Mei 2017

Tingkatkan Ruhul Jihad, NU Gending Ziarah Wali

Probolinggo, Muhammadiyah Asli. Dalam rangka meningkatkan ruhul jihad dalam melaksanakan program-program NU demi kemaslahatan umat dan menjadikan NU rahmatal lil alamin, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo melaksanakan touring ziarah wali, Sabtu dan Ahad (9-10/9) sore.

Kegiatan ini diikuti oleh 130 orang peserta terdiri dari unsur jajaran pengurus MWCNU Kecamatan Gending hingga ranting, badan otonom (banom), takmir masjid se-MWCNU Kecamatan Gending serta para pencinta NU Kecamatan Gending yang istiqomah mengikuti kegiatan rutinan Menyapa Masjid.

Tingkatkan Ruhul Jihad, NU Gending Ziarah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Ruhul Jihad, NU Gending Ziarah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Ruhul Jihad, NU Gending Ziarah Wali

Ziarah wali ini dilakukan dengan mengunjungi tempat bersejarah dan para makam wali Allah SWT. Meliputi makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), makam Sunan Drajat, Masjid Namira Lamongan, makam Sunan Ampel dan makam Sunan Giri.

“Alhamdulillah, pengurus NU di Kecamatan Gending tetap solid. Mudah-mudahan senantiasa diberikan kekuatan untuk terus istiqomah membangun kebersamaan dan kekompakan menebar maslahah,  memberi manfaat membantu melanjutkan perjuangan para ulama,” kata Ketua MWCNU Kecamatan Gending, Misnaji.

Muhammadiyah Asli

Menurut Misnaji, kegiatan ini bertujuan untuk senantiasa berusaha memperkokoh jalinan silaturahim, memperkuat semangat kebersamaan dan kekompakan serta meningkatkan ruhul jihad dalam melaksanakan program-program NU untuk kemaslahatan ummat dan menjadikan NU rahmatal lil alamin.

“Disamping untuk penguatan hati meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT,” jelasnya.

Muhammadiyah Asli

Misnaji menerangkan bahwa kegiatan ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengingat dan mengenang sejarah perjuangan para alim ulama, kiai, habaib dan aulia Allah secara lebih dekat dalam memperjuangkan dan mengembangkan agama Islam.

“Khususnya toriqoh Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah dan mengetahui langkah-langkah serta cara berdakwah yang mampu dan menjadikan Islam bisa diterima dengan baik,” terangnya.

Dalam ziarah ini ada hal yang banyak  dilakukan seperti dalam perjalanan selalu ditanamkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab. Saat turun dan naik kendaraan saling menjaga khawatir ada jamaah yang tertinggal. Andaikan ada yang tertinggal, maka jamaah yang ada saling mencari tahu dan inilah bentuk rasa kebersamaan dan tanggung jawab yang ada.

“Selama kegiatan ziarah kami juga berdoa  bersama dengan bacaan Yasin dan Tahlil di maqbaroh para aulia dan juga mendoakan keselamatan kaum muslimin dan muslimat. Wabil khusus kaum muslim Rohingya di Myanmar,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini Misnaji berharap agar dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, menumbuhkan dan meningkatkan rasa cinta kepada para ulama, kiai, masyayikh dan aulia Allah serta meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah, memperkuat rasa kebersamaan  dan kekompakan. Di samping meningkatkan semangat atau ruhul jihad.

“Dengan seperti itu kami yakin Islam, khususnya jamiyah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah ini akan terus berkembang dan terus bisa memberikan manfaat , menebar maslahat dan menjadikan NU sebagai Rahmatal Lil ‘aalamiiin,” harapnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli News, Kajian, Internasional Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock