Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Koperasi Sampah Ini Danai Gerakan GP Ansor Kadilangu

Pati, Muhammadiyah Asli - Koperasi sampah dengan nama Apik Resik sudah beroperasi setahun. Koperasi yang digerakkan GP Ansor Kadilangu Kecamatan Trangkil Kabuoaten Pati ini menyumbang pendapatan kas organisasi tidak sedikit.

“Memang benar kalau kas Ansor berasal dari sampah yang kita kelola. Kami melatih kemandirian anggota terutama kader Ansor Kadilangu,” kata Ketua Koperasi Apik Resik Ahmad Radhi.

Koperasi Sampah Ini Danai Gerakan GP Ansor Kadilangu (Sumber Gambar : Nu Online)
Koperasi Sampah Ini Danai Gerakan GP Ansor Kadilangu (Sumber Gambar : Nu Online)

Koperasi Sampah Ini Danai Gerakan GP Ansor Kadilangu

Radhi tidak menyebut angka kontribusi bank sampah yang dijalankannya bersama GP Ansor Kadilangu untuk kas organisasi.

Muhammadiyah Asli

Sementara tokoh masyarakat setempat yang kini pembina GP Ansor Kadilangu Irham Shodiq membenarkan Radhi. Kini anggota koperasi Apik Resik berjumlah 50 orang. Setiap dua pekan sekali mereka menyetorkan limbah rumah tangga dengan kategori sampah nonorganik.

Koperasi ini diinisiasi oleh kader GP Ansor Kadilangu dalam rangka menjaga alam dari kerusakan akibat buang sampah sembarangan. Aktivitas koperasi sampah ini menegaskan bahwa kader muda GP Ansor memiliki kepedulian yang cukup besar untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan.

Operasi koperasi Apik Resik adalah langkah GP Ansor membumikan perubahan paradigma pengelolaan sampah. Pengembangan koperasi ini harus menjadi momentum awal membina kesadaran kolektif masyarakat untuk mulai memilah, mendaur ulang, dan memanfaatkan sampah guna membangun lingkungan yang lebih baik sekaligus membangun ekonomi kerakyatan.

Muhammadiyah Asli

"Pengelola koperasi sampah harus mempunyai jiwa sosial karena mengelola sampah ini membutuhkan tingkat kesadaran yang tinggi akan pentingnya kebersihan lingkungan," demikian dikatakan Kepala Desa Kadilangu Heru yang juga pengurus ranting GP Ansor setempat. (Hasannudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Ubudiyah, Pahlawan, Kajian Islam Muhammadiyah Asli

Sabtu, 20 Januari 2018

Peringati Hari Ibu, Fatayat Gelar Lomba Anak dan Seminar

Kudus, Muhammadiyah Asli. Dalam rangka memperingati hari Ibu dan Maulid Nabi Muhammad SAW PC Fatayat NU kabupaten Kudus menggelar Lomba Anak-anak; Fashion Show dan Baby Dancing di SMP NU Al-Ma’ruf Kudus, Ahad (28/12) serta Seminar dan pemeriksaan kanker serviks, di Ranting Karang Bener kecamatan Bae, Rabu (31/12).

Peringati Hari Ibu, Fatayat Gelar Lomba Anak dan Seminar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Ibu, Fatayat Gelar Lomba Anak dan Seminar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Ibu, Fatayat Gelar Lomba Anak dan Seminar

Karyati Inayah, Ketua Fatayat NU Cabang Kudus menjelaskan kegiatan dilaksanakan untuk memperingati hari Ibu dan maulid Nabi Muhammad SAW.

Ibu dan anak bagi Karyati perlu direkatkan. Sehingga, kegiatan tidak lepas dari keduanya. “Anak-anak sejak dini harus ditanamkan kecintaannya kepada Nabi Muhammad,” terangnya saat dihubungi via telepon.

Muhammadiyah Asli

Ditambahkan perempuan asal desa Karang Malang kecamatan Gebog kabupaten Kudus itu menyintai Nabi bisa dilakukan dengan banyak hal. Diantaranya dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan Fatayat. “Apalagi kegiatan digelar bersamaan dengan libur sekolah,” tambah Karyati kepada Muhammadiyah Asli.

Dengan kegiatan itu anak-anak lanjutnya akan tumbuh keberanian, kreativitas dan pembentukan karakter sejak dini.

Muhammadiyah Asli

Disamping lomba untuk anak-anak PAUD dan RA pihak Fatayat masa khidmah 2012-2017 sudah melaksanakan 3 kali seminar dan pemeriksaan kanker serviks bekerjasama dengan Yayasan Peduli Kanker Indonesia (YPKI).

Kegiatan seminar merupakan program bidang kesehatan Fatayat NU Kudus. Melalui kegiatan aktivis Fatayat akan mendapat sosialisasi dan pengarahan. “Harapannya kader Fatayat sejak dini mencegah terjadinya penyakit kanker serviks. Sehingga ibu-ibu muda sehat secara lahiriyahnya,” harapnya. (syaiful mustaqim/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, Halaqoh Muhammadiyah Asli

Selasa, 16 Januari 2018

Diplomasi Pencak Silat di Jepang, Menaker Gandeng Pagar Nusa

Jakarta, Muhammadiyah Asli?



Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengajak Pimpinan Pusat Pagar Nusa untuk mengintensifkan program magang pekerja muda di negeri Jepang. Program ini, sekaligus diplomasi kebudayaan dalam seni pencak silat.

Ia menyampaikan hal itu pada silaturahim dengan Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama dan Menteri Tenaga Kerja (Menaker), di Jakarta, Selasa (10/6). Silaturahim dengan Menteri Hanif Dhakiri, dihadiri Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen didampingi Sekretaris Umum Hasanuddin Wahid dan jajaran Pimpinan Pusat Pagar Nusa.?

Diplomasi Pencak Silat di Jepang, Menaker Gandeng Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Diplomasi Pencak Silat di Jepang, Menaker Gandeng Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Diplomasi Pencak Silat di Jepang, Menaker Gandeng Pagar Nusa

Hanif Dakhiri mengungkapkan, Pagar Nusa menjadi mitra strategis pemerintah, khususnya Kementrian Tenaga Kerja untuk program peningkatan kapasitas dan skill pemuda. "Kami ingin agar pemuda-pemuda kita punya skill operasional dan kapasitas untuk dunia industri serta wirausaha. Pagar Nusa menjadi mitra kami untuk program magang di Jepang, juga beberapa negara Eropa, yang sedang kami coba," terang Hanif. ?

Menurut Hanif, santri-santri memiliki integritas moral dan kesungguhan untuk belajar skill praktis di bidang industri. "Di Jepang, para pemuda dilatih kedisiplinan, etos kerja dan wirausaha. Program magang ini berlangsung 2 tahun, yang ditambah dengan program intensif 3 tahun. Sebenarnya program ini sudah berlangsung sejak tahun 1999, sudah lebih 60 ribu pemuda yang dibekali kemampuan teknis di bidang industri dan wirausaha," ungkap Hanif.?

Ketua Umum Pagar Nusa Nabil Haroen menyambut hangat ajakan Menteri Tenaga Kerja. "Kami akan mempersiapkan kerjasama ini dengan detail. Jepang dikenal sebagai negara dengan kultur disiplin. Sangat baik untuk membentuk mental dan skill praktis untuk wirausaha sekaligus industri," jelas Nabil.?

Muhammadiyah Asli

Lebih lanjut, para santri dan kader Pagar Nusa juga akan mengkampanyekan pencak silat di Negeri Samurai. "Kami ingin kader pagar nusa juga bisa mengajar silat di Jepang. Ini akan menarik sebagai diplomasi kebudayaan, tidak hanya sebatas magang. Namun, kami juga mengenalkan seni beladiri pencak silat khas Nusantara. Dari lebih dari tiga juta kader kami, akan ada proses seleksi khusus untuk kerjasama ini," ungkap alumnus pesantren Lirboyo, Kediri.?

Peserta magang yang akan diberangkatkan ke Jepang, juga mendapat pembekalan dasar pencak silat. Sekretaris Umum Pagar Nusa Hasanuddin Wahid menegaskan pentingnya pelatihan ini. "Dengan mendapat pembekalan pencak silat, para peserta magang akan lebih percaya diri, disiplin dan siap berkompetisi untuk mempelajari skill khusus selama proses di Jepang," terang Hasan.?

Saat ini, Pimpinan Pagar Nusa bergerak cepat dengan mendata kader-kader yang siap belajar dan magang di Jepang. Rencana, ada tiga pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menjadi lokasi pelatihan, sebelum pemberangkatan magang di Jepang. (Red: Abdullah Alawi)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan Muhammadiyah Asli

Kamis, 04 Januari 2018

Gubernur NTB: Kehadiran Ulama NU di Lombok Datangkan Rahmat

Lombok Barat, Muhammadiyah Asli 

Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH Muhammad Zainul Majdi mengungkapkan rasa syukur karena daerahnya dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan Munas-Konbes NU 2017. 

Gubernur NTB: Kehadiran Ulama NU di Lombok Datangkan Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur NTB: Kehadiran Ulama NU di Lombok Datangkan Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur NTB: Kehadiran Ulama NU di Lombok Datangkan Rahmat

"Alhamdulillah kesyukuran tidak putusnya dan kesukacitaan kami seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya warga Nahdlatul Ulama menjadi tuan rumah bagi pelaksanaan Munas dan Konbes 2017 ini," katanya pada penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2017 di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/11). 

Menurutnya, musyawarah itu mendatangkan rahmat. Jangankan musyawarah dalam lingkup besar, katanya, musyawarah yang dilakukan hanya dua orang saja juga mendatangkan berkah. 

Muhammadiyah Asli

"Apalagi musyawarah ini adalah musyawarah alim ulama tidak hanya lingkupnya daerah, tapi juga seluruh Nusantara," katanya bersemangat. 

Begitu juga Konferensi, lanjutnya, Konferensi biasa sebagai bentuk silaturahim pasti diberkahi oleh Allah. Apalagi, katanya, ini Konferensi Besar oleh organisasi dakwah terbesar yang tidak hanya di Indonesia bahkan di seluruh dunia. 

"Maka dengan semua kebaikan keberkahan-keberkahan itu kami warga  Nusa Tenggara Barat berhusnudhon dan berdoa kepada Allah SWT bahwa kehadiran para tamu kami, para guru kami Insyaallah membawa berkah yang berlipat ganda," jelasnya. 

Hadir pada penutupan Munas-Konbes NU 2017 ini Wakil Presiden Republik Indonesia H Muhammad Jusuf Kalla, Rais Aam KH Maruf Amin, KH Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Ketua PBNU Bidang Investasi dan Luar Negeri H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU H Bidang Hukum H Robikin Emhas, dan lain-lain. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Pahlawan, Kajian Islam Muhammadiyah Asli

Kamis, 21 Desember 2017

Sudah Saatnya Buku Dalam Negeri Diterjemah dan Diekspor

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Kualitas gagasan cendekiawan muslim Indonesia tak kalah dengan ilmuan di Timur Tengah dan Barat. Bahkan, saat ini dunia internasional sedang menunggu produk pemikiran dari negari berpenduduk muslim mayoritas ini.

Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud dari hasil lawatannya ke sejumlah negara, Senin (18/3) petang. Ia mendorong Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU menerjemahkan dan menyebarluaskan ke luar negeri karya tulis di Tanah Air.

Sudah Saatnya Buku Dalam Negeri Diterjemah dan Diekspor (Sumber Gambar : Nu Online)
Sudah Saatnya Buku Dalam Negeri Diterjemah dan Diekspor (Sumber Gambar : Nu Online)

Sudah Saatnya Buku Dalam Negeri Diterjemah dan Diekspor

“Sudah saatnya sekarang kita mengekspor pandangan ke luar, tak hanya mengimpor. Dunia lagi butuh pandangan-pandangan NU tentang Islam moderat, demokrasi, dan lain-lain,” katanya saat ditemui di Kantor PBNU, Jakarta Pusat.

Muhammadiyah Asli

Menurut Marsudi, masih banyak orang Indonesia yang kurang menyadari kebesaran dirinya sendiri. Padahal, negara-negara lain, baik di Barat maupun Timur Tengah, justru ingin mengenal pemikiran dan kebudayaan Nusantara, khususnya yang berkaitan dengan keislaman.

Muhammadiyah Asli

Sebelumnya, Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir berpendapat, untuk di dalam negeri saja penerbitan karya ulama Nusantara masih tergolong minim. Ia berharap ada usaha pencetakan masal atas karya tulis tersebut.

“Selama ini baru ada beberapa karya ulama kita yang beredar di toko-toko, seperti karya Syekh Nawawi Banten, Syekh Yasin Al-Fadani, Syekh Ihsan Jampes Kediri, dan beberapa ulama kita. Selebihnya, masih banyak lagi yang belum terpublikasi,” kata Kiai Saifuddin.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, Meme Islam Muhammadiyah Asli

Minggu, 17 Desember 2017

Ini Dasar Hukum Tradisi Walimatus Safar Haji

Pringsewu, Muhammadiyah Asli - Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Lampung KH Munawir menjelaskan, upacara walimatus safar perihal kepergian jamaah haji bukan sekadar tradisi lokal. Upacara walimahan itu merupakan sunah yang dilaksanakan umat Islam sejak masa Rasulullah SAW.

"Mengadakan walimatul haji atau acara tasyakuran yang diadakan setelah seseorang pulang dari mengadakan perjalanan jauh adalah termasuk perbuatan yang disunahkan. Jadi walimatus safar itu bukan kegiatan yang tidak memiliki dasar sama sekali, sehingga tergolong kegiatan yang dilarang," tegas Kiai Munawwir, Sabtu (23/7).

Ini Dasar Hukum Tradisi Walimatus Safar Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Dasar Hukum Tradisi Walimatus Safar Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Dasar Hukum Tradisi Walimatus Safar Haji

Lebih lanjut, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung ini juga mengutip beberapa hadits yang menjadi dasar kesunahan walimatus safar yang salah satunya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sahabat Jabir RA.

Muhammadiyah Asli

"Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah SAW ketika pulang dari Madinah melakukan penyembelihan kambing atau sapi," kata Kiai Munawwir.

Muhammadiyah Asli

Selain itu, terdapat hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Turmudi dan Abu Dawud yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW mengadakan walimah untuk Shafiyah dengan bubur sawik dan kurma.

"Dari kedua hadist ini sebagian ulama seperti Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Atsnal Mathalib berpendapat bahwa walimah tidak hanya disunahkan dalam acara akad nikah tetapi walimah juga disunahkan ketika seseorang pulang dari perjalanan jauh," terangnya.

Menurutnya, walimatul haji tidak bisa dihukumi kegiatan yang dilarang dan tidak memiliki dasar. Bahkan sebagian ulama juga ada yang berpendapat bahwa, walimah yang diadakan sebelum berangkat atau sesudah pulang haji hukumnya sama, sunah. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan Muhammadiyah Asli

Senin, 04 Desember 2017

Hati-Hati, Logo NU Salah Banyak Beredar di Dunia Maya

Malang, Muhammadiyah Asli. Warga NU diharapkan lebih hati-hati dan teliti dalam menggunakan logo Nahdlatul Ulama yang beredar di khalayak utamanya di dunia maya.?

Pasalnya, kini sudah ditemukan ada tulisan Nahdlatul Ulama mengalami kesalahan, khususnya pada tulisan Arab yang melintasi gambar bumi pada logo tersebut. Dalam tulisan itu, kata Nahdlatul Ulama yang seharusnya huruf ‘lam’ pada kata itu langsung bersambung dengan huruf ‘ain’. Akan tetapi, pada logo yang salah tersebut, tertulis ‘lam alif’, sehingga jika dibaca, tulisan itu akan terbaca sebagai ‘Nahdlatulaa Ulama’.

Hati-Hati, Logo NU Salah Banyak Beredar di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hati-Hati, Logo NU Salah Banyak Beredar di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hati-Hati, Logo NU Salah Banyak Beredar di Dunia Maya

Mujiharto, kepala MTs Nahdlatul Ulama Kepuharjo Karangploso Malang, Sabtu (27/4) menyatakan sebenarnya, ia menemukan penggunaan logo yang salah itu pada beberapa blog dan website komunitas NU.?

Muhammadiyah Asli

“Sebenarnya, kami sudah lama menemukan pemakaian logo salah tersebut di facebook KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) Universitas Islam Lampung, tapi baru kali ini saya bisa meminta konfirmasi,” ungkapnya.

Di dunia maya, logo yang salah tersebut sudah banyak beredar, utamanya di situs jejaring sosial. Diantara yang telah ditemukan Mujiharto, ialah logo yang digunakan oleh facebook PCNU Wonosobo, PCNU Balikpapan, dan situs blog di www.beasiswa-muslim.blogspot.com.?

Muhammadiyah Asli

“Diantaranya, saya telah menemukan beberapa facebook seperti: PCNU Wonosobo, PCNU Balikpapan, dan KMNU Unila. Tapi yang Wonosobo sudah kami minta konfirmasi, dan menyadari bahwa telah terjadi kesalahan. Sedangkan yang berupa blog adalah blog beasiswa muslim ke Saudi Arabia,” katanya saat dimintai keterangan di kantor MTs Nahdlatul Ulama Karangploso.

Selain itu, ternyata logo salah tersebut juga telah dipakai di sebuah acara jamaah maulid di kota Batu Jawa Timur yang diadakan oleh jamaah maulid Riyadlul Jannah bekerja sama dengan PCNU Kota Batu Jawa Timur.?

“Saya melihat logo yang dipakai panitia pada surat undangan yang disebarkan pada masyarakat umum dan banner panggung adalah salah, dengan kesalahan yang sama,” paparnya.?

Setalah diteliti baik-baik bersama, rupanya logo itu ada kemiripan dengan logo Partai Persatuan Nahdlatul Ummat Indonesia (PPNUI).?

“Mungkin ini adalah modifikasi dari logo PPNUI ini,” tutur kepala madrasah kelahiran Trenggalek itu.

Namun, ketika ditanya, adakah kemungkinan bahwa kesalahan itu ada unsur kesengajaan, ia tidak bisa memastikan.?

“Kalau masalah ada pihak yang secara sengaja melakukannya atau tidak, saya tidak bisa memastikan.”?

Demikian pula ketika ditanya, apakah sebelum ini ia telah melaporkan pada tokoh-tokoh atau pengurus NU setempat, ia menjawab belum.?

“Saya belum melaporkannya pada pengurus NU sebelum ini, ini adalah pertama kalinya saya melaporkan.”?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Nur Kholis

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Anti Hoax, Pahlawan, Pendidikan Muhammadiyah Asli

Jumat, 01 Desember 2017

Pengebom Dapat Bidadari di Surga?

Istilah ‘pengantin’ lekat dengan seseorang yang mengajukan diri melakukan bom bunuh diri. Iming-iming mati syahid dan mendapat bidadari surga turut menjadi sugesti tindakan terornya.

Alkisah, Gus Dur ditanya oleh seorang wartawan terkait maraknya ‘pengantin’ bom bunuh diri ini. Sebab dalam pandangan masyarakat umum, bagaimana bisa dikatakan syahid dan mendapat bidadari surga jika manusia tak berdosa ikut menjadi korban.

“Gus, menurut Anda, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan.

Pengebom Dapat Bidadari di Surga? (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengebom Dapat Bidadari di Surga? (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengebom Dapat Bidadari di Surga?

“Memangnya sudah ada yang membuktikan?” tanya balik Gus Dur.

“Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan belum pernah ke surga,” sergah Gus Dur lagi.

Muhammadiyah Asli

“Lalu, apakah benar mereka tergolong mati syahid, Gus?” wartawan lain menimpali.

“Mereka itu yang jelas bukan mati syahid, tetapi mati sakit. Kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari," jawabnya.

"Kenapa Gus?"

"Karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi,” seloroh Gus Dur.?

Muhammadiyah Asli

“Geeerrrrr.....”

(Fathoni Ahmad)

Cerita ini disarikan dari buku “The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita”, (Imania, 2014).

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, RMI NU, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Rabu, 29 November 2017

Tangkal Radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Koordinasi dengan Ansor

Sidoarjo,? Muhammadiyah Asli. Menanggapi adanya isu radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Rocsulullah akan berkoordinasi dengan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo Kota agar bisa sejalan.

Karena Kapolsek Sidoarjo Kota tidak sepakat dengan kelompok radikal dan khilafah, karena gerakannya dirasa menganggu keamanan di masyarakat.

"Saya juga berterima kasih kepada Nahdlatul Ulama (NU) Sidoarjo yang telah turut serta dalam mengawal NKRI," kata Kapolsek Sidoarjo Kota, Rocsulullah, Rabu (10/5).

Tangkal Radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Koordinasi dengan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Koordinasi dengan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Radikalisme, Kapolsek Sidoarjo Kota Koordinasi dengan Ansor

Sementara itu menurut Danramil Sidoarjo, Kapten Agus Fachrudin, PAC GP Ansor Sidoarjo Kota satu visi dengan Danramil. Kapten Agus Fachrudin menjelaskan bahwa Ansor memang dilahirkan untuk menjaga NKRI.

"Ansor dan Banser memang dilahirkan untuk menjaga NKRI, sama dengan kami," kata Kapten Agus. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Pahlawan, Sholawat Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Senin, 27 November 2017

Habib Soleh Tegal ungkap Praktik Shalat Tarawih di Hadramut

Tegal, Muhammadiyah Asli?

Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Tegal, Habib Soleh Bin Ali Al Athos mengemukakan, terkadang masih ada yang meributkan jumlah rokaat tarawih. Sudah bukan jamannya meributkan masalah jumlah rakaat Shalat tarawih.?

"Mau delapan rokaat, mau dua puluh rokaat. Semuanya diniatkan ibadah kepada Allah SWT," kata Habib Soleh saat memberikan tausiyah pada peringatan Nuzulul Quran tingkat Kabupaten Tegal di Pendopo Rumah Dinas Bupati Tegal, Senin (12/6) malam.?

Habib Soleh Tegal ungkap Praktik Shalat Tarawih di Hadramut (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Soleh Tegal ungkap Praktik Shalat Tarawih di Hadramut (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Soleh Tegal ungkap Praktik Shalat Tarawih di Hadramut

Malah, ungkap Habib, dirinya saat di hadromaut sudah bukan 20 rokaat lagi. Tapi dirinya melakukan shalat tarawih setiap malam ganjil dengan 100 rokaat. "Dan saya melakukan itu, karena hampir empat tahun saya disana (hadramaut)," ungkapnya.

Menurut Habib, Shalat tarawih di hadromaut setiap Masjid adzannya dilakukan bertahap. Yakni Ada yang jam 8 isya. Ada yang jam 9, ada yang jam 10, ada yang jam 11 dan yang terakhir Masjid Jami jam 12. Setiap satu Masjid 20 rokaat, selanjutnya pindah ke Masjid lainnya baru mulai tarawih dan seterusnya sampai Masjid kelima sehingga 100 rokaat.?

"Sudah tidak perlu meributkan hal-hal yang bersifat furuiyah. Apalagi dalam kondisi Negara Indonesia yang masya Allah. Yang dibutuhkan adalah mari kita minta kepada Alloh agar Indonesia jadi Negara Baldatun Toyyibatun Warobun Ghofur," ajaknya.

Muhammadiyah Asli

Pengasuh Pesantren Ribath Nurul Hidayah Bedug, Pangkah itu menegaskan, seburuk apapun pemimpin, sekejam apapun pemimpin, sedholim apapun pemimpin. Alhamdulillah ada pemimpinnya. "Jika Tegal tidak ada Bupatinya bagaimana, Jika Indonesia tidak ada Presiden bagaimana?” ungkap Habib Soleh.

Maka ada yang mengatakan, "Shultonul Ghosum Khoirum Min Fitnatin tadhum". Sulthon yang dholim itu lebih baik dari pada kefitnahan atau kerusuhan, lebih utama pemimpin dholim dari pada tidak ada pemimpinnya. "Akan lebih baik dari pada tidak ada pemimpinnya, atau bisa dikatakan hancurnya seorang pemimpin maka akan hancurnya negeri ini.?

Muhammadiyah Asli

Hadir dalam acara tersebut, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal, KH Chambali Utsman, sejumlah ulama NU, Ketua PCNU, H Ahmad Wasyari, anggota Forkompimda, tokoh masyarakat dan ratusan anggota Banser. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan Muhammadiyah Asli

Rabu, 22 November 2017

NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan

Bandarlampung, Muhammadiyah Asli. Lailatul Ijtima biasa digelar PWNU Lampung sebulan sekali. Tapi pada Sabtu (31/10) malam, ada yang berbeda dari kegiatan tersebut dengan kehadiran pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, KH Maman Imanulhaq Faqih yang mengajak warga Nahdlatul Ulama untuk tetap kritis.

NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan

"NU memang tidak pernah berseberangan dengan pemerintah. Tapi apa perlu pengurus NU, ulama, mencium tangan bupati hanya karena proposal? Santri dan ulama jangan membungkukan diri pada kekuasaan. Kita boleh dekat tapi jangan takluk dengan pemerintahan," ujar anggota Komisi 8 DPR RI itu di hadapan ratusan warga NU.

Satu hal berbahaya hari ini, ujar cucu KH Zaenal Mustofa itu pula, adalah hari ini makan siapa. "Mereka adalah yang mengganti Ketuhanan Yang Maha Esa dengan keuangan yang maha kuasa," ujar Kang Maman lagi.

Muhammadiyah Asli

Ia lalu mencontohkan, ada kepala daerah mau silaturahmi. Ajudan biasa diutus di awal, meminta ini meminta itu. "Kekuasaan itu adalah hal biasa. Hari ini berkuasa besok tidak berkuasa, ya bisa dan biasa-biasa saja. Pemimpin baik tidak perlu dilayani. Gus Dur adalah contoh terbaik bagaimana memaknai kekuasaan yang tidak perlu dipertahankan mati-matian," kata Kiai Maman mengingatkan warga NU.

Persoalan lain dihadapi bangsa Indonesia, menurut Kiai Maman, ialah birokrasi bobrok dan buruknya validasi data. "Saya katakan, siapapun presiden, bagaimanapun menteri-menterinya, kalau birokrasinya bobrok dan validasi data buruk, yang miskin akan selamanya miskin, tidak ada perbaikan," ujar dia lagi.

Muhammadiyah Asli

Hadir pada Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama dan Tahlil Mengenang Guru, Ulama, Birokrat Drs H M Thabranie Daud digelar di Gedung PWNU Lampung jalan Cut Meutia 28 Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung itu, Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri beserta jajaran, politisi PDI Perjuangan Eva Dwiana, Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim, Ketua PC GP Ansor Lampung Barat Radityo AN.

Terlihat pula Ketua PW Hipsi Lampung H Abdul Karim, Ketua PW Fatayat NU Khalida, Ketua PW IPNU Lampung Aan Uly Rosyadi, KMNU Unila dan para santri pada kegiatan diisi renungan mengenai NU hingga dosa jemaah. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, Ulama Muhammadiyah Asli

Kamis, 09 November 2017

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu

Surabaya, Muhammadiyah Asli - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali membuktikan keseriusannya dalam berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama (NU). Kali ini PMII ITS memfasilitasi pendaftaran Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) bagi dosen, karyawan serta mahasiswa NU yang ada di ITS, PENS ataupun PPNS. Kegiatan ini berlangsung pada Ahad (12/02) dan bertempat di gedung MWCNU Sukolilo, Surabaya.

Kegiatan ini dilakukan karena masih banyak warga NU dari kalangan dosen, karyawan maupun mahasiswa yang ada di ITS, PENS dan PPNS yang belum terdata. Sebagaimana yang disampaikan Ketua PMII ITS, Zidni Nafi Akbar, menurutnya kegiatan ini salah satunya untuk mendata mahasiswa maupun dosen NU di ITS, PENS ataupun PPNS.

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu

“Banyak sekali mahasiswa dan dosen NU yang di kampus ITS, PENS dan PPNS, namun belum bisa terdata,” ungkapnya.

Muhammadiyah Asli

Selain itu, tujuan lain diselenggarakan kegiatan ini adalah untuk memfasilitasi warga NU yang belum memiliki Kartanu. “Sebenarnya kegiatan ini difokuskan kepada mahasiswa dan dosen yang ada di sekitar ITS. Namun bila ada warga atau anggota PMII selain PMII Sepuluh Nopember dipersilakan untuk ikut,” imbuhnya.

Kegiatan ini berawal dari kerja sama antara PMII ITS dengan PCNU Surabaya. “Berhubung PMII ITS bisa bekerja sama dengan PCNU Surabaya untuk mengadakan Kartanu, maka diselenggarakan kegiatan ini,” jelas mahasiswa asal Kediri ini.

Muhammadiyah Asli

Dalam pelaksanaannya, ternyata bukan hanya dari kalangan dosen, karyawan serta mahasiswa ITS, PENS dan PPNS saja yang hadir guna melakukan pembuatan Kartanu. Warga sekitar tiga kampus tersebut juga turut hadir untuk melakukan pendaftaran Kartanu, bahkan mahasiswa luar ITS juga ikut serta dalam kegiatan ini, seperti dari Universitas Islam Negeri Surabaya (Uinsa), Universitas Sunan Giri (Unsuri),? Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga (Unair).

Banyaknya peserta dari luar area ITS dikarenakan informasi mengenai kegiatan ini menyebar di sosial media dengan cepat. Hal itu senada dengan apa yang diutarakan Ahmad, salah satu pendaftar Kartanu dari luar area ITS. Ia mengatakan, mengetahui adanya kegiatan ini dari sosial media. “Saya tahu info ini dari sosial media,” ujarnya.

Salah satu dosen yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ardy Maulidy Navastara ST MT. Ia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan semacam ini. Tak hanya itu saja, ia mengharapkan agar seluruh MWC, khususnya yang ada di seluruh Surabaya untuk menjadi agenda rutin.

“Saya pikir ini seharusnya menjadi agenda rutin bagi para MWC yang ada di seluruh Surabaya untuk disosialisasikan kepada masyarakat yang ada di Surabaya,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya perlu adanya sosialisasi. Hal itu dikarenakan masih banyak mahasiswa dan dosen ITS yang belum mengetahui Kartanu. “Kalau bisa disediakan posko yang selalu siap melayani warga nahdliyyin yang ingin mendaftar Kartanu,” pungkasnya. (Hanan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, RMI NU, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Senin, 23 Oktober 2017

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Muhammadiyah Asli yang baik, ketika sembahyang ashar dan terutama sembahyang maghrib tiba banyak anak-anak kecil usia sekolah dasar berkumpul di masjid. Mereka ikut sembahyang berjamaah bersama orang dewasa. Hanya saja mereka sesekali bercanda di masjid yang menimbulkan kegaduhan.

Ada juga pengurus masjid dan sebagian jamaah yang memperingati mereka. Sebagian lagi ada yang membentak mereka dengan keras. Sebenarnya bagaimana sikap kita menghadapi anak-anak kecil yang sesekali bercanda di masjid? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Assalamu alaikum. wr. wb. (Musa/Jakarta).

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Menyikapi Anak-anak Kecil Bercanda di Masjid?

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Muhammadiyah Asli

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Bermain lebih tepatnya bercanda memang sudah fitrah anak-anak. Karenanya hal ini tidak bisa dihindari. Tetapi kadang candaan mereka juga menggangu kenyamanan jamaah dewasa pengguna masjid.

Lalu bagaimana kita sebagai pengurus masjid atau orang dewasa menanggapi kehadiran anak-anak itu di masjid. Berikut ini kami kutip keterangan Imam Al-Ghazali perihal kemunkaran di masjid termasuk batasan dan pengecualiannya.

Muhammadiyah Asli

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Anak kecil tidak masalah masuk ke masjid selagi ia tidak bermain. Bermain di masjid tidak haram bagi mereka. Membiarkan mereka bermain di masjid juga tidak diharamkan kecuali jika mereka menjadikan masjid tempat bermain, dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Kalau sudah demikian (masjid jadi tempat bermain), maka wajib dilarang karena bermain di masjid termasuk aktivitas yang halal jika sedikit, dan tidak halal ketika banyak. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah SAW berdiam demi Aisyah RA yang menyaksikan anak-anak Habasyah menari dan bermain perisai dari kulit dan berperang-perangan pada hari Idul Fithri di masjid. Tidak diragukan lagi bahwa anak-anak Habasyah itu seandainya menjadikan masjid tempat bermain, niscaya mereka akan dilarang bermain. Rasulullah SAW tidak memandang anak-anak itu bermain itu sebagai sebuah kemunkaran sehingga beliau SAW ikut menyaksikannya karena saking jarang dan langkanya,” (Lihat Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Mesir, Mushtafa Albabi Al-Halabi wa Auladuh, 1939 M/1358 H, juz 2, halaman 332).

Sayid Muhammad Az-Zabidi yang dengan telaten mensyarahkan kitab Ihya Ulumiddin mengakui bahwa kehadiran orang gila, anak kecil, dan orang mabuk perlu diwaspadai. Mereka tidak bisa menguasai diri sendiri sehingga dikhawatirkan dapat mencemari masjid. Ada baiknya kita melihat sedikit catatan Sayid Muhammad Az-Zabidi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ?

Artinya, “Di antara kemunkaran adalah masuknya orang gila, anak kecil, dan orang mabuk ke dalam masjid. Karena, mereka tidak memiliki daya pilih. Mereka tidak bisa memelihara diri mereka sendiri. Karenanya diusahakan mereka tidak masuk ke dalam masjid. (Anak kecil tidak masalah masuk ke masjid selagi ia tidak bermain). Dan bersamaan dengan (bermainnya) itu aman dari pencemaran,” (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 55-56).

Bahkan Sayid Muhammad Az-Zabidi lebih tegas mengatakan bahwa candaan anak kecil di dalam masjid bukan bagian dari kemunkaran seperti Rasulullah SAW menyikapi kehadiran anak-anak Habasyah yang bermain di masjid seperti kami kutip berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Rasulullah SAW tidak memandang anak-anak itu bermain itu sebagai sebuah kemunkaran sehingga beliau SAW) sendiri (ikut menyaksikannya karena saking jarang dan langkanya) sebagai pendidikan dan peringatan bagi umatnya bahwa di dalam agama terdapat kelonggaran-kelonggaran,” (Lihat Sayid Muhammad bin Muhammad Al-Husayni Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, Beirut, Muassasatut Tarikhil Arabi, 1994 M/1414 H, juz 7, halaman 56).

Catatan kami, kehadiran anak-anak kecil di masjid perlu dimaklumi dan perlu pendampingan orang tua, terutama bagi anak-anak kecil di bawah usia lima tahun agar tidak mencemari masjid dengan kemungkinan najis yang ada padanya.

Berikutnya, pengurus masjid dan para jamaah perlu memaklumi bahwa kehadiran anak-anak kecil terutama anak-anak di atas lima tahun itu patut disyukuri karena mereka sudah mengawali pembiasaan di masjid sedini mungkin.

Menciptakan “masjid ramah anak” memang membutuhkan kesiapan manajemen, tata ruang, dan kesadaran tinggi seluruh jamaah. Padahal anak-anak kecil juga memiliki hak guna terhadap masjid. Adapun candaan mereka yang mengganggu kenyamanan jamaah dewasa cukup diperingati dengan lemah lembut, tidak perlu bentakan, hardikan, dan cara kasar lainnya karena cara-cara kasar dapat menciptakan trauma dan banyak mudharat lainnya.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, Aswaja Muhammadiyah Asli

Minggu, 22 Oktober 2017

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi

Ponorogo, Muhammadiyah Asli

Siapa yang tak ingin menjadi pelajar berprestasi namun juga pandai dalam berorganisasi. Jawabannya pasti mereka memimpikan keduanya. Sebab pelajar yang aktif dalam organisasi akan lebih unggul dari segi wawasan dan akademis?

Hal inilah yang menjadi dasar puluhan pelajar NU dan perwakilan pengurus OSIS dari sekolah di Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengikuti training motivasi belajar bertema ‘Berorganisasi tetap Berprestasi’ yang digelar oleh Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU Desa Karangjoho, Kecamatan Badegan, Ponorogo, Jawa Timur akhir pekan lalu.

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Aktif Berorganisasi, Pelajar NU Didorong Terus Berprestasi

Ketua IPNU Karangjoho, Dimas Saputra mengatakan, para pelajar yang terjun dalam sebuah organisasi tidak boleh mengesampingkan tugas utamanya sebagai seorang pelajar, yakni mempelajari dan mendalami berbagai disiplin ilmu di sekolah. ”Kami sengaja menggelar kegiatan semacam ini, dengan tujuan memberikan motivasi kepada pelajar, bahwa dalam kita berorganisasi bukanlah menjadi penghalang untuk tetap berprestasi,” katanya di balai desa Karangjoho.

Dimas mengajak kepada anggota IPNU-IPPNU untuk pandai membagi waktu belajar dengan waktu berorganisasi. Jangan sampai prestasi belajar di sekolah tertinggal jauh karena terlalu sibuk berorganisasi. ”Mari kita pegang prinsip belajar diutamakan, organisasi dinomersatukan, akademis oke, organisasi oke,” ujarnya.

Sementara itu, Ali Fahruddin pembina IPNU-IPPNU Karangjoho sangat mengapresiasi kegiatan motivasi belajar semacam ini. Kesadaran pelajar NU untuk terus berprestasi harus dipupuk sejak dini. Agar kelak kader-kader NU dapat lebih berperan dalam membangun bangsa dan negaranya.?

Muhammadiyah Asli

“Apalagi di era seperti sekarang ini, pelajar NU haruslah bisa menjadi contoh, sebagai kalangan pelajar yang memang terpelajar, bukan malah menjadi pelajar yang kurang belajar,” tandasnya.

Materi motivasi belajar ini disampaikan oleh Qurrota A’yun, lulusan terbaik jurusan matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). A’yun memberikan kiat-kiat khusus agar para pelajar memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Kiat ini berdasarkan pengalaman pribadinya yang pernah berkecimpung dalam kepenguruasan IPPNU Ponorogo hingga dapat mengantarkanya mengikuti pertukaran pelajar di Korea Selatan.

Berdasarkan pengalaman inilah diharapkan para pelajar NU Ponorogo dapat terinspirasi dan bisa termotivasi untuk giat belajar dan giat berorganisasi. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Berita, Pahlawan Muhammadiyah Asli

Kamis, 12 Oktober 2017

Kiai As’ad Beri Waktu 3 Hari Jepang Pergi, Atau Dihancurkan

Jember, Muhammadiyah Asli - Perjuangan para kiai, termasuk Kiai As’ad Syamsul Arifin, dalam melawan penjajah, kerap kali diwarnai dengan kejadian yang aneh. Kejadian yang menurut akal sehat sulit diterima, tapi realitasnya memang terjadi. Itulah yang menjadi ending dari perjuangan Kiai As’ad menempuh perjalanan sejauh 45 kilometer untuk mengusir serdadu Jepang di bumi Garahan, Kecamatan Silo, Jember.

Semangat juang yang dimiliki Kiai As’ad dan rombongan untuk mengusir serdadu Jepang kian berlipat-lipat setelah berhasil memukul mundur begundal-begundal negeri matahari terbit saat terjadi pertempuran di sungai Kramat, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono.

Kiai As’ad Beri Waktu 3 Hari Jepang Pergi, Atau Dihancurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai As’ad Beri Waktu 3 Hari Jepang Pergi, Atau Dihancurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai As’ad Beri Waktu 3 Hari Jepang Pergi, Atau Dihancurkan

Dengan selalu memohon pertolongan Allah, Kiai As’ad dan rombongan melanjutkan perjalanan hingga sampai di Desa Plalangan, Kecamatan Kalisat. Di desa tersebut, Kiai As’ad berhenti sebentar di sebuah rumah warga untuk meminta tiga ikat padi (dengan batangnya). Tiga ikat padi tersebut dibawa oleh seseorang benama Pak Ma’ruf.

“Pak Ma’ruf ini saksi hidup, dan beliaulah yang membawa tiga ikat padi itu hingga sampai di Garahan,” tutur Ketua Panitia Bidang Perlengkapan sekaligus tim pencari fakta Napak Tilas Nasional 2016, Ustadz Fauzi kepada Muhammadiyah Asli di Jember, Selasa (13/9).

Muhammadiyah Asli

Kiai As’ad, Pak Ma’ruf dan rombongan pun menuju Garahan. Sampai di Dusun Pasar Alas, Desa Garahan, Kiai As’ad behenti di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat sunnah. Segala sesuatunya memang perlu dipersiapakan di situ, termasuk bermunajad kepada Allah. Sebab, markas Jepang sudah sangat dekat. Dan pertempuran diprediksi akan terjadi.

Dengan senjata seadanya plus keyakinan yang tinggi akan pertolongan Allah, mereka pun bergerak, memasuki Dusun Curah Damar, Desa Garahan, yang menjadi markas serdadu Jepang. Kiai As’ad memerintahkan agar pasukan resmi (tentara) tetap bersembunyi. Tidak keluar tapi tetap dalam kondisi siaga. Sedangkan Kiai As’ad dan para tentara Hizbulloh langsung menyatroni markas Jepang.

Muhammadiyah Asli

Saat itu, serdadu Jepang sudah ciut nyalinya. Tanpa buang waktu, Kiai As’ad langsung mengultimatum agar mereka segera angkat kaki, atau diserang habis. Serdadu Jepang mengulur waktu. Mereka bahkan meminta waktu 3 bulan lagi untuk meninggalkan markas, namun Kiai As’ad hanya memberi waktu tiga hari. Kiai As’ad tampaknya sadar bahwa waktu 3 bulan tersebut akan digunakan oleh Jepang untuk menyusun kekuatan dengan meminta bala bantuan dari luar Silo. Permintaan Jepang tersebut akhirnya turun menjadi 2 bulan, dan turun lagi menjadi 1 bulan, sebelum akhirnya setuju 3 hari.

Walaupun hanya 3 hari, tapi waktu tersebut sangat krusial. Sebab, segala kemungkinan bisa terjadi, apalagi Jepang terkenal licik. “Selama menunggu itulah, tiga ikat padi itu dilepas dan dilempar ke udara, dan jadilah tentara. Alhamdulillah di hari ketiga, Jepang benar-benar pergi,” lanjut Ustadz Fauzi.

Saat ini puing-puing dan bebatuan bekas bangunan markas Jepang tersebut, sebagian masih mengonggok di tengah kebun kopi yang menghijau. Itulah saksi bisu yang menandai kiprah Kiai As’ad dalam altar sejarah perjuangan bangsa Indonesia. (Aryudi A Razaq)



Baca juga: Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang


Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, Meme Islam Muhammadiyah Asli

Rabu, 20 September 2017

Mbah Muchith Ajak Generasi Muda Koreksi Diri

Sidoarjo, Muhammadiyah Asli

KH Abdul Muchith Muzadi, salah seorang anggota Mustasyar (dewan penasehat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak generasi muda Nahdliyyin mengoreksi diri dan melakukan upaya-upaya untuk membangun jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Pada acara bedah buku “Antologi NU” di Kantor Departemen Agama Sidoarjo, Ahad (5/8) kemarin, Mbah Muchith mengaku prihatin dengan tingkah anak-anak muda Nahdliyyin yang sangat lantang mengkritik NU di muka umum.

Dalam forum yang juga dihadiri Ketua PCNU Sidoarjo H Abdy Manaf, Ketua PCNU periode sebelumnya KH Abdy Manaf dan beberapa pengurus, mantan pengurus Syuriah dan Tanfidziyah, beberapa tokoh senior IPNU-IPPNU, dan para pengurus IPNU-IPPNU se-Kabupaten itu, Mbah Muchith mengeluarkan isi hatinya.

Mbah Muchith Ajak Generasi Muda Koreksi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchith Ajak Generasi Muda Koreksi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchith Ajak Generasi Muda Koreksi Diri

“Kalau mau mengoreksi keburukan NU, kertas se-Pabrik Kertas Leces dan tinta sebanyak lumpur Porong, tidak akan cukup. Apalagi kalau yang ngoreksi itu orang yang berada di luar NU, tambah paling gampang. Mudah-mudahan, saya yang sudah tua dan sudah bau tanah ini, masih bisa mengontrol emosi,” katanya.

Lebih jauh, kiai yang disebut Ketua PCNU Sidoarjo sebagai “Laboratorium NU” itu menegaskan, tidak selayaknya anak-anak muda NU menelanjangi NU di muka umum, tanpa memberikan solusi nyata sebagai jalan keluar. “Jangan sampai image NU terlalu buruk di mata generasi muda, lebih khusus para kadernya,” tegas Mbah Muchith.

Salah seorang tokoh gerakan kembali ke Khittah itu mengakui adanya sebagian kiai NU yang bersikap tidak simpatik. Akan tetapi hendaknya semua pihak bersikap bijaksana, bahwa yang melakukan hal seperti itu bukan hanya kiai NU, tetapi unsur lain justru lebih banyak dan lebih buruk. “Jadi, yang buruk itu bukan hanya kiai NU, banyak, kenapa hanya kiai yang disorot?”

Muhammadiyah Asli

Di akhir pembicaraan, Mbah Muchith mengaku bersalah dan berdosa karena sampai saat ini NU masih belum seperti yang diinginkan oleh para pendirinya. Oleh karenanya, ia merasa punya hutang untuk lebih keras lagi dalam ‘mendakwakan’ organisasi yang didirikan oleh gurunya tersebut.

 

”Kalau saya dan keluarga saya diejek orang, saya tidak pernah marah. Tapi kalau NU yang terus diudal-udal keburukannya, saya tersinggung dan marah,” tandas Mbah Muchith.

Muhammadiyah Asli

Sementara Mohammad Subhan, salah seorang penulis buku ”Antologi NU” yang juga sebagai narasumber dalam acara tersebut, mengingatkan pentingnya buku-buku berhaluan NU bagi anak muda. Dikatakan, saat ini sudah hampir tidak ada lagi penerbit yang bernapas NU, apalagi yang terang-terangan berbendera NU.

”Sementara buku-buku yang menyudutkan NU semakin banyak jumlahnya di pasaran, baik yang ditulis oleh orang luar NU maupun oleh orang dalam, tapi menggunakan pola pikir luar,” katanya.(sbh)



Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan Muhammadiyah Asli

Rabu, 09 Agustus 2017

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Mataram, Muhammadiyah Asli. Pondok Pesantren Abhariyah Jerneng ? Asuhan Rais Syuriyah PCNU Lombok Barat TGH Ulul Azmi keluar sebagai juara Group A setelah mengungguli Pesantren Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah dengan skor 2-0 di Stadion Kediri Lombok Barat, Senin (21/9).

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Babak penyisihan Liga Santri Nusantara (LSN) Zona NTB sudah berjalan dua hari dengan jadwal tiga kali pertandingan setiap hari. Pagi satu kali pertandingan dan sore dua kali pertandingan.

Jalannya pertandingan

Muhammadiyah Asli

Kemenangan Abhariyah diraih setelah Hariadi, pemain dengan nomor punggung 6 menjebol gawang Qomarul Huda dari Bagu di babak pertama.

Muhammadiyah Asli

Kemudian di babak kedua, pemain lini tengah, Lalu Zainul Hafidz dari Abhariyah melepaskan tendangan dari luar kotak penalti hingga kembali menjebol gawang lawan. Kedudukan 2-0 bertahan hingga pluit panjang berbunyi tanda pertandingan telah selesai.

Suharto, Pelatih Abhariyah ? menargetkan, timnya bisa meraih kemenangan pada semi final yang akan dihelat Jum’at (25/9).

Guru senior Abhariyah ini juga berspesan kepada pemain asuhannya agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan bermain sportif. "Saya berpesan kepada semua pemain dan para suporter agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan tetap mejaga sportivitas," katanya. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Pahlawan Muhammadiyah Asli

Jumat, 23 Juni 2017

Tradisi Menjaga Kebugaran Jasmani di Macau

"Sudah delapan kilometer, Ustadz," kata saya kepada Ustadz Muhandis. Angka yang saya sebutkan ialah jarak yang kami tempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan Kota Macau, Kamis, 14 Juni 2017 lalu.?

Walaupun begitu, anehnya tak ada rasa haus yang menerpa. Juga di sekeliling kami banyak sekali warung makan yang buka.

Soal jalan kaki, memang salah satu pemandangan yang lumrah terlihat ialah senangnya masyarakat baik Hong Kong maupun Macau berjalan kaki. Ini sudah menjadi life style.

Tradisi Menjaga Kebugaran Jasmani di Macau (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Menjaga Kebugaran Jasmani di Macau (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Menjaga Kebugaran Jasmani di Macau

?

Gaya berjalan kaki juga menjadi ciri masyarakat di negara-negara maju. Saya akui di tanah air memang bukan orang yang suka berjalan kaki jauh, lebih senang mengandalkan sepeda motor ataupun mobil, apalagi sedang trend di Indonesia menggunakan jasa angkutan online. Di Macau saya terbiasa berjalan kaki rata-rata 6-8 kilometer per hari. Inilah salah satu dampak baik melancong ke negeri orang.

Muhammadiyah Asli

Terbayang ketika orangtua kita dulu tak pernah mengandalkan peta digital atau internet, ke mana-mana berjalan kaki. Akibatnya tubuh jadi lebih sehat dan ingatan juga kuat. Rasanya kita terlalu mengandalkan gadget atau alat sehingga malas mengingat.

Dan berjalan kaki ialah salah satu obat untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air. Bagaimana kita bisa merasakan tiap jengkal tanah dengan langkah kaki sendiri. Betapa mahalnya—bukan hanya dalam arti harga namun nilai—sebuah tanah milik kita, yang kita pijak dengan kaki sendiri. Tanyakanlah pada anak negeri yang berpencar ke ragam negara, bumi Nusantara pasti selalu punya makna yang istimewa dalam hatinya.

Spot-spot publik di Macau biasanya menyediakan ruang khusus untuk berolahraga, taman bermain anak serta track untuk berjalan santai ataupun berlari. Banyak warga Macau yang berlari di sore hari, mulai dari remaja, dewasa bahkan kakek-kakek yang bertelanjang dada namun terlihat bugar dan bersemangat. Tak jarang pula nampak ibu-ibu ataupun para nenek yang terlihat seperti mengeluarkan jurus-jurus tai chi seperti di Taman Guia Hill.

Berjalan kaki bukan hanya menguntungkan secara jasmani. Bila ditujukan ke masjid misalnya akan memiliki nilai yang tinggi di hadapan Allah swt. Nabi Muhammad SAW bukan hanya sekali memberikan kabar gembira terkait orang yang berjalan menuju masjid. Dari adanya pengangkatan derajat setiap langkah, penghapusan dosa, serta pemberian cahaya di hari kiamat nanti.

Muhammadiyah Asli

Dari Ubay bin Ka’ab RA, beliau berkata, “Ada seseorang laki-laki yang sepengetahuanku rumahnya paling jauh dari masjid. Dia tak pernah melewatkan shalat (di masjid). Ada seseorang yang mengatakan padanya, ‘Tidakkah sebaiknya engkau membeli keledai yang bisa engkau tunggangi di masa gelap dan di saat panas.’ Orang tersebut menyatakan, ‘Aku tidak suka rumahku di samping masjid. Aku ingin tercatat (pahala) langkah kakiku menuju masjid dan langkah kakiku ketika kembali (dari masjid) ke keluargaku. Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah menggabungkan (kedua pahala untuk berangkat dan pulang) bagimu seluruhnya.” (HR. Muslim)

Salah satu yang tak kalah unik di Macau ialah berjejernya alat-alat fitnes secara terbuka di ruang publik, dan bisa dikatakan cukup lengkap, mulai yang digunakan untuk melatih otot bisep dan trisep, otot paha, otot dada, melatih keseimbangan. Melihat itu, saya mengira alat bermain anak karena warnanya yang mencolok kuning dan merah.?

"Kita coba, Ustadz," ajak saya kepada Ustad Muhandis.

?

Saya lihat masyarakat bisa dengan bebas menggunakan alat-alat itu kapan pun. Pemerintah amat perhatian terhadap kesehatan fisik warganya, dan warganya juga bisa menjaga fasilitas yang bermanfaat ini.

Gaya hidup sehat ialah gaya hidup yang Islami, dan terkadang kita menemukannya justru di negeri yang penduduknya mayoritas non-Muslim. Namun demikian, kita dianjurkan untuk berupaya dan memohon al-afiyah, di mana kesehatan dalam Islam mencakup cageur bageur atau lahir bathin.

Saepuloh, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerjasama dengan LAZISNU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Halaqoh, Pahlawan, Humor Islam Muhammadiyah Asli

Sabtu, 03 Juni 2017

Jaminan Syafa’at bagi yang Bertaklid dan Pengikut Tarekat

Orang bertaklid dan pelaku tarekat identik kejumudan. Mereka menanggung beban bukan main di dunia. Mereka statis, jalan di tempat bahkan jalan mundur, keong, antitesis kemajuan, ketinggalan zaman, pandir, akrab dengan kemiskinan. Kendati demikian, jumlah mereka terus bertambah. Karena, pilihan mereka didasarkan pada hasil ijtihad juga.

Tanpa menutup gerbang ijtihad dan memasang cita-cita setinggi langit, mereka menilai taklid dan tarekat sebagai kemaslahatan besar. Buktinya banyak dari mereka yang bertaklid dan bertarekat tercatat sebagai bintang pelajar di banyak lapangan pengetahuan.?

Jaminan Syafa’at bagi yang Bertaklid dan Pengikut Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaminan Syafa’at bagi yang Bertaklid dan Pengikut Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaminan Syafa’at bagi yang Bertaklid dan Pengikut Tarekat

Satu dari sekian kejeniusan mereka disebutkan Syekh Abdul Wahab bin Ahmad Al-Ansori yang lazim dikenal As-Sya’roni dalam kitab Al-Mizanul Kubro sebagai berikut.

Muhammadiyah Asli

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammadiyah Asli

“Kami sudah menyebutkan di dalam bab ‘Jawaban tentang para imam fiqih dan imam sufi’ bahwa para imam fiqih dan imam sufi memberikan syafaat dan mengawal pengikut mereka saat ruh mereka dicabut, ditanyakan malaikat Munkar dan Nakir, dibangkitkan dari kubur, dikumpulkan, hisab, mizan, dan saat perjalanan di shirat. Mereka tidak melalaikan pengikutnya di setiap pos perhentian dalam perjalanan kehidupan.”

Seorang saleh dalam mimpinya menanyakan Syekh Nashiruddin Al-Laqqani yang bermazhab Maliki saat di kubur. Al-Laqqani bercerita, ketika malaikat Munkar dan Nakir hendak mengajukan pertanyaan kubur, Imam Malik hadir lalu mengajarinya jawaban yang dibutuhkan. Ia kemudian meminta Munkar dan Nakir meninggalkan kubur Al-Laqqani. Keduanya lalu meninggalkan kubur tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Bila para imam sufi memerhatikan pengikut juga murid mereka dalam huru-hara dan kesulitan dunia dan akhirat, terlebih lagi para imam mujtahid mazhab di mana mereka paku bumi, pilar agama, dan orang pilihan yang diamanahkan Rasulullah SAW untuk umatnya. Semoga Allah meridhoi mereka. Karenanya, bahagia dan berseri-serilah kamu dengan bertaklid kepada salah seorang mujtahid yang kamu suka.” Wallahu a’lam.

Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Halaqoh, Pahlawan Muhammadiyah Asli

Selasa, 11 April 2017

Vila di Pasir Peso

Oleh Abdullah Alawi



“Ah, rupanya desaku belum banyak berubah. Masih saja seperti dulu. Anak-anaknya harus berjalan kaki tujuh kilo meter untuk sekolah. Padahal negeri ini sudah 63 tahun merdeka dan seratus tahun bangkit,” bisikku dalam hati ketika melihat anak-anak berseragam putih-biru di depanku. Mereka menjinjing sepatunya supaya terhindar dari beceknya jalanan. 

Aku teringat beberapa tahun silam ketika aku seperti mereka, sering menjinjing sepatu ketika jalan becek. Barulah sepatu dipakai ketika hampir sampai di sekolah. Duduk di bangku sudah lelah. Seragamku bau keringat karena tak pernah memakai parfum. Tapi nilaiku tak kalah dengan teman-teman yang hanya berjalan beberapa meter ke sekolah. Mungkin jalan kaki membuatku semangat.  

Vila di Pasir Peso (Sumber Gambar : Nu Online)
Vila di Pasir Peso (Sumber Gambar : Nu Online)

Vila di Pasir Peso

Aku terpaksa berjalan kaki melewati jalan setapak yang sering digunakan oleh penyadap karet dan anak-anak yang berangkat sekolah. Jalan pintas ini biasa digunakan menuju Pasir Peso. Sebenarnya tubuhku letih setelah perjalanan jauh. Tapi karena di pangkalan ojek masih sepi, aku terpaksa jalan kaki. Setelah diguyur hujan semalaman, tukang ojek biasanya mangkal setelah jalanan mulai kering. Aku malas menunggu siang karena rinduku menuju lemah cai sudah tak tertahan lagi.

Setelah keluargaku menjadi transmigran ke pulau Sumatera selama lima tahun, selama itulah aku memendam kerinduan tanah kelahiran. Rindu kepada sungainya, terasering sawahnya, humanya, lampingnya, alamnya, dan orang-orangnya. Semuanya! Tapi selalu saja ada aral melintang, misalnya masalah ongkos atau izin dari orang tuaku. Dan, baru kali ini kerinduanku terlaksana.

Pagi sudah mulai terang meski matahari malas keluar. Burung-burung masih bersembunyi di sarang. Embun masih bertahta di dedaunan.

Muhammadiyah Asli

Aku terus berjalan meski tubuhku semakin letih. Keringat membasahai sekujur tubuh. Anak-anak sekolah semakin jarang kutemui. Tetapi ketika di sebuah tikungan aku berpapasan dengan anak yang mengingatku pada seseorang. Aku tak bisa menahan untuk tidak menyapanya.

“Neng..., kamu...kamu adiknya teh Imas, ya?”

“Mmm...i...iya. Akang siapa? Kok kenal teh Iim?” kata anak itu sambil menatapku keheranan. 

Muhammadiyah Asli

Aku tersenyum. 

“Aku temannya teh Iim. Aku juga orang Pasir Peso. Tapi sudah lima tahun pindah. Bagaimana kabarnya dia? Dimana sekarang?”

Anak itu tidak menjawab. Dia malah melihat jam tangan yang menempel di tangan kirinya. 

“Oh ya, takut kesiangan ya? Nanti barangkali saya main ke rumahmu. Silakan lanjutkan...”

Anak itu melanjutkan perjalanannya dengan tergesa-gesa.

Aku menatap kepergian anak itu. Perawakannya, wajahnya, mirip sekali dengan kakaknya, Imas. Dia adalah teman sekelasku. Aku masih terkenang saat-saat bersamanya. Berangkat sekolah bersama dan pulang pun bersama. Jika hujan turun, biasanya berteduh di bedeng penyadap karet. Betapa indahnya kurasakan menikmati saat-saat bersamanya. Sebenarnya rinduku ke lemah cai adalah rindu kepada Imas...

Perkebunan karet terlewati. Sekarang di hadapanku terlihat bebukitan Pasir Peso. Kadang kakiku terpeleset karena asyik melihat pemandangan di depanku. 

Aku memasuki jalan desa yang rusak berat dan tak terurus. Sisa air hujan menggenang di lubang-lubang sepanjang jalanan. Tiba-tiba mobil hard top melaju kencang di jalanan becek itu. Air sisa hujan semalam muncrat ke bajuku. 

“Sialan!” makiku dalam hati sambil melihat mobil itu terus melaju yang oleng ke kiri dan kanan karena menginjak jalan berlubang. 

“Siapa pemilik mobil itu? Dia pasti bukan orang Pasir Peso,” bisikku lagi dalam hati. 

***

“Ki Martayuda adalah satu-satunya orang Pasir Peso yang berani melawan Balanda,” kata abah Atma ketika bercerita tentang pahlawan Pasir Peso sehabis maghrib. Aku mendengarkan dengan khusuk. 

“Padahal dia melawan hanya seorang diri,” katanya melanjutkan. 

“Orang Pasir Peso tidak ada yang membantu?” tanyaku.

“Penyerangan itu tidak direncanakan karena dia benar-benar marah...”

“Apa penyebab kemarahannya?”

“Isterinya diambil opsir-opsir Belanda yang biasa mengambil cengkeh dari petani Pasir Peso,” abah Atma menghentikan kisahnya sebentar karena mulutnya diisi singkong goreng.

“Isteri ki Martayuda adalah permata Pasir Peso yang terkenal kecantikannya. Opsir-opsir itu kepincut kemudian membawanya lari...”

“Terus bagaimana?” 

“Setelah tahu isterinya diculik, ki Martayuda marah besar. Kemudian tanpa dibantu siapa pun, dia mencegat opsir di punclut  Pasir Peso. Dua opsir Belanda mati di tangannya dengan sebuah pisau belati. Tapi isterinya gagal direbut kembali karena opsir yang lain telah membawanya pergi. Sejak itulah punclut disebut Pasir Peso. Begitulah sejarah kampung Pasir Peso, Jalu,” kata abah Atma mengakhiri cerita tentang lemah caiku. Dia bercerita dengan semangat 45. 

Begitulah abah Atma menjadi menjadi sejarahwan Pasir Peso, meski sejarah itu tidak pernah dicatat, tapi cerita itu selalu hidup, turun-temurun, menjadi dongeng sebelum tidur anak-anak Pasir Peso. 

“Ngomong-ngomong, sekarang disimpan dimana pisau ki Martayuda itu?”

“Ada di tangan abah. Suatu waktu kamu bisa melihatnya karena kamu masih keturunannya.”

Aku mengangguk-angguk.

“Tapi sayang, Pasir Peso sekarang hampir sirna ing bhumi. Jati ka silih ku junti,” kata abah Atma dengan nada menyesal.

“Kenapa?”tanyaku.

“Sekarang Pasir Peso berubah jadi kampung Vila atau vila saja.” 

“Bagaimana ceritanya bisa seperti itu, Bah?” tanyaku sambil mengerenyitkan dahi.

“Itu gara-gara vila di punclut Pasir Peso. Mulanya orang desa tetangga yang menyebut kampung vila. Kemudian orang Pasir Peso menjadi terbiasa karena nama vila terasa lebih ngota daripada Pasir Peso yang terdengar kampungan...”

“Siapa pemilik vila itu?”

“Orang kota. Orang Pasir Peso mana ada yang mampu membikin vila seperti itu. Luar biasa! Konon di dalamnya ada kolam renang segala. Pemiliknya seminggu sekali ke vila itu, atau sebulan sekali. Di situ tinggal isteri mudanya yang keempat...”

Aku mengangguk-angguk lagi.

“Oh ya, Jalu, Abah sudah ngantuk. Kalau mau tidur, di kamar depan saja....” kata abah Atma sambil ngeloyor ke kamarnya. Dari  dalam sudah terdengar dengkur Ambu Atma yang kecapaian. Sebenarnya aku ingin bertanya siapa yang isteri pemilik vila itu. Tapi aku mengurungkannya.

Malam semakin larut. Suara jangkrik dan binatang malam terdengar bersahutan ditimpali suara katak di sawah. 

Aku merebahkan diri di kamar. Tapi belum bisa tidur. Pikiranku meracau-racau. Obrolan dengan abah Atma masih terngiang-ngiang ketika bercerita tentang pahlawan Pasir Peso. Aku baru tahu bahwa ki Martayuda membunuh opsir karena isterinya. Barangkali dia tidak akan menjadi pahlawan kalau isterinya tidak direbut opsir itu. Tapi dia sudah terlanjur jadi mitos. Makamnya sering diziarahi. Kesaktiannya begitu terkenal. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dia tak mempan senjata api.  

Tiba-tiba aku ingat Imas, permata Pasir Peso. Aku berharap Imas masih seperti yang dulu, masih mencintaiku. Sampai tiga hari di Pasir Peso, aku belum sempat pergi ke rumahnya karena sibuk menemui saudara-saudaraku termasuk abah Atma, pamanku. 

Di ujung lamunanku, aku berharap mimpi ketemu Imas... 

*** 

Aku kaget bukan main setelah tahu bahwa Imas sudah menikah. Aku langsung membuktikan hal itu ke rumah orang tuanya. Betapa terbakarnya hatiku ketika tahu suaminya adalah pemilik vila itu. Yang paling membuatku kecewa, dia terpaksa menikah untuk melunasi utang orang tuanya kepada suami Imas sekarang. 

Kenapa orang luar Pasir Peso yang mendapatkannya? Aku menggugat dalam hati. Bagiku pemilik vila itu tak ada bedanya dengan opsir Belanda yang mengambil isteri ki Martayuda. Vila dan suami Imas sudah melanggar kedaulatan Pasir Peso, Gara-gara vila itu, Pasir Peso sirna ing bhumi. Gara-gara vila itu pula Imas hilang. Begitulah kesimpulanku. 

Darahku adalah darah ki Martayuda. Pejuang Pasir Peso. Aku masih merasa orang Pasir peso dan wajib merebut Imas dan mengmbalikan nama Pasir Peso. Karena nama Pasir Peso adalah sejarah orang Pasir Peso sendiri. Kalau Imas mau, akan aku ajak kabur. Tapi kalau tidak mau, setidaknya aku akan membuat perhitungan dengan suaminya dan vila itu. Peduli amat siapa pun suaminya. Aku sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Malam sudah berlalu separuhnya. Aku berdiri di gerbang vila itu. Pagar yang tinggi dan kokoh memperlihatkan keangkuhannya. Dadaku terbakar ketika membaca tulisan, “pribumi dan anjing dilarang masuk”. Aku meraba belati milik ki Martaydua yang terselip balik bajuku.

Tiba-tiba aku ragu akan keberanianku sendiri. Dapatkah aku melakukannya? Apakah Imas masih mencintaiku? Ki Martayuda disebut pahlawan, sedang aku? Barangkali seperti inilah perasaan ki Martayuda ketika akan membunuh opsir Belanda dan merebut isterinya. Ada rasa takut, rapuh karena dia juga manusia? Aku berusaha menekan perasaan itu jauh-jauh.  

Aku mencopot tulisan itu, menginjak-injaknya. Kemudian mulai memanjat pagar vila itu...

Ciputat, 5 Agustus 2008

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock