Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Melanjutkan Rekonsiliasi Alami

Oleh : Abdul Munim DZ

Dalam menghadapi eks-Tapol PKI ini terdapat dua kelompok, yaitu pertama kelompok yang menghendaki adanya rekonsiliasi politik yang didahului dengan pengadilan HAM. Kelompok ini terdiri dari kelompok pewaris PKI garis keras yang didukung beberapa aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kedua, kelompok yang menolak rekonsiliasi dalam bentuk apapun. Kelompok ini didukung oleh beberapa kelompok Islam garis keras, termasuk kalangan TNI garis keras, sehingga benturan dan ketegangan diantara kedua kelompok itu cukup keras, baik pada di tingkat sosial maupun di panggung media.

Mengatasi ketegangan dua kubu yang bersebarangan itu, NU menawarkan rekonsiliasi alami, yaitu rekonsiliasi yang dijalankan berdasarkan prinsip kemanusian, yang tanpa didahului dengan pengadilan. Ini yang disebut dengan rekonsiliasi alami atau rekonsiliasi kultural. Sebab hal itu telah berlangsung sejak tahun 1965 yakni sejak benturan antara NU dengan PKI selesai, langsung terjadi rekonsiliasi di tingkat masyarakat, sehingga kehidupan di masyarakat bawah kembali normal dan kembali harmoni pascaterjadinya tragedi.

Rekonsiliasi secara alami terjadi antara kelompok NU dan bekas PKI dan keluarganya terjadi justru sejak pemberontakan tahun 1965 itu usai. Di Bojonegoro Desa Kunci Dander, misalnya, ada seorang tokoh PKI bernama Karso Lamin punya anak bernama Giyono yang selama ini selamat dari pembantaian karena sekolah SMP di Kota Bojonegoro. Begitu pulang ke desa segera disergap oleh Pemuda Marhaen, dan berusaha membunuhnya, karena Gino anak tokoh PKI, tetapi niat itu dihalang-halangi oleh Pemuda Ansor. Maka diadakan debat di kantor kelurahan antara Pemuda Marhaen dengan Gerakan Pemuda Ansor. Perdebatan itu dimenangkan oleh Ansor, maka sejak itu Giyono serta adiknya Wagiman dilindungi oleh kiai NU dan mulai belajar mengaji di langgar. Selama belajar ngaji Giyono dilindungi, dijemput saat berangkat menjelang maghrib agar tidak diganggu atau dibunuh oleh siapapun, sebab pemuda ini anak seorang tokoh PKI yang diincar Pemuda Marhaen. Begitu pula setelah selesai mengaji malam hari diantar pulang ke rumah, dan rumah itu juga terus diawasi dari jauh agar tidak ada yang menggerebek, termasuk dari TNI. Akhirnya Gino selamat dan menjadi keluarga yang saleh, bahkan kemudian Gino masuk TNI AL. Kemudian adiknya yang lebih kecil Wagiman juga diselamatkan dari serangan massa dan sekarang menjadi polisi di Bogor. Mereka itu semua menjadi Muslim yang taat hingga saat ini.

Melanjutkan Rekonsiliasi Alami (Sumber Gambar : Nu Online)
Melanjutkan Rekonsiliasi Alami (Sumber Gambar : Nu Online)

Melanjutkan Rekonsiliasi Alami

Contoh lain terjadi di Desa Trisulo, Kecamatan Ploso Klaten, Kabupaten Kediri. Di desa ini, 100 persen penduduknya adalah PKI. Pasca peristiwa 65, hampir tidak ada orang yang berani datang ke desa ini. Selama 31 tahun pasca peristiwa 65, di desa tersebut tidak ada ormas. Karena kedekatan kultural dengan NU. ketika ada kematian maka yang membacakan tahlil mendoakan adalah orang-orang NU yang ada di sekitarnya. Demikian juga saat pernikahan, melahirkan anak dan sebagainya. Dengan cara ini, perlahan trauma sejarah warga desa tersebut bisa diobati. Sehingga pada tahun 1997 organisasi yang pertama kali berdiri di desa tersebut adalah NU dan Ansor.

Rekonsiliasi NU-PKI juga dilakukan oleh KH Abd. Rochim Sidik yang pernah menjadi Ketua NU dan MUI Blitar. Beliau dengan beberapa kiai NU lainnya mempelopori gerakan mengasuh anak-anak yatim yang bapaknya menjadi korban PKI 65. Melalui gerakan ini ratusan anak yatim PKI disekolahkan, dimasukkan ke pesantren dan dididik oleh para kiai dan warga. Dengan cara ini banyak anak-anak PKI yang sukses menjadi pegawai negeri, pengusaha, politisi dan sebagainya. Atas perlindungan para kiai ini anak-anak PKI bisa lolos dari tekanan Orde Baru yang sangat ketat dengan sistem litsusnya.

Muhammadiyah Asli

Bukti lain yang mencerminkan terjadinya rekonsiliasi sosial antara kiai dan warga NU dengan massa PKI terjadi di Pekalongan. Setelah peristiwa G-30-S/PKI itu para kiai di Pekalongan banyak mendirikan mushola di pintu-pintu masuk kampung/desa yang ada di sepanjang jalan Pekalongan-Banjarnegara yang menjadi basis PKI. Salah seorang yang melakukan tindakan tersebut adalah KH Anwar Amin (Ayah dari bapak Ashif Qalbihi, Bupati Pekalongan 2016-2021). Hal ini dilakukan dengan tujuan utama yaitu menjadi tempat ibadah kaum Muslim yang ada di desa tersebut dan sekaligus untuk melindungi orang-orang PKI yang ada di desa tersebut dari gerakan pembersihan yang dilakukan oleh aparat Orde Baru. Dengan adanya mushalla di desa tersebut, maka akan menghapus image sebagai desa yang menjadi basis PKI. Selain itu, dengan adanya mushalla-mushalla tersebut, warga masyarakat yang ikut dalam PKI juga bias menyembunyikan identitas mereka dengan menjadi muslim yang baik.

Selain mendirikan mushola di pintu masuk desa, beberapa kiai di Pekalongan juga melindungi orang-orang PKI di desa-desa dari ancaman massa. Selain itu dengan cara mengangkat mereka menjadi pegawai di koperasi NU atau lembaga lainnya. Seperti yang dilaikukan oleh KH Anwar Amin yang mengangkat salah seorang PKI menjadi juru tulis koperasi NU karena orang tersebut pandai mengetik. Selain itu, para kiai juga memberikan kesempatan pada anak-anak PKI untuk belajar di pesantren. Dengan kata lain pada saat itu para kiai NU membuka peluang seluas-luasnya kepada massa PKI untuk masuk dan berlindung ke dalam NU.

Muhammadiyah Asli

Ada dua alasan utama yang mendorong para kiai NU di Pekalongan ini bersikap melindungi rakyat yang menjadi simpatisan PKI. Pertama, karena para kiai melihat bahwa banyak rakyat yang tidak tahu apa-apa tentang PKI. Mereka masuk menjadi anggota PKI hanya karena ikut-ikutan. Terhadap orang-orang yang seperti ini, maka tidak layak mereka dipersekusi bahkan perlu dilindungi. Kedua, para kiai sadar bahwa konflik harus segera diakhiri karena hal itu akan merugikan semua pihak. Oleh karena itu para kiai segera memutus mata rantai konflik tersebut dengan secepat mungkin melakukan rekonsiliasi.

Sejak awal NU melakukan rekonsiliasi alami, karena di NU tidak mengenal adanya dosa warisan apalagi dosa lingkungan. Karena itu NU mengajak bangsa ini agar menerima mereka kembali ke masyarakat dan disantuni agar mereka tidak kembali ke habitanya sendiri yaitu PKI. Dengan adanya hukuman yang telah ditimpakan pada PKI baik dengan Mahmilub dan pembuangan serta pengasingan, dan setelah selesai masa hukumannya mereka dibebaskan, maka bagi NU persoalan 1965 telah selesai. Tidak boleh dibongkar lagi atas nama apapun, karena hal itu akan mengganggu kerukunan nasional. Termasuk menggangu ketenteraman warga eks-PKI yang telah memperoleh rehabilitasi dan perlindungan selama ini.

Rekonsiliasi politik yang didahului dengan pengadilan serta pembongkran kuburan harus ditolak, sebab cara yang ditawarkan lembaga internasional itu bermaksud menyalahkan pemerintah dan NU serta ormas Islam. Hal itu kalau diteruskan akan mengundang pertikaian. Oleh karena itu NU menolak cara itu. Sebaliknya sepakat untuk melanjutkan rekonsiliasi alami yang telah dirintis sejak tahun 1966 yang lalu, yang telah berhasil melakukan pemulihan mental, menciptakan kerukunan dan membangun persatuan yang memuaskan semua pihak, tanpa gejolak. Tradisi itu telah berjalan dengan baik dan lancar selama 50 tahun lebih, walau tanpa publikasi dan tanpa ada dana dari lembaga internasional, masyarakat telah memiliki mekanisme sendiri dalam melakukan rekonsiliasi, baik dalam menentukan cara mapun dalam memenuhi kebutuhan dana.

Sejak awal aktivis NU menyikapi PKI tidak secara gebyah uyah, karena ada beberapa katagori PKI. Ada kelompok PKI yang agresif dan mengancam, menculik dan membantai. Di beberapa tempat ada PKI yang hanya ikut-ikutan dan tidak melakukan kekerasan, terhadap mereka ini NU dan umat Islam tidak melakukan gangguan, bahkan selama masa pemberantasan PKI, mereka itu dilindungi. Dibuatkan masjid atau langgar serta dibimbing melaksanakan kegiatan sosial dan keagamaan. Bahkan kalau ada massa rakyat hendak menyerang mereka, pihak NU melindungi, sehingga mereka aman dalam lindungan NU, mereka itu kemudian kembali bermasyarakat sebagai warga biasa.

Selain itu banyak orang yang dulu tersangkut gerakan PKI tetapi setelah selesai masa hukumannya kembali menjadi manusia yang sangat soleh dan sangat peduli pada lingkungan, ringan menolong orang lain dengan berbagai program sosial dan kemanusiaan. Apalagi kalau selama ini mereka masuk PKI hanya ikut-ikutan tidak tahu apa itu PKI karena mereka dijebak, ditipu dan sebagainya. Mereka disantuni, diterima dengan baik kembali ke masyarakat, justru mereka itu sangat menyesali ketidaktahuannya sehingga mudah terseret dalam arus PKI yang menjanjikan berbagai kekayaan dan fasilitas, tetapi janji itu tidak pernah dipenuhi, karena cara memenuhinya dengan cara merampas dan merampok milik orang lain, akhirnya bukan kekayaan yang didapat, tetapi malah malapetaka yang didapat. Itu yang dikesankan sementara eks-Tapol. Mereka merasa bersalah dan merasa beruntung kesalahan mereka dimaafkan oleh masyarakat, bahkan mau menerima mereka, tanpa ada hukuman sosial, tanpa ada diskriminasi atau dianggap warga tiri di masyarakatnya. Untuk melindungi dan menyantuni mereka itu para ulama dan masyarakat Islam mengeluarkan tenaga, mengeluarkan dana sehingga mereka hidup tenteram dan sejahtera.

Sayangnya langkah itu dianggap sepi oleh kalangan aktivis HAM, dan pejuang demokrasi, justru mengekspos dan mengeksploitasi berbagai penderitaan eks-Tapol sebagai komoditi politik yang dijual ke luar negeri. Karena itu mereka melakukan kerjasama dengan komunitas hak asasi manusia internasional, mereka hendak menjalankan rekonsiliasi dengan caranya sendiri yang meminjam cara bangsa lain yang kebetulan tidak pas, sebiuah rekonsiliasi politik yang dihahului dengan pengadilan. Pelaku kejahatan diadili dulu dinyatakan bersalah lalu minta maaf dan direhabilisitasi serta diberi kompenasi baru saling memaafkan. Itu cara berpikir dan argumen mereka. Bangsa Indoenesia menolak rekonsliasi politik, sebab kasusnya berbeda di sini tidak ada tindakan sepihak baik yang dilakukan TNI maupun Banser NU. Mereka menyerang PKI karena PKI meneyerang mereka sehingga terjadi perang saudara. Dalam perang saudara tidak dikenal siapa pelaku dan siapa korban, karena keduanya menjadi pelaku dan keduanya menjadi korban. Kalau ini diadili maka harus menghadirkan saksi dari masing-masing korban.

Apalagi PKI adalah kelompok yang dalam menyerang NU dan TNI adalah dalam upaya menghancurkan ideologi dan bentuk negara, maka mereka tidak memiliki hak politik untuk membela diri dalam pengadilan. Selain itu pengadilan seperti ini juga akan memakan waktu dan akan semakin menambah ketegangan dan pertengkaran, justru dikhawatirkan apa yang sudah diperoleh PKI selama ini akan hilang kembali, ketika pengadilan menemukan kesalahan PKI. Karena itu, NU menolak rekonsiliasi cara itu, dan tetap mendrong untuk menjalankan rekonsiliasi alami sebagaimana yang telah terjadi. Memang rekonsiliasi seperti itu tidak mendatangkan simpati internasional, dan dengan sendirinya tidak akan mendatangkan dana internasional, sebab semuanya telah terjadi secara otentik, jauh dari formalitas, jauh dari publisitas, sehingga dunia internasional juga tidak memberikan bintang penghargaan dalam bentuk apapun, karena dalam rekonsiliasi ini tidak ada koordinator dan tidak ada tokoh dan tidak juga butuh juru bicara.

Oleh karena itu, menurut NU sumber malapataka dan kontroversi ini adalah pernyataan Komnasham 2012, yang menyebut bahwa langkah yang ditempuh pemerintah dan ormas dalam menyelematkan ideologi negara Pancasila pada tahun 1965 itu disebut sebagai pelanggaran HAM berat yang pelakunya baik militer dan para militer harus diadili. Istilah semena-mena yang digunakan Komnasham yakni pelanggaran Ham berat peristiwa 1965 itu harus dihapus. Kalau pernyataan itu tidak dicabut maka negara akan terus didesak dan diganggu untuk melaksanakan desakan Komnasham yang jelas-jelas melakukan kesalahan itu. Lagi pula bangsa ini sedang melakukan reintegrasi sosial, yang membutuhkan kekompakan. Kalau masih terus direcoki oleh urusan-urusan ribet yang penuh kontroversi seperti itu, negara dan masyarakat tidak bisa bekerja dan berjalan dengan baik, karena harus mengurusi hal-hal yang seharusnya tidak menjadi urusan. Bangsa ini harus mengurus dan menjalankan agenda yang lebih strategis dan lebih bermanfaat.

 

Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Sumber: Abdul Munim, Dz., Menghadapi Manuver Neo-Komunis, Yayasan Prakarsa Kemandirian dan Ketahanan Bangsa, hal. 103

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional, Budaya Muhammadiyah Asli

Kamis, 22 Februari 2018

Pemikiran KH Ali Yafie Dikaji di UIN Yogyakarta

Yogyakarta, Muhammadiyah Asli. A’wan PWNU DIY Fathurrahman Ghufran sukses raih gelar Doktor dalam bidang Hukum Islam. Gelar akademik itu diraihnya setelah mempertahankan ujian terbuka disertasinya tentang Fiqh Sosial KH Ali Yafie di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Kamis (5/2) siang.?

“Dinamika sosial yang direspon KH Ali Yafie melalui gagasan fikih sosialnya ialah spektrum pembangunan yang melandasi berbagai kebijakan dan program pemerintah,“ tututnya saat mempertahankan .

Pemikiran KH Ali Yafie Dikaji di UIN Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemikiran KH Ali Yafie Dikaji di UIN Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemikiran KH Ali Yafie Dikaji di UIN Yogyakarta

Dosen tetap Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga ini menambahkan, dalam paradigma berkelanjutan dinyatakan bahwa pembangunan adalah proses perjalinan hubungan antara manusia masa kini dan masa yang akan datang untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan bersama (mashlahah al-‘ammah).

Muhammadiyah Asli

“Dalam kaitan ini, KH Ali Yafie membangun cara berpikir keagamaan yang dirumuskan ke dalam fiqh sosial yang akomodatif terhadap kebijakan pembangunan yang sudah ditegaskan dalam UUD 1945 dan pancasila,” tutur pria kelahiran Madura ini.

Menurut peraih doktor tercepat di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga ini, melalui gagasannya, KH Ali Yafie ingin membangun mekanisme dan strategi baru dalam mengartikulasikan pemikiran hukum Islam ke dalam lingkup sosial.

Muhammadiyah Asli

“Agar setiap kebijakan yang ingin dirumuskan dan dijalankan oleh pemerintah tidak lepas dari semangat religiusitas dan kemanusiaan,” terangnya.

Tim penguji sidang terbuka ini antara lain Dr Malik Madani MA dan Prof Noorhaidi Hasan. Setelah ? melewati pertanyaan yang diajukan dalam sidang yang diketuai Prof Khoerudian Nasution, Fathurrahman pun meraih hasil “sangat memuaskan”. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya, Meme Islam, Berita Muhammadiyah Asli

Sabtu, 17 Februari 2018

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian

Pamekasan. Muhammadiyah Asli - Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Pamekasan AKBP Nowo Hadi Nugroho berkunjung ke kantor PCNU setempat di Jalan R Abdul Aziz, Selasa (22/11). Kehadirannya disambut langsung oleh Ketua PCNU KH Taufiq Hasyim beserta pengurus teras PCNU.

"Kami berkunjung ke PCNU Pamekasan guna menguatkan tali silaturahmi. Alhamdulillah kehadiran kami disambut dengan hangat dan penuh keakraban," terang Kapolres AKBP Nowo.

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian

Menurutnya, NU merupakan organisasi terbesar di dunia yang menjunjung tinggi nilai keagamaan dan kebangsaan. Kesetiaannya pada NKRI tidak diragukan lagi.

"Selain bermaksud silaturahmi, kami juga sepakat untuk menjalin kesepakatan atau kerja sama secara kelembagaan," terang AKBP Nowo.

Muhammadiyah Asli

Kiai Taufiq Hasyim membenarkan bahwa pertemuan kedua pihak menghasilkan beberapa kesepakatan. Salah satunya, berupa kerja sama tentang penyikapan atas hate speech atau ujaran kebencian.

Muhammadiyah Asli

"Insya Allah, Kamis lusa (24/11) pukul 09:00 WIB kami akan menandatangani kerja sama ini di Mapolres tentang hate speech," tetang Kiai Taufiq. (Khairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli News, Budaya Muhammadiyah Asli

Jumat, 16 Februari 2018

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Dalam rangka memuaskan pasangan antara suami istri, Islam membebaskan trik dan gaya bercinta antara keduanya selama tidak bertentangan dengan aturan syariat. Termasuk pula dalam melakukannya dengan gaya oral seks. Hal ini tidak termasuk larangan dalam agama.

Baca: Hukum Oral Seks di Bagian Kewanitaan

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Orang yang melakukan oral, sebagian dari mereka, sudah banyak yang dalam kondisi ereksi atau tegang sehingga tidak jarang para pasangan suami-istri ini sudah mengeluarkan pelumas berupa cairan bening atau biasa disebut dengan istilah madzi.

Jika ditelisik lebih dalam, selain air kencing, ada tiga jenis air yang keluar dari kemaluan manusia. Pertama, air sperma (mani). Sperma bisa diidentifikasi dari salah satu beberapa cirinya, yaitu keluar dengan memancar dan tersendat, ada bau yang khas seperti adonan roti/kue, terasa nikmat saat air itu keluar.

Muhammadiyah Asli

Kedua, air wadi, yaitu air keruh, kental yang biasa keluar setelah orang mengeluarkan air kencing mungkin disebabkan faktor capai atau hal lain.

Muhammadiyah Asli

Ketiga, air madzi, yaitu air bening yang keluar dari kemaluan, baik dari seorang pria maupun wanita yang biasanya disebabkan karena faktor syahwat. Baik disebabkan karena membayangkan, melihat atau sedang pemanasan (foreplay).

Di antara semua air yang keluar tersebut hukumnya najis kecuali sperma. Seseorang yang mengeluarkan sperma, wajib mandi. Sedangkan wadi dan madzi hanya mewajibkan wudhu, tidak harus mandi, serta harus dibersihkan sebagaimana membersihkan najis seperti biasanya.

Bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan intim, tentu sangat kesulitan jika harus menghindari madzi ini. Karena madzi memang diciptakan Allah untuk melengkapi kegiatan jima yang dilegalkan dalam syara bagi pasangan yang sah. Ia menjadi pelumas untuk sebuah lancarnya hubungan senggama.

Padahal apabila kita melihat fiqih dasarnya, ada sebuah aturan bahwa seseorang tidak diperkenankan mengotori tubuh dengan najis tanpa ada alasan yang jelas, apalagi memasukkan najis tersebut ke dalam tubuh, tentu tidak diperbolehkan.

Madzi merupakan cairan najis. Ia berlaku hukum yang sama. Artinya tidak boleh sampai masuk ke dalam tubuh, termasuk masuk ke kelamin seorang istri. Tetapi karena hal ini sangat sulit dihindari, maka syara memberikan toleransi sehingga madzi bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan suami-istri hukumnya dimafu (diampuni).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tempat sucinya sperma itu jika memang kepala batang dzakar dan farji yang keluar murni berupa mani yang suci. Jika tidak murni suci, hukumnya (mani itu) najis dan haram bersenggama dengan kondisi seperti demikian sebagaimana orang orang istinja dengan batu ketika air sperma keluar dari situ. Karena hal itu menjadikan najis. Iya, diampuni dari orang yang kesulitan menghindari hal tersebut dengan nisbat untuk jima,” (Lihat Ianatuth Thalibin, juz I, halaman 85).

Hukum mafu hanya mempunyai arti diampuni, tidak mengubah status najis menjadi suci. Maksudnya najis tetap najis, tidak bisa berubah menjadi suci. Madzi itu najis. Selamanya, hukum madzi tetap najis. Tidak bakal berubah menjadi suci. Hanya saja, bagi suami istri yang sedang bercinta, cairan ini diampuni. Sedangkan madzi jika dalam kondisi selain jima, hukumnya tetap najis.

Contoh, darah nyamuk yang sedikit itu hukumnya najis, tetapi dimafu jika terkena tubuh atau pakaian. Ini dinisbatkan untuk shalat. Jadi orang yang tangannya terkena darah nyamuk, boleh langsung melaksanakan shalat tanpa harus membersihkan darah tersebut karena dimafu.

Diampuninya darah pada tangan untuk shalat ini tidak berlaku apabila tangan yang terkena darah nyamuk kemudian dicelupkan ke dalam air satu gelas untuk kemudian diminum. Jika dicelupkan ke dalam air segelas, semua air dalam gelas menjadi najis. Ia dimafu untuk shalat namun tidak dimafu untuk diminum.

Kembali tentang pembahasan madzi. Madzi merupakan kebutuhan wajib bagi pasangan senggama dan sangat sulit menghindarinya. Oleh karena itu hukumnya dimafu. Tetapi dimafunya ini tidak berlaku jika madzi masuk mulut bagi orang yang melakukan oral seks. Karena mulut itu bukan tujuan utama orang bercinta yang madzi tidak diciptakan untuk menjadi pelumas mulut, namun pelumas vagina.

Di sinilah alasan sebagian ulama yang tidak memperbolehkan oral seks itu karena hampir pasti akan ada pelumas yang masuk ke mulut. Ini tidak boleh.

Adapun ulama yang memperbolehkan oral seks, mereka tidak melihat dari sudut pandang najis tidaknya madzi. Mereka lebih melihat pada hukum dasar bahwa hal tersebut diperbolehkan tanpa memandang hukum madzi. Mungkin saja ada orang yang hubungan senggamanya kering sehingga ia tidak punya madzi. Jadi tidak mempunyai alasan untuk melarang hubungan oral seks.

Kesimpulannya, pertama, madzi atau air lubricant yang diproduksi tubuh hukumnya najis tetapi dimafu jika masuk ke vagina istrinya karena hal ini sangat susah untuk dihindari.

Kedua, oral seks diperbolehkan namun tidak boleh mengabaikan hukum bahwa madzi atau cairan yang masuk ke mulut hukumnya adalah najis. Ia dimafu jika masuk ke liang vagina saja. Jika masuk ke mulut, itu bukan keadaan yang sulit dihindari, maka hukumnya tetap najis tidak dimafu.

Ketiga, pasangan yang ingin melakukan hubungan oral seks bisa memakai kondom yang suci supaya yang masuk ke mulut adalah benda suci. Jika tidak memakai kondom, apabila ada najis yang masuk ke mulut, harus segera dikeluarkan kembali, tidak boleh ditelan. Setelah itu mulutnya harus disucikan secepatnya dengan mekanisme pembersihan najis sebagaimana pada umumnya yaitu dengan berkumur dan lain sebagainya. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya, Pertandingan, Nasional Muhammadiyah Asli

Jumat, 26 Januari 2018

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Wewenang Kementerian Agama sebagai regulator sekaligus operator penyelenggaran haji seperti diatur dalam Undang-Undang nomor 13 tahun 2008, perlu dibatasi. Rangkap tugas semacam ini tidak relevan di era tata kelola pemerintahan yang kini dituntut profesional, akuntabel, dan transparan kepada publik.

“Monopoli kewenangan dan kebijakan yang begitu besar terhadap sebuah institusi rentan disalahgunakan dan dapat menyuburkan praktik korupsi,” kata Ketua Umum Komnas Haji Mustolih Siradj kepada Muhammadiyah Asli per telepon, Selasa (27/5) siang.

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji

Menurutnya, tugas Kemenag saat ini sangat banyak meliputi penerimaan dana setoran calon jamaah, penyediaan transportasi baik darat maupun udara, pengadaan akomodasi, pemondokan, konsumsi, pembinaan, pengelolaan Dana Abadi Umat, sekaligus regulator.

Muhammadiyah Asli

“Terlalu besarnya beban kerja, penyelenggaran haji selama ini dikeluhkan masyarakat karena masih jauh dari transparansi dan profesionalitas utamanya terkait dana calon jamaah yang ? saat ini sudah mencapai Rp 64 triliun,” jelas Mustolih.

Sebagai jalan keluar karut-marut ini, Kemenag di masa mendatang harus diposisikan sebagai regulator dan pengawas saja. Aparatur pemerintahan jangan lagi menjalankan peran-peran operator. Solusi jangka panjangnya, perlu dibentuk badan khusus yang bertugas menyelenggarakan haji.

Muhammadiyah Asli

Menurut Mustolih, pembatasan fungsi hal ini sangat mungkin untuk dilakukan. ? Ia menunjuk pada kasus pengelolaan zakat dan wakaf. Dulu Kemenag juga mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) dari masyarakat.

Kemudian kewenangan itu dipangkas dengan lahirnya UU nomor 38 tahun 1999 ? yang digantikan oleh UU nomor 23 tahun 2011 terkait pengelolaan zakat. Urusan zakat selanjutnya diserahkan kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Begitu pula dengan kasus wakaf. Setelah lahir UU nomor 41 tahun 2004 pengelolaan wakaf dilimpahkan kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Kedua lembaga ini berada di bawah Presiden. Progres kedua lembaga itu terbilang baik dibanding ketika masih dijalankan Kemenag. “Semestinya pelimpahan wewenang ini bisa dilakukan untuk urusan haji dan umroh,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini.

Tapi gagasan seperti ini, lanjut Mustolih, tentu saja akan ditolak Kemenag. Karena, upaya seperti akan memangkas kewenangan dan hilangnya proyek triliun rupiah yang sudah berjalan bertahun-tahun.

“Saat ini Kemenag ngotot menggolkan RUU Pengelolaan Keuangan Haji agar bisa lebih leluasa menggunakan dana setoran calon jamaah. Tapi ironisnya, RUU itu tidak menyinggung sama sekali hak-hak calon jamaah haji,” pungkas Mustolih. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya Muhammadiyah Asli

Minggu, 21 Januari 2018

Kader Ansor Harus Peka dan Profesional

Demak, Muhammadiyah Asli. Kader muda NU yang tergabung Ansor diharapkan peka terhadap kebutuhan masyarakat di masa mendatang serta mampu menata organisasi secara profesional baik manajemen maupun pengelolaan kelembagaan secara keseluruhan.

Kader Ansor Harus Peka dan Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Harus Peka dan Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Harus Peka dan Profesional

“Ansor itu harus peka kebutuhan umat, di sisi lain harus professional dan mulai menata diri sendiri secara managemen agar tujuan organisasi sesuai target yang dituju,” kata Pembina PC Ansor yang juga ketua DPRD Demak KH Muchlasin saat menyampaikan materi Manajemen organisasi dan kepemimpinan pada Pelatihan Kader Dasar (PKD) di balai desa Jati Sono Kecamatan Gajah, Senin (8/4).

PKD diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor Kecamatan Gajah bekerja sama dengan tiga PAC lainnya yakni kecamatan Kebonagung, Dempet dan kecamatan  Karanganyar selama tiga hari, 6-8 April 2013.

Muhammadiyah Asli

Pada kesempatan yang sama, ketua PAC Gajah Nur Rondi  mengatakan, acara digelar dalam rangka untuk mempersiapkan kader muda NU yang mempunyai wawasan luas, profesional beridiologi Aswaja siap menjaga serta membangun NKRI dengan wawasan ekonomi kerakyatan 

“Ansor harus di baris terdepan dalam menjaga Ahlussunnah wal Jamaah, termasuk sebagai warga negara yang baik dalam menjaga keutuhan NKRI,” Kata Nur Rondi.

Muhammadiyah Asli

Pelatihan kali ini, menurut ketua Ansor Kebon Agung Gus Kholil, diikuti oleh 150 kader dari empat kecamatan. Para peserta mendapatkan beberapa materi tentang Aswaja, ke Ansoran, Leadership, pembaiatan rijalul ansor serta perekonomian rakyat yang mendatangkan pemateri langsung dari Disperindag Kabupaten Demak,

“Para peserta kami siapkan materi pokok diantaranya Aswaja, Ke Ansoran, Ke NU an, Leadership, ekonomi dan pembaiatan,” jelas Gus Kholil.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya, Doa Muhammadiyah Asli

Selasa, 09 Januari 2018

Yogyakarta Tuan Rumah Kompetisi Sains Madrasah dan Aksioma 2017

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Kementerian Agama akan kembali menggelar ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Kali ini, KSM akan digelar di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 7-12 Agustus 2017 mendatang. Pada saat yang sama, juga akan diselenggarakan Ajang Kompetisi Seni dan Olah Raga Madrasah (Aksioma).?

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaaan (KSKK) Madrasah M. Nur Kholis Setiawan berharap KSM dan Aksioma bisa menjadi ajang aktualisasi prestasi bidang sains, seni, dan olah raga ? siwa madrasah.?

Yogyakarta Tuan Rumah Kompetisi Sains Madrasah dan Aksioma 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Yogyakarta Tuan Rumah Kompetisi Sains Madrasah dan Aksioma 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Yogyakarta Tuan Rumah Kompetisi Sains Madrasah dan Aksioma 2017

“Kompetisi ini dilaksanakan guna memberikan wadah bagi anak didik Madrasah agar mereka memiliki kepercayaan diri dan merasa pantas ikut dalam ajang yang bersifat nasional,” kata Nur Kholis di Jakarta, Senin (17/7).?

“Selain itu juga agar mereka merasa ada kesempatan yang sama dalam berprestasi seperti halnya anak-anak sekolah umum lainnya,” lanjutnya.

Nur Kholis berharap Aksioma dan KSM ? dapat mengembangkan dan membina ? potensi, bakat serta minat siswa madrasah.

Muhammadiyah Asli

“Mereka yang menang akan mendapat pembinaan dari Direktorat KSKK Madrasah agar dapat berkompetisi di kancah nasional dan internasional,” pungkasnya. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Halaqoh, Budaya, Santri Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Rabu, 03 Januari 2018

Anjuran Tidur di Masjid Saat Puasa

Kalau sedang berpuasa, paling enak rebahan di ubin musholla atau masjid. Hawa yang bertiup sungguh adem. Sementara suasananya menenangkan untuk istirahat atau berteduh barang sejenak di tengah aktivitas di siang hari. Setidaknya beban panas atau haus puasa sedikit terkurangi.

Rebahan di lantai masjid akan bagus sekali kalau misalnya sambil memasang niat i’tikaf. Inilah yang dianjurkan oleh Islam ketika berpuasa, yakni beri’tikaf di masjid. Kalau sudah niat, i’tikaf bisa diisi dengan aneka ibadah, minimal zikiran sambil rebahan.

Anjuran Tidur di Masjid Saat Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Anjuran Tidur di Masjid Saat Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Anjuran Tidur di Masjid Saat Puasa

Syekh M Nawawi bin Umar Al-Bantani dalam Syarah Kasyifatus Saja ala Matni Safinatin Naja mengatakan,

Muhammadiyah Asli

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Tidak masalah tidur di masjid bagi orang yang tidak junub meskipun dia menjomblo, belum berkeluarga. Sejarah mencatat bahwa Ash-Habus Shuffah –mereka adalah para sahabat yang zuhud, fakir dan perantau– tidur (bahkan tinggal) di masjid pada zaman Rasulullah SAW.

Muhammadiyah Asli

Tentu saja haram hukumnya jika tidur mereka mempersempit ruang gerak orang yang sembahyang. Ketika itu, kita wajib menegurnya. Disunahkan pula menegur orang yang tidur di saf pertama atau di depan orang yang tengah sembahyang.

Namun begitu, istirahat di masjid sekarang ini dirasakan tidak nyaman. Jamaah yang hendak istirahat sering terganggu dengan imbauan “Dilarang Tidur di Masjid”. Kalau bukan seruan demikian, jamaah dipusingkan oleh pengajian kaset yang diputar pengurus masjid tanpa alasan jelas seperti penanda dekat waktu Maghrib atau penanda hari Jumat.

Baiknya pihak pengurus masjid menyediakan ruang mana yang bisa digunakan untuk beristirahat, bukan melarang setiap jengkal lahan masjid untuk ditiduri. Dengan demikian jamaah yang sedang berpuasa sedikit nyaman untuk melepas lelah di masjid. Daripada orang yang berpuasa beristirahat di rumah makan yang buka pada siang hari, lebih baik ia menunggu beduk berbunyi penanda masuk waktu Zhuhur, Ashar, atau Maghrib. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli News, Budaya, PonPes Muhammadiyah Asli

Selasa, 02 Januari 2018

Kuwu di Desa Ini Manfaatkan Dana Desa untuk Program Strategis

Brebes, Muhammadiyah Asli. Dana desa (DD) senilai satu miliar rupiah pertahunnya dari program pemerintah yang dikomandoi Kementerian Desa PDTT turut membantu mewujudkan problem di desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Desa terluas dari 22 desa di Kecamatan Losari ini memberdayakan dana desa untuk program-program strategis di antaranya untuk normalisasi sungai, pembangunan saluran air, serta pengecoran dan pengaspalan jalan desa.

Kuwu di Desa Ini Manfaatkan Dana Desa untuk Program Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuwu di Desa Ini Manfaatkan Dana Desa untuk Program Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuwu di Desa Ini Manfaatkan Dana Desa untuk Program Strategis

“Saya berusaha menyediakan jalan untuk pemberdayaan ekonomi warga lewat program pembangunan infrastruktur,” ujar Kepala Desa (Kuwu) Prapag Kidul Ella Sugiarto, Selasa (27/6) saat Muhammadiyah Asli berkunjung ke kediamannya.

Ella menilai, desa yang dipimpinnya saat ini selain mempunyai potensi ekonomi di bidang kelautan, juga mempunyai sungai yang lebar dan cukup strategis untuk kebutuhan pengairan para petani.

?

Muhammadiyah Asli

Desa ini terletak tepat di pantai utara Laut Jawa. Namun sebagian warga juga memanfaatkan lahan untuk pertanian. Sehingga daerah ini satu-satunya desa yang warganya mempunyai dua mata pencarian, petani dan nelayan di Kecamatan Losari.

“Saya menyusun program berdasarkan problem yang saat ini mendera warga. Jalan desa saya rapikan semua, termasuk sungai, setelah dikeruk ke depan dinormalisasi,” jelas Kades yang masih cukup muda ini.

Muhammadiyah Asli

Menurut pria bergelar sarjana ekonomi ini, pelaksanaan program dari dana desa membantu dalam pencairan dana desa tahap selanjutnya. Ia pun meminta dukungan seluruh masyarakat desa agar pemberdayaan ini setiap tahunnya dapat menyejahterakan warga.

Program pembangunan saluran ini disambut baik oleh warga desa karena mereka selama ini hanya mengandalkan musim penghujan (sawah tadah hujan) untuk memulai aktivitas bertani.

Program ini memastikan petani di desa yang terletak 2,7 kilometer dari bibir pantai Laut Jawa ini dapat bertani sepanjang musim. Begitu juga program perapian infrastruktur jalan yang sangat membantu nelayan dalam distribusi pemasaran hasil laut. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Tokoh, Amalan, Budaya Muhammadiyah Asli

Sabtu, 30 Desember 2017

Almarhum Pak Dur Sosok Kiai Ulet dan Kompeten

Jombang, Muhammadiyah Asli

Berita duka datang dari Jombang setelah diberitahukan bahwa KH Abdurrahman Utsman berpulang ke rahmatullah, Rabu dini hari (17/02/2016). Kiai yang kerap disapa Pak Dur itu dikenal pribadi yang berkharisma di mata para santrinya. Ia juga pribadi yang ulet serta kompeten dalam berorganisasi.

Kemampuan suami dari Hj Siti Khatijah Hasyim ini buktikan saat menjadi Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang selama dua periode. Di samping itu ia juga mengemban amanah sebagai Ketua PCNU setempat selama dua periode, dan satu kali menjabat sebagai Wakil Rais Syuriyah PCNU. 

Almarhum Pak Dur Sosok Kiai Ulet dan Kompeten (Sumber Gambar : Nu Online)
Almarhum Pak Dur Sosok Kiai Ulet dan Kompeten (Sumber Gambar : Nu Online)

Almarhum Pak Dur Sosok Kiai Ulet dan Kompeten

Bagi sejumlah muridnya, Pak Dur adalah sosok yang baik, perhatian dan santun. Karena beberapa sifat tersebut para santri mengagumi hingga saat ini mereka mengenangnya dengan pembacaan tahlil dan doa-doa. 

”Ketika mengajar, beliau sangat perhatian sekali dengan muridnya, beliau adalah sosok guru yang baik, perhatian dan tegas,” ujar Ahmad Shofiyulloh,  salah satu muridnya kepada Muhammadiyah Asli, Rabu siang (17/2/2016).

Muhammadiyah Asli

Shofiyulloh berharap dengan wafatnya menantu KH Hasyim Asy’ari ini tidak membuat warga nahdliyin pesimis membesarkan NU. Namun sebaliknya, menumbuhkan sikap optimis untuk melanjutkan perjuangan Pak Dur di NU. 

“Ya saya berharap semoga wafatnya beliau bukan menjadi cambuk yang berdampak kepesimisan untuk membawa NU ke puncak kejayaan, melainkan menjadi cambuk keoptimisan bagi penerusnya untuk lebih semangat dalam melanjutkan perjuangan beliau,” imbuhnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Malam Ini, Puncak Peringatan Hari Santri di Surakarta

Surakarta, Muhammadiyah Asli - Puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2017 di Kota Surakarta Jawa Tengah bakal dihelat malam ini, Sabtu (28/10). Acara yang dikemas dalam tajuk “Banom NU Kota Surakata Bersholawat” bertempat di kantor PCNU Kota Surakarta.

Ketua GP Ansor Surakarta Syarifudin, peringatan Hari Santri kali ini diadakan bersamaan dengan momentum Sumpah Pemuda. Menurutnya, selain kegiatan pengajian juga diadakan beberapa rangkaian kegiatan.

Malam Ini, Puncak Peringatan Hari Santri di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Ini, Puncak Peringatan Hari Santri di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Ini, Puncak Peringatan Hari Santri di Surakarta

“Acara sudah dimulai sejak Sabtu siang, mulai dari bakti sosial, donor darah, bazar murah, dan pelatihan refleksi,” terang Arif.

Rencananya kegiatan pengajian bersama Jamuro Surakarta itu akan menghadirkan Habib Umar As-Segaf yang akan memberikan mauidoh hasanah.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu, tak jauh dari Kota Surakarta, tepatnya di Sukoharjo puncak peringatan Hari Santri juga bakal diselenggarakan pada waktu yang sama, di Pendopo Graha Satya Kabupaten Sukoharjo.

Wakil Syuriah PWNU Propinsi Jawa Timur KH Ali Maschan Musa, rencananya bakal dihadirkan untuk memberikan taushiyah kepada jamaah. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Quote, Budaya, Makam Muhammadiyah Asli

Selasa, 26 Desember 2017

Pasar Rakyat NU di Bondowoso Dibuka

Bondowoso, Muhammadiyah Asli. Gelaran Pasar Rakyat Indonesia di Bondowoso di alun-alun Kecamatan Tamanan dibuka secara resmi, Sabtu (15/12). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama Pengurus Cabang (PCNU) Bondowoso.

Pembukaan dihadiri Wakil Bendahara Umum PBNU KH Abdul Hamid Wahid, Bupati Bondowoso Amin Said Husni, Rais Syuriyah PCNU Bondowoso KH Ali Salam, Ketua DPRD Bondowoso H Ahmad Dhofir, Mustasyar PCNU KH. Salwa Arifin, sejumlah ketua partai politik dan sekitar 500 undangan.

Pasar Rakyat NU di Bondowoso Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasar Rakyat NU di Bondowoso Dibuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasar Rakyat NU di Bondowoso Dibuka

Acara pembukaan pasar rakyat Indonesia di alun-alun Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso disambut antusias oleh warga setempat. Sebelum acara dibuka, sebagian pengunjung sudah memadati beberapa stand, sehingga panitia berkali-kali menghimbau agar stand tidak melayani pengunjung karena acra belum resmi dibuka.

Muhammadiyah Asli

Dari 22 stand yang tersedia, semua terisi. Sebagian pengisi stand adalah organisasi ? atau home industri binaan PCNU. Dinas Koperasi Bondowoso juga mengisi stand dengan menjual berbagai produk dan kebutuhan sehari-hari.

Yang menarik, home industri atau pelaku pasar tradisional juga ikut ambil bagian dalam pasar rakyat ini. Mereka membuka stand pandai besi dan manik-manik khas Bondowoso. “Semua lengkap, mulai dari pisau buatan pandai besi Bondowo hingga produk modern seperti handpone buatan luar negeri, ada di sini,” ujar Hefdi, Sekretaris Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU) Bondowoso.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu, ? Ketua PCNU Jember, KH. Abdul Qadir Syam menegaskan, pergelaran pasar rakyat Indonesia ini sebagai motivator gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini bisa dilihat misalnya, dari pengisi stand yang mencapai 70 persen produk lokal Bondowoso, dan 30 persen produk non lokal.

“Ini semua kita gerakkan warga kita yang punya usaha kecil dan sebagainya tapi kita juga datangkan produk lain untuk mengakomodasi kebutuhan warga yang cukup beragam,” tuturnya.

Menurut tokoh berbadan subur itu, sebenannya NU mempunyai potensi yang cukup besar untuk melakukan pemberdayaan ekonomi. Hanya mungkin mungkin perlu kemandirian pengelolaan, manajemen pemasaran dan sebagainya. “Ya kita akan terus kerja sama dengan pihak-pihak terkait pemberdayaan ini,” jelasnya di sela-sela meninjau stand.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Doa, Budaya Muhammadiyah Asli

Selasa, 12 Desember 2017

Tantangan Santri Generasi Alfa

Oleh Hamidulloh Ibda



Tiap zaman, era, ataupun abad, yang namanya kehidupan santri pasti berubah bak percikan cahaya yang begitu cepat. Santri sekarang, dengan santri lima tahun belakangan, tentu berbeda. Maka dari itu, posisi santri yang unik dan berbeda dengan pelajar, mahasiswa, murid, serta siswa, tentu memiliki tantangan tersendiri. Saking uniknya, di Indonesia sendiri sudah ada Hari Santri Nasional yang diperingati pada 22 Oktober. 

Hari Santri ini bertepatan ketika Hadhratussyekh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk mengusir penjajahan atas bangsa dan negara Indonesia. Dunia santri selalu identik dengan kemandirian. Bahkan, kemandirian itu tidak hanya untuk kepentingan kaum pesantren, namun juga untuk bangsa ini.

Tantangan Santri Generasi Alfa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Santri Generasi Alfa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Santri Generasi Alfa

Dari masa ke masa, tantangan kaum santri tentu berbeda. Jika dulu berjuang mengusir penjajah kolonial, sekarang justru melawan penjajah di negeri sendiri. Tiap tahun, kecenderungan, tantangan, dan dinamika kehidupan selalu berbeda. Sedangkan yang bisa selamat dan “melampaui” zamannya, hanya orang yang mampu menangkap zeitgeist (spirit zaman). Maka “kaum sarungan” harus bisa membaca kecenderungan zaman agar bisa menjadi manusia yang tidak latah terhadap perubahan yang begitu cepat seperti ini.

Dalam teori siklus, Ibnu Khaldun (1332-1406) menjelaskan ada beberapa generasi dalam hidup ini. Mulai dari generasi pendiri, pembangun, penikmat dan generasi perusak. Pertanyaannya, santri saat ini berada di posisi mana? Sebab, perjuangan pahlawan, kiai dan santri era dulu mampu mengusir penjajah dan mempertahankan NKRI. Jika santri saat ini tidak tahu posisinya, maka mereka pasti akan menjadi “santri gagal” karena hanya menjadi penonton.

Santri Generasi Alfa

Muhammadiyah Asli

Dulu, tantangan santri hanya sebatas era konvensional. Namun sekarang berkonversi menuju digital. Generasi santri modern yang didominasi kaum digital tentu tantangan zamannya berbeda. Zaman milenial sekarang didominasi “Generasi Y” (generasi yang lahir di atas tahun 1980 an - 1997) yang merupakan era generasi pasca “Generasi X”.

Generasi milenial, juga sudah selesai karena sekarang eranya sudah “Pascamilenial” yang dikenal “Generasi Z” (generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1995 sampai 2014). Usai “Generasi Z”, sekarang sudah mulai datang “Generasi Alfa” (generasi yang lahir setelah tahun 2010 dengan usia paling tua adalah anak-anak usia 5 tahun).

Generasi Y, Z, dan Alfa sama-sama hidup dan dibesarkan di dunia maya. Hampir semua kegiatan mereka dibentuk dan digantungkan pada teknologi modern. Mulai dari urusan sandang, pangan dan papan sampai kebutuhan domestik lainnya. Dalam pesantren juga sama, semua berkonversi ke dalam gelombang digital. Baik itu aspek fisik di pondok pesantren, maupun non-fisik berupa kurikulum, model, metode, media dan bahan pembelajaran.

Muhammadiyah Asli

Generasi Alfa itu bisa berarti “Alfatihah” atau “Alfabet”. Alfatihah merupakan “Ummul Kitab” dan surat pembuka di Alquran. Sementara “Alfabet” merupakan pertanda melek aksara, literasi dan bebas buta huruf. Alfa secara bahasa juga disebut nama huruf pertama abjad Yunani yang berarti juga yang pertama dan permulaan. 

Masalahnya, “Generasi Alfa” ini benar-benar generasi pertama dalam mempelopori perubahan, melek literasi, atau sebaliknya? Sebab, generasi santri era kini memiliki kecenderungan hidup manja, tidak mandiri karena kehidupan di pondok sudah bergeser dengan banyaknya fasilitas-fasilitas modern. Pertama, dari segi aturan, santri dulu haram membawa ponsel, laptop, radio, bahkan sepeda motor. Namun era modern, hal itu justru terbalik karena ponsel, laptop, dan alat modern lainnya menjadi pelancar pembelajaran.

Kedua, pembelajaran dengan sistem “ngaji” yang dulu hanya sekadar “sorogan” dan “bandongan”, saat ini sudah bergeser modern seperti sekolah atau kuliah pada umumnya. Ketiga, jika dulu mengaji harus membawa kitab kuning, sekarang banyak pesantren yang cukup membawa gawai yang berisi ratusan e-book kitab kuning. Keempat, adanya fasilitas pembelajaran berbasis digital, lab bahasa, menjadikan santri tidak merasakan kehidupan pesantren yang sebenarnya.

Bahkan, dulu saat awal mau sowan kiai, saya diberi petuah orangtua saya bahwa pesantren adalah “penjara dunia” yang suci. Sebab, di pesantren sangat jauh dari gemerlap dunia. Jangankan memegang gawai, televisi dan radio saja tidak tahu kecuali di warung makan yang dekat dengan pondok dan kebetulan menyediakan televisi gratis. Maka prinsip “penjara dunia” itu menjadi doktrin bahwa pesantren adalah tempat untuk mendadar diri, menjadikan santri mandiri, nggeteh (prihatin) dan lainnya.

Adanya kitab-kitab kuning berbasis digital menjadikan santri tidak lagi menulis terjemah atau “makna gandhul” di kitab tersebut, baik yang nadhom maupun yang syarah. Pola seperti ini menjadikan santri kurang mandiri bahkan dimanjakan dengan fasilitas.

Tantangan santri generasi alfa hadir secara alamiah karena hampir semua santri yang sekarang belajar, mulai dari jenjang SD/MI sampai SMA/MA, hidup dalam gelombang internet. Mereka dengan mudah mencari informasi dan mengunduh kitab-kitab kuning secara gratis di dunia maya itu. Hal itu menjadikan mereka malas menghafal, menulis, membeli kitab, dan belajar lebih tekun dengan kiai karena semua dengan mudah bisa diakses di internet.

Kemandirian

Subtansi tema Hari Santri tahun ini, yaitu “Santri Mandiri, NKRI Hebat” adalah kemandirian. Semua itu harus dijalankan dengan berbagai langkah nyata dalam merespon dinamika pesantren dan santri yang sekarang didominasi generasi Y, Z, dan Alfa. Apalagi, saat ini pondok pesantren kebanyakan hanya dihuni kaum terdidik yang belajar di sekolah atau kampus. Sementara aktivitas di pondok hanya untuk “kos” saja. Maka kondisi yang demikian menjadikan santri jauh dari hakikat kemandirian. Mereka hidup di sana hanya sebatas “rasa pesantren” bukan “pesantren” sebenarnya.

Kemandirian itu tidak sekadar kemandirian belajar atau ngaji, namun juga belajar tentang kehidupan. Sebab, semua santri yang benar-benar mandiri pasti tidak sekadar bisa dan lihai membaca kitab kuning, namun juga bisa memasak, mencuci piring, menyapu, mengepel bahkan sampai mencangkul di sawah dan berbisnis.

Santri generasi Y, Z dan Alfa harus memaknai kehidupan pesantren bukan sekadar untuk “kos”, melainkan benar-benar untuk menjadi santri yang sebenarnya. Pengelola pondok juga harus membuat regulasi agar tidak ada santri yang hanya memanfaatkan pondok untuk tidur, tempat beristirahat, makan dan aktivitas domestik lainnya.

Pola ngaji di pondok harus menyesuaikan zaman. Langkahnya, menyesuaikan kondisi dan kecenderungan santri dengan tetap tidak meninggalkan budaya dan tradisi lama. Sebab, prinsip santri yang sejati yaitu al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah yang berarti memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Apa yang dilakukan santri generasi Y, Z dan Alfa tidak semuanya buruk, karena mereka membuka diri untuk modern dan digital. Akan tetapi, semua itu harus dibekali dengan etika dan pola pikir yang benar. Salah satunya tidak “diperbudak alat” modern, melainkan menjadikan gawai, laptop dan sejenisnya sebagai media untuk mengaji.

Kehebatan santri zaman dulu memang berbeda dengan sekarang. Jangankan santri tulen atau bermukin di pondok, “santri kalong” (tidak mukim) saja terbukti memiliki jiwa kemandirian tinggi. Contohkan saja santri-santrinya KH. Hasyim Aya’ri yang terbilang mustami’ (pendengar setia sang guru) dan hanya ngaji sekilas kepada beliau, mereka bisa menjadi sosok hebar seperti Jenderal Sudirman, Bung Tomo (Sutomo), dan lainnya. Maka mereka dalam sejarah pesantren disebut “santri jejer pandito” karena berguru langsung dengan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

Dari contoh ini, bisa disimpulkan santri yang hebat sangat dekat dan menitikberatkan keilmuwan dan ketakziman pada sang kiai, bukan pada gawai dan laptop. Kemandirian santri tidak boleh sekadar konsepsi, namun harus diimplementasikan dalam bukti nyata melalui aktivitas di pesantren dan masyarakat. Sebab, santri tulen akan menjadi pelopor dan menciptakan kehidupan dengan prinsip tawassut (moderat), tawazun (seimbang), ta’adul (adil) dan tasamuh (toleran) dan maju. 

Yang namanya santri pasti mandiri. Jika tidak mandiri, pantas kah disebut santri?

Penulis adalah Kaprodi Pendidikan Guru MI (PGMI) STAINU Temanggung dan alumnus Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Pati

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Olahraga, Budaya Muhammadiyah Asli

Pertama dalam Sejarah, Ansor Way Kanan Gelar Apel Kesetiaan Pancasila Secara Terapan

Way Kanan, Muhammadiyah Asli. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung akan menggelar Apel Kesetiaan Pancasila sebagai tindak lanjut arahan Pimpinan Pusat GP Ansor. Kegiatan kebangsaan ini akan dilaksanakan di sejumlah tempat dengan menitikberatkan pada implementasi atau pelaksanaan sila-sila yang terkandung di dalamnya.

"PAC Pakuan Ratu dipimpin sahabat Bakti Gozali mengambil jatah sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dengan menggelar tahlil dan yasin ditujukan bagi pahlawan bangsa, pendiri dan pejuang Nahdlatul Ulama serta doa bersama demi keutuhan NKRI," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Jumat (27/5).

Adapun sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab diambil PAC Negara Batin dipimpin Hozin Munir. Pelaksanaannya adalah dengan menggelar bakti sosial bekam di Kampung Gisting Jaya. "Sahabat Nanang Yudi Saputro Ketua Ranting Gisting Jaya telah menyatakan kesediaannya untuk bertanggungjawab penuh dalam kegiatan bakti sosial tersebut," kata Gatot.

Pertama dalam Sejarah, Ansor Way Kanan Gelar Apel Kesetiaan Pancasila Secara Terapan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama dalam Sejarah, Ansor Way Kanan Gelar Apel Kesetiaan Pancasila Secara Terapan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama dalam Sejarah, Ansor Way Kanan Gelar Apel Kesetiaan Pancasila Secara Terapan

Untuk pelaksanaan sila ketiga, Persatuan Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan telah menghubungi unsur pimpinan Pemuda Katolik dan Pemuda Hindu setempat agar mengikuti upacara Apel Kesetiaan Pancasila lintas iman dan telah mendapat respon positif.

"Akan ada pembagian tugas, siapa membaca teks Pancasila, menjadi instruktur upacara pada peringatan hari Kelahiran Pancasila 1 Juni yang Insyaallah akan digelar di gedung PCNU Way Kanan di Baradatu," paparnya.

Muhammadiyah Asli

Penerapan sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia akan diisi dengan pelatihan.

Penguatan organisasi dan pelatihan kepemimpinan sosial di Masyarakat bagi kader PAC Ansor Baradatu, Banjit, Rebang Tangkas, Kasui dan Blambangan Umpu dengan narasumber Agung Rahadi Hidayat, Ketua PAC Ansor Way Tuba yang juga Sekretaris Palang Merah Indonesia Way Kanan.

Muhammadiyah Asli

"Sebagian besar kader yang telah mengikuti pelatihan tingkat dasar berharap sekali pimpinan cabang menguatkan kapasitas sumber daya manusia pemuda Nahdlatul Ulama. Hal ini kami sambut positif supaya kader Ansor benar-benar bisa berbuat melalui gerakan positif bagi masyarakat dengan bertambah dan bertumbuhnya wawasan. Keberadaan Pemuda Ansor harus bermanfaat bagi masyarakat sehingga bisa membantu pemerintah kendati kecil," kata penggiat Gusdurian Lampung ini.

Menurut Gatot, koordinasi mengenai pelaksanaan intruksi PP GP Ansor tersebut sudah disampaikan kepada Ketua PW GP Ansor Lampung, Kasatkorwil Barisan Ansor Serbaguna serta Ketua PCNU Way Kanan.

"Pelaksanaan dan perilaku sejalan Pancasila adalah hal yang harus dilakukan setelah pemahaman akan teks dasar negara tersebut," tutup Gatot Arifianto. (Syuhud Tsaqafi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya Muhammadiyah Asli

Rabu, 06 Desember 2017

Terpilih Jadi Presiden WCRP karena Tak Mau Dicalonkan

Jakarta, Muhammadiyah Asli

Terpilihnya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi sebagai salah satu presiden Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian (World Conference on Religion for Peace/WCRP) di Kyoto, Jepang, 25-29 Agustus lalu, ternyata menyisakan cerita menarik. Pemimpin organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini terpilih karena tak mau dicalonkan.

Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP Djohan Effendi yang juga turut dalam pertemuan tokoh-tokoh lintas agama dari seluruh dunia itu menceritakan, sejak awal Hasyim Muzadi memang tak bersedia untuk dicalonkan menduduki jabatan bergengsi yang sebelumnya diisi oleh mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafi’i Ma’arif tersebut.

Terpilih Jadi Presiden WCRP karena Tak Mau Dicalonkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpilih Jadi Presiden WCRP karena Tak Mau Dicalonkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpilih Jadi Presiden WCRP karena Tak Mau Dicalonkan

“Pak Hasyim (Muzadi, red) dari awal memang nggak mau dicalonkan. Menjelang pemilihan, saya telepon beliau untuk meminta kesediaannya, waktu itu beliau sedang ada di Jeddah (Arab Saudi), tetapi juga tetap nggak mau,” ungkap Djohan kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (4/9). Turut mendampinginya dalam kesempatan tersebut Ketua PBNU Rozy Munir, petinggi ICRP, Siti Musdah Mulia dan Johanes N Hariyanto, SJ.

“Beliau bilang, lebih baik tetap Pak Syafi’i (Ma’arif, red) saja,” terang Djohan menirukan pernyataan Hasyim.

Lantas apa pasal hingga Hasyim tetap didaulat untuk mengemban amanah tersebut? Djohan mengungkapkan, ada beberapa alasan, pertama, karena Syafi’i Ma’arif sendiri juga menolak untuk dicalonkan kembali. “Kalau Pak Syafi’i nggak mau, kesimpulan saya berarti Pak Syafi’i mendukung Pak Hasyim,” tandasnya.

Muhammadiyah Asli

Kedua, menurutnya, dalam etika beragama, barang siapa yang menolak dicalonkan untuk menjadi pemimpin, maka dialah orang yang pantas menduduki jabatan tersebut. Meski dikatakannya ada yang bersedia dan mencalonkan diri, yakni Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, namun pihaknya tetap menjagokan Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

“Maka kami sepakat untuk tetap mencalonkan Pak Hasyim walaupun Pak Din Syamsudin mau mencalonkan diri,” kata Djohan.

Alasan lain yang juga tak kalah pentingnya, imbuh Djohan, karena selain mewakili muslim Indonesia, Hasyim juga merupakan pemimpin ormas Islam terbesar di Indonesia. NU, sebagai komunitas muslim berbasis Sunni terbesar di Indonesia bahkan di dunia, juga menjadi bahan pertimbangan lainnya. “NU sebagai ormas Islam terbesar tentu tidak bisa diabaikan,” tandasnya.

Selain itu, katanya, Hasyim dipilih juga karena kiprahnya dalam upaya pengembangan perdamaian, baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa waktu lalu, PBNU menggelar Konferensi Internasional Cendekiawan Muslim (International Conference of Islamic Scholar/ICIS). Acara tersebut dihadiri sekitar 300 ulama/cendekiawan muslim dari 53 negara. PBNU juga membantu resolusi konflik di Thailand Selatan.

Muhammadiyah Asli

WCRP adalah organisasi lintas agama yang menghimpun tokoh-tokoh berbagai agama dari seluruh dunia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Pada pertemuan itu, hadir 600-an tokoh dari 20 agama dari 100 negara di dunia. Organisasi yang berpusat di Markas PBB, di New York itu didirikan pada tahun 1970.

Beberapa program yang dijalankan adalah menghentikan perang, mengakhiri kemiskinan dan melindungi bumi. Mereka telah berupaya untuk membantu upaya rekonsiliasi di Irak, menjadi mediator dalam perang antar-suku di Sierra Leone serta membantu jutaan anak yang terinfeksi virus HIV di Afrika. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya Muhammadiyah Asli

Kamis, 23 November 2017

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Assalamu’akaikum Pak Kiai. Saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya tidak puasa untuk ibu yang menyusui. Anak saya usianya sudah 1,6 tahun tapi makannya sulit sekali dan hanya mengandalkan ASI, apakah boleh saya tidak puasa demi anak saya dan bagaimana cara qodlonya atau bayar fidyahnya atau apa? Mohon penjelasan mengingat anak saya yang kedua ini agak kurusan dan sering dikomplain oleh bidan puskesmas karena berat badannya di bawah standar. Makasih (Umi, Bandung)

 

Jawaban

Puasa Bagi Ibu Menyusui (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Bagi Ibu Menyusui (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Bagi Ibu Menyusui

Wa’alaikum salam ww. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa perempuan yang menyusui itu diperbolehkan tidak berpuasa sepanjang berpuasa itu bisa membahayakan kesehatan dirinya dan anaknya atau salah satunya. Menurut madzhab syafi’i, jika seorang perempuan yang sedang menyusui melakukan puasa dan dikhawatirkan akan membawa dampak negatif pada dirinya beserta anaknya, atau dirinya, atau anak saja maka ia wajib membatalkan puasanya. Dan baginya berkewajiban meng-qadla` puasanya. Namun jika dikhawatirkan membahayakan anaknya saja, maka ia tidak hanya berkewajiban meng-qadla` tetapi ada kewajiban lain yaitu membayar fidyah. Hal ini sebagaimana dikemukakan Abdurrahman al-Juzairi:

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammadiyah Asli

“Madzhab syafii berpendapat, bahwa perempuan hamil dan menyusui ketika dengan puasa khawatir akan adanya bahaya yang tidak diragukan lagi, baik bahaya itu membahayakan dirinnya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja. Maka dalam ketiga kondisi ini mereka wajib meninggalkan puasa dan wajib meng-qadla`nya. Namun dalam kondisi ketiga yaitu ketika puasa itu dikhawatirkan memmbayahakan anaknya saja maka mereka juga diwajibkan membayar fidyah”. (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-2, h. 521). 

Sedangkan fidyah yang harus dibayarkan adalah satu mud (berupa makanan pokok) untuk setiap hari yang ditinggalkan yang diberikan kepada orang miskin atau orang faqir. Satu mud kurang lebih 675 gram beras, dan dibulatkan menjadi 7 ons.

Untuk mengetahui apakah puasa perempuan yang sedang menyusui itu membahayakan atau tidak, dapat diketahui berdasarkan kebiasaan sebelum-sebelumnya, keterangan medis atau dugaan yang kuat. Hal ini sebagaimana dikemukakan as-Sayyid Sabiq:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Untuk mengetahui apakah puasa tersebut bisa membahayakan (bagi dirinya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja)bisa melalui kebiasaan sebelum-sebelumnya, keterangan dokter yang terpecaya, atau dengan dugaan yang kuat” (As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Kairo-Fath al-I’lam al-‘Arabi, 2001, juz, 2, h. 373)

Muhammadiyah Asli

Setelah kita mengetahui kedudukan hukum berpusa bagi orang yang sedang menyusui. Lantas bagaimana dengan waktu pelaksanaan qadla` sekaligus pembayaran fidyah, jika ia meninggalkan puasa dengan alasan apabila tetap melakukan puasa akan membahayakan anaknya.

Bahwa alasan kewajiban untuk meninggalkan puasa bagi orang yang sedang menyusui adalah adanya kekhawatiran akan membahayakan dirinya beserta anaknya, dirinya saja, atau anaknya saja.

Dari sini dapat dipahami bahwa kewajiban qadla` tersebut bisa dilakukan setelah bulan ramadlan dan di luar waktu menyusui. Sedang mengenai teknis pembayaran fidyah boleh diberikan kepada satu orang miskin. Misalnya jika yang ditinggalkan ada 10 hari maka ia wajib memberikan 10 mud. Sepuluh mud ini boleh diberikan kepada satu orang miskin atau faqir.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Baginya boleh mendistribusikan semua jumlah fidyah kepada satu orang karena setiap hari adalah ibadah yang independen”. (Muhammad Khatib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 1, h. 442)

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, dan semoga bermanfaat. Saran kami bagi Ibu yang sedang menyusui untuk selalu memperhatikan kesehatannya, begitu juga kesehatan sang buah hati. Dan jika merasa masih kuat berpuasa tetapi kemudian ada masalah kesehatan segeralah berkonsultasi kepada dokter. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya Muhammadiyah Asli

Senin, 20 November 2017

Cara Gus Dur Mewujudkan Keadilan Sosial

Tangerang Selatan, Muhammadiyah Asli. KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid menyatakan bahwa semua ibadah di dalam rukun Islam memiliki perintah agar umat Islam semakin welas asih kepada sesama. Selama ini, ibadah dimaksudkan untuk kepentingan diri masing-masing agar mereka terbebas dari neraka dan mendapatkan surga. Padahal menurut Gus Dur, semua ibadah di dalam rukun Islam itu memiliki dimensi sosial.

Cara Gus Dur Mewujudkan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Gus Dur Mewujudkan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Gus Dur Mewujudkan Keadilan Sosial

 

Hal itu disampaikan Syaiful Arif saat menjadi narasumber dalam acara seminar Keadilan Sosial Perspektif Gus Dur dan Imam Khomeini yang diselenggarakan oleh Iranian Corner UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bekerja sama dengan Konsuler Kebudayaan Republik Islam Iran di Ruang Teater Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Rabu (7/6).

“Syahadat kalau tidak disaksikan orang lain tidak akan sah. Shalat kalau dilaksanakan dengan berjamaah akan mengikat integrasi sosial. Zakat apalagi, kata Gus Dur dengan adanya zakat maka Islam bersifat anti kapitalisme dan sebagainya,” kata Syaiful.

Ia menyayangkan, pendekatan yang bersifat individualistik terhadap ibadah rukun Islam itu menjadikan nilai-nilai sosial menjadi terabaikan. 

Muhammadiyah Asli

Syaiful menjelaskan, agar umat Islam bisa memperjuangkan keadilan sosial, maka Gus Dur menempuhnya dengan tiga upaya. Pertama, umat Islam harus memiliki kesadaran sosial di dalam setiap ibadah atau rukun sosial. Gus Dur menggagas rukun sosial ini untuk menjadi jembatan antara rukun iman dan rukun Islam.

“Rukun sosial menjadi jembatan dari rukun iman dan rukun Islam,” jelasnya.

Muhammadiyah Asli

Kedua, menempatkan fikih sebagai etika sosial. Baginya, pembahasan hukum Islam bukan hanya pada tema-tema ibadah, jinayah, dan muamalah tetapi juga pada bagaimana memajukan dan menyejahterakan umat Islam dengan menciptakan keadilan sosial. 

 

Maqshidus syariah adalah pemenuhan terhadap hak-hak manusia, yaitu untuk melindungi hak hidup, hak beragama, hak berpikir, hak untuk memiliki harta dan kehormatan.itu yang ketiga,” ungkapnya.

Maka dari itu penulis Buku Humanisme Gus Dur itu menyebutkan, orientasi terhadap keadilan sosial-lah yang membuat Gus Dur tidak berniat untuk menjadikan Indonesia menjadi negara Islam. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya, Ubudiyah Muhammadiyah Asli

Kamis, 09 November 2017

MAN Tambakberas Jombang Terima Award Peduli Lingkungan dari PBNU

Jombang, Muhammadiyah Asli. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tambakberas kabupaten Jombang, menerima Award dari Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, Rabu (14/10). Penghargaan ini diberikan karena masjid al-Madinah MAN Tambakberas dinilai sebagai masjid yang peduli pada lingkungan. MAN Tambakberas meraih kategori Muharrik Terbaik di bidang Peduli Lingkungan.

Pernyataan ini disampaikan Nidatus Sa’adah (Ninid), salah satu tenaga pendidik di lembaga sekolah ini. Sejak berdiri, masjid al-Madinah itu memang dibangun dengan komitmen yang berorientasi pada roh pendidikan pesantren yang peduli lingkungan. “Kita berkomitmen memberdayakan masjid itu sejalan dengan roh pesantren,” katanya kepada Muhammadiyah Asli,? Kamis (15/10).

MAN Tambakberas Jombang Terima Award Peduli Lingkungan dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
MAN Tambakberas Jombang Terima Award Peduli Lingkungan dari PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

MAN Tambakberas Jombang Terima Award Peduli Lingkungan dari PBNU

Salah satu kegiatan yang sudah dilakukan pihak madrasah ini adalah memanfaatkan limbah wudhu dengan membangun kolam ikan di samping masjid, agar air yang mengalir tidak terbuang percuma.

Muhammadiyah Asli

“Penghargaan serupa pernah diraih madrasah adiwiyata ini pada Desember tahun lalu dari Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas). Sebab sekolah ini juga mengorientasikan kepedulian pada lingkungan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam pendidikan adiwiyata. Namun, rupanya hal ini menarik pihak LTMNU untuk memberi penghargaan sebagai Muharrik di bidang Peduli Lingkungan.”

Ninid menjelaskan, penghargaan ini diterima di Jakarta oleh Kepala MAN Tambakberas H Ahsan Sutari bersama Waka Sarpras Sutrisno dari ? beberapa kategori terbaik berbasis pemberdayaan masjid.

Muhammadiyah Asli

“Di antaranya, Muharrik Terbaik, Perusahaan Peduli Masjid, BUMN Peduli Masjid, Tokoh Masyarakat Peduli Masjid, dan Pemerintah Daerah Peduli Masjid,” terangnya.

Disaksikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menristek Dikti H Muhammad Nasir, Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Ketua LTMNU KH Mansyur Syaerozi, Sekretaris LTMNU, H Ibnu Hazen, perwakilan dari Kedutaan Negara sahabat, ulama dari Mesir, Tunisia, Maroko, Turki, dan para pengelola masjid dari berbagai daerah.

MAN Tambakberas menerima anugerah ini di Gedung Smesco UKM, jalan Gatot Subroto Jakarta dalam rangkaian perhelatan Nahdlatul Ulama Cultural and Business (NUCB) Expo, ? ujar Ninid. (Syamsul/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya, Fragmen Muhammadiyah Asli

Rabu, 08 November 2017

Kartanu Kudus Raih Rekor terbanyak se-Jateng

Kudus, Muhammadiyah Asli. Pelaksanaan Pendataan dan pengadaaan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) telah selesai akhir Mei lalu dengan jumlah anggota mencapai 129.847 orang. Kendati masih dibawah  daerah lain namun PCNU Kudus sementara dinilai sebagai peraih  rekor terbanyak  se Jawa Tengah.

Ketua Tim Kartanu PWNU Jawa Tengah Muhammad Taufik mengatakan pelaksanaan di Kudus mampu menjadi percontohan dalam mensosialisasikan dan menggerakkan warga NU untuk memiliki kartanu.

Kartanu Kudus Raih Rekor terbanyak se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartanu Kudus Raih Rekor terbanyak se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartanu Kudus Raih Rekor terbanyak se-Jateng

“Animo Nahdliyin di masing-masing ranting sangat luar biasa. Saat pemotretan, saya tidak menduga rata-rata setiap ranting mampu memperoleh 1000 anggota,” ujarnya saat menyampaikan sambutan pada acara penutupan pelaksanaan kartanu yang diselenggarakan PCNU Kudus di RM Bambu Wulung,  Kamis (7/6) kemarin.

Muhammadiyah Asli

Ia menambahkan daerah lain yang jumlahnya 200 ribu Kartanu, setiap rantingnya secara rata-rata belum mampu mencapai angka ribuan seperti Kudus ini. “Makanya untuk sementara Kudus sangat pantas raih rekor terbanyak se Jateng.” tandasnya mengapresiasi.

Semua potensi dan data warga NU ini, jelas Taufik, akan diformat menjadi  data base melalui informasi Tehnologi (IT). “Aplikasi data base sudah kita siapkan, nanti PCNU bisa menggunakan untuk mengetahui jumlah, potensi  dan nama warganya,” imbuhnya.

Muhammadiyah Asli

Taufik juga berjanji pihaknya masih bisa melayani pembuatan kartanu bila kemudian hari ada warga NU ingin memiliki kartanu. Namun, proses pelayanannya data disetor melalui PCNU diteruskan kepada PWNU Jateng.

Sementara  Ketua PCNU Kudus KH CHusnan Ms merasa bangga atas perolehan kartanu di wilayahnya. Ia mengatakan upaya yang dilakukan tim kartanu tingkat cabang, Majlis Wakil Cabang maupun ranting sudah optimal.

“PCNU sangat berterima kasih kepada Tim Kartanu di semua tingkatan atas kerja kerasnya menyukseskan program ini selama dua bulan,” ujarnya.

Melalui Program Kartanu ini,tandasnya, PCNU Kudus telah bisa mengetahui peta dan potensi organisasi yang akan diperjuangkan di masa mendatang. “Program kartanu ini tidak akan dijadikan alat kepentingan politik melainkan murni untuk mendata warga NU. Nanti data ini akan kita analisis kemudian kita perjuangkan sesuai potensi yang ada,” tegas KH Chusnan.

Dengan mengetahui data warga, seyogyanya mampu menjadi semangat pengurus Cabang dan MWC mengembangkan jam’iyah Nahdlatul Ulama. “Meski tantangan semakin berat, kita harus selalu menggerakkan ranting-ranting NU dan memperjuangkan ummatnya,” pintanya. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Qomarul Adib 

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya Muhammadiyah Asli

Minggu, 05 November 2017

Kumpulkan Dana dari Anggota, Banser Kragan Cegah Abrasi di Masjid Pandangan Kulon

Rembang, Muhammadiyah Asli - proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak atau abrasi terjadi di beberapa daerah di sekitar Desa Pandangan Kulon, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Bahaya ini menarik keprihatinan para anggota Satkoryon Banser Kragan yang juga menggerus sebelah utara masjid Badrut Tamam Desa Pandangan Kulon Kragan.

Kepala Biro Informasi dan Komunikasi Banser Rembang Abdul Hakim mengatakan, abrasi yang terjadi di Pandangan Kulon ini terjadi mulai tahun 2015. Hal ini terjadi dikarenakan dampak dari pembangunan dermaga Tempat Penakaran Ikan (TPI) di Pandangan Kulon sepanjang 100 meter dari bibir pantai.

Kumpulkan Dana dari Anggota, Banser Kragan Cegah Abrasi di Masjid Pandangan Kulon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kumpulkan Dana dari Anggota, Banser Kragan Cegah Abrasi di Masjid Pandangan Kulon (Sumber Gambar : Nu Online)

Kumpulkan Dana dari Anggota, Banser Kragan Cegah Abrasi di Masjid Pandangan Kulon

Hal ini mengakibatkan abrasi ketika terjadi angin timur atau ombak timur pada musim kemarau. Abrasi juga terjadi di pesisir barat dermaga, sekitar 300 meter yang memanjang ke barat.

"Bahkan bibir pantai akibat abrasi ini tergerus hingga kurang lebih 130 cm ke bawah. Dalam setahun hal ini sudah terjadi sebanyak dua kali," terangnya kepada Muhammadiyah Asli, Senin (22/8).

Muhammadiyah Asli

Ia menambahkan, kegiatan ini hanya bersifat mendadak. Para anggota Banser Satkoryon Kragan mengadakan iuran untuk membantu meminimalisasi terjadinya abrasi yang terjadi di Pandangan Kulon.

Muhammadiyah Asli

"Dari hasil iuran tersebut, kami belikan batu belah dan kami serahkan ke tamir masjid Badrut Tamam Pandangan Kulon. Karena memang dampak abrasi yang paling parah terjadi di sana," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Budaya, Ubudiyah Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock