Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Februari 2018

Masjid Agung Jadi Pusat Pembacaan Shalawat Nariyah di Boyolali

Boyolali, Muhammadiyah Asli. Menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2017, Nahdliyin di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ikut melaksanakan instruksi dari PBNU untuk menggelar pembacaan 1 miliar shalawat nariyah dan upacara bendera.

Masjid Agung Jadi Pusat Pembacaan Shalawat Nariyah di Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Agung Jadi Pusat Pembacaan Shalawat Nariyah di Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Agung Jadi Pusat Pembacaan Shalawat Nariyah di Boyolali

Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Boyolali H Masruri, pembacaan shalawat nariyah ini rencananya bakal dipusatkan di Masjid Agung Boyolali, Sabtu (21/10) malam.

“Insyaallah dihadiri ribuan warga Nahdliyin se-Boyolali. Selain itu, di tiap MWC juga kita instruksikan untuk melaksanakannya di masjid maupun pondok pesantren,” terang Masruri.

Lebh lanjut dipaparkan Masruri apel akbar Hari Santri Nasional 2017 pada, Ahad (22/10) pagi, digelar di Lapangan Sunggingan Boyolali.

Muhammadiyah Asli

“Juga ada kirab ta’aruf yang bertemakan wajah pesantren wajah Indonesia. Dimulai dari Lapangan Sunggingan, menyusuri sepanjang Jalan Pandanaran Boyolali, dan berakhir di depan Kantor Pos,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Khoirudin Ahmad menambahkan pada pelaksanaan kegiatan pembacaan shalawat nariyah di Masjid Agung nanti, juga akan dilakukan pengukuhan kepengurusan Pimpinan Cabang Rijalul Ansor dan BAANAR (Badan Ansor Anti-Narkoba) Boyolali. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara, Lomba, Pesantren Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia

Jakarta, Muhammadiyah Asli - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) menandatangani kerja sama dalam pelayanan jasa perbankan di Muamalat Tower, Kuningan, Jakarta, Senin (20/6) sore. Secara konkret NU DKI Jakarta akan membuka gerai Muamalat di lokasi yang jaringan berjejaring dengan NU DKI Jakarta.

Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah menyambut baik kerja sama kedua pihak ini. Ia mendukung gerai-gerai Muamalat untuk hadir di pelosok-pelosok DKI Jakarta.

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia

Alhamdulillah penandatanganan kesepakatan antara kedua pihak ini berjalan lancar. Saya akan berkomitmen bahwa setelah kesepakatan ini seluruh transaksi PWNU mesti pakai Bank Muamalat Indonesia,” kata H Saefullah.

Muhammadiyah Asli

Ia berharap sosialisasi layanan perbankan berbasis syariah ini dikemas dengan bahasa yang sederhana.

“Saya sebagai Ketua PWNU sudah memulainya. Sejak ini saya menutup semua rekening bank lain,” kata H Saefullah.

Muhammadiyah Asli

Tampak hadir Rais Aam NU KH Makruf Amin, pengurus harian PWNU DKI Jakarta, dan jajaran Direksi Bank Muamalat serta Pimpinan Cabang Bank Muamalat Se-Jabodetabek. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pondok Pesantren, Nusantara, Internasional Muhammadiyah Asli

Sabtu, 03 Februari 2018

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an

Pringsewu, Muhammadiyah Asli



Mustasyar PCNU Pringsewu H Sujadi didaulat mengimami kegiatan peringatan setahun Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Husna yang diasuh oleh Ustadz Abdul Hamid pada Ahad Malam (8/1).?

"Kami ingin keberkahan dan keselamatan selalu menaungi pesantren kami ini melalui wasilah doa yang diimami oleh KH. Sujadi yang juga seorang hafidz quran," kata Ustadz Hamid saat kegiatan berlangsung di pesantren yang terletak di Pringsewu Barat tersebut.

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Gunung Pun Tak Berani Memikul Beratnya Al-Qur’an

Sesaat sebelum mengimami doa, H. Sujadi mengatakan bahwa Pesantren Al Husna merupakan salah satu aset yang perlu terus dikembangkan dalam rangka mencetak para generasi penjaga dan penghafal Al-Qur’an di Kabupaten Pringsewu.

Menurutnya, hal ini selaras dengan pernyataan Gubernur Lampung yang mengatakan bahwa Pringsewu menjadi lumbung bagi sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Lampung.?

Muhammadiyah Asli

Walaupun baru berkiprah setahun, lanjutnya, Pesantren Al Husna sudah mampu memberikan sumbangsing SDM unggul di bidang Ilmu Al-Qur’an dengan para penghafalnya.

H. Sujadi mengapresiasi perjuangan para santri yang terus menghafal 30 juz Al Quran. Menurutnya banyak sekali godaan, cobaan atau ujian yang sering dihadapi oleh mereka yang memiliki tekad menghafal Al-Qur’an.

"Allah telah menjelaskan saking beratnya ilmu Al Qur’an, gunung pun tidak kuat dan tidak berani untuk memikul Al-Qur’an," jelas Abah Sujadi seraya membacakan Ayat Al Quran yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Muhammadiyah Asli

Oleh karenanya, ia berpesan kepada para santri untuk senantiasa istiqomah dan terus berdoa agar niat untuk menghafal Al Quran senantiasa ada dalam diri.?

"Ilmu Al-Qur’an merupakan harta kekayaan yang tak ternilai harganya dan tak akan habis barokahnya. Mudah-mudahan para santri senantiasa diberi kemudahan oleh Allah SWT," harapnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU, Nusantara Muhammadiyah Asli

Senin, 22 Januari 2018

Rihlah Ilmiah Ramadhan ke Masjid Agung Jateng

Semarang, Muhammadiyah Asli. Lebih dari lima puluh peserta mengikuti kegiatan program rihlah ilmiah dalam rangkain kegitan pesantren ramadhan diadakan oleh Rumah Pendidikan Sciena Madani yang bekerja sama dengan Masjid Ar-Rasyid yang terletak di daerah Banjardowo Rt 2 Rw 6 Genuk Semarang.

Rihlah Ilmiah Ramadhan ke Masjid Agung Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Rihlah Ilmiah Ramadhan ke Masjid Agung Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Rihlah Ilmiah Ramadhan ke Masjid Agung Jateng

Rihlah ilmiah merupakan program semacam pariwisata, namun bukan sekedar wisata akan tetapi memiliki nilai-nilai pendidikan. Berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah dengan mengendarai kereta kelinci yang telah dipesan panitia ini bersifat gratis dan bahkan setiap peserta mendapatkan jatah tiket untuk menaiki menara masjid.

Di lantai 19 menara masjid agung jawa tengah, para peserta dikenalkan tentang pemandangan alam khususnya kawasan Semarang. Berlanjut di lantai 2 dan 3 para peserta dibekali dengan pengetahuan tentang sejarah. Sebab di lantai tersebut menjadi museum pusat sejarah Jawa Tengah.

Muhammadiyah Asli

Dalam acara tersebut, para peserta di kawal oleh 2 porsenil Banser Ranting Banjardowo yakni saudara Suyatno dan Rohmani. Menurut Suyatno, bahwa tugas banser bukan sekedar memberikan rasa aman, namun bagaimana juga berperan aktif dalam kegiatan pendidikan.

Muhammadiyah Asli

Rihlah ilmiah ini sebagai bentuk pembelajaran lingkungan kepada anak-anak, kata penanggung jawab acara Ninik Ambarwati. “Saya juga sangat berterima kasih kepada Banser yang meluangkan waktunya untuk memberikan rasa aman dan membimbing anak-anak,” tuturnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukni Maulana

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara, Nahdlatul Ulama Muhammadiyah Asli

Kamis, 11 Januari 2018

5 Manfaat Shadaqah menurut Imam As-Suyuthi

Cirebon, Muhammadiyah Asli. Shadaqah merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat dianjurkan, karena selain memberikan manfaat dalam kehidupan bermasyarakat, para pengamal sodaqoh pun akan mendapat pahala dari Allah SWT.

5 Manfaat Shadaqah menurut Imam As-Suyuthi (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Manfaat Shadaqah menurut Imam As-Suyuthi (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Manfaat Shadaqah menurut Imam As-Suyuthi

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren Daarussalam, Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat KH Tb Ahmad saat mengisi pengajian pasaran di Buntet, Ahad (13/6).

Muhammadiyah Asli

Seraya mengutip pendapatnya Imam As-Suyuthi yang ungkapkan dalam Kitab Khumasi dan dikutip oleh Sayyid Abdurrohman bin Muhammad dalam kitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 107, Kang Entus, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa faidah shadaqah terbagi menjadi lima macam.

Muhammadiyah Asli

"Pertama shadaqah yang pahalanya 10 kali lipat, yaitu shadaqah kepada orang yang sehat wal afiyat," ujarnya di hadapan ratusan peserta pengajian. Kedua, kata dia, shadaqah yang pahalanya 90 kali lipat, yaitu shadaqah kepada orang buta dan yang terkena musibah.

Ditambahkannya, pahala yang ketiga adalah shadaqah yang pahalanya 900 kali lipat, yaitu shadaqah kepada kerabat yang membutuhkan.

"Keempat adalah shadaqah yang pahalanya 100 ribu kali lipat,yaitu shadaqah kepada kedua orang tua," imbuhnya

Dan yang terakhir, lanjut Kang Entus, shadaqah yang pahalanya 900 ribu kali lipat, yaitu shadaqah kepada ulama atau fuqaha. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara, AlaSantri, Sejarah Muhammadiyah Asli

Rabu, 10 Januari 2018

Grand Syekh Al-Azhar Sebut Indonesia sebagai “Macan Asia”

Tangerang Selatan, Muhammadiyah Asli

Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb mengatakan, kemampuan bangsa Indonesia memadukan antara ilmu, iman, dan amal telah menjadikan Indonesia mampu melakukan lompatan-lompatan sehingga menjadi salah satu negara termaju di kawasan Asia. Bahkan, Indonesia telah menjadi “Macan Asia”.

Grand Syekh Al-Azhar Sebut Indonesia sebagai “Macan Asia” (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Syekh Al-Azhar Sebut Indonesia sebagai “Macan Asia” (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Syekh Al-Azhar Sebut Indonesia sebagai “Macan Asia”

“Indonesia juga telah menjadikan Islam sebagai agama untuk membangun kehidupan dunia dan mencapai kebahagiaan ukhrawi, bahkan merupakan agama kemanusiaan secara universal,” ujar Ahmad Ath Thayyeb di alumni Al-Azhar University Kairo di Indonesia dan civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (23/2) siang.

Pemimpin tertinggi Al-Azhar ini sangat berbahagia bisa berkunjung ke negeri yang ia sebut sangat menghargai Mesir. Hal itu tercermin dalam kuatnya hubungan antara kedua belah pihak sepanjang sejarah umat Islam.

“Saya serta rombongan baik dari Al-Azhar maupun dari Majelis Hukama Muslim sangat syukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengunjungi Republik Indonesia dan bertemu dengan rakyatnya yang sangat baik serta terutama dengan saudara-saudara kami seagama. Di mana keduanya berpegang teguh pada aqidah dan akhlaq lslam yang mulia,” paparnya.

Grand Syekh juga memuji bangsa Indonesia dengan mengatakan bahwa Indonesia telah dipilih Allah sebagai negeri tempat menyebarkan lslam sebagai agama yang menyerukan kepada kebahagiaan dunia dan akherat serta menjaga orisinalitas. “Dengan cara tetap menerima segala pembaruan yang keduanya dipadukan secara baik dalam individu maupun masyarakat Indonesia,” katanya.

Muhammadiyah Asli

Menurut Ahmad Thayyeb, Bangsa Indonesia juga telah mampu menyingkap khazanah keislaman yang suci serta nilai-nilai hukum Islam dan akhlaknya dengan mewujudkan nilai keadilan, persamaan, sikap terbuka pada orang lain. Serta memotivasi untuk memiliki sumber-sumber kekuatan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Indonesia juga telah menjadikan Islam sebagai agama untuk membangun kehidupan dunia dan mencapai kebahagiaan ukhrawi, bahkan merupakan agama kemanusiaan secara universal,” ujarnya bangga.

Bagi Grand Syekh, Indonesia juga mampu membantah bohongnya tuduhan yang disampaikan oleh musuh-musuh Islam bahwa Islam adalah agama kemalasan dan tidak produktif sehingga masyarakatnya tidak maju. Bahkan, Islam dianggap sebagai agama yang menghambat kemajuan ekonomi dan politik.

Muhammadiyah Asli

“Saat ini, Indonesia menjadi model negara muslim yang dapat dibanggakan oleh umat Islam seluruh dunia. Sebab, Indonesia telah mampu mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa terutama di Asia Tenggara,” tuturnya.

Hadir dalam Halaqah Nasional ini para dosen Mesir, para duta besar negara sahabat, Duta Besar Mesir untuk RI, Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan Menlu era Gus Dur Alwi Shihab. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara, Bahtsul Masail, AlaNu Muhammadiyah Asli

Senin, 08 Januari 2018

Tiga Alasan Mengapa Seorang Muslim Harus Bertasawuf

Bandung, Muhammadiyah Asli. Guru Besar bidang Tasawuf UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Dr H Mukhtar Solihin mengatakan, ada tiga alasan seseorang harus bertasawuf, “Pertama, tasawuf merupakan basis fitri setiap manusia. Ia merupakan potensi Ilahiyah yang berfungsi mendesain peradaban dunia. Tasawuf dapat mewarnai segala aktivitas sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan,” kata Mukhtar Solihin saat mengisi FGD bertema “Thoriqoh dalam Pandangan Mbah Hasyim Asy’ari” di kantor PWNU Jawa Barat, Sabtu, (23 /4).

Kedua, tasawuf berfungsi sebagai alat pengendali, agar dimensi kemanusiaan tidak ternodai oleh modernisasi yang mengarah dekadensi moral dan anomali nilai, sehingga tasawuf mengantarkan pada “supreme morality” (keunggulan moral).

Tiga Alasan Mengapa Seorang Muslim Harus Bertasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Alasan Mengapa Seorang Muslim Harus Bertasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Alasan Mengapa Seorang Muslim Harus Bertasawuf

Ketiga, tasawuf relevansi dengan problem manusia, karena tasawuf secara seimbang memberi kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus. Selain itu, tasawuf dapat membentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluki, dan dapat memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. Ia bisa diamalkan tiap muslim lapisan manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah (Ka’bah), dan secara rohaniah mereka berlomba menempuh jalan (tarekat) melewati ahwal dan maqam menuju Tuhan yang Satu, Allah SWT.

Dalam diskusi yang diinisiasi oleh Pergunu, Lakpesdam dan Lesbumi NU Jawa Barat dalam rangka Harlah ke-93 NU ini, Mukhtar Solihin juga menjelaskan periodesasi perkembangan tasawuf. Menurutnya sejarah perkembangan tarekat secara garis besar melalui tiga tahap yaitu, tahap Khanaqah, tahap Thariqah dan tahap Tha’ifah.

Tahap Khanaqah (pusat pertemuan sufi) terjadi sekitar abad ke 10 M, di mana seorang syekh mempunyai sejumlah murid yang hidup bersama-sama di bawah peraturan yang tidak ketat. Syekh ini menjadi mursyid (pimpinan) yang dipatuhi. Kontemplasi dan latihan-latihan spiritual dilakukan secara individual dan kolektif. Gerakan ini mempunyai masa keemasan tasawuf.

Muhammadiyah Asli

Berikutnya tahap Thariqah berkembang sekitar abad ke 13 M. Di sini sudah terbentuk ajaran-ajaran, peraturan dan metode tasawuf. Pada masa inilah muncul pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilahnya masing-masing. Berkembanglah metode-metode kolektif baru untuk mencapai kedekatan diri kepada Tuhan. Pada periode ini tasawuf telah mencapai kedekatan diri kepada Tuhan, dan di sini tasawuf telah mengambil bentuk kelas menengah.

Tahap selanjutnya yakni Tha’ifah terjadinya sekitar abad ke 15 M. Pada masa ini terjadi transisi misi ajaran dan peraturan kepada pengikut. Muncul organisasi tasawuf yang mempunyai cabang di tempat lain. Pada tahap Tha’ifah inilah tarekat mengandung arti lain, yaitu organisasi sufi yang melestarikan ajaran syekh tertentu. Terdapatlah tarekat-tarekat seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Syadziliyah, dan sebagainya. (Awis Saepuloh/Zunus)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara Muhammadiyah Asli

Sabtu, 06 Januari 2018

Arsitektur Masjid: Hablu Minallah Hablu Minannas

Cilegon, Muhammadiyah Asli. Arsitektur masjid biasanya terdiri dua ruang, bagian dalam dan serambi. Itu artinya, masjid ada dua bidang ajaran utama, yaitu hablu minallah dan hablu minannas.

Menurut Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi arsitektur masjid seperti itu adalah untuk mengabdi kepada Allah dengan dua cara. Di bagian dalam untuk shalat, i’tikaf, dan wirid, sementara serambi untuk melayani umat.

Kemudian, kiai kelahiran Puwokerto tersebut mencontohkan, Nabi Muhammad tidak memiliki kantor tersendiri seperti kantor kabupaten sekarang. “Nabi, kantornya di serambi masjid. Kantor itu selalu terbuka dan selalu bisa dimasuki umat.”

Arsitektur Masjid: Hablu Minallah Hablu Minannas (Sumber Gambar : Nu Online)
Arsitektur Masjid: Hablu Minallah Hablu Minannas (Sumber Gambar : Nu Online)

Arsitektur Masjid: Hablu Minallah Hablu Minannas

Hal itu dikatakannya pada Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dalam rangka revitalisasi masjid bertema “Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat”, di Pondok Pesantren Darul Ihsan, Pegantungan Jombang, Kota Cilegon, Banten, Sabtu, (20/4).

Di serambi itu, dijadikan tempat pelayanan umat mulai dari pelayanan kesehatan, ekonomi, dan pengetahuan.

Ia menambahkan, tidak ada bangunan umum yang sebanyak masjid, tapi sayangnya, pemanfaatannya tidak terperhatikan. Banyak masjid yang bagus, tapi pemakmurannya kurang.

Muhammadiyah Asli

Padahal, sambung kiai Masdar, umat Islam diberi tugas untuk dua kemakmuran, yaitu memakmurkan masjid, dan pada saat yang sama untuk memakmurkan bumi.

Muhammadiyah Asli

Pencanangan memakmurkan masjid ini dalam rangka menyongsong seabad NU. 13 tahun lagi. Mudah-mudahan NU masih hidup dan bahkan lebih berjaya. Berjaya dengan bertolak dari masjid, untuk memakmurkan bumi,” ucapnya.

Rapimda tersebut digelar Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kota Cilegon bekerja sama dengan PP LTMNU, dan PT Sinde Budi Sentosa.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kiai, Nusantara Muhammadiyah Asli

Kamis, 04 Januari 2018

Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam

Yogyakarta, Muhammadiyah Asli

Kegiatan seni budaya dan religi berupa Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) sampai sekarang masih dilestarikan, karena ada yang peduli terhadap nilai tradisi dan syiar Islam yang diwariskan Sunan Kalijaga ini.



Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam

Demikian disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Prof Dr Dahlan Taib ketika membuka PMPS tahun Ehe 1940 atau 2007 Masehi yang berlangsung di Alun-alun Utara Yogyakarta, Jumat (23/2) petang.

"Jika tidak ada kepedulian, mungkin tradisi budaya ini akan punah, seiring dengan berkembangnya masyarakat di era globalisasi," katanya.

Muhammadiyah Asli

PMPS merupakan kegiatan tahunan yang bermula dari syiar agama Islam yang dilakukan Sunan Kalijaga melalui kegiatan seni budaya. Sekaten sendiri berasal dari kata "syahadatain" atau dua kalimat sahadat, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Muhammadiyah Asli

Walikota Yogyakarta Herry Zudianto dalam sambutannya mengatakan PMPS merupakan even budaya yang lahir sejak awal penyebaran agama Islam pada masa Kasultanan Demak.

"Sekaten yang pada awalnya merupakan media syiar agama Islam, kini berkembang mejadi media pemberdayaan berbagai potensi daerah," kata dia.

Ia mengatakan, seiring perkembangan zaman, keinginan untuk terus memberi ruang dakwah sekaligus melestarikan sejarah dan nilai luhur budaya bangsa, diwujudkan dalam penyelenggaraan PMPS ini.

"Penyelenggaraan PMPS tahun ini dititikberatkan untuk pemberdayaan berbagai potensi daerah agar tetap mencerminkan nilai religi dan budaya lokal yang adiluhung. Maka, apa yang ditampilkan dalam PMPS diupayakan semaksimal mungkin dapat mencerminkan identitas dan keragaman masyarakat Yogyakarta," katanya.

Sejalan dengan itu, kata dia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diberi ruang yang lebih leluasa di arena PMPS, dengan harapan potensi lokal dapat terakomodasi dengan baik.

"Dengan kemampuan optimalisasi kekuatan dan keunggulan oleh pelaku ekonomi PMPS ini, dapat dijadikan sarana promosi untuk menggeliatkan roda ekonomi kerakyatan. Dengan demikian, tradisi sekaten dapat menjadi lokomotif kerakyatan," kata Walikota Yogyakarta.

(sam/ant)Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli IMNU, Nusantara Muhammadiyah Asli

Selasa, 02 Januari 2018

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam

Di pinggiran perbatasan Kecamatan Dander dan Kota Bojonegoro, tepatnya di Dusun Kedunggayam, Desa Karangsono, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro terdapat satu Pondok Pesantren yang tampak sederhana. Setelah menempuh jarak 10 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, melewati jalan setapak sempit, di tengah rerimbunan pohon bambu dan di sekitar aliran sungai yang bergemiricik lengkap dengan bentangan sawahnya, terlihatlah bangunan Pondok Pesantren Hidayatul Islamiyah yang berdiri sejak tahun 1998 silam.

Sang pendiri, Kiai Khoiri Amin menceritakan, awal mula berdirinya Pesantren yang menempati tanah seluas lebih dari satu hektare ini.

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam

Dikatakan, semasa awal berdirinya Pesantren? Hidayatul Islamiah santri yang ada hanya dua anak, Surip dan Syarifuddin. Selang beberapa tahun santri pun bertambah meskipun tidak? seberapa banyak.

Muhammadiyah Asli

“Awalnya hanya ada dua santri, Surip dan Syarifuddin, tapi lama kelamaan berdatangan santri dari daerah-daerah di wilayah Bojonegoro hingga ada yang dari luar kota,” jelas bapak empat anak ini.

Diceritakan,? di pondok yang beliau asuh selain memberikan pendidikan yang berbasis wawasan keilmuan umum dan keagamaan juga memberikan wawasan bersosilisasi dengan masyarakat, pengembangan skill santri. Bahkan, santri juga dibimbing dan dibina hingga mereka berumah tangga.

Muhammadiyah Asli

Sebagaimana santri pertama, Surip yang namanya diganti menjadi Syamsul Huda tetap tinggal di Pesantren hingga berumah tangga bahkan sampai akhir hidupnya. “Surip saya ganti namanya jadi Syamsul Huda, dia wafat dan saya kubur di dekat pondok,” ujar kiai lulusan Pesantren Ta’limul Quran, Gresik ini.

Lebih lanjut pengasuh pesantren yang murah senyum ini menceritakan, degradasi moral bangsa menjadi faktor utama didirikannya pendidikan non formal berupa? Pesantren Hidayatul Islamiah dan pendidikan formal setingkat Raudhotul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) . Menurut Kiai Choir, begitu beliau akrab dipanggil, perlu perhatian khusus pada karakter bangsa yang kian hari kian bobrok.

“Sekarang banyak anak muda yang LKMD, alias lamar kari meteng disek (melamar belakangan, hamil duluan),” ujarnya dengan nada bergurau tapi serius.

Dikatakan, saat ini moral bangsa sedang dipertaruhkan, menghadapi gencarnya budaya luar. Sebab itu, kiai ini menghimbau agar pendidikan karakter harus benar-benar diterapkan di pendidikan formal, jangan hanya sekadar wacana tanpa ada tindak lanjut. “Moral bangsa harus benar-benar diberi perhatian khusus terutama pada lembaga-lembaga formal,” jelasnya.

“Nak de’ biyen akeh wong bender ra pathi pinter, tapi nak sak iki akeh wong pinter ra pathi bendher,”? ungkapnya berkelakar.

Dia menambahkan, pengaruh luar kerap kali meracuni pikiran masyarakat terutama kalangan remaja.? Sehingga tak jarang mayoritas pemuda lupa akan hakikat kesederhanaan dan bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat sebagai individu sosial.

Suasana Damai

Kegiatan di pondok yang letaknya terasing dari keramaian ini penuh dengan kesederhanaan, namun tetap dengan unsur spiritual yang kental sebagai nutrisi moral. Sehabis Shubuh, kegiatan mengaji kitab sorogan dilakukan. Uniknya kajian ini digelar di mana pun tempatnya, asal menyatu dengan alam. Baik itu di sawah, di sekitar kolam maupun di pekarangan dekat sungai. Tergantung, di mana saat itu sang kiai berada. Hal ini sebagai wujud belajar alami. Hal ini dimaksudkan agar para santri bisa mengamati alam dan mengambil i’tibar dari ayat-ayat kauniyah. “Biar santri tahu, bahwa meraka hidup dengan alam yang wajib dijaga dan dilestarikan,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, kesederhanaan sangatlah tampak dari pondokan-pondokan santri yang terbuat dari kayu sederhana dengan luas sekitar 2x2 meter. Pondokan ini dikenal dengan istilah Rompok. Selain rutinitas kajian kitab wetondan salaf, santri juga belajar hidup dengan kegiatan pelatihan bercocok tanam, perikanan, dan perkebunan. Kegiatan tersebut sebagai analogi bahwa jiwa yang sehat terdapat pada badan yang kuat (Al-Aqlu As-Shalim fil Jismi As-Salim).

“Sebagai bahan latihan bagi santri ketika terjun ke masyarakat, selain itu juga mengingatkan mereka bahwa jiwa yang sehat terdapat pada badan yang kuat,” terang kiai asal Kepohbaru ini.

Selain mengkaji kitab salaf juga dilaksanakan pelatihan mukhadhoroh,? dziba’an, tahlilan dan qosidah burdah di hari-hari khusus. Tak tanggung-tanggung, semua kegiatan, sarana dan pra sarana di pesantren ini tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis.

Santri pun berdatangan tidak hanya dari sekitar Kota Bojonegoro, namun juga berasal dari luar kota seperti Lamongan, Gresik, hingga merambah wilayah Jawa Tengah. (Nidhomatum MR)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Warta, Nusantara, Cerita Muhammadiyah Asli

Senin, 01 Januari 2018

Pantau Radikalisme GP Ansor Bolmut Sebarkan Islam Rahmatan lil Alamin di Tiap Masjid

Bolmong Utara, Muhammadiyah Asli - Gerakan Pemuda Ansor Bolang Mongondow Utara kembali berdakwah Islam rahmatan lil alamin di masjid-masjid. Mereka membuat mengadakan kajian-kajian rutin Islam yang penuh rahmat di tiap masjid.

Pada pekan ini, mereka menggelar kajian di masjid Al-Ikhwan Desa Tote, Sabtu (27/02). Pada kesempatan ini mereka mengangkat tema "Menangkal Bahaya Radikalisme dan Penguatan Kebangsaan Ini.”

Pantau Radikalisme GP Ansor Bolmut Sebarkan Islam Rahmatan lil Alamin di Tiap Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pantau Radikalisme GP Ansor Bolmut Sebarkan Islam Rahmatan lil Alamin di Tiap Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pantau Radikalisme GP Ansor Bolmut Sebarkan Islam Rahmatan lil Alamin di Tiap Masjid

"Kajian seperti ini memang harus dikuatkan pada setiap generasi penerus bangsa apalagi pada saat ini banyak paham-paham radikal,” kata Dansatkorcab Banser Bolmong Utara Ridwan.

Muhammadiyah Asli

Menurut Ridwan, Islam Rahmatan lil Alamin dan penguatan kebagsaan perlu diberikan kepada generasi penerus bangsa sehingga mereka diharapkan tidak menjadi target penyebaran paham-paham radikal yang saat ini mengacam NKRI.

Kajian ini langsung dipandu langsung oleh Ketua GP Ansor Bolmong Utara Donal Lamunte. Hadir Juga Ketua BPD Desa Tote dan para pemuda Desa Tote. (Taufik Paputungan/Alhafiz K)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kiai, Nusantara Muhammadiyah Asli

Minggu, 31 Desember 2017

Bikku Saddaviro: Gus Dur Lebih dari Sekadar Memahami Agamanya

Banjarmasin, Muhammadiyah Asli. Peringatan Haul Ke-6 Gus Dur di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Selatan di Jalan A Yani KM 12, Gambut, Kabupaten Banjar, Kalsel, berlangsung khidmat dengan kehadiran para tokoh NU dan lintas agama setempat.

Acara yang diselenggarakan komunitas Gusdurian dengan tema “Merawat Tradisi Merajut Hati” ini menyuguhkan testimoni para tokoh yang hadir tentang sosok Gus Dur.

Bikku Saddaviro: Gus Dur Lebih dari Sekadar Memahami Agamanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bikku Saddaviro: Gus Dur Lebih dari Sekadar Memahami Agamanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Bikku Saddaviro: Gus Dur Lebih dari Sekadar Memahami Agamanya

“Gus Dur memang sudah wafat. Tapi beliau masih terasa hadir di tengah-tengah kita,” ujar Anthony Subiakto, wakil dari etnis Tionghoa Kalimantan Selatan, Selasa (29/12) malam itu.

Muhammadiyah Asli

Selama hidupnya, Almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memang memiliki pergaulan luas dengan berbagai kalangan dan kelompok sosial. Perhatian cucu KH Hasyim Al Asy’ari, pendiri NU, terhadap kaum tertindas juga tak diragukan.

Saat menjabat sebagai presiden ke-4, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Imlek kemudian ditetapkan sebagai hari libur fakultatif. “Masyarakat Tionghoa tidak akan pernah melupakan Gus Dur,” tutur Anthony, yang saat ini menjabat wakil ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) itu.

Muhammadiyah Asli

Kesan mendalam juga disampaikan perwakilan umat Buddha. “Gus Dur adalah sosok dengan spiritualitas yang tinggi. Beliau hidup tidak sekadar hidup. Hidupnya didedikasikan untuk memberi manfaat besar kepada bangsanya. Itulah kenapa hingga saat ini beliau masih terasa kehadirannya, meskipun ruhnya sudah terpisah dari jasad,” ujar Bikku Saddaviro.

Menurut Bikku Saddaviro, orang yang hidup sekadar hidup tanpa memberikan manfaat, saat masih hidupnya saja sudah dilupakan banyak orang. “Yang membuat Gus Dur itu istimewa, beliau tidak hanya mengerti dan memahami agamanya, tapi juga mengerti dan memahami agama yang dianut orang lain. Itulah yang mendasari sikap dan kiprah beliau,” ujarnya.

Turut hadir juga perwakilan dari umat Katolik, Protestan, Buddha, dan komunitas waria. Dari NU sendiri diwakili oleh Ketua PWNU Kalsel KH Syarbani Haira dan sejumlah pengurus, puluhan aktivis, mahasiswa dan anak muda NU se-Kalsel.

Acara diakhiri dengan peresmian Gusdur Corner oleh ketua PWNU dan para tokoh lintas agama tersebut. Dalam kesempatan itu, Dr. Ahmad Syaikhu, pengurus PWNU menyerahkan 300 eksemplar buku untuk Gusdur Corner, yang secara simbolis diterima oleh Siti Tarawiyah, koordinator Gusdurian Kalsel. (tqnnewscom/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara Muhammadiyah Asli

Sabtu, 30 Desember 2017

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

Bojonegoro, Muhammadiyah Asli. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bojonegoro mengumpulkan 350 kepala sekolah/madrasah di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Sabtu (22/11), di Bojoengoro, Jawa Timur. Pertemuan dimaksudkan untuk menyosialisasikan perubahan administrasi dan perlunya peningkatan kaderisasi NU di tingkat pelajar.

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bojonegoro Dorong 350 Madrasah Dirikan Komisariat IPNU-IPPNU

PCNU Bojonengoro dalam kesempatan tersebut mendorong kepala madrasah/sekolah untuk menjadi fasilitator dalam pendirian komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di masing-masing unit pendidikan.

Salah satu pengurus LP Ma’arif NU Bojonegoro, H. Agus Huda, mengatakan, sudah menjadi tugas lembaganya untuk menekankan kepada sekolah atau madrasah agar membentuk komisariat IPNU mengingat organisasi ini memang berada di tingkat pelajar.

Muhammadiyah Asli

Pada Acara tersebut dilaksanakan pula penandatanganan kemitraan untuk pendirian komisariat IPNU-IPPNU oleh H. Agus Huda (PC LP Ma’arif NU Bojonegoro), M. Masluhan (PC IPNU Bojoengoro), H. Yasmani, (Kasi Penma Kemenag Bjn ), dan H. Basuki (PC NU Bojonegoro).

Selain tentang pendirian komisariat IPNU-IPPNU, LP Ma’arif NU dalam pertemuan ini juga menyampaikan sejumlah informasi, di antaranya mengenai pedoman penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan Ma’arif NU dan tindak lanjut perubahan akte notaris.

Muhammadiyah Asli

Sekretaris PC LP Ma’arif NU Moh. Sholihul Hadi menjelaskan, sosialisasi administratif itu dilakukan seiring dengan telah diperbaruinya Anggaran Dasar Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama Nomor: C.2-7028.HT.01.05.TH.89 dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. AHU-119.AH.01.08 Tahun 2013, bahwa satuan pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama diwajibkan menggunakan Badan Hukum Perkumpulan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Hikmah, Nusantara Muhammadiyah Asli

Senin, 25 Desember 2017

Polres Sampang Beri Layanan Pembuatan SIM di Pesantren

Sampang, Muhammadiyah Asli. Menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2017, Satuan Polisi Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sampang, Jawa Timur, melakukan terobosan inovatif dengan menggelar kegiatan pelayanan SIM masuk pesantren dan sosialisasi santri pelopor tertib berlalu lintas.

Polres Sampang Beri Layanan Pembuatan SIM di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Polres Sampang Beri Layanan Pembuatan SIM di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Polres Sampang Beri Layanan Pembuatan SIM di Pesantren

"Kami  jemput bola dengan masuk ke pondok pesantren, memberikan layanan pembuatan SIM. Santri ini kan terkendala waktu apabila mengurus SIM di kantor karena kesibukan belajar. Makanya kami jemput bola untuk memberikan solusi," terang Kasatlantas Polres Sampang, Musa Bahtiar ditemui di lokasi, Pondok Pesantren Assirojiyyah, Kajuk, Kelurahan Sampang, Kabupaten Sampang, Sabtu (21/10).

Namun begitu, para santri tidak serta merta mudah mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Para santri tetap harus melalui prosedur, seperti tes kesehatan, ujian tulis, dan ujian praktik berkendara.

"Dalam momentum Hari Santri Nasional ini kami mengajak para santri menjadi pelopor tertib berlalu lintas dan peduli terhadap keselamatan berlalu lintas. Harapan kami, santri menjadi contoh bahwa penggunaan helm dan tertib berlalu lintas untuk kepentingan pribadi," sambung pria yang baru beberapa minggu bertugas di Sampang ini.

Sekertaris Pesantren Assirojiyyah, Agus Adnani mengatakan jumlah santri yang mengajukan permohonan SIM sebanyak 55 santri.

Muhammadiyah Asli

"Insyaallah jumlahnya akan bertambah," tukasnya.

Muhammadiyah Asli

Pantuan dilokasi, ujian praktek berkendara diwarnai gelak tawa, pasalnya beberapa santri yang memakai sarung terlihat kesulitan saat melintas di jalur yang diberi tanda oleh polisi. Namun, para santri tetap semangat melaju di lintasan hingga dinyatakan lulus. (Hadji/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Ubudiyah, Pendidikan, Nusantara Muhammadiyah Asli

Kamis, 14 Desember 2017

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Oleh Irfan Nuruddin

---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni Pondok? Langitan, perihal sosok Jokowi,? bagaimana keislamannya dan kiprah dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.

Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu shohih, tsiqoh, aku iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?

Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari sumber yang tsiqoh, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang aku tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor Jokowi.

Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi di Mata Kiai Lokal

“Pak, keislaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya keislaman Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad? 22 Juni di ndalem beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.

? “Islam-imanipun Jokowi miturut kulo sae, saestu sae (baik, benar-benar baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq, (Pengasuh PP Al Muayyad).

Muhammadiyah Asli

Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena beberapa anggotanya sama mencalonkan dirimenjadi Wali Kota, Pak Jokowi sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat, adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil mantu oleh orang-orang? yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak tho Gus?” jawab beliau lugas.

? ? “Tapi kulo gih tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain, hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe… Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau sengau menahan isak.

Muhammadiyah Asli

Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan pertanyaan rasanya tidak mampu.Terbawa suasana yang tiba-tiba mengiris-ngiris kalbu.

? “Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus, bacaannya tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan seperti itu menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi kafir?” Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.

Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut. Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih masih dan dasyhat, sehingga pada waktu ? Jokowi sowan ke Pak Dul Kareem (begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti itu, tetapi menawi kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir, nasrani,… kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau ibu saya yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),”? kata Jokowi ditrukan Pak Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.

Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur, setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin. Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN dan PKS-mambu-mambu sitik (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).

Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga kebijakannya, terutamapada umat Islam?”

? “Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat Islam subtantif Gus, tur yo merakyat tenan, umat Islam di Solo itu kan mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi ? Pak Jokowi untuk mengangkat ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional, minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada lagi,jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.

Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan? dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil di sekitarnya.

? “Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar untukmenghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak ? salah untuk berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan marak… podo ditumpakke? jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek Wali Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa dihargai),” ? cerita PakDul Kareem panjang lebar.

Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan semrawut, dan? sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal Ahbabul Musthofa saat ini.

Solo saat ini jadi lebih hijau dhohiron wa bathinan, peringatan hari besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir dan mengkhatamkan Al Qur’an.

? “Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, kulo ngiro niku isinya arto Gus, tapi jebule stiker (saya kira isinya uang, tapi sertanya isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua Selamat Dunia Akhirat.”

Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000 stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang puluhan juta. Jebule cuma stiker.

Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi adalah salah satu pembinanya.

? “Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados ketua PCNU Solo, jadi gih saget bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem dengan antusias.

? “Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu juga kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca yang di depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal untuk hal seperti itu, nyuruh ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat ketika Jokowi ngangkati gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam pembukaan apa itu, aku lupa.

? Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya dari keluarga muslim yang baik, ? yang juga telah melakukan rukun Islam kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta, dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu, Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya. ? Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah ? “Akulah yang paling Islam, Akulah yang paling benar” yang lain KW.

Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak Dul Kareem dalam ranah politik dia.

“Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan hanya bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan saya dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah kulo yang salah, kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan sampluk. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.

Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan, dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.

Wallohu a’lam bisshowab.

Irfan Nuruddin, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara, Kajian Muhammadiyah Asli

Sabtu, 09 Desember 2017

Kiai Said: NU Tak Ada Tendensi Politik dalam Menyikapi RUU Pilkada

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, NU tidak memiliki tendensi politik dalam sikapnya mendukung pemilihan kepala daerah oleh DPRD karena hal itu sudah diputuskan pada munas NU 2012 di Cirebon, bukan mensikapi perdebatan di DPR yang saat ini sedang mengemuka.?

Kiai Said: NU Tak Ada Tendensi Politik dalam Menyikapi RUU Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: NU Tak Ada Tendensi Politik dalam Menyikapi RUU Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: NU Tak Ada Tendensi Politik dalam Menyikapi RUU Pilkada

Kiai Said menjelaskan, para ulama dalam forum musyawarah NU tertinggi setelah muktamar ini menilai, baik pilkada langsung maupun pilkada tidak langsung masing-masing memiliki kelemahan. Para kiai NU tersebut mengalami langsung kondisi di lapangan efek negatif yang ditimbulkan oleh pilkada langsung ini dan berkesimpulan, pilkada langsung lebih banyak mudharatnya, terutama terkait dengan biaya yang besar dan konflik horisontal.

“Ini merupakan keputusan para ulama sepuh yang dengan jernih menilai, mudharat pilkada langsung sudah jelas, sementara manfaatnya belum tentu tercapai,” kata Kiai Said di gedung PBNU, Jum’at (12/9).

Terkait dengan sejumlah tokoh bersih yang terpilih melalui pilkada langsung seperti Tri Rismaharini, Jokowi, Azwar Anas, Ridwal Kamil dan lainnya, jumlah mereka masih bisa dihitung dengan jari dibandingkan dengan pemimpin daerah yang terkena korupsi. Beberapa pemimpin daerah yang terjerat kasus korupsi oleh KPK diantaranya, Bupati Bogor, Bupati Kerawang, Bupati Biak Numfor dan lainnya.

Muhammadiyah Asli

Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan ? pada pada Mei 2014 lalu menyebutkan sudah terdapat 325 kepala daerah yang terjerat hukum, baik masih berstatus tersangka atau sudah menjadi narapidana.

Muhammadiyah Asli

“Untuk bisa terpilih dalam pilkada, minimal harus mengeluarkan 15 milyar, atau pemimpin yang benar-benar dicintai oleh rakyat seperti Pak Jokowi,” kata Kiai Said.?

Kiai Said menambahkan, “Kalau di PBNU, perbedaan pendapat pilihan politik dianggap sebagai hal yang biasa, tetapi belum tentu masyarakat di daerah bisa bersikap sama.”

Sikap NU ini, kata Kiai Said, akan terus dipegang selama belum ada keputusan baru dalam forum yang setara atau di muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi organisasi.

Berikut hasil bahtsul masail maudluiyyah pemilukada dalam perspektif Islam dalam Munas NU Cirebon, 15-17 September 2012

1. Pemilukada yang didasarkan pada UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memiliki tujuan yang sangat mulia, antara lain:

a. Melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat luas dalam memilih pemimpin di daerahnya. Dengan demikian, ini merupakan pendidikan politik bagi masyarakat dalam berdemokrasi.

b. Terpilihnya kepala daerah yang aspiratif yang memahami betul problematika masyarakat dan pemecahannya.

Tujuan mulia ini dapat disebut dengan kemaslahatan (mashlahah) yang hendak diraih dengan pemilukada.

2. Dalam praktek pelaksanaan pemilukada selama ini, dampak positif (mashlahah) yang diharapkan tidak selalu terbukti. Bahkan sebaliknya, dampak negatif (mafsadah), baik dalam proses maupun dalam produknya, telah terjadi dalam skala yang sangat mencemaskan.

3. Pendidikan politik yang diberikan kepada rakyat melalui pemilukada bukanlah pendidikan politik yang sehat, melainkan pendidikan politik yang buruk, antara lain berupa merebaknya money politics (risywah siyasiyyah). Biaya pemilukada menjadi sangat mahal, bukan hanya bagi negara, tetapi juga bagi para kandidat. Hal ini sangat potensial untuk menimbulkan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Banyaknya kepala daerah yang terlibat kasus korupsi, membuktikan kebenaran hal ini.

4. Harapan untuk memperoleh kepala daerah yang terbaik (ashlah) melalui pemilukada, lebih sering tidak terwujud dalam kenyataan. Sementara itu konflik horizontal akibat pemilukada telah menjadi kenyataan yang sangat memprihatinkan.

5. Mengingat mafsadah pemilukada merupakan mafsadah yang sudah nyata terjadi (muhaqqaqah), sedangkan mashlahahnya lebih sering maslahat semu (wahmiyyah), maka pemilukada wajib ditinjau kembali. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqhiyyah:

? ? ? ? ? ?. ?

“Menghilangkan kerusakan lebih utama daripada meraih kemaslahatan.” (Abdurrahman bin Abi Bakr as-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nazha`ir, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1403 H, h. 87).

6. Pemilihan kepala daerah (Pilkada) gubernur, bupati dan walikota melalui lembaga perwakilan (DPRD tingkat I dan DPRD tingkat II) layak untuk diberlakukan kembali, karena terbukti mafsadahnya lebih kecil daripada mafsadah pemilukada. Hal ini sejalan dengan prinsip hukum Islam tentang ditempuhnya madharat yang lebih ringan di antara dua madharat (irtikab akhaff al-dlararain) yang didasarkan pada kaidah fiqhiyyah:

? ? ? ? ? ? ? ?. “Apabila ada dua mafsadah saling bertentangan maka harus diperhatikan mafsadah yang lebih besar bahayanya dengan memilih mafsadah yang lebih ringan madlaratnya” (Abdurrahman bin Abi Bakr as-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nazha`ir, Bairut-Dar al-Kutub al-„Ilmiyyah, 1403 H, h. 87). (mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nusantara, Syariah Muhammadiyah Asli

Kamis, 30 November 2017

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir

Jakarta, Muhammadiyah Asli - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI? NU) DKI Jakarta bersama PLAN memberikan bantuan berupa 580 paket school kits untuk anak-anak terdampak banjir Februari 2017 di sembilan titik di Jakarta, Jumat (3/3). Bantuan ini diturunkan dalam rangka meringankan beban warga terdampak banjir khususnya anak-anak.

Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh H Mastur Anwar dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta.

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir

H Mastur mengapresiasi LPBI NU DKI Jakarta yang tak henti-hentinya berkhidmat untuk meringankan beban umat terdampak bencana di Jakarta. PWNU DKI Jakarta akan terus mendukung kegiatan-kegiatan sosial LPBI NU DKI Jakarta.

Muhammadiyah Asli

Ketua PWNU DKI Jakarta Saefullah yang juga Sekda Provinsi DKI Jakarta menyampaikan, aksi sosial LPBI NU DKI Jakarta adalah sesuatu yang riil dan menyentuh langsung pada kebutuhan umat. Inilah sebenarnya tujuan dari Nahdlatul Ulama.

Bantuan diturunkan di Tanah Tinggi (Jakarta Pusat), Kedaung Kaliangke, Kapuk, Tegal Alur dan Tamansari? (Jakarta Barat), Manggarai (Jakarta Selatan), Kalimalang, Pinangranti, Pulogadung (Jakarta Timur).

Muhammadiyah Asli

Ketua LPBI NU DKI Jakarta M Wahib mengatakan, apa yang dilaksanakan dalam penanggulangan bencana merupakan sebuah keniscayaan bekerja sama dengan berbagai lembaga dan para pihak.

Penanggulangan bencana, kata Wahib, merupakan urusan semua pihak baik pemerintah, masyarakat maupun juga sektor privat/dunia usaha. Semuanya bertujuan untuk saling meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana.

“Kegiatan ini terlaksana karena partisipasi dari PWNU, PLAN dan Santri Siaga Bencana (SSB)” ujar Wahib.

Bersamaan dengan acara penyerahan bantuan juga dilakukan psikososial melalui dongeng anak nusantara oleh Toni dari LPBI NU DKI Jakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Tegal, Nusantara Muhammadiyah Asli

Minggu, 26 November 2017

Diskusi Bulanan, Risalah NU Bahas Penguatan Ekonomi Umat

Jakarta, Muhammadiyah Asli - Majalah Risalah Nahdlatul Ulama kembali menggelar Diskusi Publik Bulanan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14 /11). Kali ini Majalah Risalah mengangkat tema Penguatan Ekonomi Umat dengan menghadirkan sejumlah pembicara.

Hadir sebagai pembicara Ketua Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) KH Mansyur Syaerozi, dan Payment Ecosystem Experience Telkomsel Zuhed Nur.

Diskusi Bulanan, Risalah NU Bahas Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi Bulanan, Risalah NU Bahas Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi Bulanan, Risalah NU Bahas Penguatan Ekonomi Umat

Pemimpin Redaksi Majalah Risalah Musthafa Helmy mengatakan, diskusi kali ini diharapkan menjadi pengantar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 yang mengangkat tema tentang ekonomi umat.

Ia pun berharap kepada Ketua LTM PBNU yang dihadirkan untuk menyampaikan tentang perkembangan ekonomi umat lewat masjid.

Muhammadiyah Asli

Begitu juga kepada pihak telkomsel diharapkan berbicara tentang peluang ekonomi di dunia maya.

Muhammadiyah Asli

"Karena tantangan terbesar adalah dunia maya," katanya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pertandingan, Nusantara Muhammadiyah Asli

Selasa, 07 November 2017

PBNU Lakukan Taaruf

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2015, Rabu (28/4) malam, melakukan taaruf atau perkenalan antar sesama pengurus sekaligus kepada publik, di Jakarta.

 

PBNU Lakukan Taaruf (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lakukan Taaruf (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lakukan Taaruf

Hampir semua jajaran PBNU menghadiri acara itu, diantaranya Rais Aam KH Sahal Mahfudh, Wakil Rais Aam KH Musthofa Bisri, Ketua Umum KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Ketua Umum As`ad Said Ali.

Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang kini salah satu rais syuriah tidak hadir karena sedang berada di Jawa Tengah, namun sejumlah tokoh nasional seperti mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Menteri PDT Helmy Faishal Zaini, dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok menghadiri acara itu.

Muhammadiyah Asli

Acara didahului dengan tahlil yang dipimpin oleh mustasyar PBNU KH Endin Fahruddin Masturo untuk mendoakan para pendiri dan pejuang NU.

Muhammadiyah Asli

Dalam kesempatan tersebut, seluruh jajaran pengurus syuriyah dan tanfidziyah naik ke panggung dan selanjutnya dibaiat oleh Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz dengan mengucapkan radhitubillahi robba, (saya ridho Allah, tuhanku).

Acara selanjutnya lebih banyak diisi dengan ramah tamah secara informal diantara para pengurus dan undangan yang hadir.

Kamis besok, acara dilanjutkan dengan pleno pertama, yang salah satunya membahas kepengurusan lembaga dan lajnah. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli RMI NU, Amalan, Nusantara Muhammadiyah Asli

Kamis, 02 November 2017

Sidang Paripurna DPD RI Dorong Daerah Siap MEA 2015

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Selasa (13/1) ini, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) akan menggelar Sidang Paripurna ke-9 dengan ? agenda di ? Gedung Nusantara V MPR RI/DPD RI. Sidang paripurna akan membahas mengenai Acara Persidangan DPD RI Massa Sidang 2014-2015.

Sidang Paripurna DPD RI  Dorong Daerah Siap MEA 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Paripurna DPD RI Dorong Daerah Siap MEA 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Paripurna DPD RI Dorong Daerah Siap MEA 2015

Kepala Pusat Data dan Informasi Sekretariat Jenderal DPD RI Nana Sutisna, dalam rilis pers yang diterima Muhammadiyah Asli mengatakan, Sidang Paripurna DPD RI dilaksanakan dengan agenda Sidang Pidato Pembukaan Masa Sidang II DPD RI Tahun Sidang 2014-2015 oleh Ketua DPD RI Irman Gusman, didampingi wakil ketua Farouk Muhammad dan GKR Hemas dan diakhiri dengan laporan Kegiatan Anggota DPD RI di daerah Pemilihan.

Para senator dari 33 propinsi telah melakukan reses ke daerah masing-masing dengan agenda melalukan pemantauan langsung; Salah satu point adalah Kesipan Daerah menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Tahun 2015.?

Muhammadiyah Asli

Salah satu point penting adalah kesiapan daya saing masing-masing daerah dalam masyarakat ekonomi ASEAN 2015 karena disadari atau tidak daerah yang paling merasakan dampaknya disamping menurunnya daya beli masyarakat disebabkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM), dan tingginya tingkat pengangguran di daerah. Untuk itu diharapkan pemerintah harus bekerja keras melakukan percepatan semua kebijakan ekonomi demi mendongkrak daya saing bangsa di regional ASEAN.

Muhammadiyah Asli

Daerah-daerah harus mengangkat produk khas daerah yang berkualitas dan terstandarisasi sehingga daerah mendapatkan efek positif di era pasar bebas kawasan ASEAN tersebut.

Sidang paripurna DPD RI merupakan bagian dari mekanisme sistem pengawasan anggota DPD RI.

Dalam Laporan ? kegiatan setiap anggota DPD RI di daerah pemilihannya biasanya juga akan membahas tentang kesiapan daerah dalam berbagai aspirasi masyarakat melingkupi antara lain otonomi daerah, pendidikan; agama; kebudayaan; kesehatan; pariwisata; pemuda dan olahraga; kesejahteraan sosial; pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; tenaga kerja dan transmigrasi; ekonomi kreatif; dan permasalahan lainnya yang berhubungan dengan aspirasi masyarakat dan daerah yang ditampung oleh anggota dewan.

Menurut rencana, dalam Sidang paripurna yang akan dihadiri oleh para senator dari 33 provinsi tersebut, juga akan membahas beberapa program kerja ke depan; salah satunya adalah membangun komunikasi dengan media massa. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Syariah, Nusantara, Tegal Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock