Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Dalam rangka memuaskan pasangan antara suami istri, Islam membebaskan trik dan gaya bercinta antara keduanya selama tidak bertentangan dengan aturan syariat. Termasuk pula dalam melakukannya dengan gaya oral seks. Hal ini tidak termasuk larangan dalam agama.

Baca: Hukum Oral Seks di Bagian Kewanitaan

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Orang yang melakukan oral, sebagian dari mereka, sudah banyak yang dalam kondisi ereksi atau tegang sehingga tidak jarang para pasangan suami-istri ini sudah mengeluarkan pelumas berupa cairan bening atau biasa disebut dengan istilah madzi.

Jika ditelisik lebih dalam, selain air kencing, ada tiga jenis air yang keluar dari kemaluan manusia. Pertama, air sperma (mani). Sperma bisa diidentifikasi dari salah satu beberapa cirinya, yaitu keluar dengan memancar dan tersendat, ada bau yang khas seperti adonan roti/kue, terasa nikmat saat air itu keluar.

Muhammadiyah Asli

Kedua, air wadi, yaitu air keruh, kental yang biasa keluar setelah orang mengeluarkan air kencing mungkin disebabkan faktor capai atau hal lain.

Muhammadiyah Asli

Ketiga, air madzi, yaitu air bening yang keluar dari kemaluan, baik dari seorang pria maupun wanita yang biasanya disebabkan karena faktor syahwat. Baik disebabkan karena membayangkan, melihat atau sedang pemanasan (foreplay).

Di antara semua air yang keluar tersebut hukumnya najis kecuali sperma. Seseorang yang mengeluarkan sperma, wajib mandi. Sedangkan wadi dan madzi hanya mewajibkan wudhu, tidak harus mandi, serta harus dibersihkan sebagaimana membersihkan najis seperti biasanya.

Bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan intim, tentu sangat kesulitan jika harus menghindari madzi ini. Karena madzi memang diciptakan Allah untuk melengkapi kegiatan jima yang dilegalkan dalam syara bagi pasangan yang sah. Ia menjadi pelumas untuk sebuah lancarnya hubungan senggama.

Padahal apabila kita melihat fiqih dasarnya, ada sebuah aturan bahwa seseorang tidak diperkenankan mengotori tubuh dengan najis tanpa ada alasan yang jelas, apalagi memasukkan najis tersebut ke dalam tubuh, tentu tidak diperbolehkan.

Madzi merupakan cairan najis. Ia berlaku hukum yang sama. Artinya tidak boleh sampai masuk ke dalam tubuh, termasuk masuk ke kelamin seorang istri. Tetapi karena hal ini sangat sulit dihindari, maka syara memberikan toleransi sehingga madzi bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan suami-istri hukumnya dimafu (diampuni).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tempat sucinya sperma itu jika memang kepala batang dzakar dan farji yang keluar murni berupa mani yang suci. Jika tidak murni suci, hukumnya (mani itu) najis dan haram bersenggama dengan kondisi seperti demikian sebagaimana orang orang istinja dengan batu ketika air sperma keluar dari situ. Karena hal itu menjadikan najis. Iya, diampuni dari orang yang kesulitan menghindari hal tersebut dengan nisbat untuk jima,” (Lihat Ianatuth Thalibin, juz I, halaman 85).

Hukum mafu hanya mempunyai arti diampuni, tidak mengubah status najis menjadi suci. Maksudnya najis tetap najis, tidak bisa berubah menjadi suci. Madzi itu najis. Selamanya, hukum madzi tetap najis. Tidak bakal berubah menjadi suci. Hanya saja, bagi suami istri yang sedang bercinta, cairan ini diampuni. Sedangkan madzi jika dalam kondisi selain jima, hukumnya tetap najis.

Contoh, darah nyamuk yang sedikit itu hukumnya najis, tetapi dimafu jika terkena tubuh atau pakaian. Ini dinisbatkan untuk shalat. Jadi orang yang tangannya terkena darah nyamuk, boleh langsung melaksanakan shalat tanpa harus membersihkan darah tersebut karena dimafu.

Diampuninya darah pada tangan untuk shalat ini tidak berlaku apabila tangan yang terkena darah nyamuk kemudian dicelupkan ke dalam air satu gelas untuk kemudian diminum. Jika dicelupkan ke dalam air segelas, semua air dalam gelas menjadi najis. Ia dimafu untuk shalat namun tidak dimafu untuk diminum.

Kembali tentang pembahasan madzi. Madzi merupakan kebutuhan wajib bagi pasangan senggama dan sangat sulit menghindarinya. Oleh karena itu hukumnya dimafu. Tetapi dimafunya ini tidak berlaku jika madzi masuk mulut bagi orang yang melakukan oral seks. Karena mulut itu bukan tujuan utama orang bercinta yang madzi tidak diciptakan untuk menjadi pelumas mulut, namun pelumas vagina.

Di sinilah alasan sebagian ulama yang tidak memperbolehkan oral seks itu karena hampir pasti akan ada pelumas yang masuk ke mulut. Ini tidak boleh.

Adapun ulama yang memperbolehkan oral seks, mereka tidak melihat dari sudut pandang najis tidaknya madzi. Mereka lebih melihat pada hukum dasar bahwa hal tersebut diperbolehkan tanpa memandang hukum madzi. Mungkin saja ada orang yang hubungan senggamanya kering sehingga ia tidak punya madzi. Jadi tidak mempunyai alasan untuk melarang hubungan oral seks.

Kesimpulannya, pertama, madzi atau air lubricant yang diproduksi tubuh hukumnya najis tetapi dimafu jika masuk ke vagina istrinya karena hal ini sangat susah untuk dihindari.

Kedua, oral seks diperbolehkan namun tidak boleh mengabaikan hukum bahwa madzi atau cairan yang masuk ke mulut hukumnya adalah najis. Ia dimafu jika masuk ke liang vagina saja. Jika masuk ke mulut, itu bukan keadaan yang sulit dihindari, maka hukumnya tetap najis tidak dimafu.

Ketiga, pasangan yang ingin melakukan hubungan oral seks bisa memakai kondom yang suci supaya yang masuk ke mulut adalah benda suci. Jika tidak memakai kondom, apabila ada najis yang masuk ke mulut, harus segera dikeluarkan kembali, tidak boleh ditelan. Setelah itu mulutnya harus disucikan secepatnya dengan mekanisme pembersihan najis sebagaimana pada umumnya yaitu dengan berkumur dan lain sebagainya. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya, Pertandingan, Nasional Muhammadiyah Asli

Senin, 05 Februari 2018

Presiden Sarbumusi NU Sebut Korporasi Asing sebagai Tantangan Berat

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Dewan Pengurus Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (DPPK Sarbumusi) NU periode 2016-2021 telah dikukuhkan, Jumat (23/9) di Gedung PBNU Jakarta. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan dihadiri pihak Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Presiden Sarbumusi NU Sebut Korporasi Asing sebagai Tantangan Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Sarbumusi NU Sebut Korporasi Asing sebagai Tantangan Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Sarbumusi NU Sebut Korporasi Asing sebagai Tantangan Berat

Dalam sambutannya, Presiden Sarbumusi HM. Syaiful Bahri Anshori mengatakan bahwa besar yang dihadapi oleh organisasinya dari dulu hingga sekarang yaitu korporasi asing. Ia menyebut demikian karena selama ini permasalahan buruh banyak terjadi di lingkungan korporasi asing, terutama terkait PHK secara sepihak.

“Saat ini Sarbumusi telah menangani 10 kasus. Termasuk di Riau antara buruh dan Chevron. Cukup berat karena terkait korporasi asing. Namun jika PBNU membantu, tentu akan mudah,” terang Syaiful Bahri yang didampingi Eko Darwanto sebagai Sekjen di kepengurusan baru.

Dia menjelaskan bahwa selama ini pihaknya juga fokus pada persoalan buruh migran. Permasalahan tenaga kerja Indonesia di luar negeri ini dahulu sangat pelik dan memperihatinkan. Tetapi dengan aktifnya SARBUMUSI dibantu dengan organisasi-organisasi buruh lain, persoalan buruh migran dapat teratasi dengan baik.

“Agar dapat mengabdi secara maksimal, saat ini target Sarbumusi adalah meningkatkan anggota menjadi 300 ribu. Adapun jumlah anggota sekarang masih mencapai 150 ribu,” jelasnya.?

Muhammadiyah Asli

Selepas pengukuhan, seluruh pengurus pusat, baik dari konfederasi dan federasi akan mengikuti Rapat Kerja di Hotel Blue Sky Jakarta Pusat, Jumat (23/9).

Raker ini menurut Syaiful Bahri merupakan momentum bagi kami untuk menguatkan organisasi dan merumuskan agenda program, baik yang telah dibahas di Kongres lalu, maupun rencana-rencana strategis dan taktis lainnya. Raker juga dalam rangka meneguhkan positioning SARBUMUSI dalam dunia perburuhan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Pondok Pesantren, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Selasa, 30 Januari 2018

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

Kendal, Muhammadiyah Asli

Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah bekerja sama dengan Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah mengadakan workshop sistem manajemen pesantren (Simapes). Pelatihan Peningkatan mutu ini bertempat di qoah (aula) utama pondok pesantren al-Musyaffa Brangsong. Hadir tim Simapes sebagai trainer pada acara ini.?

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tumbuh Merawat Tradisi dan Budaya Masyarakat

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng H Sholihin mengenang ketika masih di pesantren selalu ingat dengan 3 T+S+M yaitu tahu, tempe, terong ditambah sambel dan mendoan. Namun, substansi itu bukan yang ingin dijelaskan, tetapi pesantren menjadi lembaga pendidikan awal di Indonesia yang tumbuh merawat tradisi dan budaya masyarakat.?

"Pesantren ke depan akan menjadi ikon lembaga pendidikan di Indonesia," jelas Sholihin, Kamis (28/1/2016).?

Bisa dilihat, alumni pesantren itu menjadi perekat (lem sosial) di masyarakat. Mereka mau berbaur dengan masyarakat dimana mereka tinggal. Selain itu, pesantren merupakan laboratorium untuk mencetak santriwan-santriwati yang berakhlak mulia. Hal ini pun sejalan dengan visi-misi pemerintah khususnya presiden dengan revolusi mental. Revolusi mental sejatinya menginginkan manusia yang berkarakter baik.?

Selain itu pesantren tidak hanya memikirkan apa yang ada di dunia ini saja. "Pinter donyone pinter akhirate, (bagus di dunia juga di akhirat)," tambah Sholihin. Kita bisa melihat dengan negara-negara lain yang sekarang sedang terjadi konflik. Di Indonesia dengan segala keragaman suku, ras, agama dan etnis mampu meredam konflik yang akan muncul di permukaan. Ini tak lepas dari peran pesantren hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia.?

Muhammadiyah Asli

Maka dari itu untuk meningkatkan kualitas pondok pesantren pelatihan ini menjadi penting. Simapes akan mempermudah untuk perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan terhadap kinerja pesantren. Tim Simapes ini terbentuk dari unsur Kanwil Kemenag Jateng, RMINU Jateng, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Jawa Tengah dan alumni Program Beasiswa Santri Berprestasi Jateng. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pesantren, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Sabtu, 30 Desember 2017

Menulis Menyehatkan Jiwa

Yogyakarta, Muhammadiyah Asli. Menulis itu menyehatkan jiwa. Ketika menulis, Anda seperti orang curhat. Anda tidak butuh seorang psikiater atau seorang kawan. Anda cukup merepotkan diri sendiri untuk merangkai kata. Demikian diungkapkan Abidah El-Khalieqy dalam acara Sarasehan Sastrawan Perempuan (17/3).

“Secara pribadi, saya merasa banyak penyakit yang hilang setelah menulis. Selain itu, menulis merupakan kebanggaan tersendiri,” tambahnya lagi.

Menulis Menyehatkan Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menulis Menyehatkan Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menulis Menyehatkan Jiwa

Acara yang berlangsung di Pendopo Yasayan LKiS, Jl Pura No 203 Sorowajan, Yogyakarta tersebut merupakan hasil kerja sama antara PW Fatayat NU, bioskop Gadjah Wong Cinema, dan LKiS.  

Muhammadiyah Asli

Narasumber yang dihadirkan dalam acara tersebut di antaranya ialah penulis perempuan berkalung surban, Abidah El-Khalieqy, Cerpenis asal Pati, Ulfatin Ch, dan perwakilan dari komunitas Mata Pena, Isma Kazee. Tema yang disoroti dalam acara sarasehan kali ini ialah “Pengarusutamaan Gender dalam Kaya Sastra.”

Muhammadiyah Asli

Acara tersebut dihadiri oleh santri laki-laki dan perempuan serta kalangan Fatayat NU sendiri. Selain menggelar sarasehan sastra, acara yang dimulai sejak pukul 09.30 tersebut juga menyuguhkan film tentang kepenulisan oleh bioskop Gadjah Wong Cinema. Gadjah Wong Cinema merupakan salah satu bioskop miliki Lesbumi DIY yang memiliki tempat pemutaran film di Ngeban Resto, Jl. Cendrawasih, Gaten, Depok, Sleman. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim Bangkit  

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan Muhammadiyah Asli

Kamis, 14 Desember 2017

Sejarah Tahlil

Judul Buku : Sejarah Tahlil

Penulis : KH Muhammad Danial Royyan

Tebal : viii, 72

Sejarah Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Tahlil

Penerbit : LTN NU Kendal bekerjasama dengan Pustaka Amanah Kendal

Cetakan : pertama, 17 Februari 2013

Peresensi : Fahroji

Muhammadiyah Asli

Munculnya kembali ideologi dan faham Salafi Wahabi dengan berbagai bentuk organisasinya yang telah menyebar ke tengah masyarakat lintas bangsa dan negara (ideologi transnasional) sekarang ini yang cenderung memusyrikkan dan membid’ahkan amaliah yang sudah ada, maka, mau tidak mau semua hal yang berkaitan dengan amaliah agama harus diketahui lengkap dengan dalil-dalilnya.

Kondisi tersebut telah menimbul keprihatinan di kalangan ulama dan pengurus NU di berbagai wilayah dan cabang, salah satunya PCNU Kendal. KH Muhammad Danial Royyan penulis buku ini yang juga ketua tanfidziyah PCNU Kendal periode 2012-2017 menuangkan kegelisahannya dengan menulis buku Sejarah Tahlil. Tradisi Tahlilan yang merupakan salah satu sasaran tembak bagi kaum salafi wahabi perlu mendapatkan pembelaan agar kaum Nahdliyyin tidak menjadi ragu atas amaliah yang dilakukan secara turun-temurun dan masih berkembang di masyarakat hingga saat ini.

Muhammadiyah Asli

Buku Sejarah Tahlil yang dicetak dalam ukuran saku tersebut memaparkan bagaimana tradisi bacaan Tahlil sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini tidak terdapat secara khusus pada zaman nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tetapi tradisi itu mulai ada sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang mereka lakukan berdasarkan istimbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, lalu mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil, mengamalkannya secara rutin dan mengajarkannya kepada kaum muslimin.

Dalam buku tersebut juga diulas siapa sebenarnya yang pertama kali menyusun rangkaian bacaan tahlil dan mentradisikannya. Menurut penulis buku ini, hal tersebut pernah dibahas dalam forum Bahtsul Masail oleh para kyai Ahli Thariqah. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid Ja’far Al- Barzanji. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa yang menyusun tahlil pertama kali adalah Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Dari dua pendapat tersebut, pendapat yang paling kuat tentang siapa penyusun pertama tahlil adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa Imam Al- Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja’far Al – Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H.

Pendapat tersebut diperkuat oleh tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam syarah Ratib Al Haddad, bahwa kebiasaan imam Abdullah Al Haddad sesudah membaca Ratib adalah bacaan tahlil. Para hadirin yang hadir dalam majlis Imam Al Haddad ikut membaca tahlil secara bersama-sama tidak ada yang saling mendahului sampai dengan 500 kali.

Disamping mengulas sejarah tahlil, buku setebal 72 hal itu juga membahas argumentasi tahlil dan pahala bacaanya yang diyakini bisa sampai kepada mayyit. Pada bab-bab berikutnya penulis juga mengupas tentang talqin dan ziarah kubur lengkap dengan pengertian, tatacara dan argumentasi pelaksanaannya. Buku ini wajib dibaca oleh warga Nahdliyyin di Kendal karena memang diterbitkan dalam rangka penggalian dana NU Kendal dan menggantikan model penggalian dana dengan lewat stiker. Sungguhpun demikian buku ini juga perlu dibaca oleh warga NU dimana saja berada.

Peresensi adalah kontributor Muhammadiyah Asli Kendal

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan Muhammadiyah Asli

Senin, 11 Desember 2017

Selebaran Perusak Citra NU Masih Beredar

Surabaya, Muhammadiyah Asli. Rupanya masih saja ada orang yang tidak suka Nahdlatul Ulama (NU) besar. Salah satu indikasinya, selebaran Mimbar Dakwah yang berisi ‘Fatwa Ulama Jombang’ masih saja beredar, terutama di daerah luar Jawa. Padahal Pengurus Cabang NU Jombang sudah seringkali membantah, bahwa isi maupun selebaran itu tidak ada kaitannya dengan NU Jombang. Justru ia yakin kalau ada pihak lain yang sengaja ingin mengacaukan NU.

Pengurus Wilayah NU Jawa Timur sebagai tuan rumah, juga sudah seringkali menanggapi persoalan itu melalui pengajian-pengajian. Namun sayang, selebaran lebih banyak beredar di luar Jawa.

Selebaran Perusak Citra NU Masih Beredar (Sumber Gambar : Nu Online)
Selebaran Perusak Citra NU Masih Beredar (Sumber Gambar : Nu Online)

Selebaran Perusak Citra NU Masih Beredar

Sementara, mereka yang menerima selebaran biasanya menelepon ke Kantor PWNU Jatim. “Selebaran itu bertujuan merusak citra NU. Semoga mereka segera sadar,” kata Dr H Ali Maschan Moesa MSi, Ketua PWNU Jatim, kepada Muhammadiyah Aslidi Surabaya, Selasa (18/12).

H Zaini Ilyas, Staf Sekretariat PWNU menuturkan, maraknya selebaran itu sudah terjadi sejak awal September lalu. Selain menerima pengaduan via telepon, ia juga mendapatkan kiriman faksimili contoh selebaran dari kerabatnya di Hulu Sungai Utara, Kalimantan. Pengaduan serupa juga diterima dari Lampung, Banjarmasin dan Kepulauan Riau. “Bahkan seminggu lalu masih saja ada laporan yang masuk,” tuturnya.

Selebaran yang meresahkan itu, seperti yang ditunjukkan pada wartawan situs ini, bernama Mimbar Dakwah asuhan H Muhammad Abduh SH, berisi tentang Fatwa Ulama Jombang dalam Berbagai Amalan Ibadah/Amalan. Tapi aneh. Isinya malah bertolak belakang dengan amaliah para kiai Jombang. Di antaranya tidak boleh membaca usholli dalam shalat, tidak boleh baca wirid dengan bersuara sesudah shalat, tidak perlu qunut subuh, tidak boleh membaca tahlil, tidak mengenal shalat qabliyah Jumat, tarawih hanya delapan rakaat, dan sebagainya. Masih banyak lagi.

Muhammadiyah Asli

“Saya juga heran, kok masih ada orang yang suka berbuat seperti itu. Apa untungnya?” Zaini tak habis mengerti.

“Semoga mereka segera sadar dan segera menghentikan perbuatannya,” imbuh Pak Ali. Yang jelas, kata dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya itu, “Selebaran itu menyesatkan, berpotensi mengadu-domba, dan tidak ada kaitannya dengan NU, baik PCNU Jombang maupun PCNU Jombang.” (sbh)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian Sunnah, Ahlussunnah, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Jumat, 01 Desember 2017

Pengebom Dapat Bidadari di Surga?

Istilah ‘pengantin’ lekat dengan seseorang yang mengajukan diri melakukan bom bunuh diri. Iming-iming mati syahid dan mendapat bidadari surga turut menjadi sugesti tindakan terornya.

Alkisah, Gus Dur ditanya oleh seorang wartawan terkait maraknya ‘pengantin’ bom bunuh diri ini. Sebab dalam pandangan masyarakat umum, bagaimana bisa dikatakan syahid dan mendapat bidadari surga jika manusia tak berdosa ikut menjadi korban.

“Gus, menurut Anda, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan.

Pengebom Dapat Bidadari di Surga? (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengebom Dapat Bidadari di Surga? (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengebom Dapat Bidadari di Surga?

“Memangnya sudah ada yang membuktikan?” tanya balik Gus Dur.

“Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan belum pernah ke surga,” sergah Gus Dur lagi.

Muhammadiyah Asli

“Lalu, apakah benar mereka tergolong mati syahid, Gus?” wartawan lain menimpali.

“Mereka itu yang jelas bukan mati syahid, tetapi mati sakit. Kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari," jawabnya.

"Kenapa Gus?"

"Karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi,” seloroh Gus Dur.?

Muhammadiyah Asli

“Geeerrrrr.....”

(Fathoni Ahmad)

Cerita ini disarikan dari buku “The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita”, (Imania, 2014).

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, RMI NU, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Minggu, 26 November 2017

Diskusi Bulanan, Risalah NU Bahas Penguatan Ekonomi Umat

Jakarta, Muhammadiyah Asli - Majalah Risalah Nahdlatul Ulama kembali menggelar Diskusi Publik Bulanan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14 /11). Kali ini Majalah Risalah mengangkat tema Penguatan Ekonomi Umat dengan menghadirkan sejumlah pembicara.

Hadir sebagai pembicara Ketua Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) KH Mansyur Syaerozi, dan Payment Ecosystem Experience Telkomsel Zuhed Nur.

Diskusi Bulanan, Risalah NU Bahas Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi Bulanan, Risalah NU Bahas Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi Bulanan, Risalah NU Bahas Penguatan Ekonomi Umat

Pemimpin Redaksi Majalah Risalah Musthafa Helmy mengatakan, diskusi kali ini diharapkan menjadi pengantar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 yang mengangkat tema tentang ekonomi umat.

Ia pun berharap kepada Ketua LTM PBNU yang dihadirkan untuk menyampaikan tentang perkembangan ekonomi umat lewat masjid.

Muhammadiyah Asli

Begitu juga kepada pihak telkomsel diharapkan berbicara tentang peluang ekonomi di dunia maya.

Muhammadiyah Asli

"Karena tantangan terbesar adalah dunia maya," katanya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan, Nusantara Muhammadiyah Asli

Kamis, 09 November 2017

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu

Surabaya, Muhammadiyah Asli - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali membuktikan keseriusannya dalam berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama (NU). Kali ini PMII ITS memfasilitasi pendaftaran Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) bagi dosen, karyawan serta mahasiswa NU yang ada di ITS, PENS ataupun PPNS. Kegiatan ini berlangsung pada Ahad (12/02) dan bertempat di gedung MWCNU Sukolilo, Surabaya.

Kegiatan ini dilakukan karena masih banyak warga NU dari kalangan dosen, karyawan maupun mahasiswa yang ada di ITS, PENS dan PPNS yang belum terdata. Sebagaimana yang disampaikan Ketua PMII ITS, Zidni Nafi Akbar, menurutnya kegiatan ini salah satunya untuk mendata mahasiswa maupun dosen NU di ITS, PENS ataupun PPNS.

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu

“Banyak sekali mahasiswa dan dosen NU yang di kampus ITS, PENS dan PPNS, namun belum bisa terdata,” ungkapnya.

Muhammadiyah Asli

Selain itu, tujuan lain diselenggarakan kegiatan ini adalah untuk memfasilitasi warga NU yang belum memiliki Kartanu. “Sebenarnya kegiatan ini difokuskan kepada mahasiswa dan dosen yang ada di sekitar ITS. Namun bila ada warga atau anggota PMII selain PMII Sepuluh Nopember dipersilakan untuk ikut,” imbuhnya.

Kegiatan ini berawal dari kerja sama antara PMII ITS dengan PCNU Surabaya. “Berhubung PMII ITS bisa bekerja sama dengan PCNU Surabaya untuk mengadakan Kartanu, maka diselenggarakan kegiatan ini,” jelas mahasiswa asal Kediri ini.

Muhammadiyah Asli

Dalam pelaksanaannya, ternyata bukan hanya dari kalangan dosen, karyawan serta mahasiswa ITS, PENS dan PPNS saja yang hadir guna melakukan pembuatan Kartanu. Warga sekitar tiga kampus tersebut juga turut hadir untuk melakukan pendaftaran Kartanu, bahkan mahasiswa luar ITS juga ikut serta dalam kegiatan ini, seperti dari Universitas Islam Negeri Surabaya (Uinsa), Universitas Sunan Giri (Unsuri),? Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga (Unair).

Banyaknya peserta dari luar area ITS dikarenakan informasi mengenai kegiatan ini menyebar di sosial media dengan cepat. Hal itu senada dengan apa yang diutarakan Ahmad, salah satu pendaftar Kartanu dari luar area ITS. Ia mengatakan, mengetahui adanya kegiatan ini dari sosial media. “Saya tahu info ini dari sosial media,” ujarnya.

Salah satu dosen yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ardy Maulidy Navastara ST MT. Ia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan semacam ini. Tak hanya itu saja, ia mengharapkan agar seluruh MWC, khususnya yang ada di seluruh Surabaya untuk menjadi agenda rutin.

“Saya pikir ini seharusnya menjadi agenda rutin bagi para MWC yang ada di seluruh Surabaya untuk disosialisasikan kepada masyarakat yang ada di Surabaya,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya perlu adanya sosialisasi. Hal itu dikarenakan masih banyak mahasiswa dan dosen ITS yang belum mengetahui Kartanu. “Kalau bisa disediakan posko yang selalu siap melayani warga nahdliyyin yang ingin mendaftar Kartanu,” pungkasnya. (Hanan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pahlawan, RMI NU, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Jumat, 03 November 2017

Pesantren Al-Mizan Gelar Sunatan Massal

Majalengka, Muhammadiyah Asli. Pondok Pesantren al-Mizan yang tergabung ke dalam Yayasan al-Mizan, Langengsari, Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat menyelenggarakan sunatan massal bagi 30 anak dari keluarga tidak mampu dan kaum dhu’afa, Selasa, (27/1) dalam rangka harlah Al-Mizan dan lembaga-lembaganya seperti SMA, SMK, MTs dan pondok pesantren.

Pembina Yayasan al-Mizan Zaenal Muhyidin, S.Ag. mengatakan, kegiatan ini agar al-Mizan lebih mendekatkan diri pada pelayanan masyarakat khususnya akan kebutuhan sunatan.?

Pesantren Al-Mizan Gelar Sunatan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Mizan Gelar Sunatan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Mizan Gelar Sunatan Massal

“Mahalnya biaya sunatan bagi keluarga tidak mampu menjadi beban tersendiri sehingga kita tergerak untuk membantu kebutuhan mereka,” tuturnya.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu, orang tua dari Prasetio Putra Asofa, Ahmad Sahir mengatakan, masyarakat merasa bersyukur dengan adanya kegiatan ini dan berharap al-Mizan selalu bisa berkontribusi melayani masyarakat kecil.

“Kami sangat senang dengan adanya kegiatan ini beban kami menjadi ringan dan semoga amal pengurus al-Mizan serta guru-guru menjadi barokah,” ungkapnya. (Tata Irawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Meme Islam, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Sabtu, 28 Oktober 2017

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan

Jakarta, Muhammadiyah AsliAura kemeriahan peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kompleks Yayasan KH A Wahid Hasyim Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mulai terasa sejak Kamis (22/12) malam. Di lantai 2 gedung Sekolah Dasar Islam Tebuireng (SDIT) Ciganjur berlangsung reuni alumni Pesantren Ciganjur. Alumni yang tersebar di Jabodetabek telah merapat. Sementara yang di luar provinsi dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju lokasi haul.

Dr HM Luthfi Zuhdi, salah satu pengajar Tafsir dan Kajian Islam di pesantren tersebut, serta Pemangku Pesantren Ciganjur KH Muhammad Musthofa dan puluhan santri serta alumni khidmah mengikuti Tahlil dan Jagongan malam Jumat. Ketua Yayasan KH A Wahid Hasyim, Arif Rahman Hamid, juga tampak bahagia mengikuti "ritual malam Jumat" bersama para santri.

Dalam sambutannya, Luthfi Zuhdi mengatakan bahwa Gus Dur yang disebut banyak orang sebagai sosok kontroversial, bagi dia justru tidak demikian. “Bagi saya, Gus Dur bukan tokoh kontroversial. Biasa saja. Saya melihat justru memang seharusnya beliau begitu,” ujar Luthfi memulai pidatonya.

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan

Sontak para santri yang duduk agak berjauhan dengan para sesepuh tersebut langsung merapat ke depan. Suara Luthfi Zuhdi tidak terlalu terdengar lantaran suasana ramai di kediaman Gus Dur.

“Gus Dur terlihat suka melawan gelombang dan arus besar. Gus Dur yang selalu mengatakan tidak ketika orang-orang berpendapat iya, dan sebaliknya. Beliau berbuat demikian karena hendak mengondisikan sebuah keseimbangan. Beliau memang diciptakan untuk keseimbangan di hampir semua urusan bangsa ini,” terang Ketua Pusat Studi Islam dan Timur Tengah UI ini.

Puncak acara haul yang digelar malam ini, Jumat, 23 Desember 2016 mulai pukul 19.00 WIB ini bertema Ngaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat. Selain aneka kegiatan mulai khataman Al-Quran di beberapa masjid dan mushala di sekitar Ciganjur, sejumlah tokoh juga akan hadir bersama ribuan pecinta Sang Humanis ini. Misalnya KH Musthofa Bisri (Gus Mus), A Syafii Maarif, Habib Ja’far Alkaff, Habib Umar Muthohar, KH Said Aqil Siroj, Lukman Hakim Saifuddin, Sabam Sirait, Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida.

Muhammadiyah Asli

Sejak pagi, suara orang mengaji terdengar dari menara Masjid Al-Munawwaroh yang berada di depan rumah Gus Dur. Para penghafal Quran di bawah tim JQH NU Depok tampak duduk khidmat melantunkan kitab suci. Dari menara Masjid Darussalam Cipedak yang hanya seperlemparan baru dari kediaman Presiden keempat RI ini juga terdengar aktivitas yang sama. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan, Nasional, Ubudiyah Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Rabu, 25 Oktober 2017

Peringati Hari Ibu, PMII Bojonegoro Bagikan Bunga dan Selebaran

Bojonegoro, Muhammadiyah Asli. Peringatan hari ibu yang jatuh tanggal 22 Desember lalu tidak dilewatkan begitu saja oleh para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Bojonegoro. Forum Komunikasi Rayon (FKR) PMII se-Bojonegoro itu membagikan bunga dan selebaran bagi para pengguna jalan.

Aksi pembagian bunga dan selebaran serta membaca puisi dilakukan para aktivis di Bundaran Jetak Kabupaten Bojonegoro. Kemudian para mahasiswa dari beberapa kampus itu melanjutkan aksinya dengan berjalan kaki menuju perempatan lampu merah.

Peringati Hari Ibu, PMII Bojonegoro Bagikan Bunga dan Selebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Ibu, PMII Bojonegoro Bagikan Bunga dan Selebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Ibu, PMII Bojonegoro Bagikan Bunga dan Selebaran

"Kasih ibu sepanjang masa, tidak bisa digantikan dengan apapun," kata koordinator lapangan (Korlap), Arif Dwi Setyawan kepada Muhammadiyah Asli.

Muhammadiyah Asli

Peringatan hari ibu dengan turun jalan itu diikuti sekitar 40 mahasiswa. Dengan aksi tersebut diharapkan semua warga Bojonegoro tidak melupakan kasih seorang ibu setiap harinya.

"Ibu selalu memberikan apapun kepada anaknya, bahkan nyawa sekalipun. Dari dalam lahir, saat melahirkan sampai mendidik anaknya menjadi orang yang bermanfaat," terangnya.

Muhammadiyah Asli

Aksi puluhan mahasiswa itu menyita perhatian pengguna jalan yang melintas. Pasalnya tidak sedikit warga yang mengetahui hari ibu. "Saya lupa kalau hari ini, hari ibu," tutur salah seorang pengguna jalan yang melintas. (M. Yazid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pondok Pesantren, Habib, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Selasa, 24 Oktober 2017

Meneladani Dakwah Sunan Ampel

Surabaya, Muhammadiyah Asli

Sabtu tanggal 13 Mei 2017 bertepatan dengan 16 Syaban 1438 H merupakan puncak acara Haul Agung Sunan Ampel. Kegiatan pada hari kedua ini dimulai dari bada Subuh dengan khataman Al-Quran bil ghoib yang bertempat di Masjid Agung Sunan Ampel bangunan lama (pria) dan bangunan baru (wanita).

Pada sore harinya, bada Ashar, diadakan kirab dari Kampung Margi menuju Makam Sunan Ampel. Rangkaian agenda haul Sunan Ampel itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipusatkan di kawasan maqbaroh Sunan Ampel, Surabaya.

Meneladani Dakwah Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneladani Dakwah Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneladani Dakwah Sunan Ampel

Berikutnya acara pembacaan napak tilas Sunan Ampel oleh ? Habib Luthfi bin Yahya, bertempat di Makam Sunan Ampel. Setelah isya, ada pengajian umum di bangunan lama Masjid Agung Sunan Ampel.

Habib Luthfi tepat di samping pusara Raden Rahmat, nama Sunan Ampel, menyampaikan dengan sangat tegas bahwa jangan coba-coba menghancurkan Indonesia selagi masih ada Sunan Ampel, Walisongo dan para ulama.

"Sunan Ampel sudah ratusan tahun meninggalkan kita. Tapi beliau mampu mempersatukan bangsa. Mampu meningkatkan perekonomian umat," lanjut Habib Luthfi.

Muhammadiyah Asli

Masyarakat dihimbau agar selalu mengingat pesan dan meninjau sejarah yang pernah dilakukan oleh para Walisongo saat syiar agama Islam di Tanah Air yang penuh kedamaian.

Selain ribuan umat Islam dari Surabaya dan daerah lainnya, tampak hadir juga Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, pengurus PWNU Jatim dan beberapa masyayikh dan habaib yang lain.

"Saya sangat bersyukur berkesempatan hadir dalam acara haul Sunan Ampel yang ke 568. Ini tentu tradisi yang sangat baik, terus dijaga, mudah-mudahan kita terus mendapat berkah," kata Menag di Makam Sunan Ampel, Sabtu (13/5) sore.

Menilik sejarah panjang penuh dengan keindahan tersebut, dari sunan Ampel dan walisongo masyarakat dan bangsa, saatnya semua untuk belajar menyatukan umat terkait peneguhan identitas diri, harmoni kehidupan keagamaan dan kebangsaan.

Islam yang dibawa oleh Walisongo tidak mengajarkan kemarahan, tetapi keramahan; tidak memukul, tetapi merangkul; tidak mengejek, tetapi mengajak; tidak eksklusif (tertutup/kaku), tetapi inklusif (terbuka/luwes); dan tidak menggurui, namun menjamui.(Rof Maulana/Zunus)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli News, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Jumat, 20 Oktober 2017

Madrasah Jauh Lebih Siap Hadapi Kurikulum 2013

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Kurikulum 2013 kini memang sedang mendapat kritikan luar biasa dari masyarakat, bahkan Menteri Pendidikan Anis Baswedan mengatakan kurikulum ini setengah matang.

Madrasah Jauh Lebih Siap Hadapi Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Jauh Lebih Siap Hadapi Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Jauh Lebih Siap Hadapi Kurikulum 2013

Apa yang disampaikan Anis memang tidak salah karena pada 2013 diujicobakan di 6400 sekolah, tapi secara tergesa-gesa langsung dipaksakan penerapannya di 218 ribu sekolah di seluruh Indonesia pada 2014 ini. 

Kementerian Agama sendiri tidak mau ikut dengan skema tersebut. Pada 2013, Kemenag telah melatih 140 ribu guru madrasah. Direktur Pendidikan Madrasah Nur Kholis Setiawan mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan sebanyak 50 judul buku Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menjadi tanggung jawabnya dan sudah sampai di tangah guru dan murid untuk kelas kelas 1 dan 4 MI, kelas 7 Mts dan kelas 10 MA.

Muhammadiyah Asli

“Bahkan penyusunan rapor pun sudah kita tayangkan di web. Ini yang saya katakan lebih siap.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan, IMNU, Budaya Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Menjalankan Ibadah, Tanda Syukur Nikmat

Brebes, Muhammadiyah Asli. Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang  Nahdlatul Ulama Kabupaten Brebes Syeh Sholeh Basalamah mengatakan, Allah SWT telah memberi kenikmatan yang sangat banyak sehingga kita tidak sanggup menghitungnya.

“Namun kita tidak pandai bersyukur, akibatnya ketika ditimpa pilek saja yang cuma dua hari langsung memaki-maki yang Maha Kuasa,” katanya pada pengajian Kitab Mafahim dan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Desa Ketanggungan, Brebes, Ahad Pahing (18/5).

Menjalankan Ibadah, Tanda Syukur Nikmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjalankan Ibadah, Tanda Syukur Nikmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjalankan Ibadah, Tanda Syukur Nikmat

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, Brebes ini, terlalu banyak nikmat yang kita dapat dari Sang Kuasa, tetapi kadang kita lalai dan tidak sedikit yang berpaling.

Muhammadiyah Asli

Padahal, ia menambahkan, kalau kita pandai bersyukur, kenikmatan akan makin bertambah-tambah dan akan terangkat derajatnya menjadi mulia.

Mensyukuri nikmat, ditandai dengan selalu menjalankan ibadah. Kemampuan yang dimiliki didayagunakan semaksimal mungkin dan tidak pantang menyerah. “Kalau kita hanya sekadar beribadah mahdloh (wajib) saja, maka diibaratkan baru menyetor modal dan belum ada untungnya,” kata Syeh Sholeh.

Muhammadiyah Asli

Ia mengajak warga NU untuk istiqomah beribadah. Kalau tidak, maka akan sangat merugikan aqidah dari generasi ke generasi.

Ajak gemar jariyah

Sementara Ketua Tanfidziyah PCNU Brebes H Athoillah pada kesempatan tersebut memaparkan program program NU yang sangat membantu pemerintah dan umat Islam. Langkah-langkah NU berusaha untuk memberikan jalan terbaik untuk warganya. Jalan baik tersebut adalah menuju ke surga.

Atho juga mengajak kepada para Nahdliyin gemar berjariyah. Apalagi NU Brebes akan mendirikan Perguruan Tinggi yang tentunya sangat membutuhkan dana besar. Potensi umat sangat luar biasa bila didayagunakan dan telah terbukti.

“NU memiliki gedung, pengajiannya lancar dan bangunan tempat ibadahnya bagus-bagus karena atas gotong royong dari jariyah umat,” tandas Atho.

Wakil Bupati Brebes, Narjo, sangat bangga dengan semangat Nahdliyin dalam menyelenggarakan pengajian. Termasuk untuk mengunjungi pengajian juga dengan dana sendiri tanpa disuruh-suruh. “Semangat luar biasa ada di dada Nahdliyin dan tidak ada bandingnya,” puji Narjo yang juga Pengurus PC Ansor Brebes.

Pada rutinan Ahad Pahing yang dihadiri para pengurus MWC dan ribuan Nahdliyin Kecamatan Ketanggungan itu, Rais Syuriyah PCNU Brebes KH Aminudin Mashudi juga menyampaikan taushiyah. (wasdiun/abdullah alawi)  

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Hadits, Sejarah, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Sabtu, 07 Oktober 2017

Berdamai dengan Kaum Sawah

Ekstrimisme kaum Salafi Wahabi (Sawah) terhadap kalangan kaum penganut aliran sufi terus berlanjut hingga menjadi persoalan sosial dan disintegrasi yang kronis dalam diri agama Islam. Berbagai tuduhan kafir, pengamal bid’ah, dan bahkan musyrik kepada kaum sufi menjadi duri dalam daging umat Islam. Mau tidak mau kita harus menyikapinya dengan penuh dengan kesabaran, kecerdasan, dan kejernihan hati serta pikiran dalam menghadapi persoalan keyakinan-keagamaan ini. Karena tentu persoalan keagamaan semacam ini memiliki daya keyakinan masing-masing yang saling membentengi dengan dalil-dalil Islam.

Di Indonesia, keberadaan kaum Sawah tak lebih menjadi pseudo-enemies dalam agama Islam. Stigma negatif dan vonis buruk bertubi-tubi dilayangkan secara subyektif oleh salah satu sekte Islam (Sawah) yang merasa paling Qur’ani dan Sunni kepada ajaran tasawuf dan pengamal tarekatnya. Mulai dari label perintis bid’ah, pembela mimpi dan ilham setan, melenceng dari syariat, demen mistis dan wirid-wirid bid’ah, pecinta hadits lemah dan palsu, pemuja wali dan guru, dan macam ragam tuduhan lain yang variatif dan tak bersahabat (Hal. 4).

Berdamai dengan Kaum Sawah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdamai dengan Kaum Sawah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdamai dengan Kaum Sawah

Kehadiran buku Nur Hidayat Muhammad ini bukan dalam rangka memusuhi kalangan kaum Sawah. Namun tak lain mau berdamai dan berdialog via buku secara ilmiah dengan kajian yang mendalam. Nah, uraian buku di atas kiranya memberikan pandangan tersendiri di mata publik. Bisa saja publik menganggap kaum sufi memang benar-benar kafir atau bisa saja mereka beranggapan kaum Sawah yang diktator dan ekstrim sesama lingkup rumpun agama yang sama (Islam).

Muhammadiyah Asli

Setidaknya publik akan memiliki pandangan tersendiri dalam menimbang siapa yang memusuhi dan berkawan di antara dua aliran yang tak sepaham tersebut. Menurut imam al-Nawawi, penulis syarah Shahih Muslim, dalam kitabnya, al-Maqashid menyebutkan bahwa asas dalam tasawuf yaitu; Pertama, bertakwa kepada Allah Swt., baik dalam hati atau lahiriyah. Kedua, mengikuti al-Sunnah, baik dalam perilaku atau ucapan. Ketiga, hatinya tidak terpasung melihat makhluk (dunia). Keempat, ridha kepada Allah Swt., baik sedikit atau banyak. Kelima, kembali kepada Allah Swt., baik saat lapang atau susah (Hal. 12-13).

Lima fondasi kaum sufi yang dinyatakan oleh imam al-Nawawi dalam buku ini cukup mewakili dari struktur keberadaan penganut aliran sufi yang ditodong dengan pisau kafir dan tali musyrik oleh aliran Sawah. Kejernihan dalam berpikir dan keluwesan hati perlu kita kelola seelok mungkin, utamanya dalam menghadapi persoalan aliran dan keyakinan dalam beragama agar tidak mencoreng agama itu sendiri sebagai agama satu-satunya yang diyakini memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi kehidupan umat manusia.

Muhammadiyah Asli

Berbagai doktrin keislaman yang beda aliran hingga beda persepsi dalam memandang suatu fenomena perlu diselesaikan melalui pendekatan khusus tanpa ekstrimisme dan tuduhan yang mencoreng agama. Karena secara tidak langsung hal tersebut akan membangun pandangan negatif dan stereotip publik. Dengan serta merta publik akan menyatakan bahwa Islam adalah agama konflik. Dan itu secara lambat laun akan mengubah ruh agama Islam dari eksistensinya di ranah global (lih. stereotip oleh A. Dardiri Zubairi, 2013:110-113).

Perseteruan antara aliran Salafi Wahabi dan kaum Sufi serta termasuk Ahlussunnah wal Jama’ah masih belum ada jalan terang yang bisa menerangi. Namun melalui jawaban sederhana yang mengena pada objek hukum syariat Islam oleh Nur Muhammad Hidayat ini akan memberikan sedikit cahaya terang benderang di antara dua aliran yang kontroversial tersebut. Secara jelas, pelurusan dengan cara yang fleksibel dan tegas mengenai hukum-hukum Islam kaitannya dengan adat istiadat di negeri ini juga harus menjadi pertimbangan yang tidak boleh dilupakan sebagaimana khittah Islam yang ajarannya selalu sesuai dengan situasi dan kondisi apapun.

Penyelesaian konflik kaum Sufi vs kaum Sawah harus berjalan dengan sikap moderat, fleksibel, kritis dan lembut dalam menyampaikan sebuah tanggapan. Serta dengan cara yang berdasar pada ranah damai berdasar pad timbangan hukum dan syari’at Islam. Misalkan dalam hal algorisme mengenai kaum Sufi dan hadits dhaif serta hadits palsu. Yang sangat mengesankan yaitu tuduhan Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya dengan judul “Tasawuf Besitan Iblis” yang menuduh kaum sufi menolak hadits shahih (Hal. 21-24).

Penegasian dalam menyelesaikan suatu problem bukan jalan utama. Karena dibalik itu akan bermunculan tanggapan saling todong dan bunuh hingga akhirnya kedua belah pihak (Sufi dan Sawah) akan sama-sama mengalami keruntuhannya. Bahkan bisa saja meruntuhkan peradaban kayakinan serta agama yang dibanggakannya. Maka dari itu, sebuah afiliasi dalam menyelesaikan problem yang membelit kaum Sufi dan Sawah perlu digiring ke ranah yang lebih damai dan mendamaikan. Sebagai aliran yang mendapat pandangan tersendiri dari publik, maka perlu memikirkan hal tersebut.

Dari segala variasi tuduhan dan ekstrimisme kaum Sawah terhadap kaum Sufi dalam buku ini dicoba untuk diluweskan melalui pendakatan hukum syariat Islam. Elaborasi dalam dua aliran tersebut perlu menjadi hal yang sangat urgen dalam menimbang dan memutuskan suatu pendapat guna menjaga eksistensi dan reputasi agama Islam. Karena tak dapat disangkal kedua aliran tersebut berada dalam jalur mengikuti pantulan cahaya agama yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. Sehingga tak layak kiranya dalam jalur yang sama terjadi ekstrimisme dan tuduhan negatif terhadap aliran tertentu tanpa memandang ke depan melalui argumen yang valid dan mencerahkan ummat.

Judul: Tarekat dalam Timbangan Syariat – Jawaban atas Salafi Wahabi

Penulis : Nur Hidayat Muhammad

Penerbit: Muara Progresif

Cetakan: I, Mei 2013

Tebal: x + 175 hlm. 14,5 x 21 cm

ISBN: 978-602-17206-5-3

Peresensi: Junaidi Khab, santri Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan, Ulama Muhammadiyah Asli

Minggu, 01 Oktober 2017

Peringati Harlah NU, Ansor Jombang Ziarahi Makam Para Wali

Jombang, Muhammadiyah Asli - Spirit untuk mempertahankan nilai-nilai keagamaan menjadi salah satu visi dan misi Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang, Jawa Timur. Bertepatan dengan momentum hari lahir (harlah) Nahdlatul Ulama (NU), mereka? berziarah ke sejumlah makam para wali di Indonesia.

Ketua PC GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto menyatakan, saat ini pihaknya menargetkan lima makam wali sebagai objek wisata religi tersebut, dan untuk start pemberangkatannya di area makam KH Wahab Hasbullah (Mbah Wahab), Tambakberas, Jombang.

Peringati Harlah NU, Ansor Jombang Ziarahi Makam Para Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah NU, Ansor Jombang Ziarahi Makam Para Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah NU, Ansor Jombang Ziarahi Makam Para Wali

“Pertama ke makam Sunan Bonang, Sunan Derajat, Asmoro Gondi, makam Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel. Terus kalau pulang diusahakan ke makam Gus Dur dan KH Hasyim Asy’ari,” katanya kepada Muhammadiyah Asli di makam Mbah Wahab, Ahad (31/1).

Muhammadiyah Asli

Tidak hanya pengurus Ansor, puluhan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jombang juga ikut andil menyukseskan kegiatan tersebut. Kurang lebih dari 150 personal dari jumlah keseluruhan mengikuti acara ini. “Dua bus kita berangkatkan sekitar 150an,” ujarnya.

Muhammadiyah Asli

Belakangan ini, terdapat beberapa kelompok yang hendak mengintervensi ajaran dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah yang selama ini menjadi pegangan erat warga NU. “Karena selama ini ada banyak kelompok-kelompok yang mencoba mempengaruhi kita sebagai warga nahdliyin, dengan demikian kita terus merevitalisasi nilai dan kegiatan keagamaan salah satunya dengan ziarah makam para wali ini,” ungkapnya.

Dengan mempertahankan dan melestarikan tradisi kultural NU ini, lanjut Gus Antok, sapaan akrabnya dapat memperkokoh ideologi warga nahdliyin sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh paham-paham yang menyimpang dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, termasuk penyebaran ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Jombang. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian Islam, Pertandingan Muhammadiyah Asli

Selasa, 22 Agustus 2017

KH Muchit: Konflik PKB Karena Politik Kekuasaan

Surabaya, Muhammadiyah Asli. Deklarator PKB KH Muchit Muzadi menilai konflik di PKB merupakan akibat kader-kader PKB mengedepankan politik kekuasaan untuk pribadi dan bukan politik kenegaraan untuk kesejahteraan rakyat.

"Saya tidak akan memberi nasehat apa-apa, tapi saya akan berdoa saja agar mereka kembali kepada politik kenegaraan dan bukan politik kekuasaan yang membuat mereka berkonflik seperti selama ini," ujarnya dalam acara "Temu Kangen" memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-84 NU pada 16 Rajab 1428 (31 Juli) di kantor sekretariat PWNU Jatim, Surabaya, Senin.

Menurut Mustasyar (penasehat) PBNU itu, kader-kader PKB hendaknya kembali kepada hati nurani dan meneladani para ulama NU yang melahirkannya.

KH Muchit: Konflik PKB Karena Politik Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Muchit: Konflik PKB Karena Politik Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Muchit: Konflik PKB Karena Politik Kekuasaan

"Saya nggak ingin memberi nasehat, karena mereka bisa marah, saya akan berusaha memberikan teladan dan berdoa," ucap kakak dari Ketua Umum PBNU KHA Hasyim Muzadi itu.

Ia menambahkan NU secara institusi tidak boleh dibawa-bawa dalam politik praktis, karena NU merupakan organisasi independen, bebas, mandiri, dan tak menjadi bagian dari organisasi lain.

Muhammadiyah Asli

"Karena itu, Ali Maschan boleh-boleh saja mencalonkan diri dalam pilgub (pemilihan gubernur) Jatim, asalkan dia tidak pakai bendera NU, melainkan atas nama Ali Maschan secara individu," tuturnya.

Harlah ke-84 NU di Jatim akan dimarakkan dengan resepsi Harlah ke-84 NU di Pesantren Darussalam, Bondowoso pada 29 Juli, kemudian tasyakuran dan tumpengan Harlah ke-84 NU di kantor PWNU Jatim pada 30 Juli. (ant/eko)

 

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan Muhammadiyah Asli

Jumat, 04 Agustus 2017

Kiai Said: Seni Bisa Antarkan Pelakunya kepada Allah

Jakarta, Muhammadiyah Asli?



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, kesenian bisa menjadi sarana mengantarkan pelakunya kepada kebenaran, bahkan kepada Allah.?

Kiai Said: Seni Bisa Antarkan Pelakunya kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Seni Bisa Antarkan Pelakunya kepada Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Seni Bisa Antarkan Pelakunya kepada Allah

Kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak itu mendasarkan pernyataannya kepada Syekh Dzunun Al-Mishri yang mengatakan, seni adalah suara kebenaraan yang bisa mengantar kita menuju hakikat, mendongkrak kita menuju Allah.

“Karena seni tak bisa berbohong,” katanya saat membuka pameran tunggal lukisan karya Nabila Dewi Gayatri bertajuk Sang Kekasih di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (8/5). ?

Oleh karena itu, menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta, beberapa ulama besar adalah seniman.?

Muhammadiyah Asli

“Imam Syafi’i sebelum menjadi imam besar adalah seorang penyair. Sayidina Ali sebelum menjadi khalifah adalah seorang penyair,” katanya.?

Kiai Said membuka pameran itu dengan memukul gong sembilan kali. Pembukaan disaksikan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Polisi Tito Karnavian, Ketua PBNU H. Marsudi Syuhud, AIzuddin Abdurrahman, Robikin Emhas, Ketua Umum Pimpinan Pusat PSNU Pagar Nusa M. Nabil Harun, Ketua Umum PP Fatayat NU, dan tamu undangan lain.?

Sang Kekasih memmerkan 50 lukisan wajah kiai-kiai Nusantara dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari hingga KH Said Aqil Siroj. Pameran akan berlangsung hingga 14 Mei. Tiap hari dibuka pukul 09.00 dan tutup 21.00. (Abdullah Alawi)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan, Halaqoh Muhammadiyah Asli

Kamis, 03 Agustus 2017

Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam

Oleh Nadirsyah Hosen

Islam datang menegakkan kembali hukum dan keadilan. Jika pembesar berbuat curang, maka ia harus dihukum. Semua sama di depan hukum. Nabi SAW bersabda: "jikalau seandainya Fatimah putriku mencuri, niscaya aku potong tangannya" (HR Bukhari-Muslim). Rusaknya tatanan hukum, bila hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

Tentu Fatimah az-Zahra tidak pernah mencuri. tapi pengandaian yang Nabi berikan itu menohok semua pihak. Nabi tidak akan melindungi keturunannya sendiri jikalau seandainya keturunan beliau, darah daging beliau, melakukan tindak kriminal.

Bahkan dikisahkan dalam kitab Subul al-Salam, keadilan dan persamaan hukum itu juga berlaku tak pandang bulu. Inilah salah satu kisah yang menggetarkan bagaimana ajaran Islam berdiri kokoh menopang keadilan dan asas persamaan di depan hukum sejak seribu empat ratus tahun yang lalu.

Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam

Suatu hari, Khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya yang jatuh dari untanya. Beliau melihat baju itu di tangan seorang Yahudi. Beliaupun berseru kepada orang Yahudi itu: "Wahai, Fulan. Itu adalah baju besiku yang tempo hari jatuh dari untaku".

Orang Yahudi menjawab: "Ini baju besiku, karena sekarang ada di tanganku," tetapi orang Yahudi itu berkata lagi: "Sudahlah! Permasalahan ini biar diselesaikan oleh hakim saja." Lantas keduanya pergi ke Syuraih yang saat itu menjabat sebagai Qadhi/Hakim. Syuraih sendiri diangkat oleh Khalifah Ali. Tapi apa Syuraih langsung tunduk pada Khalifah dan memenangkannya? Tidak. Syuraih menempuh prosedur hukum acara yang sama.

Muhammadiyah Asli

Syuraih meminta Khalifah Ali mendatangkan dua orang saksi, maka beliau pun kemudian memanggil Qanbara (bekas budak beliau) bersama Hasan (putra beliau). Setelah didatangkan dua saksi, lantas Syuraih berkata: "Untuk saksi Qanbara, kami bisa menerimanya. Tetapi untuk saksi putra anda, kami tidak bisa menerimanya."

Sebagai seorang anak, tentu kecenderungannya adalah membela sang Ayah. Maka kesaksian Sayyidina Hasan tidak bisa diterima oleh Syuraih karena unsur kekerabatan. Saksi harus adil. Ini yang dipegang oleh Syuraih.

Muhammadiyah Asli

Khalifah Ali mencoba berargumen dengan mengatakan bahwa putranya Hasan adalah pemuka penduduk surga, sesuai Hadis dari Nabi yang didengar oleh Umar Bin Khattab. Bagaimana mungkin seorang seperti Sayyidina Hasan ditolak menjadi saksi? Syuraih tetap menolaknya karena bukan masalah surga-neraka yang merupakan urusan akherat, akan tetapi ini ada prosedur hukum yag harus ditempuh dan dikuti semua pihak yang berpekara, termasuk Khalifah sendiri.

Kealiman pribadi, hafal Quran, menyandang predikat keturunan Nabi, semuanya sama di depan hukum dengan seorang Yahudi. Yang menjadi ukuran adalah keadilan dan ketidakberpihakan saksi serta validitas bukti yang disodorkan dalam ruang pengadilan.

Satu saksi tidak bisa diterima, maka kalahlah Khalifah Ali. Karena saksi itu harus dua. Beliau tidak bisa membuktikan baju besi yang berada di tangan Yahudi itu miliknya. Siapa yang menuduh, dia yang harus membuktikan. Khalifah menuduh baju besi di tangan Yahudi milik sang khalifah. Ketika Khalifah gagal membuktikan tuduhannya, maka yahudi pun menang.

Apa Syuraih kemudian dipecat? Tidak. Apa Khalifah Ali menggerakkan aksi massa menuduh Hakim menistakan menantu Nabi dan melecehkan cucu Nabi karena menolak kesaksiannya? Tidak. Apa Khalifah Ali terus kabur ke negara lain? Tidak lah mas bro.

Khalifah Ali menerima keputusan Hakim. Secara substansi beliau benar, namun secara prosedur hukum beliau tidak bisa membuktikannya, sehingga beliau kalah. Dan ini diterima oleh Khalifah.

?Singkat cerita, Yahudi ini terpesona dengan ajaran Islam yang menegakkan keadilan dan persamaan hukum. Yahudi tidak bisa membayangkan bagaimana seorang khalifah yang merupakan menantu Nabi, yang mendatangkan saksi seorang cucu Nabi, malah kalah di pengadilan.

Walhasil Yahudi tersebut masuk islam, dan Khalifah Ali menghadiahkan baju besi miliknya yang sah itu kepada Yahudi. Yahudi yang sudah masuk Islam ini kelak ikut berjuang dan terbunuh di perang Shiffin. Kisah yang menggetarkan ini berakhir dengan indah.

Pesan moral dari Sabda Nabi soal putrinya, dan dari kisah Khalifah Ali sangat jelas: meskipun keluarga Nabi kalau berurusan dengan hukum semua diperlakukan sama dan harus mengikuti prosedur hukum. Datang ke Pengadilan, panggil saksi dan hadirkan bukti, lantas patuhi apapun keputusan Hakim.

Khalifah Ali tidak menantang Yahudi atau Hakim untuk melakukan mubahalah. Sang Khalifah mengajarkan satu hal penting: patuhi hukum. Inilah keindahan ajaran islam.

1. Sabda Nabi Muhammad soal putri beliau diambil dari Sahih Bukhari 4/175:

3475 - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: " ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "

2. Kisah Khalifah Ali, Hakim Syuraih dan Yahudi diambil dari kitab Subul al-Salam, 4/125:

? ? ? ? ? ? ? ? ?: "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: "? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: "? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan, Kiai Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock