Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA

KH Achmad Syaichu dilahirkan di daerah Ampel, Surabaya, pada hari Selasa Wage, 29 Juni 1921. Ia adalah putra bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Chamid dan Ny. Hj. Fatimah. Pada usia 2 tahun ia sudah yatim, ditinggal wafat ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Achmad Syaichu bersama kakaknya, Achmad Rifai, diasuh ibunya.

Untuk memperoleh pendidikan agama, Syaichu belajar kepada K. Said, guru mengaji bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Pada usia 7 tahun ia sudah mengkhatamkan Al-Quran 30 Juz. Selain belajar agama, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, sebuah sekolah yang dikelola Muhammadiyah. Tak lama belajar di sekolah ini, oleh H. Abdul Manan, ayah tirinya, dipindahkan ke Madrasah Taswirul Afkar. Lembaga pendidikan ini didirikan KH Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur, dan KH Dachlan Achyat. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal-bakal Nahdlatul Ulama.

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA

Untuk membantu meringankan beban ibunya yang harus menghidupi putra-putranya, setelah H. Abdul Manan wafat, pada usia kanak-kanak Syaichu sudah sudah mulai bekerja di perusahaan sepatu milik, Mohammad Zein bin H. Syukur. Dan terpaksa untuk beberapa lama ia tidak melanjutkan sekolah.

Muhammadiyah Asli

Syaichu kembali kebangku sekolah sesudah selama dua tahun bekerja dan memiliki bekal yang relatif cukup. Ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Sambil belajar, ia kembali bekerja pada seorang tukang jahit kenamaan di Pacar Keling, Mohamad Yasin. Di Nahdlatul Wathan ia dibimbing seorang guru yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangannya yaitu KH Abdullah Ubaid. Selain itu ia juga berguru kepada KH Ghufron untuk belajar ilmu Fiqh.

Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Ny. Fatimah yang sudah dua kali menjanda diperistri KH Abdul Wahab Chasbullah. Di bawah bimbingan ayah tirinya itulah Syaichu berkembang menjadi pemuda yang menonjol. Kepemimpinannya mulai tumbuh.

Muhammadiyah Asli

Sekolah sambil bekerja seolah-olah menjadi pola hidup pemuda Syaichu. Setamat dari Nadlatul Wathan, ia kembali bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut. Selama bekerja dibengkel itu, ia melakukan kegiatan dakwah di lingkungan kawan-kawan sekerja.

Setahun kemudian, 1938, KH Abdul Wahab Chasbullah mengirimkan Syaichu ke Pesantren Al-Hidayah, Lasem asuhan KH Mashum. Selama di pesantren ini, ia menjadi santri kesayangan Mbah Mashum. Sesudah 3 tahun belajar di Lasem, ia terpaksa harus boyong ke Surabaya, karena ia terserang penyakit tipes (typus) yang cukup serius.

Pada tanggal 5 Januari 1945, pada usia 24 tahun, Syaichu mempersunting Solchah, putri Mohamad Yasin, penjahit kondang asal Pacar Keling yang pernah menjadi majikannya. Sesudah berkeluarga, ia membuka home industry sepatu di rumahnya, dengan 15 orang karyawan.

Ketika terjadi penyerbuan tentara Sekutu ke kota Surabaya, ia bersama istrinya mengungsi ke Bangil. Pada tahun 1948, sesudah Surabaya kembali aman, ia pulang ke kota kelahirannya. Mulailah ia terjun sebagai sebagai pengajar di Madrasah NU. Di samping mengajar, ia juga menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan. Itulah awal mula Syaichu mulai terlibat di organisasi NU.

Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya periode 1948-1950, ia ditunjuk sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum (Tanfidziyah), bersama KH. Thohir Bakri, KH. Thohir Syamsuddin dan KH. A. Fattah Yasin. Karier Syaichu di organisasi terus menanjak dengan cepat. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Kota Besar Surabaya.

Awal tahun 1950-an ia mendaftarkan diri menjadi pegawai pemerintah dan bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala. Baru setahun di Pengadilan Agama, ia pindah ke Kantor Agama Kotapraja Surabaya.

Pada tahun 1953, Syaichu terpilih menjadi ketua LAPANU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Dan pada pemilu 1955, ia diangkat menjadi anggota DPR dari Fraksi NU, dan pada tanggal 25 November 1958 ia ditunjuk sebagai Ketua Fraksi NU. Dalam kurun waktu 15 tahun sejak ia menjadi anggota DPRDS di Surabaya, akhirnya ia mencapai puncak karir di gelanggang politik, dengan menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966. Di NU sendiri ia pernah menjadi salah seorang ketua PBNU, sampai tahun 1979 (ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang).

Kepemimpinan dan ketokohan KH. Achmad Syaichu tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga sampai ke level internasional. Pengakuan itu terbukti dengan dipilihnya KH. Achmad Syaichu sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) dalam konferensinya yang pertama di Bandung, tanggal 6-14 Maret 1965. KH. Achmad Syaichu yang di kenal sebagai pengagum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu berhasil mengembangkan misi dakwah Islamiyah dan misi perjuangan bangsa Indonesia dalam pentas politik internasional.

Sekian lama KH. Achmad Syaichu menekuni dunia politik, tak menyurutkan perhatian dan minatnya dalam dunia dakwah Islamiyah. Malahan semangat mengembangkan dakwah Islamiyah itulah yang dijadikan motivasi dalam keterlibatannya di pentas politik. Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, ia mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkannya menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren.

Pesantren Al-Hamidiyah yang kini berdiri cukup megah di daerah Depok, merupakan saksi bisu yang menunjukkan betapa besar dan luhurnya cita-cita yang dikandung KH. Achmad Syaichu. Dari pesantren juga berakhir di pesantren. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, RMI NU, Internasional Muhammadiyah Asli

Rabu, 07 Februari 2018

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Oleh Mochammad Maksum Machfoedz

Teramat jelas digariskan tujuan diwajibkannya puasa Ramadlan: la’allakum tattaquun (QS 2-183), agar supaya kalian bertaqwa. Aneka stimulan melengkapi pencapaian tujuan dimaksud, mulai timulasi teknis yang mu’amalah dan hubungan antar-manusia sifatnya, stimulasi ubudiyah dengan aneka asesori ibadah puasa, sampai stimulasi fundamental berkait dengan mentalitas-kejiwaan manusia, urusan character building mendasar.?

Salah satu stimulasi fundamental adalah kemutlakan perintah: I’diluu huwa aqrabu li at-taqwa (QS 5-8), berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Kewajiban memenuhi karakter keadilan tercermin dari kalimat perintah yang absolut sifatnya bagi siapa saja: i’diluu. Begitu absolutnya, sampai lebih 30 kali kata adil diungkap dalam Al-Qur’an, dan bisa disimpulkan dalam QS 16-90: innallaha ya’muru bi al-‘adl, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil; dan ? QS 7-29: qul amara Robbi bi al-qishth, katakanlah ”Tuhanku menyuruhku berlaku adil’.

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Relasi antara penegakan keadilan dan mutu ketaqwaan, dengan demikian menjadi ikatan keharusan yang menyatu dan tidak bisa disempal-sempal ketika dikehendaki siapa saja yang ingin menggapai tujuan puasa Ramadlan. Penegakan keadilan dalam kolektifitas, bermasyakat dan berbangsa juga begitu pentingnya: walau ‘ala anfusikum aw al-walidaini wa al-aqrabiin, in yakun ghaniyyan au faqiiraa (QS 4-135), meskipun terhadap diri sendiri, atau orangtua dan kerabat, kaya maupun miskin.

Begitu pentingnya keadilan dan penegakannya, sampai-sampai sebuah kitab mensarahi ajaran Imam Ibn Qayyim dengan menyimpulkan bahwa: laa tashluhu ad-dun-ya wa al-akhirah illa bi al-‘adl, tidak akan pernah ada kedamaian di muka bumi dan akhirat nanti, kecuali berlandaskan keadilan.

Muhammadiyah Asli

Pentingnya relasi perilaku adil sebagai karakter utama ketaqwaan, dengan demikian menjadi materi yang pantas direnungkan dalam Puasa Ramadlan. Kesiapan menjalaninya tidak lagi semata didasarkan atas kesempurnaan hubungan antar-sesama dalam urusan kemanusiaan dan mu’amalah, serta tidak hanya dilengkapi dengan aneka asesori ibadah seperti tarawih, shalat malam, tadarrus, dan sejenisnya. Akan tetapi, pada saat yang sama dilandasi pula oleh kesiapan berrevolusi mental, berlaku adil dan menegakkan keadilan bagi siapa saja.

Dalam konteks inilah kiranya, perilaku adil yang harus lempeng dan tegak lurus, setimbang, moderat dan menengah, tidak mirang-miring, dan menghargai orang lain, i’tidal-tawasuth-tawazun-tasamuh, bisa dihayati maknanya untuk tidak memungkinkan maraknya rasa benar sendiri, radikalisasi, dan apalagi munculnya aneka gratifikasi.?

Tidak bisa dipungkiri bahwa jabaran dari rasa keadilan tersebut dalam konteks kemasyarakatan dan kebangsaan akan memperkaya bangsa ini melalui puasa Ramadlan, dengan ajaran karakter mendasar al-akhlaq al-karimah dalam urusan berbangsa yang dibingkai dalam mabadi’ khaira ummah: ash-shidiq al-amanah al-‘adalah at-ta’awun al-istiqamah, jujur-amanah-adil-gotongroyong-konsisten, lima karakter dasar bagi masyarakat dan bangsa Indonesia yang beradab.

Pertimbangan pentingnya keadilan itu pula yang kemudian mentradisikan peringatan penegakan keadilan sebagai penutup khuthbah Jum’at semenjak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa dari 717 M sampai 720 M. Pemerintahan berkeadilan Umar menjadi melegenda bukan hanya karena telah berhasil menggeser khothbah dengan tradisi cacimaki selama 60 tahun sebelumnya menjadi seruan keadilan. Umar telah berhasil pula membangun peradaban pemerintahan berkeadilan.

Tentu bukanlah sekedar kerinduan terhadap sejarah Umar, ketika seruan keadilan cicit Umar bin Khatthab ini senantiasa menggelora dalam khutbah sampai kini, dibanding seruan lainnya. Efektifitasnya tentu perlu dibangun melalui gerak-langkah berkeadilan, untuk bisa lebih ngefek, dan mewarnai kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sebagaimana dicontohkannya.

Muhammadiyah Asli

Adalah sebuah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menterjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya untuk mempertanyakan eksistensi keilmuan hukum ketika ketidak-adilan justru kini menjadi raja-diraja. Tantangan yang sama juga dilontarkan serius bagi keilmuan humaniora lainnya, termasuk ilmu filsafat, sosiologi, psikologi, komunikasi, sampai ilmu pendidikan usia dini ketika dekadensi moral justru menjadi-jadi. Perihal yang sama muncul pula sebagai tantangan ilmu ekonomi, dalam terapan ilmu pembangunan, managemen dan akuntasi, yang kini semakin eksploitatif dalam perekonomian.

Krisis ekonomi dan keserakahan akan sumberdaya alam sepenuhnya mulai dari sini. Resource Accounting, Ilmu Akuntansi Sumberdaya dalam menjawab peringatan Allah urusannya dengan kemerosotan dan kerusakan sumberdaya alam masih sangat tidak memadai karena kontaminasi kepentingan jangka pendek dan politisasi. Kemerosotan ini berakibat pada takrif-takrif palsu ekonomi pembangunan dengan segala kebodohan indikator pilihannya yang tidak mencerminkan kemashalatan, jikalau tidak boleh dikatakan justru memicu rusaknya lingkungan hidup.?

Mudah sekali dilihat begitu banyaknya kebijakan tanpa spiritualitas memadai, sampai anti spiritualitas. Hingar bingar liberalistik yang menghamba pada kapitalistiknya ilmu kerekayasaan, melalui berkembang pesatnya ilmu dan teknologi informatika, elektronika, sistem informasi, industri, mekanika dan aneka ilmu keteknikan, sampai keilmuan pangan dan agroindustri, berdalih sangat mulia dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan efisiensi ekonomis. Keilmuan ini jelas sekedar jabaran atas Firman-firman Kauniyyah yang tak terbantahkan. Akan tetapi, apa jadinya ketika nihil basis spiritualitas? Semuanya akan berujung kecongkakan akademik, dan ulah eksploitasi, bukan kemajuan kemashlahatan, tetapi penyebaran kemiskinan yang melawan Firman Tuhan.

Sebagai ilustrasi akademis bisa diangkat kebidangan yang disebut terakhir: pangan dan agroindustri, yang sangat terkait dengan ibadah puasa Ramadlan pada hari ini. Simpati dan empati terhadap segala keterbatasan dalam pemenuhan pangan sebagai kebutuhan dasar, basic need, merupakan salah satu esensi yang melandasinya. Puasa, menahan diri dari makan-minum, merasakan lapar dan dahaga, meski baru merupakan keutamaan manusiawi tingkat awal, membuahkan keutamaan berikutnya sebagai refleksi kepedulian antar sesama, ketaatan ilahiyah tiada tara, sampai kesyukuran paripurna atas segala kebesaranNya. Bukan sekedar simbolisasi.

Kelaparan merupakan keseharian keadaan sang papa, saudara-saudara kita yang sedang tidak beruntung, fakir-miskin sekitar kita. Telah menjadi tanda-tanda zaman, bahwa dalam masyarakat materialistis, sikap abai kalangan luas cenderung mempersalahkan mereka sebagai pecundang akibat kalah perang ekonomis dengan kemenangan para pemilik modal, aghniya’, dalam rivalitas ekonomis dan teknologis. Sungguh asumsi nir-spiritualitas yang memprihatinkan kita semua.

Asumsi itu salah besar karena Islam justru memberikan kasih-sayang sempurna bagi fakir-mikin. Eskalasinya tercermin dalam puasa Ramadan dengan aneka ritual dan peringatan membayar zakat. ? Hakekatnya, sebagian dari harta kekayaan aghniya’ adalah hak fakir-miskin, bukan hak si kaya. Karena itu, harus dibersihkan dan disucikan, tuthahhirukum wa tuzakkiihim biha (QS. 9: 103).?

Secara khusus, pelembagaan zakat fithrah sebagai kepedulian pangan sesama bahkan tidak terpisahkan dari kesempurnaan puasa untuk menggapai maghfirah dan ketaqwaan, sebagai jaminan kembalinya manusia kepada kesucian, al-fithr. Hal ini ditunjukkan dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah untuk setiap jiwa muslim yang mampu, dan harus dibayarkan ? qabla ash-shalah, sebelum shalat Iedul Fitri. Begitu hadits Nabi menyebutkan. Hak atas pangan harus dibayarkan ketika menginginkan kembali ke kesucian, iedul fitri. Untuk hak ini, ijinkan untuk menyebut Ramadlan sebagai Bulan Pangan, syahru ath-tha’am. Bukan menyebutnya ? bulan badhogan bagi abdul buthun.?

Fakta yang dipaparkan mensiratkan besarnya perhatian Islam terhadap hak atas pangan. Tata sistemnya pun dengan demikian harus berbasis kedaulatan, sebagaimana tercermin dalam kepedulian Muhammad terhadap urusan pangan yang sangat istimewa, seperti disabdakan: an-nasu syuraka-u fii tsalatsin: al-mau wa al-kala-u wa an-nar, manusia berserikat dalam tiga perkara: air, tetumbuhan dan api. Berserikat, syurakaa’, mensiratkan bahwa kekuasaan dan kedaulatan urusan ini berada di tangan rakyat, untuk ? sebesar-besarnya kepentingan manusia sebagai kolektifitas, dan pantang eksploitatif.?

Perhatian Allah tentang hak atas pangan, bahkan ditunjukkan dengan menyebut pendustaan agama, yukaddzibu bi ad-din (QS. 107: 1-3), termasuk mereka yang: laa yakhuddlu ala thaami al-miskin, tidak mengajak memberi makan fakir-miskin. Tafsir Qurtubi menyebut makna utama ayat ini: isyaratun ala annahu la yuthimu al-masakin idza qadara, mengisaratkan mereka yang tidak memberi makan ketika mampu.

Banyak pihak menjabarkan ayat ini lebih dari sekedar urusan pangan, tetapi pangan dan perekonomian umumnya. Surat al-maun ini menjadi inspirasi para pemimpin terdahulu, seperti Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dengan syirkah muawwanahnya (gerakan koperasi), yang beliau kembangkan jauh hari sebelum NU dideklarasikan berdirinya oleh beliau.

Begitulah ketakwaan mensyaratkan tumbuhnya kepedulian sosial, mengamanatkan bahwa sebagian rejeki ? harus dinafkahkan (QS. 2: 2), kepada yang berhak, dalam keadaan lapang maupun sempit (QS. 3: 134), agar gini rasio tidak njomplang, serta supaya aset ekonomi tidak terkonsentrasi kepada segelintir orang kaya, kay la yakuna duulatan baina al-aghniyai minkum (QS. 59: 7).

Semoga kita beroleh rahmat untuk lebih manusiawi, semakin peka terhadap mereka yang lemah, terlebih yang paling tersingkir dalam pembangunan, , untuk kemajuan perekonomian bersama. ? Jauhkanlah kami semua ya Allah, untuk tidak justru menari-nari bagai burung bangkai, di atas kelemahan mereka yang sedang tidak beruntung, naudzu billaah..

Sungguh sebagai ilmuwan dan ilmuwan muda, mahasiswa-mahasiswi, sekelumit contoh yang menggambarkan betapa hinanya para ilmuwan, yang sehebat apapun, ketika tidak dilandasi kesiapan spiritualis sudah pasti akan keblinger, akan menjadi the most disadvantaged people, tidak mampu berlaku adil dan tidak bakal masuk dalam kategorisasi Allah sebagai ilmuwan yang ulama’.?

Kedalaman spiritualitas Ramadlan dengan segala paket ibadahnya, menempa kita semua, sebagai civitas akademika untuk insya Allah menjadi lebih komplit ketika tidak semata didukung rasa takut kepada Allah karena berbagai kealpaan hidup yang kita lakukan (khauf), akan tetapi didukung rasa takut nuraniah yang paling dalam kepada Allah, min khasyyatiLlah, yang dilandasi kesadaran, cinta dan penghormatan tulus kepada Allah SWT sebagai Yang Maha Agung, Maha Kuasa dengan segala kekuatannya, dan Maha Tahu dengan kesempurnaan ilmunya.

Rasa takut seperti ini terwujud, menggabungkan penafsiran Shobuni dan Ibn Katsir, liannahum ya’rifunahu haqqa ma’rifatihi li al-‘adlim al-qadiir atam, wa al’ilmi bihi akmal, karena para alim menghayati setulusnya akan keagungan, kesempurnaan kekuasaan, dan tidak terbatas keilmuan Allah.?

Attribut nuraniah khasyyatullah inilah karakterisasi Allah terhadap para ilmuwan yang memiliki basis spiritualitas: innamaa yakhsya Allaha min ibadihi al-ulamaa (QS 35: 28), sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah para alim. Signifikansi sosok ini ditegaskan pula dengan: wa hum min khasyyatihii musyfiquun (QS 21:28), dan karena rasa takutnya kepada Allah, mereka senantiasa berhati-hati.

Semoga Allah berkenan memberikan hidayah, sehingga kita semua tidak akan sekadar menjadi civitas akademika UNUSIA, tetapi civitas akademi yang sekaligus menghayati khasyyatullah, insya Allah.***

Penulis adalah Wakil Ketua Umum PBNU dan Rektor UNU Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Tokoh, RMI NU Muhammadiyah Asli

Sabtu, 03 Februari 2018

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an

Pringsewu, Muhammadiyah Asli



Mustasyar PCNU Pringsewu H Sujadi didaulat mengimami kegiatan peringatan setahun Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Husna yang diasuh oleh Ustadz Abdul Hamid pada Ahad Malam (8/1).?

"Kami ingin keberkahan dan keselamatan selalu menaungi pesantren kami ini melalui wasilah doa yang diimami oleh KH. Sujadi yang juga seorang hafidz quran," kata Ustadz Hamid saat kegiatan berlangsung di pesantren yang terletak di Pringsewu Barat tersebut.

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an

Sesaat sebelum mengimami doa, H. Sujadi mengatakan bahwa Pesantren Al Husna merupakan salah satu aset yang perlu terus dikembangkan dalam rangka mencetak para generasi penjaga dan penghafal Al-Qur’an di Kabupaten Pringsewu.

Menurutnya, hal ini selaras dengan pernyataan Gubernur Lampung yang mengatakan bahwa Pringsewu menjadi lumbung bagi sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Lampung.?

Muhammadiyah Asli

Walaupun baru berkiprah setahun, lanjutnya, Pesantren Al Husna sudah mampu memberikan sumbangsing SDM unggul di bidang Ilmu Al-Qur’an dengan para penghafalnya.

H. Sujadi mengapresiasi perjuangan para santri yang terus menghafal 30 juz Al Quran. Menurutnya banyak sekali godaan, cobaan atau ujian yang sering dihadapi oleh mereka yang memiliki tekad menghafal Al-Qur’an.

"Allah telah menjelaskan saking beratnya ilmu Al Qur’an, gunung pun tidak kuat dan tidak berani untuk memikul Al-Qur’an," jelas Abah Sujadi seraya membacakan Ayat Al Quran yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Muhammadiyah Asli

Oleh karenanya, ia berpesan kepada para santri untuk senantiasa istiqomah dan terus berdoa agar niat untuk menghafal Al Quran senantiasa ada dalam diri.?

"Ilmu Al-Qur’an merupakan harta kekayaan yang tak ternilai harganya dan tak akan habis barokahnya. Mudah-mudahan para santri senantiasa diberi kemudahan oleh Allah SWT," harapnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU, Nusantara Muhammadiyah Asli

Sabtu, 27 Januari 2018

Dana Program Indonesia Pintar untuk Santri Siap Diluncurkan

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) Mohsen Alaydrus mengemukakan, dana Program Indonesia Pintar (PIP) yang diperuntukkan bagi para santri siap disalurkan dalam waktu dekat.

Dana Program Indonesia Pintar untuk Santri Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dana Program Indonesia Pintar untuk Santri Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dana Program Indonesia Pintar untuk Santri Siap Diluncurkan

Informasi dari Kemenag di Jakarta, Jumat menyebutkan, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren mengemukakan keterangan tersebut di depan para kiai dan perwakilan Kanwil Kemenag Provinsi se-Indonesia pada 16 Maret 2016 di Serpong, Jawa Barat.

Mohsen lebih lanjut mengharapkan pendataan para santri penerima PIP dapat dilakukan secara cepat dan akurat, sehingga dananya bisa cepat sampai kepada santri penerima, setidaknya mulai April 2016.

Ia juga menekankan bahwa pengelolaan PIP harus profesional dengan menerapkan "Total Quality Service" (pelayanan kualitas secara menyeluruh) serta tanggap terhadap masukan dan keluhan dari masyarakat.

Pada kesempatan yang sama Kasubdit Pendidikan Diniyah Dr Ahmad Zayadi yang juga Sekretaris Tim PIP menyatakan bahwa PIP selaras dengan tujuan-tujuan pembangunan milenium (MDGs), yakni pendidikan untuk semua.

Muhammadiyah Asli

Menurut Zayadi, pada 2016 ini Kemenag diamanatkan untuk menyalurkan dana PIP kepada lebih dari 236 ribu santri. Para penerima dana pendidikan tersebut adalah santri yang tidak mengikuti pendidikan formal. Mereka murni hanya belajar di Pondok Pesantren Muadalah atau yang disetarakan dengan pendidikan formal.

Muhammadiyah Asli

Disebutkan pula, penerima dana PIP harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya orang tua santri adalah peserta Program Keluarga Harapan (PKH) dan tergolong rumah tangga miskin, santri korban musibah bencana, atau santri yang terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan.

PIP adalah pemberian bantuan tunai pendidikan kepada usia sekolah dari keluarga kurang mampu. Program unggulan yang digulirkan di era Presiden Jokowi ini sebelumnya dikenal dengan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM).

Tujuan dari program bantuan pendidikan tersebut adalah memberikan jaminan agar semua rakyat Indonesia terlayani pendidikannya tanpa terganggu oleh masalah keuangan.

Total alokasi anggaran PIP di Kemenag tahun 2016 berjumlah Rp240 milyar. Besaran manfaat per orang per tahun adalah, santri tingkat Ula (dasar) usia 6-12 tahun sebesar Rp 450 ribu, santri tingkat wustha (menengah) usia 13-15 tahun Rp750 ribu, dan santri tingkat ulya (tinggi) usia 16-21 tahun sebesar Rp1 juta.

Penyaluran dana dilakukan bekerja sama dengan beberapa bank yang menerbitkan tabungan Simpel (simpanan pelajar). Penerbitan Simpel sangat sederhana dan tidak memerlukan persyaratan yang rumit seperti membuka rekening pada umumnya. Hingga saat ini sudah ada delapan bank syariah yang bersedia menyalurkan dana PIP untuk santri. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU Muhammadiyah Asli

Senin, 15 Januari 2018

Sekjen PBNU Sebut Tiga Tantangan Besar Fatayat NU

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama, H Helmy Faisal Zaini menjelaskan bahwa hasil Muktamar NU ke-33 di Jombang merekomendasikan tiga keputusan penting. Pertama, NU akan setia mengawal Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).?

“Kemudian yang kedua adalah memantapkan faham Ahlussunnah wal Jama’ah,” jelas Helmy saat memberikan sambutan pada acara tasyakuran Harlah ke-66 Fatayat NU, di Gedung Teater Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (21/4) sore.

Sekjen PBNU Sebut Tiga Tantangan Besar Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU Sebut Tiga Tantangan Besar Fatayat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU Sebut Tiga Tantangan Besar Fatayat NU

Selanjutnya, kata Helmy, meningkatkan kualitas hidup warga. Menurutnya, ada tiga level yang harus dilakukan untuk menciptakan kualitas hidup warga agar lebih baik. “Yang pertama adalah level pendidikan, yang kedua adalah kesehatan, dan yang ketiga adalah ekonomi,” paparnya.

“Tiga level ini menurut saya menjadi pekerjaan rumah Fatayat NU untuk bersama-sama melakukan upaya-upaya peningkatan apa yang disebut sebagai fungsi-fungsi pelayanan kepada warga,” lanjutnya.

Merujuk kepada PISA (Program for International Student Assessment), Helmy menjelaskan bahwa tingkat pendidikan Indonesia berada di nomor 63 dari 65 negara yang disurvei.

Muhammadiyah Asli

“Dengan tiga indikator. Pertama adalah kemampuan sains, kedua adalah kemampuan matematika, dan ketiga adalah minat baca," ? ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta Fatayar NU ikut andil dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Ia juga mengaku akan siap mendukung setiap program-program yang akan dilaksanakan oleh Fatayat NU.

“Saya menyambut gembira kegiatan-kegiatan Fatayat dengan mengambil tema dan topik yang penting,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Emarini mengajak para kader agar bisa menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Muhammadiyah Asli

“Saya mengajak sahabat-sahabat mulai hari ini menjadi lebih baik, menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain,” kata Anggia.

Anggia berharap apa yang menjadi program kerja Fatayat NU bisa terlaksana dengan baik dan lancar. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Hadits, Sunnah, RMI NU Muhammadiyah Asli

Sabtu, 23 Desember 2017

Banser Non-Muslim dan Kisah Enam Orang Buta Meraba Gajah

Oleh Gatot Arifianto? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

Bisakah setiap dari kita menentukan dilahirkan sebagai orang Arab, Jerman, Indonesia atau China? Jika jawaban atas pertanyaan tersebut bisa maka betapa dahsyatnya setiap dari kita. Tapi fakta yang ada, kita tak sedahsyat itu. Ada yang mau tunjuk jari dan mengaku bisa menentukan, memilih sendiri dilahirkan sebagai orang atau bangsa apa? ?

?

Banser Non-Muslim dan Kisah Enam Orang Buta Meraba Gajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Non-Muslim dan Kisah Enam Orang Buta Meraba Gajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Non-Muslim dan Kisah Enam Orang Buta Meraba Gajah

Pertanyaan tersebut patut diajukan ketika dunia maya gaduh dengan beredarnya foto Kartu Tanda anggota (KTA) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU bernama Lie Tjin Kiong dengan nomor anggota XII-01.26.06.160003.

Muhammadiyah Asli

(Baca: Heboh Hoax Non-Muslim Tionghoa Jadi Anggota Banser)



Banyak ungkapan rasis atas Lie Tjin Kiong, anggota Banser Satkoryon Tandes Surabaya tersebut. Adapula yang menuding Banser bukan hanya untuk orang Islam. Dalam konteks harakah (gerakan), bukan aqidah, pernyataan Banser bukan hanya untuk orang Islam seratus persen benar, karena Banser, sebagaimana tercantum dalam Nawa Prasetya memang juga untuk Indonesia yang beragam.

?

Namun salahnya juga seribu persen. Di mana letak kesalahannya? Ketidaktahuan yang mengingatkan cerita Kisah Enam Orang Buta dan Gajah. Orang buta yang memegang bagian badan mengatakan bahwa gajah itu seperti dinding tebal. Lalu orang buta yang memegang bagian gading meyakini gajah itu bentuknya panjang meruncing dan tajam.

Muhammadiyah Asli

?

Pengenalan terbatas dan tidak utuh mengenai sesuatu atau mengenai seseorang dapat menyesatkan atau membingungkan karena jelas akan memberi informasi salah. Karena itu supaya gamblang, perlu kiranya penjelasan, supaya otak tidak kosong dan berisi.

?

Selain itu, perlu pula menyimak QS 49, Surat Al Hujurat Ayat 6: Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabayyanuu an tushiibuu qauman bijahaalatin fatushbihuu ala maa faaltum naadimiin(a). Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

?

Untuk diketahui, bahwa untuk menjadi anggota Banser tidak hanya selesai mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar). Namun juga harus berbaiat yang diawali dengan:

?

? ? ? ?

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bismillahirrahmanirrahim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang). Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah. Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullah (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Dan Muhammad adalah utusan Allah).

Bukankah Syahadat merupakan keharusan dibaca bagi siapa yang masuk Islam? Syahadat yang dalam bahasa Arab Asy-syah?dah? merupakan asas dan dasar dari lima rukun Islam sekaligus ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam.

?

Lantas bagaimana mungkin seseorang yang syahida, telah bersaksi Allah adalah tuhan dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah bukan Muslim? Adakah alasan tepat, bisa diterima akal sehat atas tudingan Banser bukan Islam?

?

Salah jugakah Lie Tjin Kiong karena terlahir sebagai China? Tidak berhakkah pengurus Masjid Cheng Ho, Surabaya, Jawa Timur yang mengikuti Diklatsar Banser pada tahun 2001 itu bersyahadat untuk menjadi muslim?

Penulis Asinfokom Satkornas Banser



Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Lomba, RMI NU, Khutbah Muhammadiyah Asli

Rabu, 20 Desember 2017

Membangun Pola Kaderisasi PMII Kampus Umum

Oleh Eko Tri Pranoto

Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakuakan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis.

“Dan hendaknya takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar” (An-Nisa : 9).

Membangun Pola Kaderisasi PMII Kampus Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Pola Kaderisasi PMII Kampus Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Pola Kaderisasi PMII Kampus Umum

Bung Hatta pernah bertutur mengenai kaderisasi, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam!”.

? ? ?

Muhammadiyah Asli

Dalam kaderisasi ada dua ikon penting yaitu :

1. Pelaku Kaderisasi (subyek)

2. Sususnan Kaderisasi (obyek)

Muhammadiyah Asli

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) fungsi dasarnya adalah kaderisasi, sesuai dengan tugas PMII “terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, cakap dan bertanggungjawab, mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (Tujuan PMII, Pasal 4 AD/ART).

Pola kaderisai PMII memiliki karakter dan karakteristik yang berbeda-beda sesuai denga kondisi lingkungan dan situasi karakter mahasiswa pada jenis lembaga serta fakultas tertentu. Oleh karena itu pemahaman tentang teritorial PMII sangat perlu untuk ditanamkan. Berangkat dari pemahaman tersebut, pengurus komisariat maupun pengurus rayon memiliki kultur dan tantangan yang lebih kompleks dibandingkan dengan yang ada pada kampus-kampus yang berlatar belakang Islam.

Keberagaman latar belakang kultur mahasiswa di kampus umum serta padatnya waktu kuliah menjadi tantangan yang berat bagi PMII kampus umum. Untuk itu diperlukan formulasi kaderisasi yang matang agar tetap mampu bertahan di tengah kondisi kampus yang heterogen. Banyak jumlah kajian keilmuan di kampus umum dengan berbagai fakultas yang mempelajari disiplin ilmu dapat dijadikan modal untuk memaksimalkan pengembangan potensi kader sesuai dengan budaya masing-masing. Melalui pengembangan potensi tersebut makan akan tercipta kader-kader PMII yang layak dan kondusif untuk di tempatkan pada lini-lini yang terdapat di tiap lembaga kampus.

Dalam segi internal PMII, problem yang menjadi penyebab kurang hafalnya suatu kaderisasi adalah tidak adanya ruang sebagai media aktualisai bagi anggota maupun kader yang telah demisioner sebagai pengurus PMII sehingga tidak ada sinergitas bagi mereka terhadap fungsi kaderisasi. Perlu adanya ruang untuk meyakinkan para pengurus demosioner agar tidak lepas peran dan fungsi terhadap kaderisasi.

Penanaman nilai-nilai keislaman dan pemahaman ke-PMII-an harus disesuaikan dengan proses melalui ruang kaderisasi nonformal dan ruang kultural yang ada agar nilai dan pemahaman tersebut dapat disampaikan baik secara tekstual ataupun nontekstual. Kaderisasi nonformal bertujuan untuk membekali kader dengan pengetahuan dan keterampilan spesifik yang dibutuhkan oleh kader, maka output yang dihasilkan pada ruang kaderisasi ini terhadap pemahaman ke-PMII-an adalah meluluskan kader-kader yang ulil albab. Dalam pemahaman nilai-nilai keislaman, yang kultural yang ada merupakan pusat produksi ASWAJA sebagai manhaj al-fiqr PMII. Ruang kultur sangatlah penting mengingat kampus umum sangat kering keagamaannya.

Menyalurkan kaderisasi tentu butuh yang namanya “ritual” agar tercipta sebuah kesinambungan gerakan. Selain itu perlu adanya inovasi dan kreativitas dalam berpikir menjalankan kaderisasi agar kaderisasi yang dilakukan tepat sasaran. Tujuan lebih kepada aspek kuantitas contohnya sebelum melakukan Mapaba perlu adanya sebuah kegiatan pra-Mapaba yang bertujuan untuk pendalaman emosial dan pengenalan PMII kepada sasaran biasanya mahasiswa baru.

PMII Unila yang akrab disapa dengan nama PMII Komisariat Brojonegoro merupakan perintis berdirinya PMII di tanah Sai Bumi Ruai Juarai, bahkan dahulu PMII Unila adalah barometer pergerakan di Lampung. PMII Unila merupakan kiblat bagi seluruh PMII di berbagai penjuru Lampung. Banyak kader-kader yang sudah menjadi alumni sukses di berbagai profesi serta menduduki posisi strategis yang tersebar di berbagai daerah di Lampung baik sebagai pejabat, pengusaha, politisi, akademi dan banyak lagi sebagainya.

Beridirinya PMII Unila diprakarsai Teddy Junaidi, Rustam Efendi, dan beberapa tokoh lainnya yang merasa jenuh dengan nuansa gerakan mahasiswa di Unila yang condong monoton pada tahun 1965-an. Dalam perjalanannya PMII Unila sempat mengalami pasang surut, sempat mengalami kekosongan kegiatan dan kader antara tahun 2000 sampai tahun 2006. Penyebabnya adalah perumusan formula kaderisasi yang belum tepat sasaran, sehingga berdampak pada vakumnya PMII Unila.

Dinamika-dinamika kaderisasi tersebut dari mulai harmonisasi sejarah sampai dengan kemerosotannya, merupakan cermin bagi para pengurus, baik pengurus komisariat maupun pengurus rayon agar dalam menjalankan fungsi kaderisasi dapat memahami aspek-aspek apa saja yang harus dicukupi untuk menjalankan kaderisasi. Agar tidak terjebak kepada kemerosotan organisasi, dan dapat mengulang kembali harmonisasi sejarah kejayaan PMII kampus umum khususnya Unila.

Dapat dipahami bahwa kaderisasi memiliki tugas atau tujuan sebagai proses humanisasi atau pemanusiaan/memanusiakan. Manusia yang bertakwa kepada Allah SWT, manusia yang beriman, manusia yang selalu mengingat Allah SWT di setiap saat, manusia yang setia dengan janji Allah SWT dan ridak melanggar perjanjian dengan-Nya, manusia yang mengambil pelajaran dari sejarah umat manusia, perjalanan alam semesta dan dari ayat-ayat-Nya sehingga dapat melaksanakan tujuan PMII.



Eko Tri Pranoto, Ketua Komisariat PMII Unila masa khidmah 2013-2014



Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU, Berita, Sejarah Muhammadiyah Asli

Selasa, 19 Desember 2017

IPNU-IPPNU Cirebon Perbanyak Komisariat di Sekolah Negeri

Cirebon, Muhammadiyah Asli

Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon, Jawa Barat kian meluaskan sayapnya. Pada Sabtu (2/3) siang, Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU MAN 3 Kabupaten Cirebon (nama lain dari MAN Buntet Pesantren) resmi dibentuk dan pengurusnya dilantik di Auditorium MAN 3 Kabupaten Cirebon.

IPNU-IPPNU Cirebon Perbanyak Komisariat di Sekolah Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Cirebon Perbanyak Komisariat di Sekolah Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Cirebon Perbanyak Komisariat di Sekolah Negeri

Ayub Al Ansori, Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Cirebon menegaskan, pembentukan organisasi pelajar NU di sekolah-sekolah negeri tersebut merupakan salah satu wujud program prioritas PC IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon. Bersama jajaran pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon, pihaknya berkomitmen dan berikhtiar untuk menghadirkan PK IPNU-IPPNU di semua lembaga pendidikan baik yang di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU atau sekolah negeri di Kabupaten Cirebon.

"Satu tahun ke depan kita akan fokus di wilayah kaderisasi seperti kaderisasi formal dan pembentukan komisariat, PAC, dan PR. Mudah-mudahan diberi kelancaran," terang Ayub.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu Nur Aida Fajriyanti, Ketua PC IPPNU Kabupaten Cirebon, berpesan kepada pengurus baru PK yang telah dilantik agar dapat saling bekerjasama dan kompak dalam melaksanakan setiap program dan tugas yang akan dilaksanakan.

Muhammadiyah Asli

“Apapun problemnya yang penting kedepankan musyawaroh. Setelah dilantik nanti silakan Rapat Kerja. Kalau bisa kedepankan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) agar siswa-siswi lebih memahami IPNU dan IPPNU. Makesta merupakan gerbang atau pintu masuk IPNU dan IPPNU. Sehingga kedepan pelajar IPNU-IPPNU dapat menjadi kader yang unggul serta dapat memberikan sumbangsih terhadap pembangunan bangsa, negara, dan agama,” jelas Aida.

Pengambilan sumpah jabatan dilakukan langsung oleh Ayub Al Ansori, Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Cirebon kepada pengurus baru PK IPNU MAN 3 Kabupaten Cirebon yang diketuai oleh Najmi Alvian. Dan oleh Nur Aida Fajriyanti, Ketua PC IPPNU Kabupaten Cirebon kepada pengurus baru PK IPPNU MAN 3 Kabupaten Cirebon yang diketuai oleh Firda Sundusun Ro’fah. (Nurjannah Al Kendali/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli IMNU, RMI NU Muhammadiyah Asli

Sabtu, 09 Desember 2017

Fatayat: Ciptakan Mudik Ramah bagi Anak

Surabaya, Muhammadiyah Asli. Hal yang tidak bisa dilepaskan dari Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri adalah arus mudik dan balik. Namun dalam pelaksanaannya, ternyata pemerintah belum mampu memberikan sarana dan suasana yang nyaman bagi masyarakat.

Keprihatinan ini disampaikan Dra Hj Ida Fauziyah kepada Muhammadiyah Asli (19/8).  Bagi Ketua Komisi VIII DPR RI ini, tradisi mudik adalah sebagai sebuah kebiasaan yang layak dipertahankan. “Ada banyak manfaat yang bisa diraih dari tradisi mudik ini,” katanya.

Fatayat: Ciptakan Mudik Ramah bagi Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat: Ciptakan Mudik Ramah bagi Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat: Ciptakan Mudik Ramah bagi Anak

Disamping persoalan menyambung komunikasi dengan sesama kerabat dan teman, mudik mampu mendistribusikan kemakmuran ekonomi yang selama ini hanya berkutat di kota besar kepada desa-desa yang terkadang terbelakang dalam banyak hal.

Muhammadiyah Asli

“Karena itu yang mendesak untuk dilakukan oleh pemerintah adalah melayani semangat itu dengan fasilitas yang memadai,” kata Ketua Umum PP Fatayat NU ini. Namun celakanya, ternyata pemerintah telah abai untuk menyediakan kebutuhan fital ini.

Muhammadiyah Asli

“Coba perhatikan, bagaimana ketersediaan sarana transportasi untuk mengangkut para pemudik dan keluarganya dari tahun ke tahun,” katanya. “Nyaris tidak ada perbaikan,” sambungnya.

Baik itu sarana transportasi massal seperti bus, kereta api, maupun kendaraan umum yang lain. “Belum lagi sarana jalan yang tidak mampu lagi menampung antusias masyarakat untuk bersilaturahim,” sergahnya.

Dengan kondisi ini, praktis masyarakat seperti melakukan jihad untuk bisa sampai ke kampung halaman. “Tingginya angka kecelakaan sebagai indikasi nyata bahwa pemerintah telah abai dalam memberikan rasa aman dan nyaman kepada warganya,” tegasnya.

Apalagi kalau berbicara tentang kenyamanan mudik bagi para anak dan balita. “Wong untuk keselamatan mereka yang sudah dewasa saja tidak mampu disediakan, apalagi untuk anak dan balita,” katanya menyayangkan.

Oleh karena itu, Ida Fauziyah berharap agar pemerintah bisa mencari solusi terbaik bagi ketersediakan sarana dan prasarana mudik yang nyaman, khususnya untuk anak-anak dan balita. Karena itu di sejumlah rest area, Fatayat NU telah menyediakan sejumlah sarana yang bisa mendukung mudik nyaman ini.

“Kami menyediakan wahana bermain di sejumlah tempat peristirahatan,” ungkapnya. Di tempat peristirahan itu disediakan para pendongeng dan mainan untuk melapas penat khususnya bagi anak-anak. “Ini kami lakukan agar para pemudik khususnya anak-anak bisa merasa nyaman selama dalam perjalanan,” terangnya.

Namun bagaimanapun juga, para orang tua terkadang terlalu memaksakan diri. Pengendara motor, boleh dikata tidak memberikan perhatian yang cukup kepada anak-anak. “Mereka hanya berfikir bisa sampai ke tempat tujuan dengan biaya yang lebih ekonomis,” sergahnya. “Namun tidak pernah memikirkan bagaimana kondisi anak yang dibawa serta,” lanjutnya.

Ida Fauziyah mengusulkan agar pemerintah mulai berfikir untuk menyediakan alat transportasi lewat laut. “Kalau memaksakan menggunakan fasilitas darat, tentu lahan dan sarana akan terbatas,” katanya.

Ia juga mengkritik keinginan pemerintah yang akan membangun jembatan antara Pulau Jawa dan Sumatera karena akan rentan resiko alam yang tidak terduga. “Mengapa tidak memanfaatkan potensi laut dan perairan yang memang menjadi ciri khas bangsa ini sebagai negara maritim?” katanya balik bertanya.

Dalam bayangannya, bila kesadaran maritim telah menjadi pola pandang pemerintah dan masyarakat, akan banyak sarana transportasi massal yang aman dan nyaman. “Ini pekerjaan besar yang harus menjadi perhatian semua pihak,” pungkasnya.

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Syaifullah Ibnu Nawawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU Muhammadiyah Asli

Jumat, 01 Desember 2017

Pengebom Dapat Bidadari di Surga?

Istilah ‘pengantin’ lekat dengan seseorang yang mengajukan diri melakukan bom bunuh diri. Iming-iming mati syahid dan mendapat bidadari surga turut menjadi sugesti tindakan terornya.

Alkisah, Gus Dur ditanya oleh seorang wartawan terkait maraknya ‘pengantin’ bom bunuh diri ini. Sebab dalam pandangan masyarakat umum, bagaimana bisa dikatakan syahid dan mendapat bidadari surga jika manusia tak berdosa ikut menjadi korban.

“Gus, menurut Anda, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan.

Pengebom Dapat Bidadari di Surga? (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengebom Dapat Bidadari di Surga? (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengebom Dapat Bidadari di Surga?

“Memangnya sudah ada yang membuktikan?” tanya balik Gus Dur.

“Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan belum pernah ke surga,” sergah Gus Dur lagi.

Muhammadiyah Asli

“Lalu, apakah benar mereka tergolong mati syahid, Gus?” wartawan lain menimpali.

“Mereka itu yang jelas bukan mati syahid, tetapi mati sakit. Kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari," jawabnya.

"Kenapa Gus?"

"Karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi,” seloroh Gus Dur.?

Muhammadiyah Asli

“Geeerrrrr.....”

(Fathoni Ahmad)

Cerita ini disarikan dari buku “The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita”, (Imania, 2014).

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, RMI NU, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Senin, 27 November 2017

Tahun Ini Haul Buntet Pesantren Lebih Ramai

Cirebon, Muhammadiyah Asli. Malam puncak perayaan haul Buntet Pesantren 2015 kabupaten Cirebon dihadiri lebih dari sepuluh ribu jamaah. Belasan ribu orang memadati jalan menuju panggung acara. Mereka terdiri ? atas kalangan kiai, santri, alumni, dan warga dari berbagai kabupaten.

Tahun Ini Haul Buntet Pesantren Lebih Ramai (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Ini Haul Buntet Pesantren Lebih Ramai (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Ini Haul Buntet Pesantren Lebih Ramai

Sebelum acara puncak, beberapa rangkaian kegiatan telah digelar selama lebih dari sepekan seperti halaqoh, bedah buku, nikah, dan sunatan massal, pagelaran seni rakyat, pengobatan gratis, semaan Al-Quran, ziarah kubur, dan tahlil umum.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang hadir pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa haul adalah momen di mana masyarakat menghadirkan suasana para sesepuh dalam memperjuangkan pendidikan agama Islam.

Muhammadiyah Asli

"Sepanjang sejarah, yang punya kontribusi sangat besar dalam memperjuangan NKRI adalah kelompok yang berasal dari pesantren yaitu kiai dan santri," kata Aher, Sabtu (4/4) malam.?

Muhammadiyah Asli

Usai beberapa sambutan, pihak panitia haul membagikan beasiswa kepada santri berprestasi yang kemudian ditutup dengan taushiyah dari Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. (Zaky Farid Luthfi-Ajie/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU Muhammadiyah Asli

Ini Cara Banser Lampung Tanggapi Tuduhan Miring

Bandar Lampung, Muhammadiyah Asli - Benarkah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) hanya kumpulan para pencari nasi bungkus dan rokok dengan cara menjaga gereja seperti digembar-gemborkan sejumlah pihak yang tidak menyukai badan semi otonom Gerakan Pemuda Ansor ini?

Menjawab tuduhan salah kaprah ini Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Lampung memilih menjawab dengan harakah, yakni menggelar sejumlah bakti sosial (baksos) penyembuhan alternatif ATS Metode bagi masyarakat membutuhkan.

Ini Cara Banser Lampung Tanggapi Tuduhan Miring (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Banser Lampung Tanggapi Tuduhan Miring (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Banser Lampung Tanggapi Tuduhan Miring

"Banyak kegiatan Banser tergabung dalam Banser Tanggap Bencana (Bagana) di sejumlah daerah di Indonesia saat membantu korban banjir, longsor hingga peduli sesama kurang terpublikasikan. Masyarakat hanya disuguhi pihak yang tendensius dengan kami dengan kegiatan yang secara fiqih sebenarnya tidak ada persoalan, yakni membantu pengamanan umat Kristiani saat perayaan Natal," ujar Kasatkorwil Banser Lampung Tatang Sumantri di Bandarlampung, Ahad (19/3).

Muhammadiyah Asli

Namun di luar itu, kata Tatang, Banser selalu ada di manapun tempat. Mereka insya Allah berbuat maslahat dan sesuai koridor seperti pengamanan pengajian.

"Saat terjadi banjir di Provinsi Lampung, baik Ansor dan Banser juga turun tangan, bukan urun angan. Apa pihak-pihak yang tendensius itu memviralkan kegiatan kami?" kata dia lagi.

Muhammadiyah Asli

Dalam butir ke enam Nawa Prasetya Banser sudah jelas, Banser peduli terhadap nasib umat manusia tanpa memandang suku, bangsa, agama dan golongan.

"Para sahabat nabi yang dijamin masuk surga juga tidak melakukan perusakan tempat-tempat ibadah. Jika Banser menjaga gereja, yang dijaga itu sebenarnya bukan sekedar itu, tapi persatuan Indonesia," ujar Tatang.

Baksos penyembuhan alternatif ATS Metode akan digelar di GP Ansor Lampung Jalan Raden Gunawan II, Rajabasa, Bandar Lampung, pada Selasa 21 Maret 2017, pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.

Dalam satu kali baksos, pasien bisa ditangani kisaran 70 orang. Assinfokom Satkornas Banser Gatot Arifianto yang merupakan aktivis Gusdurian, motivator, praktisi Hypnosis, Kultivasi Energi Ilahi, Neo Neuro-Lingusistic Programing dan Aji Tapak Sesontengan akan berupaya menyembuhkan sejumlah penyakit seperti alergi dingin, mata minus dan plus, nyeri persendian, sakit pinggang, sakit gigi, migrain, vertigo, saraf kejepit, sakit tengkuk, lemah syahwat,? asam urat, asma, bronchitis hingga diabetes.

"Dalam dua jam penyembuhan, pasien bisa ditangani kisaran dua puluh lima orang. Karena itu, sembari menunggu jadwal penyembuhan kami ajak pasien untuk membaca Sholawat Nariyah yang memiliki manfaat untuk mempermudahkan rezeki hingga dijauhkan dari penyakit dan bahaya. Berdoa dan berzikir lebih baik daripada menebar berita tidak benar," paparnya.

Tatang menambahkan, upaya tersebut merupakan penegasan, bahwa Banser selalu berbuat maslahat bagi masyarakat dan sangat jauh dari tuduhan-tuduhan salah kaprah tidak bertanggung jawab.

Pada kegiatan baksos di Tanggamus dan Way Kanan, 90 persen pasien ditangani Gatot Arifianto merasa puas. Bahkan ada satu pasien sakit gigi, setelah disentuh dua menit langsung tertawa dan bercanda siap ditinju. Termasuk pasien mata minus dan plus, mengaku pandangan lebih jernih setelah disentuh.

Tingkat kepuasan pasien berdasarkan testimoni setelah ditangani alumni Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim II) PP GP Ansor? itu pada kegiatan baksos di Tanggamus dan Way Kanan rata-rata 80 hingga 90 persen.

Penderita sariawan tiga bulan juga mengaku sakit hilang setelah ditangani kurang dari lima menit, termasuk dada ngilu, sakit pinggang, asam urat hingga kaki sakit dan berat digunakan saat berjalan menjadi berkurang dalam hitungan menit. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nahdlatul, News, RMI NU Muhammadiyah Asli

Jumat, 24 November 2017

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Beirut,Muhammadiyah Asli

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Lebanon dipercaya menjadi khatib dan imam Shalat Jumat di KRI Bung Tomo 357 Jumat (6/1) lalu.

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Ustadz Dhiya’ Fakhri Abidin, Koordinator Lembaga Dakwah? dan M. Audy Prasetyawan, Lajnah Nasyr wat Ta’lif memimpin Shalat Jumat pasukan Garuda di atas kapal perang Indonesia di Lebanon. Pasukan tersebut tergabung dalam MTF UNIFIL yang bertugas menjaga wilayah perbatasan perairan Lebanon.

Cuaca dingin yang sedang menyelimuti kota Beirut sehingga tidak memungkinkan melaksanakan Shalat Jumat di bagian dek kapal. Akhirnya Shalat Jumat dilaksanakan di lorong-lorong kapal yang membentuk satu barisan memanjang.

Muhammadiyah Asli

Ini kali pertama PCINU Lebanon mendapat kepercayaan untuk menyampaikan khutbah Jumat sekaligus mengimami pasukan garuda dibawah komando Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo.

Ketua PCINU Lebanon Ustadz Rahmat Ilahi bangga atas perhatian Komandan KRI pada pelaksanaan ibadah para prajurit. Rahmat juga merasa terhormat PCINU Lebanon dipercaya menjadi imam dan khatib tersebut.

Muhammadiyah Asli

"Ini merupakan kehormatan sekaligus kesempatan kami untuk mengamalkan ilmu yang diajarkan ulama dan kiai-kiai kita, untuk bekerja sama dengan TNI atau pasukan perdamaian Garuda menjaga keamanan dunia," ungkapnya.

Warga NU, kata dia, mendoakan agar tugas para pasukan TNI di kapal tersebut selalu sukses dan berkah. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pesantren, Sejarah, RMI NU Muhammadiyah Asli

Selasa, 14 November 2017

Ribuan Pelajar-Santri Dukung Eksekusi Mati Terpidana Narkoba

Majalengka, Muhammadiyah Asli. Ribuan pelajar dan santri Majalengka mendukung eksekusi mati terpidana narkoba Bali Nine segera dilakukan. Dukungan digelar dalam bentuk aksi tanda tangan petisi dukungan kepada Presiden Joko Widodo oleh pelajar dan santri Al-Mizan Ciborelang dalam acara karnaval yang bertajuk “Perdamaian untuk Bangsa” di Alun-alun Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (07/03).

Ribuan Pelajar-Santri Dukung Eksekusi Mati Terpidana Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Pelajar-Santri Dukung Eksekusi Mati Terpidana Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Pelajar-Santri Dukung Eksekusi Mati Terpidana Narkoba

Menurut Kordinator acara, Ade Duryawan, aksi ini adalah salah satu wujud kepedulian terhadap generasi bangsa yang? saat ini terancam masa depannya oleh Narkoba. “Saat ini ada sekitar 4,1 juta lebih pengguna narkoba di Indonesia. Kami mendukung eksekusi mati, sebab narkoba betul-betul telah menghancurkan masa depan generasi bangsa ini,” tegas Ade di sela-sela acara.

KH Maman Imanulhaq, anggota DPR RI, yang turut menginisiasi kegiatan menegaskan bahwa Indonesia kini masuk dalam kondisi darurat narkoba. Karena itu , menurut Maman, selain tindakan tegas bagi bandar dan pengedar, hal penting lainnya adalah upaya pencegahan yang dilakukan secara masif oleh berbagai pihak, baik pemerintah, aparat, maupun masyarakat.

Muhammadiyah Asli

Maman menyebutkan, sejak dini anak-anak perlu diberi pemahaman akan bahaya narkoba, termasuk lewat pendidikan di sekolah dan rumah. Ia yakin kedua tempat ini bisa menjadi benteng yang kuat bagi pencegahan narkoba.

“Anak-anak kita mesti dijaga baik-baik, karena mereka itu aset bangsa. Jangan sampai bangsa ini hancur gara-gara generasi penerusnya pecandu narkoba,” jelas anggota DPR RI Komisi VIII itu.

Muhammadiyah Asli

Iring-iringan karnaval yang melibatkan 41 SD/MI se-Majalengka tersebut tampak mengular sejauh 1 kilometer dan sempat memacetkan arus lalu lintas. Anak-anak terlihat antusias mengikuti pawai yang bertolak dari alun-alun Kecamatan Jatiwangi? dan berakhir di kompleks Pesantren Al-Mizan.

Sambil membawa berbagai macam poster dan mengenakan beragam atribut, sepanjang jalan peserta pawai meneriakkan yel-yel antinarkoba, antikorupsi, anti-free sex, antikekerasan anak, serta yel-yel dukungan mereka menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Karnaval merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Festival Al-Mizan ke-14 yang rutin digelar oleh Pondok Pesantren Al-Mizan Ciborelang, Jatiwangi, Majalengka. Selain karnaval, dalam rangka memeriahkan festival itu digelar juga kegiatan lain yang melibatkan partisipasi anak-anak, antara lain pameran pendidikan dan kreativitas anak, pagelaran seni budaya lokal, dan kompetisi futsal dan bola volley antar SD/MI se Majalengka. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU Muhammadiyah Asli

Kamis, 09 November 2017

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu

Surabaya, Muhammadiyah Asli - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali membuktikan keseriusannya dalam berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama (NU). Kali ini PMII ITS memfasilitasi pendaftaran Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) bagi dosen, karyawan serta mahasiswa NU yang ada di ITS, PENS ataupun PPNS. Kegiatan ini berlangsung pada Ahad (12/02) dan bertempat di gedung MWCNU Sukolilo, Surabaya.

Kegiatan ini dilakukan karena masih banyak warga NU dari kalangan dosen, karyawan maupun mahasiswa yang ada di ITS, PENS dan PPNS yang belum terdata. Sebagaimana yang disampaikan Ketua PMII ITS, Zidni Nafi Akbar, menurutnya kegiatan ini salah satunya untuk mendata mahasiswa maupun dosen NU di ITS, PENS ataupun PPNS.

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu

“Banyak sekali mahasiswa dan dosen NU yang di kampus ITS, PENS dan PPNS, namun belum bisa terdata,” ungkapnya.

Muhammadiyah Asli

Selain itu, tujuan lain diselenggarakan kegiatan ini adalah untuk memfasilitasi warga NU yang belum memiliki Kartanu. “Sebenarnya kegiatan ini difokuskan kepada mahasiswa dan dosen yang ada di sekitar ITS. Namun bila ada warga atau anggota PMII selain PMII Sepuluh Nopember dipersilakan untuk ikut,” imbuhnya.

Kegiatan ini berawal dari kerja sama antara PMII ITS dengan PCNU Surabaya. “Berhubung PMII ITS bisa bekerja sama dengan PCNU Surabaya untuk mengadakan Kartanu, maka diselenggarakan kegiatan ini,” jelas mahasiswa asal Kediri ini.

Muhammadiyah Asli

Dalam pelaksanaannya, ternyata bukan hanya dari kalangan dosen, karyawan serta mahasiswa ITS, PENS dan PPNS saja yang hadir guna melakukan pembuatan Kartanu. Warga sekitar tiga kampus tersebut juga turut hadir untuk melakukan pendaftaran Kartanu, bahkan mahasiswa luar ITS juga ikut serta dalam kegiatan ini, seperti dari Universitas Islam Negeri Surabaya (Uinsa), Universitas Sunan Giri (Unsuri),? Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga (Unair).

Banyaknya peserta dari luar area ITS dikarenakan informasi mengenai kegiatan ini menyebar di sosial media dengan cepat. Hal itu senada dengan apa yang diutarakan Ahmad, salah satu pendaftar Kartanu dari luar area ITS. Ia mengatakan, mengetahui adanya kegiatan ini dari sosial media. “Saya tahu info ini dari sosial media,” ujarnya.

Salah satu dosen yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ardy Maulidy Navastara ST MT. Ia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan semacam ini. Tak hanya itu saja, ia mengharapkan agar seluruh MWC, khususnya yang ada di seluruh Surabaya untuk menjadi agenda rutin.

“Saya pikir ini seharusnya menjadi agenda rutin bagi para MWC yang ada di seluruh Surabaya untuk disosialisasikan kepada masyarakat yang ada di Surabaya,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya perlu adanya sosialisasi. Hal itu dikarenakan masih banyak mahasiswa dan dosen ITS yang belum mengetahui Kartanu. “Kalau bisa disediakan posko yang selalu siap melayani warga nahdliyyin yang ingin mendaftar Kartanu,” pungkasnya. (Hanan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, RMI NU, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Selasa, 07 November 2017

PBNU Lakukan Taaruf

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2015, Rabu (28/4) malam, melakukan taaruf atau perkenalan antar sesama pengurus sekaligus kepada publik, di Jakarta.

 

PBNU Lakukan Taaruf (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lakukan Taaruf (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lakukan Taaruf

Hampir semua jajaran PBNU menghadiri acara itu, diantaranya Rais Aam KH Sahal Mahfudh, Wakil Rais Aam KH Musthofa Bisri, Ketua Umum KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Ketua Umum As`ad Said Ali.

Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang kini salah satu rais syuriah tidak hadir karena sedang berada di Jawa Tengah, namun sejumlah tokoh nasional seperti mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini, dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok menghadiri acara itu.

Muhammadiyah Asli

Acara didahului dengan tahlil yang dipimpin oleh mustasyar PBNU KH Endin Fahruddin Masturo untuk mendoakan para pendiri dan pejuang NU.

Muhammadiyah Asli

Dalam kesempatan tersebut, seluruh jajaran pengurus syuriyah dan tanfidziyah naik ke panggung dan selanjutnya dibaiat oleh Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz dengan mengucapkan radhitubillahi robba, (saya ridho Allah, tuhanku).

Acara selanjutnya lebih banyak diisi dengan ramah tamah secara informal diantara para pengurus dan undangan yang hadir.

Kamis besok, acara dilanjutkan dengan pleno pertama, yang salah satunya membahas kepengurusan lembaga dan lajnah. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU, Amalan, Nusantara Muhammadiyah Asli

Sabtu, 04 November 2017

NU Sampang Bantu Bangun Jembatan Runtuh

Sampang, Muhammadiyah Asli. Tim relawan NU di Sampang kembali menyalurkan bantuan kepada para korban banjir. Kali ini tim relawan yang didampingi salah seorang pengurus NU Kabupaten Sampang, Ust H. Nuruddin Jc, kembali melanjutkan perjalanannya ke desa Tanggumung untuk meninjau dan sekaligus menyalurkan bantuan untuk pembangunan sebuah jembatan yang runtuh diterjang arus banjir.

"Jembatan ini merupakan penghubung antar dusun kami dan dusun sebelah, sejak runtuhnya jembatan itu, para warga tentunya kesulitan untuk melakukan aktifitas, termasuk anak-anak kami yang masih dalam bangku sekolah juga menjadi terhambat, akhirnya kami berinisatif untuk membuat pelampung dari bambu untuk akses penyeberangan sementara," ujar Choirurroziqin, salah satu warga dusun tersebut, Jumat (26/4).

NU Sampang Bantu Bangun Jembatan Runtuh (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sampang Bantu Bangun Jembatan Runtuh (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sampang Bantu Bangun Jembatan Runtuh

Menurut tokoh masyarakat ini, berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk melaporkan ke pihak pemerintah terkait, namun hingga kini belum ada penanganan, sehingga para warga berinesatif untuk menggalang bantuan sendiri, " Ini termasuk kebutuhan mendesak, ini akses utama warga untuk menjalankan aktifitas sehari-hari, sehari-hari tak kurang dari 500 KK yang melewati jembatan ini," tambahnya. 

Muhammadiyah Asli

"Tadi kami lihat sendiri, bagaimana warga harus menyeberang sungai dengan bambu pengapung dan menarik tali, ini emergency, sudah seharusnya ada penanganan serius dari pemerintah terkait, dan NU Sampang dalam hal ini, hanya bisa bantu sekedarnya, paling tidak sebagai modal awal untuk bangun jembatan, dan Insyaallah kami akan coba galang donasi untuk pembangunan jembatan ini," sambung Moch Syamsuddin Abd Muin, salah satu tim relawan NU, seusai menyerahkan bantuan uang tunai yang diterima oleh salah satu tokoh masyarakat setempat. 

Seperti diwartakan, setelah dalam beberapa kali kesempatan sejak awal terjadinya banjir pada Senin (9/4) lalu, dengan dimotori oleh kaum muda NU, penyaluan bantuan terus dilakukan, mulai dari 1800 paket makanan/minuman dan 640 paket alat tulis sekolah sudah disalurkan ke berbagai titik banjir yang selama ini belum terjangkau. 

Muhammadiyah Asli

Untuk penyaluran bantuan kali ini, Jumat (26/4), NU Sampang memfokuskan pada 2 hal, yang pertama adalah menyalurkan santunan kepada keluarga korban banjir yang meninggal, dalam penelusuran tim relawan NU, ada 4 korban meninggal, yaitu Ibu Hindun (80 Tahun, warga Jl, Imam Bonjol), Moch Farhan (23 Tahun, warga kelurahan Polagan),  Moch Syafi (43 Tahun, warga desa Pasiyan) dan Moch Faruq (22 Tahun, Warga desa Pangilen). 

"Bantuan kali ini, kami khususkan kepada keluarga korban yang meninggal, bantuan yang kami salurkan kepada setiap keluarga berupa ; 25 Kg beras, 3 Kg gula, 1 kardus mie instant, 3 paket minyak goreng dan uang tunai" kata Faisol Romadhan, salah satu tim relawan NU Sampang.  

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Moch Syamsuddin Abd muin

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU, Tokoh Muhammadiyah Asli

Kamis, 21 September 2017

Menaker dan BPJS Ketenagakerjaan Beri Santunan bagi TKI

Tangeran, Muhammadiyah Asli. Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri didampingi Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto memberikan santunan klaim kepada Eni Purwanti, calon TKI asal Lampung yang meninggal sebelum berangkat bekerja ke luar negeri.

Eni adalah calon TKI asal Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung yang hendak bekerja di Taiwan. Ia mengalami kecelakaan kerja saat mengikuti pelatihan pra penempatan kerja di kantor Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta ? (PPTKIS), PT Bina Adidaya Mandiri Internasional di Tangerang, Banten.

Menaker dan BPJS Ketenagakerjaan Beri Santunan bagi TKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker dan BPJS Ketenagakerjaan Beri Santunan bagi TKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker dan BPJS Ketenagakerjaan Beri Santunan bagi TKI

Meski belum genap seminggu terdaftar sebagai peserta Jaminan Sosial ? Ketenagakerjaan, almarhum menerima santunan klaim sesuai haknya. Kecelakaan kerja merupakan salah satu perlindungan dalam program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) BPJS Ketenagakerjaan. Ini merupakan klaim pertama setelah transformasi asuransi TKI ke BPJS Ketenagakerjaan sejak 1 Agustus 2017.

“Atas nama pemerintah, kami turut berduka kepada keluarga almarhumah yang meninggal pada saat berproses bekerja di luar negeri,” kata Menaker saat memberikan santunan klaim kepada ahliwaris di kator BPJS Ketenagakerjaan Cikokol Tangerang, Selasa, (15/8).

Muhammadiyah Asli

“Risiko yang muncul dalam pekerjaan bisa datang kapan saja. Oleh karenanya, perlindungan sosial menjadi sangat penting, lanjutnya.

Muhammadiyah Asli

Santunan klaim diterima oleh suami almarhum, Iwan Sunaryo. Santunan klaim yang diteria sebesar Rp 85 juta dan beasiswa untuk satu orang anak sampai lulus sarjana.

Perlindungan TKI melalui Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, lanjut Menteri Hanif, merupakan ? salah satu bentuk kehadiran negara dalam memberikan jaminan sosial kepada TKI. Dengan demikian, keluarga yang ditinggalkan juga diringankan beban ekonominya.

Menaker juga menghimbau, terkait kesejahteraan pekerja, hendaknya tak hanya dilihat dari besarnya upah semata. Selain upah, pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan pekerja melalui skema lain, seperti jaminan sosial, transportasi untuk pekerja, perumahaan untuk pekerja, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan sebagainya.

BPJS Ketenagakerjaan memberikan manfaat kepada TKI melalui ? tiga program, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM) yang bersifat wajib, serta Jaminan Hari Tua (JHT) yang bersifat sukarela. Terdiri atas tiga tahapan perlindungan, yaitu pra penempatan selama 5 bulan, saat penempatan selama 25 bulan dan pasca penempatan selama 1 bulan.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto menjelaskan, pihaknya berkomitmen memberikan perlindungan kepada TKI secara mudah dan cepat. "Kami berkomitmen untuk melaksanakan tugas menyelenggarakan program jaminan sosial ketenagakerjaan bagi seluruh pekerja Indonesia, termasuk TKI," tutur Agus.

Agus juga menghimbau kepada seluruh pekerja agar memastikan dirinya miliki jaminan sosial. Sehingga jika terjadi risiko yang bisa datang kapan saja, tidak membebani keluarga.

Dalam kesempatan tersebut, suami korban, Iwan Sunaryo menyatakan terimakasih atas santunan klaim yang diterimanya. “Meski kami sedih, kami merasa santunan klaim ini meringankan beban kami. Apalagi ada beasiswa hingga sarjana bagi anak kami,” ujarnya. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU, Amalan, IMNU Muhammadiyah Asli

Minggu, 17 September 2017

Tengah Malam, Khofifah Ziarahi Makam Mbah Muchit

Jember, Muhammadiyah Asli - Menteri Sosial RI Hj Khofifah Indar Parawansa menyempatkan ziarah ke makam almarhum KH Abdul Muchith Muzadi di Jalan Kalimatan Jember, Jumat (19/5) malam. Ziarah ini dilakukan sepulang manakiban di Pondok Pesantren Al-Qodiri, Jember.

Rombongan H Khofifah tiba di kediaman almarhum KH Abdul Muchith Muzadi sekitar? pukul 00:30. Rombongan ini disambut keluarga Kiai Muchit.

Tengah Malam, Khofifah Ziarahi Makam Mbah Muchit (Sumber Gambar : Nu Online)
Tengah Malam, Khofifah Ziarahi Makam Mbah Muchit (Sumber Gambar : Nu Online)

Tengah Malam, Khofifah Ziarahi Makam Mbah Muchit

Ketua Umum Muslimat NU ini langsung menuju makam almarhum Kiai Muchith yang tidak jauh dari rumah kediamannya di Jalan Kalimantan Jember. Ia menempuh jalan yang tidak begitu terang setelah melewati rumah-rumah warga untuk sampai di makam.

Di makam Khofifah langsung memimpin tahlil bersama rombongannya untuk almarhumah Kiai Muchith Muzadi pada malam itu. Setelah ziarah rombongan ini bergerak menuju kediaman almarhum yang kemudian disambut oleh keluarga.

Muhammadiyah Asli

"Kami atas nama keluarga mengucapkan terima kasih kepada ibu menteri berkenan hadir di rumah abah kami KH Abdul Muchith Muzadi," kata putra almarhum, Alfian Hutuhul Hadi.

Muhammadiyah Asli

Ia berharap kepada Allah agar kunjungan rombongan menteri ini bernilai ibadah dan mendapatkan berkah.

Rombongan menteri langsung melanjukan perjalannya kembali ke Jakarta pada malam itu setelah beberapa jam berbincang-bincang dengan para tamu dari luar kota yang ikut menyambut kedatangannya. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kyai, Sejarah, RMI NU Muhammadiyah Asli

Jumat, 21 Juli 2017

Hukum Jual Kulit Sisa Hewan Kurban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Muhammadiyah Asli yang baik. Pada Senin kemarin saudara kami menyembelih sendiri sapi sebagai kurbannya dan beberapa anaknya. Ia menyedekahkan sebagian besar dagingnya. Ia sendiri menyisihkan daging seperlunya dan kulitnya. Empat hari setelah itu ia menjual kulitnya kepada penadah. Bagaimana hukumnya? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Sarmili/Bekasi).

Jawaban

Hukum Jual Kulit Sisa Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Jual Kulit Sisa Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Jual Kulit Sisa Hewan Kurban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Ulama menganjurkan orang yang berkurban untuk menyisihkan dagingnya agar dia juga merasakan daging hewan kurbannya. Karena daging kurban itu mengandung berkah.

Muhammadiyah Asli

Kalau hewan kurban itu dimakan sendiri maka gugurlah pahala ibadah kurbannya. Karenanya, ulama menganjurkan orang yang berkurban membagi tiga daging kurbannya. Sepertiga untuk dirinya. Sepertiga berikutnya untuk orang-orang miskin. Sedangkan sepertiga sisanya untuk orang-orang kaya.

Muhammadiyah Asli

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa lebih utama orang yang berkurban menyedekahkan semua hewan kurbannya. Tetapi kami lebih sepakat ketika orang yang berkurban ikut merasakan sebagia daging kurbannya sebagai bentuk tabarrukan.

Dari sini jelas bahwa ibadah kurban merupakan “sedekah” meskipun orang yang berkurban boleh memanfaatkan sebagiannya. Karena itu juga Madzhab Syafi’i tidak membolehkan orang yang berkurban menjual daging atau kulit hewan kurban yang telah disembelihnya.

Sementara Mazhab Hanafi membolehkan penjualan daging atau kulit kurban dengan catatan hasilnya disedekahkan atau dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangganya. Hal ini disebutkan oleh Taqiyuddin Al-Hushni Al-Husaini dalam Kifayatul Akhyar seperti kutipan berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Perlu diketahui bahwa ibadah kurban itu terletak pada pemanfaatan tubuh hewan kurban itu sendiri. Karenanya daging kurban tidak boleh dijual, bahkan termasuk menjual kulitnya. Bahkan orang yang berkurban tidak boleh memberikan kulitnya kepada penjagal sebagai upah penyembelihan hewan kurban meskipun kurban itu ibadah sunah. Orang yang berkurban boleh menyedekahkan kulitnya. Pilihan lain, ia boleh memanfaatkan kulitnya untuk membuat khuf (sepatu rapat tak tembus air, terbuat dari kulit), sandal, timba, atau benda lainnya. Tetapi ia tidak boleh memberikannya kepada orang lain sebagai upah penyembelihan. Status perlakuan terhadap tanduk hewan kurban serupa dengan perlakuan terhadap kulit hewan kurban.

Menurut Imam Hanafi Allah yarhamuh, orang yang berkurban boleh menjual kulit hewan kurbannya lalu menyedekahkan hasil penjualannya. Dengan hasil penjualan kulit itu, ia juga boleh membeli pelbagai keperluan yang bermanfaat bagi rumah tangganya. ‘Kami mengqiyasnya dengan daging.’ Penulis Taqrib menyebutkan pendapat yang tidak umum bahwa kulit hewan kurban boleh dijual dan orang yang berkurban itu mengalokasikan hasil penjualannya untuk para mustahik daging kurban sebagaimana lazimnya,” (Lihat Taqiyyudin Al-Hushni Al-Husaini, Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar, Beirut, Darul Basyair, tahun 2001, halaman 634).

Keterangan di atas ini menyebutkan perbedaan pendapat secara jelas antara Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanafi. Meskipun demikian, perbedaan pendapat keduanya tidak terlalu tajam karena meskipun membolehkan penjualan itu, Imam Hanafi memberikan pilihan antara menyedekahkan hasilnya atau digunakan untuk keperluan rumahnya.

Menurut hemat kami, orang yang berkurban mesti melihat kondisi masyarakat terlebih dahulu. Kalau misalnya ada tetangga yang lebih membutuhkan uang daripada kulit sapi, kami menyarankan untuk menjual kulit hewan kurbannya kepada penadah lalu menyedekahkan hasil penjualannya kepada tetangga yang memerlukan uang tadi. Atau ia bisa juga menyedekahkan kulit sapi kepada tetangga yang membutuhkan uang itu agar menjualnya kepada penadah.

Perbedaan pendapat perihal penjualan daging, kulit, atau tanduk hewan kurban ini berlaku bagi orang yang berkurban. Sedangkan orang yang tidak berkurban, boleh menjual daging kurban pemberian orang lain. Sementara sebagian ulama tidak membolehkan orang kaya penerima daging untuk menjual daging kurban pemberian panitia kurban atau seseorang.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pendidikan, Sholawat, RMI NU Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock