Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA

KH Achmad Syaichu dilahirkan di daerah Ampel, Surabaya, pada hari Selasa Wage, 29 Juni 1921. Ia adalah putra bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Chamid dan Ny. Hj. Fatimah. Pada usia 2 tahun ia sudah yatim, ditinggal wafat ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Achmad Syaichu bersama kakaknya, Achmad Rifai, diasuh ibunya.

Untuk memperoleh pendidikan agama, Syaichu belajar kepada K. Said, guru mengaji bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Pada usia 7 tahun ia sudah mengkhatamkan Al-Quran 30 Juz. Selain belajar agama, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, sebuah sekolah yang dikelola Muhammadiyah. Tak lama belajar di sekolah ini, oleh H. Abdul Manan, ayah tirinya, dipindahkan ke Madrasah Taswirul Afkar. Lembaga pendidikan ini didirikan KH Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur, dan KH Dachlan Achyat. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal-bakal Nahdlatul Ulama.

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA

Untuk membantu meringankan beban ibunya yang harus menghidupi putra-putranya, setelah H. Abdul Manan wafat, pada usia kanak-kanak Syaichu sudah sudah mulai bekerja di perusahaan sepatu milik, Mohammad Zein bin H. Syukur. Dan terpaksa untuk beberapa lama ia tidak melanjutkan sekolah.

Muhammadiyah Asli

Syaichu kembali kebangku sekolah sesudah selama dua tahun bekerja dan memiliki bekal yang relatif cukup. Ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Sambil belajar, ia kembali bekerja pada seorang tukang jahit kenamaan di Pacar Keling, Mohamad Yasin. Di Nahdlatul Wathan ia dibimbing seorang guru yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangannya yaitu KH Abdullah Ubaid. Selain itu ia juga berguru kepada KH Ghufron untuk belajar ilmu Fiqh.

Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Ny. Fatimah yang sudah dua kali menjanda diperistri KH Abdul Wahab Chasbullah. Di bawah bimbingan ayah tirinya itulah Syaichu berkembang menjadi pemuda yang menonjol. Kepemimpinannya mulai tumbuh.

Muhammadiyah Asli

Sekolah sambil bekerja seolah-olah menjadi pola hidup pemuda Syaichu. Setamat dari Nadlatul Wathan, ia kembali bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut. Selama bekerja dibengkel itu, ia melakukan kegiatan dakwah di lingkungan kawan-kawan sekerja.

Setahun kemudian, 1938, KH Abdul Wahab Chasbullah mengirimkan Syaichu ke Pesantren Al-Hidayah, Lasem asuhan KH Mashum. Selama di pesantren ini, ia menjadi santri kesayangan Mbah Mashum. Sesudah 3 tahun belajar di Lasem, ia terpaksa harus boyong ke Surabaya, karena ia terserang penyakit tipes (typus) yang cukup serius.

Pada tanggal 5 Januari 1945, pada usia 24 tahun, Syaichu mempersunting Solchah, putri Mohamad Yasin, penjahit kondang asal Pacar Keling yang pernah menjadi majikannya. Sesudah berkeluarga, ia membuka home industry sepatu di rumahnya, dengan 15 orang karyawan.

Ketika terjadi penyerbuan tentara Sekutu ke kota Surabaya, ia bersama istrinya mengungsi ke Bangil. Pada tahun 1948, sesudah Surabaya kembali aman, ia pulang ke kota kelahirannya. Mulailah ia terjun sebagai sebagai pengajar di Madrasah NU. Di samping mengajar, ia juga menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan. Itulah awal mula Syaichu mulai terlibat di organisasi NU.

Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya periode 1948-1950, ia ditunjuk sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum (Tanfidziyah), bersama KH. Thohir Bakri, KH. Thohir Syamsuddin dan KH. A. Fattah Yasin. Karier Syaichu di organisasi terus menanjak dengan cepat. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Kota Besar Surabaya.

Awal tahun 1950-an ia mendaftarkan diri menjadi pegawai pemerintah dan bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala. Baru setahun di Pengadilan Agama, ia pindah ke Kantor Agama Kotapraja Surabaya.

Pada tahun 1953, Syaichu terpilih menjadi ketua LAPANU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Dan pada pemilu 1955, ia diangkat menjadi anggota DPR dari Fraksi NU, dan pada tanggal 25 November 1958 ia ditunjuk sebagai Ketua Fraksi NU. Dalam kurun waktu 15 tahun sejak ia menjadi anggota DPRDS di Surabaya, akhirnya ia mencapai puncak karir di gelanggang politik, dengan menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966. Di NU sendiri ia pernah menjadi salah seorang ketua PBNU, sampai tahun 1979 (ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang).

Kepemimpinan dan ketokohan KH. Achmad Syaichu tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga sampai ke level internasional. Pengakuan itu terbukti dengan dipilihnya KH. Achmad Syaichu sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) dalam konferensinya yang pertama di Bandung, tanggal 6-14 Maret 1965. KH. Achmad Syaichu yang di kenal sebagai pengagum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu berhasil mengembangkan misi dakwah Islamiyah dan misi perjuangan bangsa Indonesia dalam pentas politik internasional.

Sekian lama KH. Achmad Syaichu menekuni dunia politik, tak menyurutkan perhatian dan minatnya dalam dunia dakwah Islamiyah. Malahan semangat mengembangkan dakwah Islamiyah itulah yang dijadikan motivasi dalam keterlibatannya di pentas politik. Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, ia mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkannya menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren.

Pesantren Al-Hamidiyah yang kini berdiri cukup megah di daerah Depok, merupakan saksi bisu yang menunjukkan betapa besar dan luhurnya cita-cita yang dikandung KH. Achmad Syaichu. Dari pesantren juga berakhir di pesantren. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, RMI NU, Internasional Muhammadiyah Asli

Rabu, 07 Februari 2018

KH Abdullah Sattar: NU Benteng Indonesia

Sumenep, Muhammadiyah Asli. Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dan kontribusi besar terhadap Indonesia. Dengan luasnya jaringan pesantren yang dimiliki, NU menjadi benteng negeri ini, khususnya dari dekadensi moral.

KH Abdullah Sattar: NU Benteng Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdullah Sattar: NU Benteng Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdullah Sattar: NU Benteng Indonesia

"Andai tak ada pesantren dan Nahdlatul Ulama, Indonesia rusak," papar KH. Abdullah Sattar saat memberikan ceramah pada Haflatul Imtihan Yayasan Nurul Huda, Ging-Ging, Bluto, Sumenep, Rabu (29/7) kemarin.

Sementara kekuatan NU, menurut dai asal Lumajang itu, ada di Jawa Timur. Sunan tertua ada di Jawa Timur, yaitu Sunan Ampel.

"Jawa Timur bergolak, Indonesia akan bergolak. Tapi luar Jawa Timur bergolak seperti di Papua beberapa hari lalu, Jawa Timur tetap adem ayem (damai)," paparnya.

Muhammadiyah Asli

Ia juga mencontohkan, di Banten banyak kiai, tapi tak sesakral ulama di Jawa Timur. "Jawa Timur menjadi rujukan ulama Indonesia," tuturnya.

Muhammadiyah Asli

Sedangkan kekuatan NU di Jawa Timur ada di Madura. Bahkan, proklamator dan presiden pertama RI Soekarno, juga pernah belajar ke Madura.

"Bung Karno pernah nyantri ke K. Khalil (Bangkalan). K. Khalil pencetak NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), ungkapnya.

Bahkan, menurut penuturan cucu K. Khalil kepada dirinya, keris Bung Karno yang konon katanya tak mampu diangkat ribuan orang Belanda adalah pemberian K. Khalil Bangkalan. (M. Kamil Akhyari/Anam)

Foto: KH. Abdullah Sattar memberikan ceramah pada Haflatul Imtihan Yayasan Nurul Huda, Ging-Ging, Bluto, Sumenep, Rabu (29/7).

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Kyai, Hadits Muhammadiyah Asli

Rabu, 24 Januari 2018

IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pelatihan Protokoler

Probolinggo, Muhammadiyah Asli - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nadlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo menggelar pelatihan protokoler, Sabtu (26/11) sore. Pihak pengurus IPNU-IPPNU berharap pelatihan ini dapat memaksimalkan sumber daya manusia (SDM) di lingkungan pelajar NU.

Kegiatan yang dilaksanakan di aula di Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces ini diikuti oleh para pengurus IPNU-IPPNU se-Kabupaten Probolinggo. Sebagai narasumber hadir Kasubbag Protokol Pemkab Probolinggo Hermanto.

IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pelatihan Protokoler (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pelatihan Protokoler (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Pelatihan Protokoler

Ketua IPPNU Probolinggo Nur Hakimah Ismawati mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mencetak kader yang ahli dalam bidang keprotokoleran. Sebab saat ini keprotokoleran sudah tidak bisa dipisahkan dari setiap kehidupan.

“Sebuah acara jika tidak didukung dengan keprotokoleran yang baik, maka acara tersebut terasa kurang begitu sempurna. Karena seorang protokol harus mampu mengatur sebuah acara dengan baik. Tetapi tidak semua orang bisa tanpa adanya penguasaan teknik-teknik keprotokoleran,” katanya.

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Menurut Isma, penguasaan bidang keprotokoleran sangat dibutuhkan, terutama oleh kader IPNU-IPPNU yang notabene selalu bergelut dengan berbagai macam kegiatan. Hal ini dikarenakan seorang protokol tidak hanya fokus membawakan acara seremonial, tetapi mengatur kegiatan secara keseluruhan.

“Dengan adanya pelatihan ini kami mengharapkan agar ke depan tumbuh dan muncul kader-kader IPNU-IPPNU yang ahli di bidang keprotokoleran sehingga bisa mengisi di acara-acara NU, banom NU serta khususnya di IPNU-IPPNU sendiri,” pungkasnya.

Dalam kesempatan ini para pengurus IPNU-IPPNU tersebut diberikan teknik-teknik menjadi seorang protokol yang baik dalam sebuah kegiatan oleh Hermanto. Mereka diberi pemahaman apa saja yang harus dilakukan agar sebuah acara dapat berjalan dengan baik. Karena kuncinya ada di seorang protokol. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nasional, Kajian, Makam Muhammadiyah Asli

Selasa, 16 Januari 2018

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri

Kediri, Muhammadiyah Asli

Ahad pagi (16/10), Tim Kirab Resolusi Jihad 2016 berkesempatan berziarah ke? makam para pendiri dan sesepuh Pondok Pesantren Lirboyo di Jalan KH Abdul Karim, Lirboyo, Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Upacara penyambutan dihelat setelahnya.

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahad Pagi, Tim Kirab Resolusi Jihad Berziarah ke Ulama Kediri

Salah seorang pengasuh Pesantren Lirboyo KH Muhammad Anwar Manshur berkenan memberikan sambutan. Ia menyemangati dan mendoakan Tim agar perjalanan kirab menjadi bentuk amal saleh.

Kiai Anwar lalu menceritakan, santri Lirboyo tidak lepas dari perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia. Pada masa Resolusi Jihad tahun 1945, banyak santri Lirboyo diberangkatkan ke Surabaya dan lama bertahan di sana.

Muhammadiyah Asli

Setelah masa Resolusi Jihad usai, para santri dan kiai kembali ke pondok pesantren. Hal itu sebagai tanggung jawab membina masyarakat lewat jalur agama. Kiai Anwar berpesan agar semangat perjuangan para santri dapat diteruskan.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar menyampaikan apresiasi dengan adanya kegiatan Kirab Resolusi Jihad. Menurutnya, pelaksanaan kirab juga menjadi torehan sejarah yang positif bagi Kediri dan NU.

Terkait dengan peringatan Hari Santri yang di dalamnya akan dilakukan pembacaan satu miliar shalawat Nariyah, ia menyampaikan sangat terkesan. Menurutnya, baru NU-lah yang berinisiatif seperti itu.

"Saya bayangkan satu miliar itu bukan jumlah yang sedikit. Jadi saya kaget sekali," ujarnya.

Ia berharap, dengan pembacaan satu miliar shalawat Nariyah akan membantu Indonesia dari berbagai persoalan yang melanda dewasa ini. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Ubudiyah Muhammadiyah Asli

Selasa, 09 Januari 2018

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis

Jember, Muhammadiyah Asli. Santri adalah manusia biasa. Karena itu, santri tidak boleh hanya terpaku pada pengabdiannya di bidang dakwah dan ilmu agama. Santri juga harus pandai mencari celah berwirausaha, sehingga perlu belajar bagaimana berwira usaha yang baik. 

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis

Demikian dikatakan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat membuka Workshop Santri Enterpreneur di pesantren Nuris, Antirogo Jember, Rabu malam (7/4). 

Menurut Kiai Muhyiddin, santri yang menjadi pengusaha atau pengusaha yang santri, mempunyai nilai lebih dan membanggakan. 

Muhammadiyah Asli

“Kalau bukan santri jadi pengusaha itu sudah biasa, tapi kalau santri itu luar biasa,” jelasnya.

Kiai Muhyiddin menambahkan, pesantren dan NU perlu mendorong santri agar mempunyai semangat dan keterampilan untuk berwirausaha. Saat ini, katanya, ketrampilan berwirausaha menjadi tuntutan yang tidak bisa dielakkan, lebih-lebih lapangan kerja begitu sulit. 

Muhammadiyah Asli

“Harapan kita, santri kelak tidak menggantungkan rezeki kepada orang lain kalau bisa mandiri dan berwirausaha,” lanjutnya sambil menambahkan bahwa para kiai tidak sedikit yang sukses usahanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) Jember, M. Ya’la yang menjadi narasumber menegaskan bahwa, saat ini peluang santri untuk berbisnis dan berwirausaha terbuka lebar.  Zaman semakin maju, semakin banyak peluang bisnis yang bisa dilakukan. Karena itu, katanya, santri harus peka terhadap peluang pelaung yang ada. 

“Untuk tahap awal, tidak usah besar-besar, berusaha kecil-kecilan juga bisa asalkan prospektif,” tuturnya.

Workshop tersebut mendapat perhatian dari santri. Buktinya, sekitar 400 santri putra dan putri hadir memenuhi aula pondok putri Nuris. Workshop itu sendiri digelar hasil kerjasama antara RMI Cabang Jember dan Hipsi serta pesantren Nuris.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq  

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, IMNU, Olahraga Muhammadiyah Asli

Minggu, 07 Januari 2018

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD

Sukabumi, Muhammadiyah Asli. Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Simpenan dan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi berupaya berperan di tengah-tengah masyarakat baik secara jam’iyah maupun jama’ah. Untuk peran tersebut, GP Ansor perlu meningkatkan kapasitas dan kreativitas pemuda, salah satunya melalui Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD).

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD

Dua GP Ansor yang bertetangga tersebut menggelar PKD untuk pertama kalinyaa di Pondok Pesantren Al-Hidayah Kampung Cihurang RT 3/8, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan pada (25/2) dengan tema Membentuk Pemuda Ansor yang Cerdas demi Kokohnya Persatuan Kebangsaan.?

Menurut Ketua PAC GP Ansor Simpenan Tendi Satriadji berharap kegiatan itu menjadi titik awal kemajuan GP Ansor Kecamatan Simpenan dan Palabuhan Ratu dan bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi PAC lainnya.?

Saat ini, kata dia, di Simpenan dan Palabuhanratu, pemuda dari mulai berumur 17 tahun sudah mulai jauh dari pondok pesantren sehingga membaca dan memahami Al-Qur’an sangat rendah. Tak hanya itu, kepedulian mereka terhadap kegiatan hari hari besar keagamaan sangat minim.

Muhammadiyah Asli

“Kami sangat khawatir moral dan paradigmanya ini bisa terpengaruh dan terpancing dengan isu-isu yang berbau SARA dan menebar konflik mengatasnamakan Islam,” katanya kepada Muhammadiyah Asli, Jumat (3/3).

Berdasarkan kehawatiran ini, lanjutnya, sehingga kami mengambil sikap untuk meraih para pemuda dengan cara mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar ? yang ? dalam AD/ART Organisasi, yaitu sebagai tujuan organisasi menegakan ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Kajian, Fragmen Muhammadiyah Asli

Jumat, 22 Desember 2017

Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah

Mekkah, Muhammadiyah Asli. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari berbagai negara menggelar acara Silaturrahim dan Musyawarah di Rubath Jawa yang terletak di distrik Misfalah, Kota Mekkah, Arab Saudi. Musyawarah antara lain membahas rencana pelaksanaan Konferensi Internasional NU.

Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah

Kegiatan yang digelar Kamis (30/10) malam lalu merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan bertepatan dengan musim haji. Hadir perwakilan PCINU dari berbagai negara, antara lain, Ahmad Fuad Abd Wahab (Ketua Tanfidziyah PCINU Arab Saudi), Miftakhul Munif (Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan), Landy T. Abdurrahman (Ketua tanfidziyah PCINU Mesir), Muhammad Taqi (PCINU Syiria), La Ressa Beddu Kulasse (PCINU Lebanon), Rifqi Maula (Sekretaris PCINU Maroko dan  juga ketua PPI Maroko).

Silaturrahim ini  juga dihadiri berbagai pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu di negara-negara Timur Tengah dan dari Kota Mekkah sendiri. Tampak kader-kader GP Ansor dari Kota Jeddah juga turut menghadiri acara.

Muhammadiyah Asli

Selain menjadi ajang ramah-tamah dan sambung rasa antar pelajar, aktivis dan pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama dari berbagai negara, forum  ini juga membahas hasil Konferensi Internasional NU yang telah digelar di Istanbul, Turki (18-19 Mei 2014) tentang optimalisasi Forkor PCINU LN (Forum Koordinasi Pengurus Cabang Istimewa NU Luar Negeri) sebagai wadah diskusi online antar pengurus dan tentang lokasi Konferensi Internasional selanjutnya tahun 2015 yang diusulkan dengan pilihan lokasi, Eropa di Jerman, Timur Tengah di Mesir atau Asia di Jepang.

Muhammadiyah Asli

Dengan berbagai pertimbangan terutama visa sebagai syarat utama masuk negara lain. Forum musyawarah merekomendasikan lokasi Konferensi Internasional PCINU Luar Negeri yang rencananya akan digelar di medio antara Mei atau Juni tahun 2015 untuk digelar di Jepang.

Yang tak kalah penting, menyikapi berbagai gerakan radikal yang mewabah di negara-negara timur tengah dan upaya mengcounter paham-paham radikal untuk tidak berkembang luas. dalam forum ini, PCINU Mesir mengemukakan pembuatan Jurnal Ilmiah dengan topik Deradikalisasi Agama yang ditulis dengan tiga bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pengurus yang hadir dan berkompeten dalam masalah ini bersedia akan menyumbangkan karya ilmiahnya. Dalam hal ini, PCINU Mesir menyatakan kesanggupan untuk menjadi penanggung jawab dalam proses terbit dan publikasi.

Usai musyawarah, acara dilanjutkan dengan pemberian ijazah sanad Asmaul-Husna, ijazah sanad Al-Quranul-Karim dan doa penutup oleh Syekh KH Jamhuri Al-Banjari Al-Makky yang merupakan salah satu Ulama Kota Makkah asal Indonesia. (Ridho El-Qudsy/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Halaqoh, Ubudiyah, Kajian Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock