Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Spiritualitas-Humanistik Kiai

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Sudahkah kita meluangkan sejenak waktu untuk mengingat kiai-kiai kita? Merenungkan keteladanannya? Mengulang kembali wejangan-wejangannya di kehidupan kita? Dan mengirimkan doa kepadanya? Jika belum, saya sarankan untuk memulainya dari sekarang, paling tidak satu kali setiap harinya.

Islam masuk ke Indonesia melalui para sufi. Walisanga adalah ulama-sufi yang menyebarkan Islam menggunakan pendekatan budaya. Islam dikolaborasikan dengan budaya lokal untuk mempermudah orang-orang pribumi memahami ajarannya. Tidak ada penaklukan dan kampanye militer besar-besaran dalam proses islamisasi Nusantara.

Spiritualitas-Humanistik Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas-Humanistik Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas-Humanistik Kiai

Saya menganggap para kiai sebagai pewaris dakwah walisanga.Pendekatan yang mereka gunakan sama, mengawinkan budaya dengan agama, dan mempertahankan nilai-nilai luhurnya. Hal ini menjadi mungkin karena tasawuf sangat mengakar dalam tradisi intelektual mereka.

Tasawuf itulah yang kemudian menguatkan spiritualitas-humanistik sang kiai. Memandang dunia tidak lagi hitam-putih; menilai manusia tidak lagi dari dosa-pahala. Selama nafas masih dikandung badan, kemungkinan menjadi baik selalu terbuka. Pintu taubat selalu terbuka.

Hal itu dicontohkan oleh gaya mendidik para kiai di pesantren atau kampungnya masing-masing. Al-Magfûrlah Kiai Imam Muzani Bunyamin dari Bulus, Kebumen melarang santri-santrinya menyebut seorang santri yang ketahuan mencuri sebagai pencuri. Katanya: “Tidak ada santri mencuri, mereka hanya nyelang ora taren—meminjam tanpa izin.” 

Muhammadiyah Asli

Meski terlihat sepele, dalam konteks pendidikan, kata-kata itu memberikan sentuhan magis tersendiri bagi para santri, khususnya bagi santri yang mencuri. Ia merasa dimanusiakan, sehingga menimbulkan hasrat berubah yang tinggi. Dawuh kiyainya tersebut tidak lain adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak dikeluarkan dari pesantren dan terus menjadi santri.

Sedangkan untuk santri lainnya, dawuh Kiai Muzani tersebut mengajarkan bahwa manusia harus dipahami dengan kasih sayang. Siapapun orangnya berhak mendapatkan pengampunan dan kesempatan selama hidupnya. Jangan mudah memberi label salah, sesat, dan jahat kepada seseorang. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, mereka menjadi orang yang baik.

Mereka hanyalah orang yang sedang berproses menjadi manusia. Dari yang jahat menjadi sedikit jahat; dari yang baik menjadi lebih baik, dan seterusnya. Jika para santritergesa-gesa melabeli mereka sebagai penjahat atau ahli maksiat, mereka akan semakin menjauh, karena santri-santri itu telah menutup pintu bagi mereka. Dakwah adalah pintu yang terbuka. Bisa dimasuki siapa saja, tanpa pilah dan pilih, seperti ucapan Maulana Rumi: 

“Come, come, whoever you are,wanderer, idolater, worshiper of fire,come even though you have broken your vows a thousand times,come, and come yet again. Ours is not a caravan of despair—kemari, datanglah, siapapun kau, petualang, penyembah berhala, pemuja api, kemari mendekatlah meskipun kau telah mengingkari sumpah seribu kali, kemari mendekatlah. Kami bukanlah karavan keputus-asaan.”

Muhammadiyah Asli

Di tempat lain, di daerah Susukan, Cirebon, al-Maghfûrlah Kiai Jahari mengajarkan santrinya makna terdalam dari ketakziman dan praktik langsungnya. Setiap kali beliau menyapu, para santri berebut menggantikannya. Beliau selalu menolak dengan lembut, sembari berkata: “Jika kalian ingin benar-benar membantu, di sudut mushalla masih banyak sapu lainnya. Kenapa kalian memperebutkan sapuku ini, tapi tidak mengambil sapu-sapu itu. Toh, tujuannya sama, membersihkan mushalla.”

Dengan perkataan dan sikapnya, Kiai Jahari memberikan pelajaran berharga. Takzim tidak sesempit itu, tapi lebih pada apa tujuan dari perilakunya. Tujuan dari menyapu adalah kebersihan, bukan sekedar perasaan tidak enak hingga meminta sapu dari tangannya dan menggantikannya.Padahal di dalam mushalla itu masih banyak sapu lainnya. Disampingajaran keteladanannya tentang kemandirian dan tidak suka dilayani.

Ketajaman spiritualitas itulah yang membuat para kiyai sering menampakkan keteladan yang tidak terpikir oleh sembarang orang. Laku dakwahnya pun menarik, sangat inklusif dan tidak alienatif. Mereka tidak mengumbar dalil dalam berdakwah, tapi tindakan mereka yang kemudian dimaknai menjadi dalil.Karena memang, segala laku dakwah mereka berasal dari al-Qur’ân dan al-Hadîts.

Seperti Kiai Jahari yang setiap kali pulang hajatan (kondangan, dan lain-lain) selalu menghampiri penduduk yang kurang mampu dan masih jauh dari agama. Mengajak mereka berbincang tentang berbagai hal. Kemudian memakan berkatnya bersama-sama tanpa sekat. Maklum, berkat kiyai lebih banyak dari berkat pada umumnya. Sehingga dapat disantap oleh orang serumah. Perlahan-lahan anak-anak dari keluarga tersebut dihantarkan orangtuanya untuk mengaji di tempat Kiai Jahari.

Pendekatan pesuasif semacam inilah yang dikembangkan para kiai sedari dulu. Tanpa menghakimi dan menghardik. Keburukan diarahkan sedemikian rupa hingga menuju kebaikan. Mereka menyentuh hati masyarakat dan santri dengan keteladanan dan kelembutan. Membiarkan orang-orang tersebut mengenal kebaikan dengan sendirinya, tanpa paksaan dan kepura-puraan.

Di era yang serba maju ini, saya berharap fungsi sosial kiai dan sentuhan spiritualitas-humanistiknya tidak mengalami degradasi serius. Memang, tidak sedikit orang yang mulai menganggap sebagian kiyai telah kehilangan fungsi sosialnya.Akan tetapi, saya masih menemukan banyak kiai yang memiliki sentuhan itu, terutama di kampung-kampung. 

Jikapun degradasi itu terjadi, saya yakin bahwa para kiai akan menemukan jalannya sendiri atau membangun jembatan untuk melintasinya. Selama mereka dalam proses pendidikannya mengalami persinggungan secara langsung dengan para kiai yang tulus dan rendah hati.

Semoga guru-guru dan kiai-kiai kita selalu dalam lindungan dan rahmat Allah, baik kiai yang pernah mengajar kita secara langsung ataupun kiai yang mengajarkan keteladanan kepada kita dari kisah-kisahnya; baik kiai yang tidak pernah kita cium tangannya ataupun kiai yang tangannyapernah kita cium dengan takzim. Amin Ya Rabb al-‘âlamîn.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, AlaNu, Warta Muhammadiyah Asli

Rabu, 07 Februari 2018

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Oleh Mochammad Maksum Machfoedz

Teramat jelas digariskan tujuan diwajibkannya puasa Ramadlan: la’allakum tattaquun (QS 2-183), agar supaya kalian bertaqwa. Aneka stimulan melengkapi pencapaian tujuan dimaksud, mulai timulasi teknis yang mu’amalah dan hubungan antar-manusia sifatnya, stimulasi ubudiyah dengan aneka asesori ibadah puasa, sampai stimulasi fundamental berkait dengan mentalitas-kejiwaan manusia, urusan character building mendasar.?

Salah satu stimulasi fundamental adalah kemutlakan perintah: I’diluu huwa aqrabu li at-taqwa (QS 5-8), berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Kewajiban memenuhi karakter keadilan tercermin dari kalimat perintah yang absolut sifatnya bagi siapa saja: i’diluu. Begitu absolutnya, sampai lebih 30 kali kata adil diungkap dalam Al-Qur’an, dan bisa disimpulkan dalam QS 16-90: innallaha ya’muru bi al-‘adl, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil; dan ? QS 7-29: qul amara Robbi bi al-qishth, katakanlah ”Tuhanku menyuruhku berlaku adil’.

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Relasi antara penegakan keadilan dan mutu ketaqwaan, dengan demikian menjadi ikatan keharusan yang menyatu dan tidak bisa disempal-sempal ketika dikehendaki siapa saja yang ingin menggapai tujuan puasa Ramadlan. Penegakan keadilan dalam kolektifitas, bermasyakat dan berbangsa juga begitu pentingnya: walau ‘ala anfusikum aw al-walidaini wa al-aqrabiin, in yakun ghaniyyan au faqiiraa (QS 4-135), meskipun terhadap diri sendiri, atau orangtua dan kerabat, kaya maupun miskin.

Begitu pentingnya keadilan dan penegakannya, sampai-sampai sebuah kitab mensarahi ajaran Imam Ibn Qayyim dengan menyimpulkan bahwa: laa tashluhu ad-dun-ya wa al-akhirah illa bi al-‘adl, tidak akan pernah ada kedamaian di muka bumi dan akhirat nanti, kecuali berlandaskan keadilan.

Muhammadiyah Asli

Pentingnya relasi perilaku adil sebagai karakter utama ketaqwaan, dengan demikian menjadi materi yang pantas direnungkan dalam Puasa Ramadlan. Kesiapan menjalaninya tidak lagi semata didasarkan atas kesempurnaan hubungan antar-sesama dalam urusan kemanusiaan dan mu’amalah, serta tidak hanya dilengkapi dengan aneka asesori ibadah seperti tarawih, shalat malam, tadarrus, dan sejenisnya. Akan tetapi, pada saat yang sama dilandasi pula oleh kesiapan berrevolusi mental, berlaku adil dan menegakkan keadilan bagi siapa saja.

Dalam konteks inilah kiranya, perilaku adil yang harus lempeng dan tegak lurus, setimbang, moderat dan menengah, tidak mirang-miring, dan menghargai orang lain, i’tidal-tawasuth-tawazun-tasamuh, bisa dihayati maknanya untuk tidak memungkinkan maraknya rasa benar sendiri, radikalisasi, dan apalagi munculnya aneka gratifikasi.?

Tidak bisa dipungkiri bahwa jabaran dari rasa keadilan tersebut dalam konteks kemasyarakatan dan kebangsaan akan memperkaya bangsa ini melalui puasa Ramadlan, dengan ajaran karakter mendasar al-akhlaq al-karimah dalam urusan berbangsa yang dibingkai dalam mabadi’ khaira ummah: ash-shidiq al-amanah al-‘adalah at-ta’awun al-istiqamah, jujur-amanah-adil-gotongroyong-konsisten, lima karakter dasar bagi masyarakat dan bangsa Indonesia yang beradab.

Pertimbangan pentingnya keadilan itu pula yang kemudian mentradisikan peringatan penegakan keadilan sebagai penutup khuthbah Jum’at semenjak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa dari 717 M sampai 720 M. Pemerintahan berkeadilan Umar menjadi melegenda bukan hanya karena telah berhasil menggeser khothbah dengan tradisi cacimaki selama 60 tahun sebelumnya menjadi seruan keadilan. Umar telah berhasil pula membangun peradaban pemerintahan berkeadilan.

Tentu bukanlah sekedar kerinduan terhadap sejarah Umar, ketika seruan keadilan cicit Umar bin Khatthab ini senantiasa menggelora dalam khutbah sampai kini, dibanding seruan lainnya. Efektifitasnya tentu perlu dibangun melalui gerak-langkah berkeadilan, untuk bisa lebih ngefek, dan mewarnai kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sebagaimana dicontohkannya.

Muhammadiyah Asli

Adalah sebuah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menterjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya untuk mempertanyakan eksistensi keilmuan hukum ketika ketidak-adilan justru kini menjadi raja-diraja. Tantangan yang sama juga dilontarkan serius bagi keilmuan humaniora lainnya, termasuk ilmu filsafat, sosiologi, psikologi, komunikasi, sampai ilmu pendidikan usia dini ketika dekadensi moral justru menjadi-jadi. Perihal yang sama muncul pula sebagai tantangan ilmu ekonomi, dalam terapan ilmu pembangunan, managemen dan akuntasi, yang kini semakin eksploitatif dalam perekonomian.

Krisis ekonomi dan keserakahan akan sumberdaya alam sepenuhnya mulai dari sini. Resource Accounting, Ilmu Akuntansi Sumberdaya dalam menjawab peringatan Allah urusannya dengan kemerosotan dan kerusakan sumberdaya alam masih sangat tidak memadai karena kontaminasi kepentingan jangka pendek dan politisasi. Kemerosotan ini berakibat pada takrif-takrif palsu ekonomi pembangunan dengan segala kebodohan indikator pilihannya yang tidak mencerminkan kemashalatan, jikalau tidak boleh dikatakan justru memicu rusaknya lingkungan hidup.?

Mudah sekali dilihat begitu banyaknya kebijakan tanpa spiritualitas memadai, sampai anti spiritualitas. Hingar bingar liberalistik yang menghamba pada kapitalistiknya ilmu kerekayasaan, melalui berkembang pesatnya ilmu dan teknologi informatika, elektronika, sistem informasi, industri, mekanika dan aneka ilmu keteknikan, sampai keilmuan pangan dan agroindustri, berdalih sangat mulia dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan efisiensi ekonomis. Keilmuan ini jelas sekedar jabaran atas Firman-firman Kauniyyah yang tak terbantahkan. Akan tetapi, apa jadinya ketika nihil basis spiritualitas? Semuanya akan berujung kecongkakan akademik, dan ulah eksploitasi, bukan kemajuan kemashlahatan, tetapi penyebaran kemiskinan yang melawan Firman Tuhan.

Sebagai ilustrasi akademis bisa diangkat kebidangan yang disebut terakhir: pangan dan agroindustri, yang sangat terkait dengan ibadah puasa Ramadlan pada hari ini. Simpati dan empati terhadap segala keterbatasan dalam pemenuhan pangan sebagai kebutuhan dasar, basic need, merupakan salah satu esensi yang melandasinya. Puasa, menahan diri dari makan-minum, merasakan lapar dan dahaga, meski baru merupakan keutamaan manusiawi tingkat awal, membuahkan keutamaan berikutnya sebagai refleksi kepedulian antar sesama, ketaatan ilahiyah tiada tara, sampai kesyukuran paripurna atas segala kebesaranNya. Bukan sekedar simbolisasi.

Kelaparan merupakan keseharian keadaan sang papa, saudara-saudara kita yang sedang tidak beruntung, fakir-miskin sekitar kita. Telah menjadi tanda-tanda zaman, bahwa dalam masyarakat materialistis, sikap abai kalangan luas cenderung mempersalahkan mereka sebagai pecundang akibat kalah perang ekonomis dengan kemenangan para pemilik modal, aghniya’, dalam rivalitas ekonomis dan teknologis. Sungguh asumsi nir-spiritualitas yang memprihatinkan kita semua.

Asumsi itu salah besar karena Islam justru memberikan kasih-sayang sempurna bagi fakir-mikin. Eskalasinya tercermin dalam puasa Ramadan dengan aneka ritual dan peringatan membayar zakat. ? Hakekatnya, sebagian dari harta kekayaan aghniya’ adalah hak fakir-miskin, bukan hak si kaya. Karena itu, harus dibersihkan dan disucikan, tuthahhirukum wa tuzakkiihim biha (QS. 9: 103).?

Secara khusus, pelembagaan zakat fithrah sebagai kepedulian pangan sesama bahkan tidak terpisahkan dari kesempurnaan puasa untuk menggapai maghfirah dan ketaqwaan, sebagai jaminan kembalinya manusia kepada kesucian, al-fithr. Hal ini ditunjukkan dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah untuk setiap jiwa muslim yang mampu, dan harus dibayarkan ? qabla ash-shalah, sebelum shalat Iedul Fitri. Begitu hadits Nabi menyebutkan. Hak atas pangan harus dibayarkan ketika menginginkan kembali ke kesucian, iedul fitri. Untuk hak ini, ijinkan untuk menyebut Ramadlan sebagai Bulan Pangan, syahru ath-tha’am. Bukan menyebutnya ? bulan badhogan bagi abdul buthun.?

Fakta yang dipaparkan mensiratkan besarnya perhatian Islam terhadap hak atas pangan. Tata sistemnya pun dengan demikian harus berbasis kedaulatan, sebagaimana tercermin dalam kepedulian Muhammad terhadap urusan pangan yang sangat istimewa, seperti disabdakan: an-nasu syuraka-u fii tsalatsin: al-mau wa al-kala-u wa an-nar, manusia berserikat dalam tiga perkara: air, tetumbuhan dan api. Berserikat, syurakaa’, mensiratkan bahwa kekuasaan dan kedaulatan urusan ini berada di tangan rakyat, untuk ? sebesar-besarnya kepentingan manusia sebagai kolektifitas, dan pantang eksploitatif.?

Perhatian Allah tentang hak atas pangan, bahkan ditunjukkan dengan menyebut pendustaan agama, yukaddzibu bi ad-din (QS. 107: 1-3), termasuk mereka yang: laa yakhuddlu ala thaami al-miskin, tidak mengajak memberi makan fakir-miskin. Tafsir Qurtubi menyebut makna utama ayat ini: isyaratun ala annahu la yuthimu al-masakin idza qadara, mengisaratkan mereka yang tidak memberi makan ketika mampu.

Banyak pihak menjabarkan ayat ini lebih dari sekedar urusan pangan, tetapi pangan dan perekonomian umumnya. Surat al-maun ini menjadi inspirasi para pemimpin terdahulu, seperti Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dengan syirkah muawwanahnya (gerakan koperasi), yang beliau kembangkan jauh hari sebelum NU dideklarasikan berdirinya oleh beliau.

Begitulah ketakwaan mensyaratkan tumbuhnya kepedulian sosial, mengamanatkan bahwa sebagian rejeki ? harus dinafkahkan (QS. 2: 2), kepada yang berhak, dalam keadaan lapang maupun sempit (QS. 3: 134), agar gini rasio tidak njomplang, serta supaya aset ekonomi tidak terkonsentrasi kepada segelintir orang kaya, kay la yakuna duulatan baina al-aghniyai minkum (QS. 59: 7).

Semoga kita beroleh rahmat untuk lebih manusiawi, semakin peka terhadap mereka yang lemah, terlebih yang paling tersingkir dalam pembangunan, , untuk kemajuan perekonomian bersama. ? Jauhkanlah kami semua ya Allah, untuk tidak justru menari-nari bagai burung bangkai, di atas kelemahan mereka yang sedang tidak beruntung, naudzu billaah..

Sungguh sebagai ilmuwan dan ilmuwan muda, mahasiswa-mahasiswi, sekelumit contoh yang menggambarkan betapa hinanya para ilmuwan, yang sehebat apapun, ketika tidak dilandasi kesiapan spiritualis sudah pasti akan keblinger, akan menjadi the most disadvantaged people, tidak mampu berlaku adil dan tidak bakal masuk dalam kategorisasi Allah sebagai ilmuwan yang ulama’.?

Kedalaman spiritualitas Ramadlan dengan segala paket ibadahnya, menempa kita semua, sebagai civitas akademika untuk insya Allah menjadi lebih komplit ketika tidak semata didukung rasa takut kepada Allah karena berbagai kealpaan hidup yang kita lakukan (khauf), akan tetapi didukung rasa takut nuraniah yang paling dalam kepada Allah, min khasyyatiLlah, yang dilandasi kesadaran, cinta dan penghormatan tulus kepada Allah SWT sebagai Yang Maha Agung, Maha Kuasa dengan segala kekuatannya, dan Maha Tahu dengan kesempurnaan ilmunya.

Rasa takut seperti ini terwujud, menggabungkan penafsiran Shobuni dan Ibn Katsir, liannahum ya’rifunahu haqqa ma’rifatihi li al-‘adlim al-qadiir atam, wa al’ilmi bihi akmal, karena para alim menghayati setulusnya akan keagungan, kesempurnaan kekuasaan, dan tidak terbatas keilmuan Allah.?

Attribut nuraniah khasyyatullah inilah karakterisasi Allah terhadap para ilmuwan yang memiliki basis spiritualitas: innamaa yakhsya Allaha min ibadihi al-ulamaa (QS 35: 28), sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah para alim. Signifikansi sosok ini ditegaskan pula dengan: wa hum min khasyyatihii musyfiquun (QS 21:28), dan karena rasa takutnya kepada Allah, mereka senantiasa berhati-hati.

Semoga Allah berkenan memberikan hidayah, sehingga kita semua tidak akan sekadar menjadi civitas akademika UNUSIA, tetapi civitas akademi yang sekaligus menghayati khasyyatullah, insya Allah.***

Penulis adalah Wakil Ketua Umum PBNU dan Rektor UNU Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Tokoh, RMI NU Muhammadiyah Asli

Jumat, 26 Januari 2018

Ganti Tahun, Fatayat Harus Lebih Berguna bagi Keluarga dan Masyaarakat

Jombang, Muhammadiyah Asli. Pergantian tahun jangan hanya dimaknai perubahan lembaran kalender. Karena kalau hal itu yang mengemuka, maka perjalanan waktu tidak akan memiliki makna. Harus ada capaian positif agar keberadaan diri semakin berarti.

Pesan ini disampaikan Ketua PC Fatayat NU Jombang, Ema Umiyyatul Chusnah saat dikonfirmasi Muhammadiyah Asli terkait pergantian tahun. "Bila hanya perubahan tanggal dan kalender di rumah dan tempat kerja, apa bedanya dengan hari sebelumnya?" katanya, Jumat (2/1).

Ganti Tahun, Fatayat Harus Lebih Berguna bagi Keluarga dan Masyaarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ganti Tahun, Fatayat Harus Lebih Berguna bagi Keluarga dan Masyaarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ganti Tahun, Fatayat Harus Lebih Berguna bagi Keluarga dan Masyaarakat

Bagi Ning Ema, sapaan akrabnya, hal yang sangat penting dan harus menjadi perhatian bersama di pergantian tahun adalah bagaimana keberadaan diri semakin berguna bagi keluarga dan lingkungan sekitar. "Karenanya secara pribadi, para kader Fatayat NU harus memiliki nilai lebih dibandingkan dengan kelompok dan anggota masyarakat yang lain," terangnya.  Karena hanya mereka yang memiliki kelebihan itulah yang akhirnya dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitar, lanjutnya.

Muhammadiyah Asli

Dan seiring dengan sejumlah pelatihan dan pemberian keterampilan yang dilakukan kepengurusannya, hal itu semestinya akan menjadi pembeda antara kader Fatayat NU dengan masyarakat kebanyakan. "Kita telah memberikan pendampingan keterampilan kepada kader di berbagai lapisan kepengurusan. Karenanya hal itu hendaknya dapat dioptimalkan untuk membimbing masyarakat," kata anggota DPRD Jombang ini.

Hal lain yang harusnya melekat pada diri aktifis Fatayat NU adalah memiliki kepedulian dengan kondisi masyarakat sekitar. "Rasa empati adalah sesuatu yang mulai terkikis dalam diri masyarakat kita seiring kecenderungan masyarakat yang serba konsumtif dan hedonis," ungkapnya. Padahal rasa kebersamaan dan rasa memiliki serta tenggang rasa dengan penderitaan sesama merupakan bagian tidak terpisahkan pada diri sebagai muslim dan juga anggota masyarakat.

Muhammadiyah Asli

"Jangan sampai hanya karena kondisi lingkungan yang demikian, akhirnya para kader Fatayat larut yang pada gilirannya meninggalkan jati diri sebagai muslimah dan bangsa yang memiliki empati dan simpatik dengan kondisi sekitar," tandas Sekretaris Komisi A DPRD Jombang ini.

Meskipun sebagai perempuan, para kader Fatayat juga diharapkan memiliki kepedulian dengan ekonomi keluarga. "Sudah tidak jamannya lagi membedakan antara peran perempuan dan laki-laki dalam mencukupi kebutuhan keluarga," ungkapnya. Antara masing-masing bisa saling bersinergi agar keuangan keluarga bisa lebih baik. Apalagi kebutuhan harian dan bulanan hingga pengeluaran eksidentil tidak bisa hanya mengandalkan gaji dan penghasilan suami.

Namun demikian Ketua PC Fatayat NU Jombang periode kedua ini sangat berharap agar peran ekonomi yang juga diambil para perempuan tidak lantas mengurangi apalagi mendegradasi kiprah di sektor domestik. "Soal menyiapkan menu makanan, menyiapkan pakaian suami dan anak, hendaknya jangan diwakilkan kepada pembantu. Sesibuk apapun, tugas ini hendaknya dapat dilakukan oleh para istri," pesan salah seorang pengurus di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini.

Dengan sejumlah tugas yang demikian berat tersebut, tidak ada pilihan lain bagi perempuan khususnya aktifis Fatayat NU untuk membekali diri dengan keterampilan dan kedalaman pengetahuan agama dan penerapannya dalam keseharian. "Kita berharap tahun 2015 akan semakin banyak kader Fatayat NU yang memiliki kepekaan, keterampilan hingga prestasi yang bisa membanggakan diri, keluarga dan masyarakat sekitar," pungkas cucu KH Abdul Wahab Chasbullah ini. (Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kyai, Cerita Muhammadiyah Asli

Selasa, 23 Januari 2018

Sarbumusi: Manajemen Organisasi Buruh NU NTB Harus Baik

Jakarta, Muhammadiyah Asli?



Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Nahdlatul Ulama (DPP K- Sarbumusi NU) Syaiful Bahri Ansori meminta manajemen organisasi buruh harus baik guna memperkuat gerakan Sarbumusi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sarbumusi: Manajemen Organisasi Buruh NU NTB Harus Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Manajemen Organisasi Buruh NU NTB Harus Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Manajemen Organisasi Buruh NU NTB Harus Baik

Syaiful di Jakarta, Senin (21/8) bersyukur kepengurusan Sarbumusi NU di lima kabupaten/kota di wilayah tersebut telah dikukuhkan oleh Ketua Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Buruh DPP K-Sarbumusi NU Handoko.

"Alhamdulillah, Sarbumusi NU telah ada di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Mataram dan Dompu," ujar Syaiful didampingi Sekretaris Jenderal Eko Darwanto.

Dengan terbentuknya organisasi buruh NU di NTB, Syaiful mengingatkan jajaran pengurus untuk berkiprah positif, memberbanyak anggota, serta menjalin hubungan baik dengan PWNU, PCNU dan semua badan otonom dan lembaga-lembaga NU di semua tingkatan.

"DPP K Sarbumusi NU berharap anggota-anggota kami di NTB untuk memperkuat advokasi hukum bagi buruh. Menjalankan iuran anggota serta berani tampil menjadi bagian dewan pengupahan," kata Syaiful lagi.

Muhammadiyah Asli

Harapan tersebut, kata dia lagi, sesuai dengan keinginan Ketua PWNU NTB ? KH Achmad Taqiuddin agar buruh NU di NTB turut mengembalikan kejayaan dan kebesaran Sarbumusi NU yang sempat memiliki 2,5 juta anggota dan menjadi garda terdepan perjuangan buruh Indonesia.?

Hal tersebut sangat memungkinkan sehubungan Bupati Lombok Barat Barat Fauzan Khalid telah menyatakan kegembiraannya dan berjanji akan senantiasa menjaga hubungan baik antara buruh dan pemerintah, demikian Syaiful Bahri Ansori. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Cerita, Ahlussunnah, Anti Hoax Muhammadiyah Asli

Selasa, 09 Januari 2018

Muslimat DKI Konsentrasi Pendidikan Anak

Jakarta, Muhammadiyah Asli. “Program Muslimat NU Daerah Khusus Ibukota Jakarta konsentrasi ke pendidikan anak usia dini, karena pendidikan merupakan faktor penting masa depan anak. Misalnya pendidikan akhlak dan keimanan mesti sejak usia dini.” ?

Hal itu diungkapkapkan Ketua Umum PW Muslimat DKI Hj. Hizbiyah Rochim saat membuka lomba kreasi anak di Anjungan Provinsi Lampung, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada Sabtu, (26/5).

Muslimat DKI Konsentrasi Pendidikan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat DKI Konsentrasi Pendidikan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat DKI Konsentrasi Pendidikan Anak

“Bukan berarti Muslimat tidak mementingkan bidang-bidang lain. Muslimat DKI juga memberdayakan pengurus-pengurusnya, meningkatkan kualitas guru-guru PAUD binaan Muslimat. Cuma memang konsentrasinya ke pendidikan anak,” ujarnya. ?

Muhammadiyah Asli

Hizbiyah menambahkan, lomba kreasi anak bertema Menuju Anak Indonesia Sehat, Cerdas dan Ceria ini ini merupakan salah satu rangkaian dari peringatan hari lahir (harlah) ke-66 Muslimat NU DKI. Puncak harlah akan berlangsung 19 Juni di Gelora Bung Karno Jakarta.

“Setelah puncak harlah, masih ada satu kegiatan yang akan dihelat yaitu seminar dengan tema Mewujudkan Perempuan sejahtera dan mandiri,” pungkasnya.?

Muhammadiyah Asli

Redaktur : Mukafi Niam

Penulis ? ? : Abdullah Alawi?

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Doa, Nahdlatul, Cerita Muhammadiyah Asli

Selasa, 02 Januari 2018

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam

Di pinggiran perbatasan Kecamatan Dander dan Kota Bojonegoro, tepatnya di Dusun Kedunggayam, Desa Karangsono, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro terdapat satu Pondok Pesantren yang tampak sederhana. Setelah menempuh jarak 10 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, melewati jalan setapak sempit, di tengah rerimbunan pohon bambu dan di sekitar aliran sungai yang bergemiricik lengkap dengan bentangan sawahnya, terlihatlah bangunan Pondok Pesantren Hidayatul Islamiyah yang berdiri sejak tahun 1998 silam.

Sang pendiri, Kiai Khoiri Amin menceritakan, awal mula berdirinya Pesantren yang menempati tanah seluas lebih dari satu hektare ini.

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam

Dikatakan, semasa awal berdirinya Pesantren? Hidayatul Islamiah santri yang ada hanya dua anak, Surip dan Syarifuddin. Selang beberapa tahun santri pun bertambah meskipun tidak? seberapa banyak.

Muhammadiyah Asli

“Awalnya hanya ada dua santri, Surip dan Syarifuddin, tapi lama kelamaan berdatangan santri dari daerah-daerah di wilayah Bojonegoro hingga ada yang dari luar kota,” jelas bapak empat anak ini.

Diceritakan,? di pondok yang beliau asuh selain memberikan pendidikan yang berbasis wawasan keilmuan umum dan keagamaan juga memberikan wawasan bersosilisasi dengan masyarakat, pengembangan skill santri. Bahkan, santri juga dibimbing dan dibina hingga mereka berumah tangga.

Muhammadiyah Asli

Sebagaimana santri pertama, Surip yang namanya diganti menjadi Syamsul Huda tetap tinggal di Pesantren hingga berumah tangga bahkan sampai akhir hidupnya. “Surip saya ganti namanya jadi Syamsul Huda, dia wafat dan saya kubur di dekat pondok,” ujar kiai lulusan Pesantren Ta’limul Quran, Gresik ini.

Lebih lanjut pengasuh pesantren yang murah senyum ini menceritakan, degradasi moral bangsa menjadi faktor utama didirikannya pendidikan non formal berupa? Pesantren Hidayatul Islamiah dan pendidikan formal setingkat Raudhotul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) . Menurut Kiai Choir, begitu beliau akrab dipanggil, perlu perhatian khusus pada karakter bangsa yang kian hari kian bobrok.

“Sekarang banyak anak muda yang LKMD, alias lamar kari meteng disek (melamar belakangan, hamil duluan),” ujarnya dengan nada bergurau tapi serius.

Dikatakan, saat ini moral bangsa sedang dipertaruhkan, menghadapi gencarnya budaya luar. Sebab itu, kiai ini menghimbau agar pendidikan karakter harus benar-benar diterapkan di pendidikan formal, jangan hanya sekadar wacana tanpa ada tindak lanjut. “Moral bangsa harus benar-benar diberi perhatian khusus terutama pada lembaga-lembaga formal,” jelasnya.

“Nak de’ biyen akeh wong bender ra pathi pinter, tapi nak sak iki akeh wong pinter ra pathi bendher,”? ungkapnya berkelakar.

Dia menambahkan, pengaruh luar kerap kali meracuni pikiran masyarakat terutama kalangan remaja.? Sehingga tak jarang mayoritas pemuda lupa akan hakikat kesederhanaan dan bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat sebagai individu sosial.

Suasana Damai

Kegiatan di pondok yang letaknya terasing dari keramaian ini penuh dengan kesederhanaan, namun tetap dengan unsur spiritual yang kental sebagai nutrisi moral. Sehabis Shubuh, kegiatan mengaji kitab sorogan dilakukan. Uniknya kajian ini digelar di mana pun tempatnya, asal menyatu dengan alam. Baik itu di sawah, di sekitar kolam maupun di pekarangan dekat sungai. Tergantung, di mana saat itu sang kiai berada. Hal ini sebagai wujud belajar alami. Hal ini dimaksudkan agar para santri bisa mengamati alam dan mengambil i’tibar dari ayat-ayat kauniyah. “Biar santri tahu, bahwa meraka hidup dengan alam yang wajib dijaga dan dilestarikan,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, kesederhanaan sangatlah tampak dari pondokan-pondokan santri yang terbuat dari kayu sederhana dengan luas sekitar 2x2 meter. Pondokan ini dikenal dengan istilah Rompok. Selain rutinitas kajian kitab wetondan salaf, santri juga belajar hidup dengan kegiatan pelatihan bercocok tanam, perikanan, dan perkebunan. Kegiatan tersebut sebagai analogi bahwa jiwa yang sehat terdapat pada badan yang kuat (Al-Aqlu As-Shalim fil Jismi As-Salim).

“Sebagai bahan latihan bagi santri ketika terjun ke masyarakat, selain itu juga mengingatkan mereka bahwa jiwa yang sehat terdapat pada badan yang kuat,” terang kiai asal Kepohbaru ini.

Selain mengkaji kitab salaf juga dilaksanakan pelatihan mukhadhoroh,? dziba’an, tahlilan dan qosidah burdah di hari-hari khusus. Tak tanggung-tanggung, semua kegiatan, sarana dan pra sarana di pesantren ini tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis.

Santri pun berdatangan tidak hanya dari sekitar Kota Bojonegoro, namun juga berasal dari luar kota seperti Lamongan, Gresik, hingga merambah wilayah Jawa Tengah. (Nidhomatum MR)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Warta, Nusantara, Cerita Muhammadiyah Asli

Minggu, 31 Desember 2017

Suara PMII untuk Pemerintah RI di Hari Buruh Dunia

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik menilai, peringatan hari buruh dunia merupakan momentum tepat terutama pemerintah untuk memperbaiki regulasi yang berpihak pada kesejahteraan pekerja. Dalam rilisnya, PMII meminta pemerintahan Ir Joko Widodo untuk memperhatikan sejumlah hal berikut ini.

Suara PMII untuk Pemerintah RI di Hari Buruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Suara PMII untuk Pemerintah RI di Hari Buruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Suara PMII untuk Pemerintah RI di Hari Buruh Dunia

Pengurus harian PB PMII menuntut pemerintahan kini untuk:

1. Momentum Mayday tahun 2015 ini adalah momenteum evaluasi total system perburuhan di Indonesia diawal pemerintahan Jokowi-JK, baik di pemerintahan, pengusaha maupun perlindungan terhadap hak-hak buruh.?

Muhammadiyah Asli

2. Membenahi system perburuhan Indonesia dengan merevisi UU 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Karena UU ini ? terlalu berpihak pada pengusaha dan mempersempit ruang buruh untuk menjadi sejahtera dan UU ini juga sudah banyak pasal yang di review dan diputus oleh MK.

3. Merevisi UU 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di Luar Negeri karena, UU ini lebih banyak mengatur teknis penempatan TKI dari pada perlindungan TKI.

Muhammadiyah Asli

4. Stop diskriminasi dan Kriminalisasi buruh,

5. Stop Politik Upah Murah Buruh?

6. Menuntut Pemerintah untuk Melindungi tenaga kerja Indonesia dari serbuan tenaga kerja asing

7. Mendorong Pemerintah untuk merealisasikan kebijakan yang terkait dengan Jaminan Kesehatan,keselamatan kerja dan hari tua buruh yang tidak memberatkan Buruh

8. Perluas lapangan kerja untuk mengurangi Buruh di Indonesia ke Luar Negeri

9. Mendorong Pemerintah untuk tidak melepas harga BBM yang dikendalikan oleh mekanisme pasar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Pemurnian Aqidah, Syariah Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock