Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara

KH Mohammad Najib, biasa dipanggil Gus Najib, adalah sosok yang membanggakan keluarga dan daerahnya, Banjarnegara. Ia dikenal masyarakat tidak hanya sebagai kiai, akan tetapi juga sebagai politisi, pebisnis, dan seniman. 

Ia tegas, keras, penyayang, dermawan. Ia pemimpin dan pengayom masyarakat kalangan bawah. Ia membawa kesan tersendiri di hati para sahabat, keluarga, dan masyarakat Banjarnegara. 

KH Abdul Fatah, kakek buyutnya, adalah pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Fatah Banjarnegara (1860-1941), yang dilanjutkan oleh kakeknya, KH Hasan Fatah (1941-1991). Gus Najib sendiri memimpin Pesanten Al-Fatah (2013-2018), meneruskan kiprah ayahndanya KH Hasyim Hasan Fatah  yang memimpin pesantren sejak 1990-2013.

Gus Najib menempuh pendidikan di RA dan MI Al-Fatah hingga kelas dua. Kelas tiga sampai empat di Al-Irsyad Purwokerto, lalu pindah ke SD Cokro Banjarnegara kelas lima sampai enam. 

Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Gus Najib, Kiai Serba Bisa dari Banjarnegara

Jenjang menengah pertama di SMP 2 Banjarnegara, dan jenjang menengah atas di SMA 1 Banjarnegara. Kelas dua pindah ke SMA Jember dan mulai mondok. Kelas tiga SMA ia pindah ke Pakistan. Ia kuliah di STIE Banjarnegara semester dan pindah ke UNWIKU Purwokerto sejak semester 2. 

Semasa muda ia belajar ilmu hikmah kepada KH Hamzah yang sekaligus kakek dan menantu dari KH Abdul Fatah dari putri pertamanya, Hj Umu Kultsum. Ia menuntut ilmu kajian kitab Sulam at-Taufiq, al-Taqrib, Daqoiq al-Akhbar, al-Usfurriyah, Qothru al-Ghois sampai Tafsir Jalalain pada KH Ahmad Dailimi. 

Dalam perjalananya menuntut ilmu, ia juga berguru kepada paman dari ibunya, di Lasem. KH Ahmadi adalah guru ilmu tata bahasa arab, ilmu Nahwu. Kemudian kepada Kiai Muhammad Azizi yang juga pamannya, dirinya belajar shorof dan Nashoih al- Ibad. 

Muhammadiyah Asli

Gus Najib juga belajar banyak dari seorang kiai dari Yogyakarta. KH Ali Maksum, Krapyak adalah salah seorang guru ia dalam belajar shorof selama 5 hari. Ketika mengaji di Jember, Gus Najib menuntut ilmu kepada KH Ahmad Shiddiq. Ia mengaji kitab tasawuf Riyadh as-Sholihin, Al-Siyasah as-Sariyah. 





Muhammadiyah Asli

Dalam tata bahasa Arab, ia juga belajar kepada KH Durmuji Ibrahim, Lirap, Kebumen, di Pondok Pesantren Nahwu-Shorof; dan kepada KH Ahmad Abdul Haq, Watu Congol Magelang, di mana ia belajar mondok Ramadhan sewaktu kecil. 

Setelah ayahnya meninggal, ia meneruskan perjuangan untuk mengurus dan membimbing jamaah sebagai Mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah. Dalam pengetahuan ilmu tauhid, ia juga belajar kepada Syeikh Masud, Kawunganten, Cilacap. Tentang ilmu tauhid, kitab Al-Dasuqy Ummul Al-Baroghin. 

KH M Najib pernah belajar kepada Maulana Arsyad Ubaid, Maulana Abdurruhman, dan Maulana Musa di Jam’iyah Al-Asrofiyah Lahore, Pakistan. Ia mengaji ilmu hadist dan ilmu mantiq. Di Lahore pula, Gus Najib belajar Al-Quran kepada Qori Syarif. 

KH Hamid Baidhowi dan KH Mujtahidi adalah dua guru mengaji Al-Luma lil Imam As-Syairozi, Usul Fiqih. Kepada Abuya Dimyathi, Banten, Gus Najib belajar Ihya Ulum ad-ddin, Awarifu al-Maarif, kitab Syamsiyyah, Tafsir Al-Baidhowi, Tafsir Khozin, Shohih Muslim, Bukhori, Ibnu Majah, Al-Ithqon Fi Ulumil Quran, Manaru al-Huda, al-Asyr Fi Qiroat al- Asyr, al-taisir(Qiroah Sabah), kitab Bahjah, kitab Jabrul Kasar, Mafakhir al- Aliyyah, Al-Mushtashfa, Ushul Fiqh. 

*

Gus Najib adalah sosok yang gemar berorganisasi. Pada tahun 1984 - 1986, ia menjabat sebagai Ketua PC IPNU Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1988 Ketua PC GP Ansor Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1988, ia masuk dalam kepengurusan DPP II KNPI Kabupaten Banjarnegara. Tahun 1996-1998, menjabat sebagai Sekjen DPC PPP Kabupaten Banjarnegara. 

Jabatan lainnya tahun 1999 sebagai Ketua DKC Garda Bangsa Banjarnegara. Pada tahun 1999-2012, ia masuk sebagai perwakilan rakyat di DPRD Kabupaten Banjarnegara. Tahun 2002-2012, ia Ketua DPC PKB Kabupaten Banjarnegara. Pada tahun 2012-2017, sebagai Wakil Ketua DPW PKB Jawa Tengah.  

Kiai Najib yang kokoh dengan metode pendekatan pendidikan salaf, yaitu identik dengan penyampaian ceplas-ceplos (blak-blakan) untuk pendidikan akidah. Pendekatan pendidikan yang ia terapkan dan sampaikan cenderung apa adanya. Hal ini dinilai baik dari sisi pendidikan karakter, sehingga akar kesantrian juga akidah akan kokoh dan tertanam sampai murid usai belajar di pesantren.

Pendekatan pembelajaran tersebut jika diangkat dalam suatu penelitian maka akan terlihat sedikit keras, tapi justru menanamkan karakter yang baik bagi santri, apalagi saat di bangku kuliah nanti yang berbagai macam pelajaran didapat, khususnya studi keagamaan (keislaman). 

Ia sering memberikan nasihat kepada murid-muridnya, “Kalau kelak kalian pulang dari pesantren, walaupun kalian alim, jangan sekali-kali ingin dihormati. Dan hormatilah orang-orang yang sudah memperjuangkan agama terlebih dahulu di desamu.”

Sosok yang disegani itu telah wafat dengan tenang pada usia 51 tahun, Selasa (2/1) pukul 17.00 WIB di rumah duka Jl S Parman, Km 3, Komplek Pesantren Al-Fatah, Parakancanggah, Banjarnegara, Jawa Tengah. 

Sekitar dua minggu sebelum wafat ia berpesan kepada pengurus pondok, “Hormatilah dan muliakanlah gurumu. Kelak hidupmu akan mulia. Contohlah seperti Mbah KH Hasyim As’ary. Akan tetapi, selain memuliakan, kalian juga harus pintar.”

Selain itu pesan Gus Najid pada saat yang sama adalah, ”Kalian juga harus memuliakan tamu dengan cara bertanya dan menjamu seperti yang dilakukan Mbah dan Abah dulu. Insyaallah anak turun kalian tidak akan kekurangan makanan.”

Gus Najib meninggalkan istri Ny Nur Laely Hikmawati dan tiga putra yaitu Tamlikho Tajun Nuhudh, Maksal Mina Fathun Nuhudh dan Syakira Zahiyatal Anjumi.

Tak berlebihan rasanya bahwa kelak semua orang tetap akan mengenang dirinya, perjuangannya, dan pengabdianya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kiai, Anti Hoax, Olahraga Muhammadiyah Asli

Minggu, 18 Februari 2018

Miris, Undang-undang Indonesia Usang Soal Terorisme

Jakarta, Muhammadiyah Asli



Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamidin menyesalkan bahwa ada pejabat negara yang ikut gabung kelompok terorisme ISIS (Negara Islam Irak dan Syiria).?

Hal tersebut ia sampaikan saat mengisi acara International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) di Jakarta, Senin, (9/5).

Miris, Undang-undang Indonesia Usang Soal Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Miris, Undang-undang Indonesia Usang Soal Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Miris, Undang-undang Indonesia Usang Soal Terorisme

“(Salah satu motifnya adalah) Mereka mempercayai bahwa sekarang sudah akhir zaman, maka mereka berbondong ke tanah Suriah untuk jihad dan menunggu sang imam Mahdi,” kata Hamidin.

Menurutnya, ada dua cara mengapa orang bisa sampai bergabung dengan kelompok radikalisme tersebut. “Pertama face to face (antara calon teroris dan teroris) dan yang kedua adalah lewat media sosial,” tegasnya. ? ?

Muhammadiyah Asli

Ia menjelaskan bahwa ada 133 organisasi terorisme di dunia, 21 jaringan berada di Indonesia, 7 yang berkaitan langsung dengan ISI. “Tiga (dari tujuh) diantaranya melakukan rekrutmen langsung untuk ISIS,” ungkap laki-laki kelahiran Sumatera Selatan tersebut.

Meski demikian, lanjut Hamidin, Indonesia tidak bisa melakukan banyak hal terhadap gerakan-gerakan yang secara benderang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia karena Undang-undang tentang terorisme itu usang dan perlu diperbaharui. ?

“Orang menyerukan teroris, orang berangkat ke luar negeri (untuk gabung kelompok terorisme), orang mengaku ISIS, orang mengaku tentara ISIS terang-terangan, orang mendukung ISIS, dan orang yang simpati terhadap ISIS. Mereka tidak bisa diapa-apakan oleh negara,” paparnya.

Hamidin menilai bahwa kelompok terorisme itu bukanlah Islam. “Pada saat menangkap Basri (anggota kelompok teroris Santoso), saya melihat banyak tato di tubuhnya, ada juga gambar wanita telanjang. Ketika saya ajak debat soal agama, meski pengetahuan agama saya seadanya, ia tidak bisa menjawab,” ungkap Hamidin.

“Mereka hanya menggunakan simbol agama (Islam) untuk membenarkan dan melegitimasi gerakan mereka,” pungkasnya.

Muhammadiyah Asli

Selain Brigjen Pol Hamidin, ada KH Yahya Cholil Staquf (Katib ‘Aam Nahdlatul Ulama) dan C Holland Taylor (Direktur Bayt Rahmah California Amerika) yang juga menjadi narasumber. (Muchlishon Rochmat/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga, Quote, Pendidikan Muhammadiyah Asli

Minggu, 11 Februari 2018

Mahir Ar-Raiyadh Kediri Optimis Lolos Final LSN Region II Jatim

Kediri, Muhammadiyah Asli. Kesebelasan Pondok Pesantren Mahir Ar-Riyadh Ringinagung Keling Kediri, optimis bisa melaju ke babak selanjutnya dalam kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) region II Jawa Timur di Stadion Brawijaya Kota Kediri, Sabtu (27/8) sore ini.

Mahir Ar-Raiyadh Kediri Optimis Lolos Final LSN Region II Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahir Ar-Raiyadh Kediri Optimis Lolos Final LSN Region II Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahir Ar-Raiyadh Kediri Optimis Lolos Final LSN Region II Jatim

“Anak-anak siap tampil lagi setelah jeda pertandingan sehari kemarin,’’ ungkap Mohammad Rofik, official tim Mahir Ar-Riyadh Ringinagung.

Mengingat ketatnya pertandingan, lanjut Rofik, timnya akan bermain datar dulu. Melihat pola permainan lawan dilapangan. Yang jelas, anak asuhnya ditekankan bermain sportif.

”Jeda pertandingan ini kan sangat mepet. Jadi kami harus hemat stamina anak-anak. Jadi pola permainan akan kita rubah. Biasanya anak-anak sejak awal agresif menyerang. Dalam pertandingan nanti akan kami rubah. Kalau sebelumnya bermain ngotot. Ini nanti akan ? banyak bertahan. Apalagi ? bermain dalam cuaca sangat panas. Kita bermain siang sehingga sangat menguras stamina,’’ tandas Rofik.

Muhammadiyah Asli

Hal yang sama juga diungkapkan oleh tim sepak bola Quen Alfalah Ploso Mojo Kediri. “Yang jelas teman-teman akan meladeni permainan lawan. Strategi sudah kami siapkan, supaya stamina ? terjaga,’’ ungkap Ahmad salah satu pemain Quen Al-Falah Ploso Kediri.

Kedua tim satu daerah ini akan ketemu dalam Perempat Final ? LSN Region Jatim ? II siang nanti pukul 14.00. Makanya sangat wajar bila keduanya akan bermain menahan dalam rangka menghemat ? stamina.

Sebagimana diketahui Tim Mahir Ar-Riyadh Ringinagung lolos kebabak perempat final setelah dalam babak ? sebelumnya mengalahkan tim pesantren APPIS Gandusari Blitar dan Pesantren Nurul Ulum. Sedangkan Quen Al-Falah Ploso Mojo Kediri setelah berhasil melibas ? Tim An-Nur 1 ? Turen Malang.

Sementara itu, yang akan bertanding perdana hari ini, pukul ? 07.30 pagi tadi adalah Kesebelasan Ponpes An-Nur 2 Turen Malang menghadapi Kesebelasan Pondok Pesantren Denanyar Jombang. ?

Muhammadiyah Asli

Disusul kemudian pertandingan antara kesebelasan Ponpes Darussalam Sumbersari Kencong ? Kediri. Mereka akan berhadapan dengan Kesebelasan Ponpes Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang pada pukul 09.10 WIB.

Kemudian pada pukul 14.00 Tim Mahir Ar-Riyadh tampil melawan Tim Quen Al-Falah. Lalu ? pada pukul 15.40 akan berhadapan Ponpes Darut Taibin (DaTa) Tulungagung akan bentrok dengan tim Pesantren Pomosda asal Kota Angin Nganjuk. (Imam Kusnin/Fathoni)



Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Ahlussunnah, Olahraga, Nahdlatul Ulama Muhammadiyah Asli

Kamis, 08 Februari 2018

Umar dan Lelaki yang Mengutuknya

Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab RA melakukan perjalanan dinas rahasia, sendiri tanpa pengawalan dan tanpa membawa staf.

Ia pergi dengan biaya sendiri, tidak menggunakan uang negara walaupun negara menyediakan biaya perjalanan dinas. Ia khawatir kalau membawa rombongan biaya perjalanan dinas itu akan membengkak.

Dengan mengenakan pakaian rakyat biasa, ia ingin tahu keadaan rakyatnya secara langsung.

Umar dan Lelaki yang Mengutuknya (Sumber Gambar : Nu Online)
Umar dan Lelaki yang Mengutuknya (Sumber Gambar : Nu Online)

Umar dan Lelaki yang Mengutuknya

Pada suatu dusun, Umar bin Khattab melihat seorang lelaki? sedang duduk di muka kemahnya di bawah pohon. Dari dalam kemah itu, ia mendengar suara perempuan yang sedang merintih kesakitan. Setelah memberi salam Umar bertanya.

“Apa yang sedang kau lakukan, wahai saudaraku?”

“Aku sedang menunggui istriku yang akan melahirkan,” jawab lelaki itu.

“Siapa yang menolongnya di dalam?”

Muhammadiyah Asli

“Tidak ada...”

“Jadi istrimu sendirian?” tanya Khalifah tidak mengerti.

“Iya, aku tidak punya uang untuk membayar bidan,” jawab lelaki itu dengan muka sedih.

Muhammadiyah Asli

“Kalau begitu, suruh istrimu menahan sebentar, aku akan segera kembali,” ucap Khalifah.

Khalifah Umar ? segera memacu kudanya, meninggalkan lelaki itu. Dan tak jelang lama setelah itu ia kembali bersama seorang perempuan. Tanpa bicara perempuan itu langsung masuk ke dalam tenda sang lelaki ? yang baru mengerti apa yang sedang terjadi.

“Terima kasih dan maaf telah merepotkanmu,” kata lelaki itu.

“Tidak apa-apa.. tapi, ngomong-ngomong mengapa kamu tidak melaporkan keadaanmu kepada Khalifah Umar bin Khattab? Bukankah kau berhak mendapatkan jaminan dari negara?” tanya Umar .

Lelaki itu langsung berdiri, dia memandang orang di depannya dengan sorot mata yang tajam dan menusuk. Umar terkejut melihat reaksi lelaki itu.

“Jangan kau sebut nama orang terkutuk itu di hadapanku!”

“Loh.. memangnya kenapa, wahai saudaraku?” Umar penasaran.

“Orang itu hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia tak punya perhatian kepada rakyat kecil. Dia hanya peduli dengan orang-orang kaya yang akan melanggengkan kekuasaanya,” jawab lelaki itu penuh amarah.

“hmm.. kau sudah pernah bertemu dengannya?”

“Belum, lagi pula untuk apa aku bertemu dengannya?”

“Kalau seandainya kau bertemu dengannya. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Umar tersenyum.

“Aku akan membunuhnya!”

Tiba-tiba terdengar suara bayi menangis dari dalam kemah.

“Ya Amirul mukminin, alhamdulillah ibu melahirkan dengan selamat! Bayi pun sehat!” teriak perempuan yang datang dengan Khalifah tadi.

Khalifah Umar bin Khattab segera bersujud syukur dan berdoa kepada Allah. Sementara itu, si lelaki gembira bercampur heran. Gembira karena istri dan anaknya selamat, dan heran karena lelaki di sebelahnya dipanggil dengan sebutan “Amirul Mukminin”.

“Lekas kau temui istrimu!, dan ini sekedar membantu perawatan anakmu.”

Umar memberikan sekantung uang yang segera diterima lelaki itu dengan suka cita. Sebelum lelaki itu masuk, dia memandang Umar.

“Wahai tuan, siapa tuan sebenarnya?” tanya lelaki itu penasaran.

“Aku, Umar bin Khattab, Khalifah yang terkutuk itu,” jawab Umar sambil tersenyum. (Ahmad Syaefudin – Yogyakarta)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga Muhammadiyah Asli

Sabtu, 03 Februari 2018

Ana Mustafidah, Santri Sukses Perancang Busana

Surabaya, Muhammadiyah Asli. Ana Mustafidah tertarik dengan dunia mode pakaian muslimah sudah sejak belia. Saat merengek minta baju untuk lebaran, ternyata sang ibu tidak langsung membelikan. Yang diberikan malah potongan kain untuk dijahit sendiri.

Ana Mustafidah, Santri Sukses Perancang Busana (Sumber Gambar : Nu Online)
Ana Mustafidah, Santri Sukses Perancang Busana (Sumber Gambar : Nu Online)

Ana Mustafidah, Santri Sukses Perancang Busana

"Saat itu saya masih berusia 12 tahun," kata Ana kepada Muhammadiyah Asli, Senin (30/3). Ditemui di salah satu gerainya di mall City of Tomorrow (Cito) Surabaya,  Mbak Ana, sapaan akrabnya menegaskan bahwa itulah awal yang melecut semangatnya sehingga menjadi perancang busana muslimah.

Bakatnya semakin terasah ketika nyantri di  pesantren Salafiyah Bangil Pasuruan Jawa Timur. Dalam kegiatan pentas seni, imtihan atau hari besar Islam yang diiringi dengan pementasan di pesantren, maka para pengurus memercayakan desain busaha kepadanya. 

Muhammadiyah Asli

"Berbekal benang dan jarum, saya memperbaiki sendiri baju yang robek, atau sekedar iseng memodivikasi baju yang sudah ada," kenang istri dari H Farmadi Hasyim ini. Dan enam tahun berada di pesantren menyelesaikan pendidikan formal dari MTs hingga Aliyah menjadi waktu yang sulit dilupakan.

Muhammadiyah Asli

Tidak berhenti pada kegiatan rancang busana, perempuan kelahiran Malang 7 Mei 1979 ini juga mengajak para santri untuk membuat aksesoris. "Dari mulai gelang, bros, pernak-pernik pentas, serta sejumlah kerajinan tangan,"ungkapnya.

Setelah menikah dan menempati kontrakan di Surabaya, anak pertama dari lima bersaudara ini semakin serius melatih kemampuan dengan mengikuti sejumlah kursus. "Sembari menjadi guru ngaji di musholla di kawasan Margorejo, saya kursus menjahit," katanya.

Agar ilmu serta pengalaman yang didapat segera bisa diterapkan, seluruh koleksi baju milik suami serta putra semata wayangnya dikerjakan sendiri. "Seluruh baju koleksi saya, anak dan suami adalah hasil kreasi saya sendiri," katanya sembari tersenyum. Kalaupun harus membeli baju di luar, paling hanya jenis kaos, lanjutnya.

Akibat "promosi berjalan" ini, order pembuatan baju dari tetangga dan teman dekat mulai berdatangan. "Alhamdulillah mulai ada order menjahit pakaian," katanya. Dan dari kepercayaan ini juga yang akhirnya membesarkan hatinya untuk serius menekuni dunia rancang busana muslimah. Di rumah yang dihuni bersama sang suami yakni di kawasan Perumahan Graha Al-Ikhlas Sidoarjo, dibukalah Majmal Boutique yang menjadi ciri khas dari karya yang dibuatnya.

Kini namanya semakin berkibar. Sejumlah kegiatan fashion show kerap diikuti. Pemilihan putri jilbab, tren busana saat pergantian tahun atau pameran busana muslimah kerap diikuti. Dan sejumlah juara berhasil ia raih dari keikutsertaan tersebut. Karenanya tidak berlebihan kalau banyak kalangan memercayakan pakaian muslimah kepadanya. Tercatat beberapa anggota DPR RI memesan baju untuk berbagai acara kepadanya. Sejumlah rumah sakit Islam di Surabaya juga mempercayakan hasil desainnya.

Pelanggan dari luar negeri juga ada baik di Malaysia maupun sejumlah buruh migran di Hongkong. "Kalau pelanggan dari Malaysia karena kebetulan mereka pernah kuliah di Surabaya," ungkapnya. Sedangkan untuk WNI di Hongkong didapat lantaran berkah sang suami yang kerap mengisi ceramah di sana, lanjutnya.

Menjelang Ramadhan dan hari raya seperti ini, order rancangannya semakin banyak. Baik untuk pribadi maupun acara fashion show di sejumlah mall dan pertokoan modern. "Ini sedang menyiapkan rancangan untuk fashion show di Kaza Mall dan Grand City Super Mall Surabaya dalam waktu dekat," katanya. Tidak jarang, ibu dari Abdun Nashir ini juga dipercaya sebagai juri acara serupa.

Kendati jadwal dan order rancangan busana nyaris tanpa jeda, Mbak Ana masih menyisakan waktu untuk tetap mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran di tempatnya tinggalnya. "Ada 30 orang yang ngaji di sini," terang pengasuh rubrik busana di Tabloid Modis ini. Setiap hari Senin hingga Jumat tepatnya ba’da Sholat Magrib, para ibu yang merupakan tetangganya rutin belajar ngaji dan tanya jawab masalah agama kepadanya.

Di sela-sela acara ngaji, ia juga merangsang para ibu untuk memanfaatkan waktu dengan menjahit. Tidak jarang, ibu-ibu jamaahnya diajak mengikuti acara fashion show dengan menunjukkan hasil karya mereka. "Tentu kalau menang, mereka akan mendapat imbalan dari kerja kerasnya," pungkas ibunda dari Abdun Nasir Almuhajjalin ini. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional, Olahraga Muhammadiyah Asli

Selasa, 23 Januari 2018

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Sudah menjadi semacam tradisi yang turun temurun sampai sekarang, pada bulan Ramadhan di beberapa pesantren besar ramai didatangi orang-orang untuk ikut mengaji kitab tertentu. Tradisi ini dalam kalangan pesantren, biasa disebut ngaji pasanan atau pasaran.

Tak terkecuali pesantren besar macam Tebuireng Jombang, sejak zaman dahulu, ketika bulan Puasa tiba, para santri dari berbagai pelosok Tanah Air berduyun-duyun ke Tebuireng untuk ikut mengaji kitab Shahih Bukhari kepada Hadratussyaikh, KH Hasyim Asy’ari, yang memang juga dikenal sebagai salah seorang ulama ahli hadits.

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Salah satu tokoh NU dan mantan Menteri Agama RI, KH Saifuddin Zuhri, mengatakan bahwa ketika KH Hasyim Asy’ari membaca kitab Shahih Bukhari, membaca dengan cermat tetapi cepat, seolah sedang membaca kitab karangannya sendiri.

“Orang yang pernah melihat sendiri, cara Hadratussyaikh membaca Al-Bukhari mengatakan bahwa beliau sebenarnya telah hafal seluruh isi kitab ini. Seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri!” (Zuhri, 1974 : 152)

Aboebakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim (2015) mepaparkan sedikit gambaran suasana ngaji pasanan di Tebuireng kala Hadratussyaikh masih hidup. Menurut dia, pada zaman itu, lumrahnya di Bulan Ramadhan pesantren menjadi sepi, sebab para santri diliburkan untuk diberikan kesempatan pulang ke kampungnya masing-masing.

Namun, sebaliknya di Tebuireng, suasana justru bertambah ramai, karena kedatangan oleh para santri yang ingin menghabiskan Ramadhan bersama sang guru tercinta.

Muhammadiyah Asli

“Ia (Hadratussyaikh, red) selama bulan puasa memberi kuliah istimewa mengenai ilmu hadist karangan Al-Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadist yang penting ini harus khatam dalam sebulan puasa itu dan oleh karena itu, jadilah bulan ini suatu bulan yang penting bagi kiai-kiai bekas muridnya di seluruh Jawa. Dalam bulan puasa, bekas murid-muridnya yang sudah memimpin pesantren di mana-mana, biasanya memerlukan datang tetirah ke Tebuireng, tidak saja untuk melanjutkan hubungan silaturahmi dengan gurunya, tetapi juga untuk mengikuti seluruh kuliah istimewa mengenai hadist Al-Bukhari dan Muslim guna mengambil berkah atau tabaruk,” (Atjeh, 105-106).

Pengajian tersebut biasanya diselenggarakan di pendopo masjid. Tempat ini dalam kesehariannya juga digunakan untuk mengajar para santri. Biasanya beliau mengajar bahkan sampai tengah malam. Sebagai tempat duduk, digunakan alas sepotong kasur yang ditutupi dengan sepotong tikar atau sepotong kulit biri-biri, dan di sampingnya terdapat sebuah bangku untuk meletakkan beberapa kitab.

Sampai sekarang, tradisi pengajian Kitab Shahih Al-Bukhari di Tebuireng pada bulan Ramadhan masih berjalan. Setelah Hadratusyaikh wafat, pengajian ini dilanjutkan oleh Kiai Idris Kamali dan Kiai Syamsuri, dan kemudian dilanjutkan Gus Ishom Hadzik. Sempat vakum beberapa tahun, akhirnya dari berbagai pertimbangan ditunjukklah Kiai Habib Ahmad, seorang alumni pondok Tebuireng, yang pernah mendapatkan ijazah kitab ini dari Kiai Syamsuri.? (Ajie Najmuddin)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian Islam, Olahraga, Santri Muhammadiyah Asli

Senin, 22 Januari 2018

IPNU Adakan Cerdas Cermat Empat Pilar

Bondowoso, Muhammadiyah Asli. Upaya menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap pilar bangsa harus dikenalkan kepada generasi muda. Karena merekalah yang kelak akan meneruskan estafet perjuangan bangsa.

IPNU Adakan Cerdas Cermat Empat Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Adakan Cerdas Cermat Empat Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Adakan Cerdas Cermat Empat Pilar

Semangat inilah yang kini tengah ditumbuh kembangkan oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Bondowoso. Mereka secara maraton menyelenggarakan cerdas cermat empat pilar kebangsaan yang diselenggarakan hari ini di ruangan Sababina Pemkab Bondowoso. Kegiatan diikuti 61 kelompok dari seluruh SMA dan MA.

Salah seorang panitia, Abdul Wasik menandaskan bahwa kegiatan ini dalam upaya memperkenalkan serta menanamkan eksistensi Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Kita ingin empat pilar kebangsaan itu dipahami dengan baik dan benar,” katanya kepada Muhammadiyah Asli (4/3).

Muhammadiyah Asli

Keberadaan bangsa Indonesia dengan berbagai kekhasan yang dimiliki hendaknya dapat dipahami oleh seluruh komponen di dalamnya. “Keanekaragaman budaya, bahasa, adat istiadat mestinya dapat dijadikan media untuk memperkaya bangsa ini,” tandasnya. 

Muhammadiyah Asli

IPNU merasa prihatin dengan banyaknya kasus kekerasan atas nama agama, demikian juga kegagalan para penegak hukum dalam menjaga NKRI. “Yang juga tidak kalah mengkhawatirkan adalah disharmoni antara umat beragama,” ungkapnya.

“Generasi muda diharapkan dapat memiliki pemahaman yang komprehensif seputar empat pilar kebangsaan ini,” katanya. Karena tanpa itu, keanekaragaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia bukan menjadi media pemersatu. “Yang terjadi malah bisa sebagai alat disintegrasi bangsa,” lanjutnya.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama antara PC IPNU Bondowoso dengan DPR RI.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga Muhammadiyah Asli

Selasa, 09 Januari 2018

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis

Jember, Muhammadiyah Asli. Santri adalah manusia biasa. Karena itu, santri tidak boleh hanya terpaku pada pengabdiannya di bidang dakwah dan ilmu agama. Santri juga harus pandai mencari celah berwirausaha, sehingga perlu belajar bagaimana berwira usaha yang baik. 

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hipsi: Santri Punya Banyak Peluang Bisnis

Demikian dikatakan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat membuka Workshop Santri Enterpreneur di pesantren Nuris, Antirogo Jember, Rabu malam (7/4). 

Menurut Kiai Muhyiddin, santri yang menjadi pengusaha atau pengusaha yang santri, mempunyai nilai lebih dan membanggakan. 

Muhammadiyah Asli

“Kalau bukan santri jadi pengusaha itu sudah biasa, tapi kalau santri itu luar biasa,” jelasnya.

Kiai Muhyiddin menambahkan, pesantren dan NU perlu mendorong santri agar mempunyai semangat dan keterampilan untuk berwirausaha. Saat ini, katanya, ketrampilan berwirausaha menjadi tuntutan yang tidak bisa dielakkan, lebih-lebih lapangan kerja begitu sulit. 

Muhammadiyah Asli

“Harapan kita, santri kelak tidak menggantungkan rezeki kepada orang lain kalau bisa mandiri dan berwirausaha,” lanjutnya sambil menambahkan bahwa para kiai tidak sedikit yang sukses usahanya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) Jember, M. Ya’la yang menjadi narasumber menegaskan bahwa, saat ini peluang santri untuk berbisnis dan berwirausaha terbuka lebar.  Zaman semakin maju, semakin banyak peluang bisnis yang bisa dilakukan. Karena itu, katanya, santri harus peka terhadap peluang pelaung yang ada. 

“Untuk tahap awal, tidak usah besar-besar, berusaha kecil-kecilan juga bisa asalkan prospektif,” tuturnya.

Workshop tersebut mendapat perhatian dari santri. Buktinya, sekitar 400 santri putra dan putri hadir memenuhi aula pondok putri Nuris. Workshop itu sendiri digelar hasil kerjasama antara RMI Cabang Jember dan Hipsi serta pesantren Nuris.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq  

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, IMNU, Olahraga Muhammadiyah Asli

Senin, 01 Januari 2018

Melacak Islam Moderat Lewat "Kitab Digital"

Surabaya, Muhammadiyah Asli. Percaya atau tidak, manuskrip (naskah kuno) keislaman di Indonesia justru lebih mudah ditemukan di Eropa, karena manuskrip itu memang didokumentasikan peneliti Eropa.

"Kultur kita memang menganggap dokumentasi itu tidak penting, karena itu manuskrip Islam klasik justru banyak ditemukan di Eropa," ujar peneliti IAIN Surabaya, Dr Thoha Hamim.

Melacak Islam Moderat Lewat Kitab Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Melacak Islam Moderat Lewat Kitab Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Melacak Islam Moderat Lewat "Kitab Digital"

Pembantu Rektor I IAIN Sunan Ampel Surabaya itu mengatakan manuskrip pemikiran Islam justru banyak tersebar di berbagai lembaga di Berlin, Paris, London, dan lainnya.

"Pemikiran Islam klasik itu agak lengkap mulai dari abad permulaan pada abad 7-13 masehi hingga abad pertengahan mulai dari abad 13-19 masehi," tegasnya.

Oleh karena itu, pihaknya tertarik saat diajak Depag untuk bekerjasama dalam mendokumentasikan manuskrip keislaman di Indonesia secara digital. "Itu bukan berarti kita tertinggal, tapi kami justru ingin menampilkan nilai lebih dari apa yang sudah dilakukan orang-orang Eropa tersebut," ucapnya.

Senada dengan itu, ketua panitia pelatihan digitalisasi manuskrip dan situs peradaban Islam kuno IAIN Surabaya, M Khodafi, menyatakan pihaknya sudah menemukan 13 manuskrip berusia 100 tahun lebih.

Muhammadiyah Asli

"Manuskrip digital itu nantinya dapat diakses secara online melalui laman IAIN Surabaya," ungkapnya, didampingi dosen IAIN Walisongo Semarang Drs H Anasom M.Hum.

Muhammadiyah Asli

Menurut dia, 13 manuskrip keislaman yang ditemukan itu berasal dari museum, pesantren, dan rumah masyarakat umum yang tersebar di Jatim dan Jateng, kemudian rencananya juga ke NTB.

"Tapi, kami tidak mendigitalisasikan kitab kuning, karena usianya relatif belum tua, melainkan manuskrip tentang sejarah, tauhid, fiqih, syair, dan ilmu tata bahasa," ucapnya.

Dengan cara itu, tegas dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya itu, pihaknya dapat menyelamatkan manuskrip dan mendorong manuskrip sebagai bahan kajian ilmiah dan penelitian.

Langkah yang mirip adalah Maktabah Syamilah (Pustaka Lengkap) yang merupakan Kitab Kuning (KK) versi Software (perangkat lunak). Software KK yang diterbitkan jaringan Dakwah Islamiyah Al-Misykat itu terdiri atas 1.800 kitab yang dikelompokkan dalam 29 bidang.

Islam moderat

Menurut Khodafi, tujuan yang lebih penting dari digitalisasi manuskrip keislaman, termasuk KK, adalah merekonstruksi pola keberagamaan di Indonesia.

"Islam moderat yang dibilang orang selama ini hanya klaim politis, tapi manuskrip keislaman yang ada akan menjadi bukti tak terbantahkan bahwa hal itu benar-benar ada dalam realitas," ungkapnya.

Ia mencontohkan manuskrip yang ditemukan antara lain "Serat Kandhaning Ringgit Purwo" (tulisan tentang wayang purwo) yang menceritakan sejarah wayang purwo dalam bahasa Jawi (bahasa Jawa tapi tulisannya Arab atau pegon).

"Itu manuskrip yang ditulis dengan tulisan tangan pada tahun 1315 hijriyah atau sekitar tahun 1870-an masehi, sehingga usianya mencapai 100 tahun lebih, tapi kami belum tahu penulisnya," ungkapnya.

Manuskrip tentang wayang dalam bahasa Jawi, katanya, membuktikan bahwa Islam di Indonesia itu berbeda dengan negara lain, karena Islam berkembang dengan menyadap tradisi lokal.

"Kami sudah menyelesaikan digitalisasi sebanyak 1.000 halaman manuskrip keislaman, tapi kami juga berharap 25 dosen peserta pelatihan akan melakukan pelacakan serupa," katanya.

Hingga kini, katanya, Departemen Agama (Depag) RI sudah mengucurkan anggaran sebesar Rp400 juta untuk melacak manuskrip keislaman.

Tak jauh berbeda dengan langkah itu, Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama (NU) Jepang telah bekerjasama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah (RMI, asosiasi pesantren di lingkungan NU) Jawa Timur untuk mendistribusikan software KK. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga Muhammadiyah Asli

Sabtu, 30 Desember 2017

Musik Akustik Meriahkan Silaturahmi IPNU-IPPNU Ajibarang Kulon

Banyumas, Muhammadiyah Asli - Meniran Band, grup musik akustik asal Ajibarang Kulon berhasil memeriahkan suasana silaturahmi lebaran yang digelar oleh Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Ajibarang Kulon, Kabupaten Banyumas, Senin (3/7).

Grup musik yang digawangi oleh Fai, Udit, Tersna, dan Safli ini berhasil mencairkan suasana silaturahmi yang digelar di halaman MI Maarif NU Ajibarang Kulon itu menjadi semakin asyik, penuh keakraban, dan canda tawa.

Musik Akustik Meriahkan Silaturahmi IPNU-IPPNU Ajibarang Kulon (Sumber Gambar : Nu Online)
Musik Akustik Meriahkan Silaturahmi IPNU-IPPNU Ajibarang Kulon (Sumber Gambar : Nu Online)

Musik Akustik Meriahkan Silaturahmi IPNU-IPPNU Ajibarang Kulon

Lagu-lagu religi yang mereka dendangkan cukup berhasil membuat para pengunjung merenung dan hanyut dalam lantunan syair Tombo Ati serta Allahu Akbar yang serat akan berjuta makna itu.

Ketua IPNU Ajibarang Kulon Zaky berharap dengan adanya silaturahmi dan halal bihalal ini IPNU dan IPPNU Ajibarang Kulon menjadi semakin kompak dan harmonis. "Kalau kompak bisa jadi hebat," katanya.

Muhammadiyah Asli

Hebat dalam artian akan bisa muncul lebih banyak lagi ide-ide kreatif dan inovatif untuk meramaikan kegiatan IPNU dan IPPNU Ajibarang Kulon dan memberi dampak positif bagi masyarakat, lanjut Zaky.

Muhammadiyah Asli

Ketua NU Ranting Ajibarang Kulon Nisful Aji mendukung kegiatan ini. Tetapi ia berpesan selain silaturahmi antaranggota, bersilaturahmi kepada alim ulama juga sangat penting baik ulama yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

"Berjalannya IPNU dan IPPNU itu tidak boleh menyimpang dari ajaran para ulama dan kiai, dan tak boleh keluar dari koridor ajaran Ahlussunnah wal Jamaah," kata mantan Ketua IPNU Banyumas pertama itu.

Ia juga mengimbau IPNU dan IPPNU Ajibarang Kulon untuk bisa menjadi contoh bagi organisasi-organisasi yang lain, dengan cara memperbanyak kegiatan yang bisa memberikan dampak positif bagi kalangan pelajar Nahdlatul Ulama.

Tampak hadir pada kesempatan ini Ketua IPNU Ajibarang, Ketua IPPNU Ajibarang, aparat desa setempat, serta ratusan anggota IPNU dan IPPNU, dan masyarakat Ajibarang Kulon. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga, Ulama Muhammadiyah Asli

Selasa, 26 Desember 2017

Posisi Rais Aam PBNU; Gus Mus Enggan, KH Makruf Amin Emban

Jombang, Muhammadiyah Asli. Setelah Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj terpilih dan ditetapkan, pimpinan sidang Ahmad Muzaki mengabarkan pesan dari KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Pesan tersebut berisi ketidaksediaan Gus Mus sebagai Rais Aam. Dengan demikian, KH Makruf Amin ditetapkan sebagai pengembannya.

Seperti dekatahui, Gus Mus telah menyampaikan surat tidak bersedia menduduki jabatan sebagai Rais Aam PBNU. Meskipun demikian, sembilan kiai Ahlul Halli wal Aqdi menganggap hal ini sebagai bentuk ketawadhuan seorang kiai yang tidak suka merebut jabatan.

Posisi Rais Aam PBNU; Gus Mus Enggan, KH Makruf Amin Emban (Sumber Gambar : Nu Online)
Posisi Rais Aam PBNU; Gus Mus Enggan, KH Makruf Amin Emban (Sumber Gambar : Nu Online)

Posisi Rais Aam PBNU; Gus Mus Enggan, KH Makruf Amin Emban

Atas alasan tersebut, 9 kiai Ahlul Halli wal Aqdi menetapkan Gus Mus sebagai Rais Aam dan KH Makruf Amin sebagai Wakil Rais Aam. Tapi tetap Gus Mus bersikukuh enggan menerima posisi itu. Maka otomatis Rais Aam PBNU diemban KH Makruf Amin. (Abdullah Alawi)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Tokoh, Olahraga, Khutbah Muhammadiyah Asli

Selasa, 12 Desember 2017

Tantangan Santri Generasi Alfa

Oleh Hamidulloh Ibda



Tiap zaman, era, ataupun abad, yang namanya kehidupan santri pasti berubah bak percikan cahaya yang begitu cepat. Santri sekarang, dengan santri lima tahun belakangan, tentu berbeda. Maka dari itu, posisi santri yang unik dan berbeda dengan pelajar, mahasiswa, murid, serta siswa, tentu memiliki tantangan tersendiri. Saking uniknya, di Indonesia sendiri sudah ada Hari Santri Nasional yang diperingati pada 22 Oktober. 

Hari Santri ini bertepatan ketika Hadhratussyekh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk mengusir penjajahan atas bangsa dan negara Indonesia. Dunia santri selalu identik dengan kemandirian. Bahkan, kemandirian itu tidak hanya untuk kepentingan kaum pesantren, namun juga untuk bangsa ini.

Tantangan Santri Generasi Alfa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Santri Generasi Alfa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Santri Generasi Alfa

Dari masa ke masa, tantangan kaum santri tentu berbeda. Jika dulu berjuang mengusir penjajah kolonial, sekarang justru melawan penjajah di negeri sendiri. Tiap tahun, kecenderungan, tantangan, dan dinamika kehidupan selalu berbeda. Sedangkan yang bisa selamat dan “melampaui” zamannya, hanya orang yang mampu menangkap zeitgeist (spirit zaman). Maka “kaum sarungan” harus bisa membaca kecenderungan zaman agar bisa menjadi manusia yang tidak latah terhadap perubahan yang begitu cepat seperti ini.

Dalam teori siklus, Ibnu Khaldun (1332-1406) menjelaskan ada beberapa generasi dalam hidup ini. Mulai dari generasi pendiri, pembangun, penikmat dan generasi perusak. Pertanyaannya, santri saat ini berada di posisi mana? Sebab, perjuangan pahlawan, kiai dan santri era dulu mampu mengusir penjajah dan mempertahankan NKRI. Jika santri saat ini tidak tahu posisinya, maka mereka pasti akan menjadi “santri gagal” karena hanya menjadi penonton.

Santri Generasi Alfa

Muhammadiyah Asli

Dulu, tantangan santri hanya sebatas era konvensional. Namun sekarang berkonversi menuju digital. Generasi santri modern yang didominasi kaum digital tentu tantangan zamannya berbeda. Zaman milenial sekarang didominasi “Generasi Y” (generasi yang lahir di atas tahun 1980 an - 1997) yang merupakan era generasi pasca “Generasi X”.

Generasi milenial, juga sudah selesai karena sekarang eranya sudah “Pascamilenial” yang dikenal “Generasi Z” (generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1995 sampai 2014). Usai “Generasi Z”, sekarang sudah mulai datang “Generasi Alfa” (generasi yang lahir setelah tahun 2010 dengan usia paling tua adalah anak-anak usia 5 tahun).

Generasi Y, Z, dan Alfa sama-sama hidup dan dibesarkan di dunia maya. Hampir semua kegiatan mereka dibentuk dan digantungkan pada teknologi modern. Mulai dari urusan sandang, pangan dan papan sampai kebutuhan domestik lainnya. Dalam pesantren juga sama, semua berkonversi ke dalam gelombang digital. Baik itu aspek fisik di pondok pesantren, maupun non-fisik berupa kurikulum, model, metode, media dan bahan pembelajaran.

Muhammadiyah Asli

Generasi Alfa itu bisa berarti “Alfatihah” atau “Alfabet”. Alfatihah merupakan “Ummul Kitab” dan surat pembuka di Alquran. Sementara “Alfabet” merupakan pertanda melek aksara, literasi dan bebas buta huruf. Alfa secara bahasa juga disebut nama huruf pertama abjad Yunani yang berarti juga yang pertama dan permulaan. 

Masalahnya, “Generasi Alfa” ini benar-benar generasi pertama dalam mempelopori perubahan, melek literasi, atau sebaliknya? Sebab, generasi santri era kini memiliki kecenderungan hidup manja, tidak mandiri karena kehidupan di pondok sudah bergeser dengan banyaknya fasilitas-fasilitas modern. Pertama, dari segi aturan, santri dulu haram membawa ponsel, laptop, radio, bahkan sepeda motor. Namun era modern, hal itu justru terbalik karena ponsel, laptop, dan alat modern lainnya menjadi pelancar pembelajaran.

Kedua, pembelajaran dengan sistem “ngaji” yang dulu hanya sekadar “sorogan” dan “bandongan”, saat ini sudah bergeser modern seperti sekolah atau kuliah pada umumnya. Ketiga, jika dulu mengaji harus membawa kitab kuning, sekarang banyak pesantren yang cukup membawa gawai yang berisi ratusan e-book kitab kuning. Keempat, adanya fasilitas pembelajaran berbasis digital, lab bahasa, menjadikan santri tidak merasakan kehidupan pesantren yang sebenarnya.

Bahkan, dulu saat awal mau sowan kiai, saya diberi petuah orangtua saya bahwa pesantren adalah “penjara dunia” yang suci. Sebab, di pesantren sangat jauh dari gemerlap dunia. Jangankan memegang gawai, televisi dan radio saja tidak tahu kecuali di warung makan yang dekat dengan pondok dan kebetulan menyediakan televisi gratis. Maka prinsip “penjara dunia” itu menjadi doktrin bahwa pesantren adalah tempat untuk mendadar diri, menjadikan santri mandiri, nggeteh (prihatin) dan lainnya.

Adanya kitab-kitab kuning berbasis digital menjadikan santri tidak lagi menulis terjemah atau “makna gandhul” di kitab tersebut, baik yang nadhom maupun yang syarah. Pola seperti ini menjadikan santri kurang mandiri bahkan dimanjakan dengan fasilitas.

Tantangan santri generasi alfa hadir secara alamiah karena hampir semua santri yang sekarang belajar, mulai dari jenjang SD/MI sampai SMA/MA, hidup dalam gelombang internet. Mereka dengan mudah mencari informasi dan mengunduh kitab-kitab kuning secara gratis di dunia maya itu. Hal itu menjadikan mereka malas menghafal, menulis, membeli kitab, dan belajar lebih tekun dengan kiai karena semua dengan mudah bisa diakses di internet.

Kemandirian

Subtansi tema Hari Santri tahun ini, yaitu “Santri Mandiri, NKRI Hebat” adalah kemandirian. Semua itu harus dijalankan dengan berbagai langkah nyata dalam merespon dinamika pesantren dan santri yang sekarang didominasi generasi Y, Z, dan Alfa. Apalagi, saat ini pondok pesantren kebanyakan hanya dihuni kaum terdidik yang belajar di sekolah atau kampus. Sementara aktivitas di pondok hanya untuk “kos” saja. Maka kondisi yang demikian menjadikan santri jauh dari hakikat kemandirian. Mereka hidup di sana hanya sebatas “rasa pesantren” bukan “pesantren” sebenarnya.

Kemandirian itu tidak sekadar kemandirian belajar atau ngaji, namun juga belajar tentang kehidupan. Sebab, semua santri yang benar-benar mandiri pasti tidak sekadar bisa dan lihai membaca kitab kuning, namun juga bisa memasak, mencuci piring, menyapu, mengepel bahkan sampai mencangkul di sawah dan berbisnis.

Santri generasi Y, Z dan Alfa harus memaknai kehidupan pesantren bukan sekadar untuk “kos”, melainkan benar-benar untuk menjadi santri yang sebenarnya. Pengelola pondok juga harus membuat regulasi agar tidak ada santri yang hanya memanfaatkan pondok untuk tidur, tempat beristirahat, makan dan aktivitas domestik lainnya.

Pola ngaji di pondok harus menyesuaikan zaman. Langkahnya, menyesuaikan kondisi dan kecenderungan santri dengan tetap tidak meninggalkan budaya dan tradisi lama. Sebab, prinsip santri yang sejati yaitu al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah yang berarti memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Apa yang dilakukan santri generasi Y, Z dan Alfa tidak semuanya buruk, karena mereka membuka diri untuk modern dan digital. Akan tetapi, semua itu harus dibekali dengan etika dan pola pikir yang benar. Salah satunya tidak “diperbudak alat” modern, melainkan menjadikan gawai, laptop dan sejenisnya sebagai media untuk mengaji.

Kehebatan santri zaman dulu memang berbeda dengan sekarang. Jangankan santri tulen atau bermukin di pondok, “santri kalong” (tidak mukim) saja terbukti memiliki jiwa kemandirian tinggi. Contohkan saja santri-santrinya KH. Hasyim Aya’ri yang terbilang mustami’ (pendengar setia sang guru) dan hanya ngaji sekilas kepada beliau, mereka bisa menjadi sosok hebar seperti Jenderal Sudirman, Bung Tomo (Sutomo), dan lainnya. Maka mereka dalam sejarah pesantren disebut “santri jejer pandito” karena berguru langsung dengan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

Dari contoh ini, bisa disimpulkan santri yang hebat sangat dekat dan menitikberatkan keilmuwan dan ketakziman pada sang kiai, bukan pada gawai dan laptop. Kemandirian santri tidak boleh sekadar konsepsi, namun harus diimplementasikan dalam bukti nyata melalui aktivitas di pesantren dan masyarakat. Sebab, santri tulen akan menjadi pelopor dan menciptakan kehidupan dengan prinsip tawassut (moderat), tawazun (seimbang), ta’adul (adil) dan tasamuh (toleran) dan maju. 

Yang namanya santri pasti mandiri. Jika tidak mandiri, pantas kah disebut santri?

Penulis adalah Kaprodi Pendidikan Guru MI (PGMI) STAINU Temanggung dan alumnus Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Pati

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga, Budaya Muhammadiyah Asli

Kamis, 07 Desember 2017

PMII: Perda Tembakau Pamekasan Rugikan Petani Milyaran

Pamekasan, Muhammadiyah Asli. Massa aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pamekasan meluruk kantor dewan setempat, Rabu (2/10). Mereka mencium adanya indikasi peraturan daerah (Perda) tembakau tidak lepas dari pesanan kapitalis, semisal pabrikan dan Greder.

PMII: Perda Tembakau Pamekasan Rugikan Petani Milyaran (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Perda Tembakau Pamekasan Rugikan Petani Milyaran (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Perda Tembakau Pamekasan Rugikan Petani Milyaran

Perda yang dimaksud ialah Nomor 6 Tahun 2008. Isi Perda tersebut dinilai sangat merugikan para petani. Hanya menguntungkan pemilik modal, pabrikan dan greder. Perda tersebut mengesahkan dan membenarkan secara hukum, bahwa pihak pembeli, gudang, dan perwakilan pabrikan mengambil tembakau petani maksimal 1 kg dengan alasan sample.

“Bahkan, di lapangan, ada pabrikan yang mengambil lebih dari jatah maksimal tersebut. Bukankah ini merupakan eksploitasi pihak pembeli kepada petani yang disahkan oleh Perda,” kecam Ketua Umum PMII Pamekasan, Ahmad Sidik, dalam orasinya.

Muhammadiyah Asli

Jika dikalkulasi, terangnya, pengambilan sampel 1 kg yang dibenarkan melalui Perda tersebut, bisa menghasilkan 4.500 ton tembakau dari semua petani se-Kabupaten Pamekasan. Didik, panggilan Ahmad Sidik, beserta sahabat-sahabat PMII curiga adanya main mata antara wakil rakyat dengan pemilik kapital.

“Dan jika dirupiahkan dengan harga rata-rata Rp 30.000, maka mencapai Rp 13,5 miliar per musim. Para petani membantu pengusaha tembakau Pamekasan tiap tahunnya melalui 176 gudang yang tersebar dengan serapan 20.000 ton tembakau. Hasil tersebut adalah tiap tahunnya. Dan ini tidak disadari oleh petani lantaran wakilnya di DPRD Pamekasan bungkam,” kecam Moh Elman, korlap PMII lainnya.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu, tambahnya, perwakilan pabrikan atau ranting atau Greder ketika mengirim sampel ke pabrik, beratnya tidak sampai 1 kg, melainkan kurang dari 2 ton. Persoalan lain yang belum ada pada Perda Nomor 6 Tahun 2008, ialah belum adanya kepastian tentang standar kualitas tembakau dan pengaturan standar harga tembakau.

“Sehingga, seringkali terjadi perbedaan klaim harga di antara petani dan pabrikan. Soal perbedaan standar kualitas, akhirnya kerap dijadikan alasan untuk mempermainkan harga. Parahnya, wakil rakyat di DPRD Pamekasan doyan diam atau bungkam,” kecam Elman.

Selain itu, massa PMII juga menilai, Perda Nomor 6 Tahun 2008 tentang tata niaga tembakau juga belum mampu menjadikan petani sebagai subjek yang bisa menentukan harga sendiri dari tembakau yang mereka miliki.

“Justru greder yang menentukan harganya. Nilai tawar petani tembakau jauh panggang dari api. Pemerintah, terbilang sukses bikin petani sengsara dengan kehadiran Perda yang oleh DPRD Pamekasan dibikin tidak pro-petani,” tekannya.

Sembari mendengungkan kecaman atas kinerja wakil rakyat yang dirasa belum merakyat, massa PMII memulai aksinya dari monumen Arek Lancor. Ada yang berjalan kaki, dan tak sedikit yang mengendarai sepeda motor. Mereka melangkah pasti, meluruk Gedung Dewan di Jalan Kabupaten.

Setibanya di Gedung Dewan, mereka sudah dihadapkan dengan pagar betis yang dibangun oleh aparat kepolisian. Setelah berorasi, akhirnya mereka ditemui oleh Halili selaku Ketua Dewan dan Hosnan Ahmad selaku Ketua Komisi B DPRD Pamekasan.

Menanggapi tuntutan massa PMII, Halili menyatakan akan menindaklanjutinya. Segala tuntutan yang didengungkan Sidik dan sahabat-sahabat akan dikaji lebih jauh. Manakala nantinya dipandang perlu melakukan kajian, pihaknya menyatakan akan mengundang dan melibatkan massa PMII untuk mendalami sekaligus meretas jalan keluar dari persoalan.

Terkait dengan penentuan standar kualitas tembakau yang juga menjadi poin tuntutan massa PMII, pihak dewan menyatakan tidak bisa memenuhinya. “Sebab, Kabupaten Pamekasan tidak memiliki alat untuk mengetes itu kualitas tembakau,” tegas Hosnan Ahmadi.

Untuk diketahui, Kabupaten Pamekasan merupakan daerah penghasil tembakau terbesar di antara tiga kabupaten lainnya di Madura. Dengan luas lahan produktif, untuk tanaman tembakau yang mencapai sekitar 32.000 hektar, bisa menghasilkan hasil panen kurang lebih 22.000 ton tembakau kering tiap tahunnya.

Dalam sejarahnya, pemerintah Kabupaten Pamekasan melalui pengesahan di DPRD Pamekasan, sudah mengeluarkan aturan berkaitan dengan Tata Niaga Tembakau dengan tujuan melindungi para petani dari eksploitasi dan monopoli parikan dan greder.

Sebut saja Perda Nomor 2 Tahun 2002 tentang penatausahaan tembakau, Perda Nomor 6 Tahun 2002 tentang izin pembelian tembakau dan izin pendirian gudang. Kendati demikian, Perda-perda tersebut dirasa kurang efektif dan belum membela para petani tembakau. Sehingga, lahir lah Perda Nomor 6 Tahun 2008 yang kini kembali disoal oleh banyak kalangan. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga Muhammadiyah Asli

Minggu, 03 Desember 2017

Menag: Perbaikan Pelayanan Haji Telah Dilakukan

Makassar, Muhammadiyah Asli. Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni mengatakan, selama tiga kali musim haji sejak  tahun 2005, Departemen Agama (Depag) telah melakukan berbagai perbaikan dalam pelayanan haji. Perbaikan itu meliputi penertiban aparatur haji, penyempurnaan pendaftaran, penataan organisasi PPIH di Arab Saudi, efisiensi dan transparansi pengelolaan biaya ibadah haji serta menghilangkan biaya khadamat.

Hal itu diungkapkan Maftuh pada acara pembukaan Rapat Kerja Kantor Wilayah Depag Provinsi Sulawesi Selatan, di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Rabu (23/5) kemarin, seperti ditulis dalam siaran pers yang diterima Muhammadiyah Asli.

Dalam hal penataan haji ini, kata Maftuh, pihaknya juga melakukan pemberian katering kepada jamaah selama di Madinah, menghilangkan fasilitas haji bagi mereka yang tidak berhak, penyediaan dana APBN untuk pembiayaan komponen indirect cost, penyempurnaan pengelolaan bagasi jamaah, perubahan sistem penyewaan pemondokan menjadi proporsional dan penyatuan asosiasi penyelenggaraan ibadah haji khusus.

Menag: Perbaikan Pelayanan Haji Telah Dilakukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Perbaikan Pelayanan Haji Telah Dilakukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Perbaikan Pelayanan Haji Telah Dilakukan

Apabila tidak ada persoalan katering di Arafah-Mina, katanya, maka upaya perbaikan pelayanan ibadah haji yang telah dilakukan dapat menjadi landasan yang kuat untuk penyelenggaraan ibadah haji ke depan.

Untuk tahun 2007, tambah Maftuh, pihaknya akan lebih memfokuskan kebijakan di bidang peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan mulai dari tingkat pra sekolah sampai perguruan tinggi. “Secara bersamaan kita akan memfokuskan peningkatan kualitas kerukunan umat beragama,” ujarnya.

Menurutnya, Depag akan mengembangkan pola kerukunan umat beragama yang bersifat dinamis. Maksudnya, hubungan di antara umat yang berbeda agama selain terwujud dalam bentuk kesadaran akan kemajemukan dan sikap saling menghargai, juga diharapkan agar umat tersebut dapat bekerja sama dan saling membantu dalam bidang sosial ekonomi.

Muhammadiyah Asli

Dengan demikian, lanjutnya, umat beragama dapat secara bersama-sama mengatasi masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan. “Pemberdayaan umat beragama akan diwujudkan melalui dialog dan pengembangan wawasan multikultural,” ujarnya.

Ponpes Modern

Muhammadiyah Asli

Dalam kunjungan kerja, Maftuh berkesempatan meninjau lokasi pembangunan Ponpes Modern Madrasah Aliyah Unggulan di Kelurahan Maccini Baji, Kecamatan Lau, Maros. Dalam kunjungan itu, ia didampingi Gubenur Sulsel HM. Amin Syam, Rektor UIN Makassar Prof Ashar Arsyad dan diterima Bupati Maros HA Nadjamuddin Aminullah.

Ponpes bertaraf internasional ini akan dibangun di atas lahan seluas 7 hektar, diperkirakan akan menelan biaya sebesar Rp 47 miliar. Ponpes ini akan dilengkapi  fasilitas rumah santri, perumahan guru, rumah khusus tamu, ruang belajar, masjid dan sarana olahraga.

Dalam kesempatan ekspos rencana pembangunan ponpes tersebut, Maftuh berjanji membantu melalui dana APBN serta memberi saran agar ponpes tersebut dilengkapi juga dengan sarana olahraga yang memadai. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga, Santri Muhammadiyah Asli

Minggu, 26 November 2017

Malam Keakraban ala IPNU-IPPNU Kebasen

Banyumas, Muhammadiyah Asli. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memiliki cara tersendiri untuk mempererat hubungan antara pengurus dan kader setempat.

Malam Keakraban ala IPNU-IPPNU Kebasen (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Keakraban ala IPNU-IPPNU Kebasen (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Keakraban ala IPNU-IPPNU Kebasen

Di luar acara rapat-rapat rutin dan forum diskusi, IPNU-IPPNU Kebasen mengemas acara “Malam Keakraban” atau disingat Makrab dengan kegiatan karaoke bareng Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Banyumas.

Selain karaoke, kegiatan yang diikuti pimpinan ranting dan komisariat IPNU-IPPNU di Kecamatan Kebasen ini juga diisi dengan nonton film bareng, stand up commedy, belajar public speaking, juga diselingi materi kepemimpinan dan keorganisasian.

Muhammadiyah Asli

Program perdana pascapelantikan pengurus baru ini berlangsung di gedung MWCNU Kecamatan Kebasen lantai 2, di Jalan Raya Kalisalak Kebasen, Banyumas, Sabtu, (12/12) malam. Kegiatan ini menjadi “tongkrongan” alternatif bagi pelajar di saat sebagian remaja lain melakukan hal negatif di malam minggu.

Muhammadiyah Asli

Sebelum pulang mereka diwajibkan mengikuti Pengajian Maulid Nabi Muhammad dan Silaturahmi Banom NU se-Kecamatan Kebasen di MTs Maarif NU 1 Kebasen pada Ahad paginya. Pengajian ini diisi oleh pembicara Kiai Faturrohman, mantan ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Banyumas. (Andi Priyatno/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga, Makam, Hadits Muhammadiyah Asli

Kamis, 23 November 2017

Songsong Ujian, Pelajar SMA Al-Muayyad Ziarahi Makam Pandanaran

Surakarta, Muhammadiyah Asli. Pelajar SMA Al-Muayyad Surakarta berziarah di makam sunan Pandanaran Klaten dan makam KH Manshur Popongan. Mereka berdoa kepada Allah di makam kedua orang saleh ini dalam rangka menyambut Ulangan Tengah Semester.

Songsong Ujian, Pelajar SMA Al-Muayyad Ziarahi Makam Pandanaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Songsong Ujian, Pelajar SMA Al-Muayyad Ziarahi Makam Pandanaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Songsong Ujian, Pelajar SMA Al-Muayyad Ziarahi Makam Pandanaran

Salah satu panitia ziarah, Munir mengakui bahwa tradisi ziarah pelajar ini terbilang baru. “Sudah berjalan beberapa kali namun itu masih tergolong program baru. Dahulu biasanya pondok melakukan ziarah Soloraya menjelang khataman, namun untuk saat ini menjelang UTS maupun UAS,” kata Munir kepada Muhammadiyah Asli, Selasa (23/9).

Pelajar SMA Al-Muayyad biasanya ziarah ke makam para pendiri pesantren serta makam wali dan syuhada’ di kompleks pemakaman Makamhaji.

Muhammadiyah Asli

Ziarah jelang ujian ini menjadi sarana pelajar mendekatkan diri kepada Allah, sehingga memperoleh kesiapan batin dalam menghadapi ulangan. “Selain menambah kekuatan mental, kita ingin menghidupkan tradisi pesantren di kalangan pelajar,” imbuh Munir. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga, Makam, Pemurnian Aqidah Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Jumat, 17 November 2017

PBNU Tentang Wacana Penghapusan Kolom Agama di KTP

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menentang keras rencana penghapusan kolom agama dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang diwacanakan oleh Musdah Mulia, pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sebuah diskusi di Menteng, Rabu. 



PBNU Tentang Wacana Penghapusan Kolom Agama di KTP (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tentang Wacana Penghapusan Kolom Agama di KTP (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tentang Wacana Penghapusan Kolom Agama di KTP

“Kita ambil contoh paling sederhana. Ketika terjadi kecelakaan di mana keluarga korban belum bisa dihubungi, penanganannya di rumah sakit, entah perawatan atau pemulasaran jenazah jika meninggal dunia, harus dilakukan sesuai dengan agama korban. Nah kalau keluarga korban belum bisa dihubungi, petugas mengetahui agama dari mana kalau bukan dari KTP?” tegas Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud di Jakarta, Kamis (19/6/2014). 

Dari uraian yang disampaikannya, Marsudi menegaskan pihaknya menentang keras rencana penghapusan kolom agama dari KTP. “Ini menyangkut kepentingan masyarakat pemegang KTP,” tambahnya. 

Muhammadiyah Asli

Marsudi mengatakan, tidak terdapat korelasi antara kebebasan beragama dengan pencantuman agama di dalam KTP. 

“Undang-undang secara tegas menjamin kebebasan beragama masyarakat, tapi tidak bisa diartikan kebebasan secara liar. Masyarakat harus memilih salah satu agama yang diakui di Indonesia, pilih mana yang sesuai dengan keyakinannya,” pungkas Marsudi.

Muhammadiyah Asli

Kontan pernyataan Musdah dikaitkan dengan posisinya sebagai pendukung Capres-Cawapres Jokowi-JK, bahkan menjadi bagian dari kampanye negatif untuk menyudutkan pasangan ini.

Jokowi sendiri telah membantah apa yang dinyatakan oleh Musdah Mulia tersebut. Menurutnya, pencantuman agama merupakan identitas yang harus melekat dalam diri setiap penduduk Indonesia. 

"Di Pancasila kan sudah jelas, di sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Jadi apapun itu, ya jadi identitas karakter kita," ujar Jokowi di sela-sela kampanye di Slawi, Jawa Tengah, Kamis 19 Juni.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh JK. Kolom tersebut memiliki fungsi dan menjadi cermin kebanggaan bagi si pemeluk agama.

"Menurut saya, semua orang Indonesia bangga dengan agamanya. Kalau bangga kepada agamanya, kenapa kolom agama mesti dihilangkan?" kata Kalla seusai berkunjung ke Pondok Pesantren Ahlushafa Wal-Wafa di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (19/6/2014). (mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Humor Islam, Olahraga Muhammadiyah Asli

Yapisma Gelar Pelatihan untuk Guru Hebat

Sumedang, Muhammadiyah Asli?

Yayasan Pendidikan Islam Mohammad Aliyuddin (Yapisma) pada Rabu (16/11) menyelenggarakan pelatihan motivasi tenaga pengajar di Aula MTs Plus Al-Hikam. Kegiatan yang bertema "Nyalakan api motivasi dalam diri, gurunya hebat muridnya dahsyat" ini dihadiri seratus peserta. Mereka merupakan tenaga pendidik dari berbagai lembaga pendidikan yang berada di Yapisma.

Ketua Yapisma H Sadulloh menyampaikan bahwa saat ini Yapisma sudah mempunyai empat belas lembaga pendidikan. Setiap tahunnya tenaga pendidik yang berada di lembaga pendidikan tersebut selalu diberikan pelatihan untuk menambah wawasan keilmuannya.?

Yapisma Gelar Pelatihan untuk Guru Hebat (Sumber Gambar : Nu Online)
Yapisma Gelar Pelatihan untuk Guru Hebat (Sumber Gambar : Nu Online)

Yapisma Gelar Pelatihan untuk Guru Hebat

Untuk tahun ini, kata Ketua PCNU Kabupaten Sumedang ini, sengaja mengambil tema tentang motivasi dengan tujuan supaya semangat guru-guru dalam mengajar dan mendidik siswanya lebih tinggi lagi.

Meluruskan dan memompa motivasi guru dalam mengajar dan mendidik sangatlah perlu. Contoh saja, jangan sampai ada tenaga pendidik di Yapisma mempunyai motivasi asal orang tua siswa senang dengan cara memberikan nilai di raport dengan nilai tinggi, sementara kualitas siswanya sangat rendah.?

Muhammadiyah Asli

“Yapisma menginginkan lulusan yang sekolah di Yapisma mempunyai kualitas yang bagus. Makanya tema kegiatan training motivasi hari ini yaitu gurunya hebat muridnya dahsyat,” tutur H Sadulloh.

Sementara Ketua Dewan Pembina Yapisma KH Muhammad Aliyuddin memberikan arahan kepada semua peserta training motivasi bahwa syarat mencari ilmu ada lima, yaitu harus diam ketika duduk di majelis ilmu, mendengarkan, menyimak, mengamalkan, dan menyebarkan. Jangan sampai ilmu yang didapat hari ini hanya di dengarkan saja, tapi harus ada aplikasinya dalam kehidupan kedepannya.

Kiai Aliyuddin juga memberikan nasihat kepada semua guru, bahwa paling besar dosa seorang guru yaitu ketika guru tersebut tidak mampu menyelesaikan materinya sesuai batasan materi. Artinya kalau dalam satu semester ada empat bab materi, maka keempat bab tersebut harus betul-betul tersampaikan pada semester tersebut, supaya terhindar dari dosa guru. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Olahraga, Hadits, Kyai Muhammadiyah Asli

Minggu, 12 November 2017

Keterampilan Khusus Modal Kompetensi Remaja

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Keterampilan khusus merupakan modal kompetensi remaja. Dalam persaingan bebas terutama era Asean Community di tahun 2014 kelak, pelajar dituntut tidak hanya bersaing dengan anak sesama bangsanya, tetapi juga anak dari lain bangsa.

Perihal ini dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Farida Farichah saat ditemui Muhammadiyah Asli usai menyaksikan tayangan perdana film ‘Sang Kiai’ di Cinema XXI, Epicentrum, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/5) sore.

Keterampilan Khusus Modal Kompetensi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Keterampilan Khusus Modal Kompetensi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Keterampilan Khusus Modal Kompetensi Remaja

“Kunci dari keterampilan ialah belajar dengan tekun. Semakin terampil, persiapan mereka semakin matang dalam persaingan hidup ke depan,” kata Farida Farichah yang berkemeja putih dan mengenakan rok panjang hijau.

Muhammadiyah Asli

Di keramaian massa, Farida mengatakan, keterampilan, kecerdasan, dan kemampuan mereka selain menjadi modal persaingan, dapat digunakan untuk memberikan sumbangsih konkret bagi masyarakat sekitarnya.

Muhammadiyah Asli

Momentum 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS) yang diilhami gerakan pendidikan dan kebudayaan harus menjadi sebuah lonceng panggilan bagi remaja untuk meningkatkan kemampuan diri sejak dini, kata Farida Farichah.

Karenanya, remaja Indonesia perlu mengambil inti dari peringatan HARKITNAS 2013 ini. Mereka cukup menghidupi kegiatan pendidikan sebagai sarana peningkatan kemampuan diri, dan menggerakkan aktivitas budaya gotong royong dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan-kemampuan yang mereka miliki, pungkas Farida.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Olahraga, Doa Muhammadiyah Asli

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri

Saya teringat dulu—kira-kira tahun 2006 atau 2007, saya lupa—ketika dengan semangatnya seorang teman mengajak saya untuk menonton acara Ngaji Bareng Gus Dur yang disiarkan oleh sebuah televisi lokal Jawa Timur langsung dari Masjid Sunan Ampel Surabaya. Teman saya ini pecinta berat Gus Dur, dan karena tahu bahwa saya juga mengidolakan sang tokoh bangsa itu maka dengan semangatnya ia memanggil saya.

Dalam acara itu Gus Dur menyampaikan beberapa pokok materi tentang agama, masalah kebangsaan, dan kenegaraan. Ini bisa dipandang salah satu cara Gus Dur untuk mendidik masayarakat dalam kedewasaan berpolitik.

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri

Di akhir acara dibukalah kesempatan bagi yang mau bertanya. Ada sekirtar 4 sampai 5 penanya. Pertanyaan mereka bervariasi, ada yang bertanya tentang peningkatan taraf hidup petani, sikap sebagai seorang warga negara bahkan sampai pada masalah mengapa Gus Dur bekerja sama dengan Israel. Semua itu dijawab dengan jelas oleh Gus Dur. Beberapa hal penting diuraikan secara panjang lebar sehingga memakan waktu hampir separuh waktu tanya jawab.

Muhammadiyah Asli

Namun di sini saya tidak ingin menjelaskan semua pertanyaan dan jawaban itu sedetail-detailnya. Saya hanya akan membahas satu bagian dari wacana Gus Dur yang disampaikan waktu itu dan saya rasa cukup menarik.

Ketika menyampaikan masalah tentang bagaimana kita bersikap terhadap pemimpin, Gus Dur mengatakan bahwa bagaimanapun seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat itu haruslah dihormati. Bahkan ketika dianggap salah pun tetap harus dihormati sebagai seorang pemimpin rakyat.

Muhammadiyah Asli

Adalah menarik membahas cerita Gus Dur ketika itu di masa sekarang. Karena beberapa waktu terakhir ini publik diramaikan dengan masalah memilih pemimpin yang baik.

Diceritakan bahwa Gus Dur pernah diajak kakek yang sekaligus diaggap guru yang sangat berpengaruh baginya, yakni KH Bisri Syansuri untuk berkunjung (silaturrahim) kepada seorang kepala desa. Gus Dur kaget karena kepala desa yang dimaksud ternyata beragama Nasrani. Kemudian Gus Dur memberanikan dirinya untuk bertanya: “mengapakah sang guru harus mengunjungi kepala desa itu, padahal dia non-Muslim?”

Kemudian jawaban sang guru pun disampaikannya, bahwa meskipun non-Muslim tapi kita harus tetap menghormatinya. Kemudian Gus Dur lalu menyimpulkan di depan para jamaah bahwa bagaimanapun seorang pemimpin harus dihormati.

Namun demikian, saya memiliki dua kesimpulan lain di samping hal itu. Pertama: bahwa kasus kepemimpinan non-Muslim di Indonesia (yang mayoritas Islam) adalah sudah lama terjadi. Kedua bahwa para ulama terdahulu tidak mempersoalkan pemimpin non-Muslim, dan hal inilah yang teramat penting untuk kita pelajari saat ini.

Adalah bisa dibayangkan, bagaimana seorang KH Bisri Syansuri yang merupakan orang yang teguh memegang fiqih (jurisprudensi Islam) yang ketat-ketat, tapi tak mempersoalkan kepemimpinan non-Muslim di desanya. Seorang ulama besar murid dari ulama besar pula baik dari Indonesia sendiri maupun Timur Tengah. (Ahmad Nur Kholis)



Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Sholawat, Olahraga, Internasional Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock