Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) NU akan dikukuhkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (23/9). Kegiatan yang berlangsung selepas Jumatan tersebut rencananya akan dibuka dengan pidato Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dhakiri.

Pengukuhan bertema “Reposisi gerakaan Konfederasi Sarbumusi NU dalam politik perburuhan nasional dan internasional” tersebut akan mendaulat tokoh senior Sarbumusi untuk menyampaikan testimoni tentang organisasi tersebut di masa lalu, yaitu Nursyam Latif dari Surabaya dan OK Zainal Rosyidin dari Medan.

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Pengurus DPP Konfederasi Sarbumusi Dikukuhkan di PBNU

Menurut Ketua Panitia Pengukuhan Eka Fitri Rohmawati, pengukuhuan tersebut dilanjutkan dengan dialog denngan narasumber Dirjend PHI dan Jamsos Kemenaker RI, Council Industrian all Indonesia Saiful DP, dan ILO Jakarta Soeharjono. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Jakarta.

Muhammadiyah Asli

Kemudian, lanjut dia, keeseokan harinya, akan dilanjutkan dengan Rapat Kerja DPP K-Sarbumusi untuk menyusun agenda-agenda ke depan.

Muhammadiyah Asli

Rapat Kerja tersebut, tambahnya, sebagaimana tema pengukuhan adalah menyusun upaya-upaya membangkitkan kejayaan Sarbumusi yang pernah diraih di tingkat nasional dan tingkat internasional. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian Islam, Tegal, AlaNu Muhammadiyah Asli

Melawan Rentenir dengan Kelompok Yasin Tahlil

Jombang, Muhammadiyah Asli. Dengan duduk berhadapan, Muhibbulloh salah satu pengurus jamiyah Yasinan dan Tahlil Dusun Babatan Desa Kedawong Kecamatan Diwek Jombang dengan telaten melayani pinjamaan modal bagi anggotanya. 

Kegiatan peminjaman ini dilakukan usai menjalankan pembacaan Yasin dan Tahlil setiap malam Jum’at. Dengan modal saling percaya jamaah ini telah memiliki omset sebesar Rp 16,5 juta selama dua tahun yang digulirkan tanpa ada bunga sama sekali.

Melawan Rentenir dengan Kelompok Yasin Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Melawan Rentenir dengan Kelompok Yasin Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Melawan Rentenir dengan Kelompok Yasin Tahlil

“Alhamdulillah, dengan adanya dana Yasinan dan Tahlil ini masyarakat tidak lagi meminjam dari rentenir yang getol masuk di desa ini,” ujarnya bercerita.

Muhammadiyah Asli

Muhibbullah menceritakan, kegiatan simpan pinjam modal di desanya memang dilatarbelakangi maraknya rentenir yang masuk dalam perekonomian masyarakat di lingkungan dusun Babatan Desa Kedawong Diwek Jombang. Melalui PKBM Sanggar Belajar Yalatif yang memberikan infaq Dana kepada Jam’iyah Yasin Tahlil membuat sistem perbantuan ekonomi dengan sistem Simpan Pinjam Tanpa Bunga (SPTB). 

Muhammadiyah Asli

“Kegiatan yang dilakukan sejak bulan September 2010 ini sampai saat ini telah memiliki modal sebesar Rp16,2 juta dan dipinjam bergiliran oleh 32 orang dari 70 anggota jam’iyah,” bebernya.

Untuk bisa meminjam modal usaha, dikatakannya, nasabah harus terlebih dahulu menjadi anggota aktif Jamiyah Yasin Tahlil dan mendaftar dengan uang pangkal (simpanan wajib) sebesar Rp. 5.000. Soal berapa besar pinjaman untuk setiap anggota bervariasi. 

“Untuk modal usaha maksimal pinjaman Rp 1 juta sedangkan untuk keperluan konsumtif maksimal pinjaman Rp500.000,” ungkapnya.

Muhib meyakinkan, bahwa setiap nasabah yang hutang menerima utuh modal yang dipinjam tanpa adanya potongan administrasi sebagaimana di koperasi atau yang lainnya. Sedangkan terkait pengembalian juga dilakukan secara utuh dengan cara mengangsur selama 20 kali kegiatan Yasin tahlil atau 20 minggu dengan toleransi absen 2 kali,

”Berapa yang diangsur tidak ada ketentuan, yang penting 20 pertemuan Yasin Tahlil bisa lunas, jadi jika melakukan pengembalian nasabah juga dilakukan saat kegiatan Yasin dan tahlil,” ungkapnya seraya mengatakan selama masih memiliki pinjaman, setiap anggota bisa memasukkan infaq sukarela ke dalam kaleng yang disediakan jamaah.

Dari infaq para nasabah dan jamaah ini pada akhir tahun (bulan Sya’ban) baru dibuka. Adapun dana infaq dari kaleng peruntukannya dibagi menjadi 3 kegiatan, yakni 20 % untuk petugas pencatat, 30 % untuk dana sosial (bila ada tetangga kesusahan) dan yang 50 % untuk tambahan modal atau Kas Yasinan.

Bagaimana cara pengurus menghindari kredit macet..? Dikatakan Muhib, untuk menghindari pinjaman agar tidak macet, beberapa cara dilakukan diantaranya adalah setiap anggota yang meminjam, maka antara Pengurus dan Peminjam melakukan akad pinjam meninjam disaksikan seluruh Jamaah. 

“Saya Pak Fulan dengan ini meminjam uang Yasinan sebesar Rp 1 juta untuk modal usaha, semoga barokah,” ucapnya dan akan menggembalikan dalam waktu 22 pertemuan.

Dengan akad pinjam modal dengan model ini dikatakan Muhibbullah sebagai bentuk tanggung jawab seorang nasabah terhadap seluruh jamaah yasin dan tahlil. 

“Akad pinjam ini efektif untuk menghindari kredit macet,“ jelasnya.

Disamping itu, ada sanksi sosial yang juga dijalankan atas kesepakatan jamaah, karena dana yang dipinjam adalah uang Jam’iyah Yasiin, sejak awal dibentuknya SPTB ini semua anggota telah bersepakat bahwa ketika ada anggota yang ngemplang utang, maka kalau dia atau keluarganya meninggal. Masyarakat tidak akan datang untuk Tahlil ke rumahnya.

”Faktanya membuktikan bahwa uang infaq sukarela peminjam yang dikumpulkan ketika dibuka di akhir tahun jumlahnya lebih besar dari bunga konvensional,” bebernya.

Dari kegiatan Simpan Pinjam melalui Jamaah Yasin Tahlil ini, hari ini bisa dirasakan masyakarat. Diantaranya adalah tidak ada rentenir yang berani masuk Dusun Babatan Desa Kedawong Diwek. Karena uang mereka tidak laku lagi, karena bunganya juga sangat tinggi. 

“Dan Alhamdulillah kini masyarakat sudah mulai ada rintisan wirausaha. Ada sebanyak 21 Rumah Tangga yang memiliki jenis usaha, seperti pengolahan kripik gadung dan tape ketan hijau "tjap sanggar" dan lain lain dibawah naungan PKBM Sanggar Belajar Yalatif,” pungkas Zainudin yang terus mendampingi kegiatan masyarakat ini.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli AlaNu, Berita Muhammadiyah Asli

Minggu, 11 Februari 2018

Spiritualitas-Humanistik Kiai

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Sudahkah kita meluangkan sejenak waktu untuk mengingat kiai-kiai kita? Merenungkan keteladanannya? Mengulang kembali wejangan-wejangannya di kehidupan kita? Dan mengirimkan doa kepadanya? Jika belum, saya sarankan untuk memulainya dari sekarang, paling tidak satu kali setiap harinya.

Islam masuk ke Indonesia melalui para sufi. Walisanga adalah ulama-sufi yang menyebarkan Islam menggunakan pendekatan budaya. Islam dikolaborasikan dengan budaya lokal untuk mempermudah orang-orang pribumi memahami ajarannya. Tidak ada penaklukan dan kampanye militer besar-besaran dalam proses islamisasi Nusantara.

Spiritualitas-Humanistik Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas-Humanistik Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas-Humanistik Kiai

Saya menganggap para kiai sebagai pewaris dakwah walisanga.Pendekatan yang mereka gunakan sama, mengawinkan budaya dengan agama, dan mempertahankan nilai-nilai luhurnya. Hal ini menjadi mungkin karena tasawuf sangat mengakar dalam tradisi intelektual mereka.

Tasawuf itulah yang kemudian menguatkan spiritualitas-humanistik sang kiai. Memandang dunia tidak lagi hitam-putih; menilai manusia tidak lagi dari dosa-pahala. Selama nafas masih dikandung badan, kemungkinan menjadi baik selalu terbuka. Pintu taubat selalu terbuka.

Hal itu dicontohkan oleh gaya mendidik para kiai di pesantren atau kampungnya masing-masing. Al-Magfûrlah Kiai Imam Muzani Bunyamin dari Bulus, Kebumen melarang santri-santrinya menyebut seorang santri yang ketahuan mencuri sebagai pencuri. Katanya: “Tidak ada santri mencuri, mereka hanya nyelang ora taren—meminjam tanpa izin.” 

Muhammadiyah Asli

Meski terlihat sepele, dalam konteks pendidikan, kata-kata itu memberikan sentuhan magis tersendiri bagi para santri, khususnya bagi santri yang mencuri. Ia merasa dimanusiakan, sehingga menimbulkan hasrat berubah yang tinggi. Dawuh kiyainya tersebut tidak lain adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak dikeluarkan dari pesantren dan terus menjadi santri.

Sedangkan untuk santri lainnya, dawuh Kiai Muzani tersebut mengajarkan bahwa manusia harus dipahami dengan kasih sayang. Siapapun orangnya berhak mendapatkan pengampunan dan kesempatan selama hidupnya. Jangan mudah memberi label salah, sesat, dan jahat kepada seseorang. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, mereka menjadi orang yang baik.

Mereka hanyalah orang yang sedang berproses menjadi manusia. Dari yang jahat menjadi sedikit jahat; dari yang baik menjadi lebih baik, dan seterusnya. Jika para santritergesa-gesa melabeli mereka sebagai penjahat atau ahli maksiat, mereka akan semakin menjauh, karena santri-santri itu telah menutup pintu bagi mereka. Dakwah adalah pintu yang terbuka. Bisa dimasuki siapa saja, tanpa pilah dan pilih, seperti ucapan Maulana Rumi: 

“Come, come, whoever you are,wanderer, idolater, worshiper of fire,come even though you have broken your vows a thousand times,come, and come yet again. Ours is not a caravan of despair—kemari, datanglah, siapapun kau, petualang, penyembah berhala, pemuja api, kemari mendekatlah meskipun kau telah mengingkari sumpah seribu kali, kemari mendekatlah. Kami bukanlah karavan keputus-asaan.”

Muhammadiyah Asli

Di tempat lain, di daerah Susukan, Cirebon, al-Maghfûrlah Kiai Jahari mengajarkan santrinya makna terdalam dari ketakziman dan praktik langsungnya. Setiap kali beliau menyapu, para santri berebut menggantikannya. Beliau selalu menolak dengan lembut, sembari berkata: “Jika kalian ingin benar-benar membantu, di sudut mushalla masih banyak sapu lainnya. Kenapa kalian memperebutkan sapuku ini, tapi tidak mengambil sapu-sapu itu. Toh, tujuannya sama, membersihkan mushalla.”

Dengan perkataan dan sikapnya, Kiai Jahari memberikan pelajaran berharga. Takzim tidak sesempit itu, tapi lebih pada apa tujuan dari perilakunya. Tujuan dari menyapu adalah kebersihan, bukan sekedar perasaan tidak enak hingga meminta sapu dari tangannya dan menggantikannya.Padahal di dalam mushalla itu masih banyak sapu lainnya. Disampingajaran keteladanannya tentang kemandirian dan tidak suka dilayani.

Ketajaman spiritualitas itulah yang membuat para kiyai sering menampakkan keteladan yang tidak terpikir oleh sembarang orang. Laku dakwahnya pun menarik, sangat inklusif dan tidak alienatif. Mereka tidak mengumbar dalil dalam berdakwah, tapi tindakan mereka yang kemudian dimaknai menjadi dalil.Karena memang, segala laku dakwah mereka berasal dari al-Qur’ân dan al-Hadîts.

Seperti Kiai Jahari yang setiap kali pulang hajatan (kondangan, dan lain-lain) selalu menghampiri penduduk yang kurang mampu dan masih jauh dari agama. Mengajak mereka berbincang tentang berbagai hal. Kemudian memakan berkatnya bersama-sama tanpa sekat. Maklum, berkat kiyai lebih banyak dari berkat pada umumnya. Sehingga dapat disantap oleh orang serumah. Perlahan-lahan anak-anak dari keluarga tersebut dihantarkan orangtuanya untuk mengaji di tempat Kiai Jahari.

Pendekatan pesuasif semacam inilah yang dikembangkan para kiai sedari dulu. Tanpa menghakimi dan menghardik. Keburukan diarahkan sedemikian rupa hingga menuju kebaikan. Mereka menyentuh hati masyarakat dan santri dengan keteladanan dan kelembutan. Membiarkan orang-orang tersebut mengenal kebaikan dengan sendirinya, tanpa paksaan dan kepura-puraan.

Di era yang serba maju ini, saya berharap fungsi sosial kiai dan sentuhan spiritualitas-humanistiknya tidak mengalami degradasi serius. Memang, tidak sedikit orang yang mulai menganggap sebagian kiyai telah kehilangan fungsi sosialnya.Akan tetapi, saya masih menemukan banyak kiai yang memiliki sentuhan itu, terutama di kampung-kampung. 

Jikapun degradasi itu terjadi, saya yakin bahwa para kiai akan menemukan jalannya sendiri atau membangun jembatan untuk melintasinya. Selama mereka dalam proses pendidikannya mengalami persinggungan secara langsung dengan para kiai yang tulus dan rendah hati.

Semoga guru-guru dan kiai-kiai kita selalu dalam lindungan dan rahmat Allah, baik kiai yang pernah mengajar kita secara langsung ataupun kiai yang mengajarkan keteladanan kepada kita dari kisah-kisahnya; baik kiai yang tidak pernah kita cium tangannya ataupun kiai yang tangannyapernah kita cium dengan takzim. Amin Ya Rabb al-‘âlamîn.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, AlaNu, Warta Muhammadiyah Asli

Jumat, 02 Februari 2018

Tabloid Warta NU

Nomor I Tahun Pertama tabloid Warta NU terbit pada bulan September 1985/Dzulhijjah 1405, atau delapan bulan setelah Mutkamar NU ke-27 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, Jawa Timur, pada bulan Desember, 1984.?

Pada nomor pertama, tercantum H.M. Said Budairy sebagai pemimpin umum Warta NU yang beralamat di Jalan Kramat Raya 164. Budairy adalah jurnalis senior yang turut membesarkan Duta Masyarakat bersama H. Mahbub Djunadi, juga salah satu pendiri dan pimpinn harian Pelita. Slamet Effendi Yusuf bertugas sebagai pemimpin redaksi dan Mohammad Ichwan Sam sebagai wakilnya. Keduanya junior Budairy di koran Pelita.

Tabloid Warta NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tabloid Warta NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tabloid Warta NU

Sementara itu, H. Sjamsul Arifin Muis duduk sebagai Pimpinan Perusahaan. Tercantum pula nama-nama seperti Ahmad Bagdja, Baidlowi Adnan, Ison Basuni, Zainal S Abidin, Harmas Maesar, Endin AJ. Soefihara, Saifullah Ma’shum dan Abdurrahman Mas’ud menempati Dewan Redaksi. Lay out/tatamuka Agust Kus Sam, Z. Abidin. Distributor: Farid Basori. Tabloid bulanan bersemboyan Media Komunikasi dan Silaturahim ini diterbitkan Lembaga Ta’lif wan Nasyr.

Muhammadiyah Asli

“Bagai geliat orang yang tertidur lelap. Lambat, tetapi kebangunan terasa di mana-mana. Bukan hanya PBNU melakukan pembenahan-pembenahan, tapi juga jajaran kepengurusan di semua tingkatan.”

“Warga yang menyimpan rindu untuk beramal melalui wadah “bumi berbintang sembilan” begitu antusias. Dengan cara masing-masing mereka menyambut kebangunan kembali jam’iyah ini.”

Demikian kalimat yang dijadikan lead untuk berita utama berjudul NU dengan Gerak Baru di halaman pertama. Dari lead tersebut, tampak sekali bahwa Warta NU diterbitkan menyusul kesuksesan muktamar yang menjadikan “kembali ke khittah” sebagai kredo, mendudukkan KH As’ad Syamsul Arifin sebagai Rais Aam, serta mengusung KH Abdurrahman Wahid menjadi Ketua Umum PBNU.?

Muhammadiyah Asli

Tidak narasumber diwawancarai, kondisi cabang-cabang NU dideskripsikan. Tulisan tersebut dilengkapi dengan sejumlah nama yang menjadi ketua lembaga dan lajnah kepengerusan 1984-1989.

Pada halaman pertama juga ditampilkan potret KH Wahab Chasbullah sedang duduk bersila. Berita berjudul NU Mesti Bermanfaat buat Masyarakat Pendukungnya bergambar H Mahbub Djunaidi dan Kongres IX GP Ansor di Lampung.?

Di halaman itu pula sebuah artikel berjudul NU: Reaksi Terhadap Apa? Disajikan dengan mencolok dengan garis hijau, penulisnya sang Ketua Umum baru: Abdurrahman Wahid. Dia orang yang hampir tidak pernah absen menulis di Warta NU. Penulis lainnya yang kerap mencul adalah H. Mahbub Djunaidi, KH. Musthofa Bisri, Ahmad Tohari, KH Muchit Muzadi, Syu’bah Asa, dll.

Dari kalangan muda ada Slamet Effendi Yusuf, Masdar F Mas’udi, Andi Muawiyah Ramli, Fazlurl Falakh, M. Imam Aziz, Saifullah Ma’shum, dan lain-lain.

Pada tahun 1995, Choirul Anam memindahkan kantor Warta NU dari Jakarta ke Surabaya, tepatnya di kantor PWNU Jawa Timur, Jalan Raya Darmo 96, Surabaya. Lalu pindah di Jalan Kutisari Indah Barat VI/I Surabaya.

Tabloid Warta banyak melahirkan ? penulis-penulis baru di kalangan NU, tidak hanya di bidang keagamaan, pendidikan, sosial-politik, tapi juga seni dan budaya. Sebab, sejak awal terbit, Warta NU secara konsisten menyediakan rubrik seni dan budaya bernama Bumi Hijau. Tahun 2005, tabloid yang pernah mencapai 50.000 eksemplar dan beredar secara nasional ini berhenti terbit. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Hadits, Warta, AlaNu Muhammadiyah Asli

Kamis, 01 Februari 2018

MINU Walisongo Peringati Hari Kartini

Bojonegoro,Muhammadiyah Asli. Demi mengenalkan sosok pejuang/pahlawan nasional, serta menyambut hari emansipasi wanita Indonesia Madrasah Ibtidaiyah NU (MINU) Unggulan Walisongo Sumuragung Sumberrejo Bojonegoro menggelar lomba mewarnai gambar RA Kartini dan Fashion Show busana Nusantara Sabtu (20/04/2013).

MINU Walisongo Peringati Hari Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)
MINU Walisongo Peringati Hari Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)

MINU Walisongo Peringati Hari Kartini

Selain itu semua anak didik dan dewan guru diharuskan mengenakan busana Nusantara Indonesia (baju adat Nusantara).

Acara yang dimuali pada pukul 07.00 WIB diawali dengan upacara bendera. Upacara kali ini sengaja dilaksanakan lebih siang dari biasanya yaitu pukul 06.45 WIB. Mengingat banyaknya “kendala” yang dialami anak didik yaitu banyaknya anak didik yang antri merias diri di sanggar/tata rias yang sama dengan busana adat Nusantara. 

Muhammadiyah Asli

Bagi yang laki-laki dan busana kebaya ala kartini bagi anak didik perempuan. Selain itu terkendala juga dengan jarak tempuh anak didik menuju MINU, maklum banyak anak didik MINU yang berasal dari luar kecamatan.

Muhammadiyah Asli

Oleh sebab itulah pagi ini banyak anak didik yang datang dengan tergopoh-gopoh karena kuatir ketinggalan pelaksanaan upacara peringatan hari RA Kartini kali ini. 

Dengan mengenakan kebaya Nusantara dan kebaya ala Kartini anak didik MINU melaksanakan upacara dengan antusias walaupun panas mulai menyengat merangkul seluruh tubuh mereka. Selain itu nampak pula papan nama yang dibawa anak didik yang bertulisan aneka macam pulau Indonesia. 

Menurut Ketua pelaksana hal ini demi mengenalkan nama-nama pulau kebanggaan negara Indonesia kepada anak didik MINU sejak dini.

”Kami berharap dengan mengenakan baju/busana tradisional ini anak didik kami lebih paham dan akrab dengan pulau-pulau negara ini. Karena inilah identititas bangsa yang perlu dilestarikan,” ujar Ahmad Taufik yang kali ini mengenakan busana beskap sebagai busana nusantaranya.

Acara dilanjutkan dengan peragaan busana bagi perwakilan anak didik per kelas. Acara ini sendiri digelas lebih unik dari peragaan-peragaan umumnya. Peragaan busana dilaksanakan di halaman MINU, tidak berada di gedung ataupun di dalam ruangan. 

Setiap siswa yang mewakili maju ke “arena” fashion show dengan geya centil dan menggemaskan. Satu persatu mereka menampilkan bakat “artis”nya dihadapan juri yang kali ini didatangkan dari mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro.

Acara peragaan busana sendiri mendadak heboh tatkala seluruh peserta dan ratusan wali siswa yang sedari tadi antusias menyaksikan lenggak-lenggok anak didik MINU dikejutkan dengan penampilan seluruh dewan guru mengisi arena dengan gaya yang aduhai dan lebih “rancak” dari penampilan fashion show anak didik mereka. 

“Ini merupakan wujud cinta kami kepada anak didik dan almamamter kami,” kata Winarni, yang juga menjadi wali kelas Sunan Giri.

Tepat pukul 09.00 setelah pelaksanaan peragaan busana. Acara dilanjutkan dengan lomba mewarnai gambar RA Kartini. Lomba ini ditempatkan di serambi Masjid Madrasah Ibtidaiyah milik NU ini. 

Banyak anak didik yang awalnya bingung dengan gambar yang telah dibagikan oleh dewan guru tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dan paparan secara gamblang akhirnya mereka antusias dan secara serentak anak didik MINU mulai mengkombinasikan warna yang sesuai untuk dilukiskan pada gambar RA Kartini yang telah dibagikan. 

Banyak anak didik yang bekerja sendiri dengan alat yang dibawa dari rumah. Mulai crayon atau warna dan meja lipat. Menurut panitia lomba mewarna kali ini bertujuan mengenalkan sosok RA Kartini kepada anak didik MINU agar mereka lebih peduli akan nama besar para pejuang bangsa Indonesia ini, khususnya pejuang wanita asal kota Jepara ini. 

Mendung mengiringi penutupan rangkain acara kali ini. Namun tidak mengurangi antusias dewan guru dan walisiswa serta ratusan anak didik minu. Pada penutupan yang tepat dilaksanakan pada pukul 11.00 WIB diumumkan semua kategori pemenang. 

Penyerahan hadiah disampaikan langsung oleh kepala madrasah Mariyanto”Ini merupakan wujud nyata kami dalam menanamkan budaya menghormati leluhur dan mencintai negara Republik Indonesia ini,” tutup kepala madrasah yang juga pengurus harian Palang Merah Iindonesia (PMI) ranting kecamatan sumberrejo tersebut.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli AlaNu, Hikmah Muhammadiyah Asli

Rabu, 24 Januari 2018

PCNU Pringsewu Gerakkan Sertifikasi Aset NU

Pringsewu, Muhammadiyah Asli

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu, Lampung mendukung dan terus berupaya melindungi aset kelembagaan maupun warganya agar berbadan hukum dan bersertifikasi legal. Untuk itu PCNU dalam waktu dekat ini akan menggelar seminar perwakafan dan sertifikasi aset NU bekerja sama dengan Pengurus Wilayah Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU) Lampung.?

PCNU Pringsewu Gerakkan Sertifikasi Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Gerakkan Sertifikasi Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Gerakkan Sertifikasi Aset NU

Hal tersebut dibahas dalam rapat pengurus harian PCNU Pringsewu, Kamis (21/1) di Aula Kantor PCNU Jl Gumukrajin, Kecamatan Pagelaran, Pringsewu. Menurut Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqqurrohim, penyuluhan dan sosialisasi pentingnya sertifikasi ataupun notarisasi aset, semisal tanah dan bangunan masjid, madrasah maupun pondok pesantren. Ini sangat mendesak mengingat masih minimnya pengetahuan warga NU tentang tata cara sertifikasi atas aset yang dimilikinya.

Permasalahan ini juga bentuk usaha membantu warga dalam menyelesaikan sengketa tanah yang sering terjadi pada masyarakat lapisan bawah. "Jangan sampai saat ditanya apakah ini tanah NU, masjid NU? Kita jawab iya, tapi kita bingung saat ditanya surat dan legalitasnya mana?" ujarnya.

Sementara itu Ketua Program sertifikasi wakaf dan tanah PCNU Pringsewu Fathurrohman mengharapkan dengan adanya gerakan sertifikasi atas aset NU ini, warga NU akan terhindar dari perselisihan antara ahli waris maupun organisasi lain yang mempunyai kepentingan tertentu.?

"Penting bagi aset NU untuk di inventarisir secara legal sehingga kehilangan aset seperti beberapa kasus yang sudah terjadi tidak boleh terulang kembali," ujarnya.?

Muhammadiyah Asli

Selain Program sertifikasi tersebut PCNU juga akan melaksanakan prioritas program pada 2016 yang merupakan amanat musyawarah kerja yang telah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu.?

Program tersebut diantaranya Gerakan MWCNU dan Ranting Sehat, plangisasi (pemasangan plang NU) hingga tingkat ranting, penguatan kader dan pemantapan pengurus, sosialisai rutin pemahaman ke-NU-an dan ke-Aswaja-an untuk menangkal radikalisme dan terorisme. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli AlaNu, IMNU, Warta Muhammadiyah Asli

Minggu, 14 Januari 2018

KJRI Hongkong dan Macau Gelar MTQ BMI

Hong Kong, Muhammadiyah Asli. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hongkong Special Administrasi Residence (SAR) menggelar Musabaqoh Tilawatil Quran untuk para Buruh migran Indonesia (BMI) di Hongkong dan Macau. MTQ yang diikuti oleh 33 dari sekitar 200-an asosiasi BMI di Hong Kong dan Macau ini digelar di Auditorium Ramayana Kantor KJRI Hongkong.

KJRI Hongkong dan Macau Gelar MTQ BMI (Sumber Gambar : Nu Online)
KJRI Hongkong dan Macau Gelar MTQ BMI (Sumber Gambar : Nu Online)

KJRI Hongkong dan Macau Gelar MTQ BMI

MTQ BMI ini dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Nuzulul Quran pada akhir pekan kemarin. Hadir sebagai penceramah pada peringatan Nuzulul Quran dan dewan juri MTQ antara lain adalah wakil sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) H Syaifullah Amin dan H Masruhin. Keduanya hadir atas undangan dari KJRI Hong Kong SAR.

Dalam Sambutannya, Konsuler KJRI Bambang Susanto menyatakan, peringatan Nuzulul Quan dan MTQ ini adalah salah satu bentuk dari sekian banyak pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan oleh KJRI kepada para BMI di Hongkong dan Macau.

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Menurut Bambang, selama ini KJRI rutin melaksanakan pembinaan dan pembekalan ketrampilan kepada buruh migran, baik berupa pembinaan ruhani maupun ketrampilan-ketrampilan ekonomi.

"KJRI bekerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi selalu berusaha mendatangkan tenaga-tenaga pelatih dari masing-masing daerah asal BMI untuk mendidik mereka cara menggunakan uang sebagai modal usaha sesampainya mereka kembali ke Tanah Air," tutur Bambang yang juga Ketua Musholla Nurul Falah KJRI Hong Kong ini.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, pihaknya bekerjasama dengan LDNU dan Dompet Duafa aktif memberikan bimbingan ruhani kepada para BMI di Hong Kong dan Macau. Bimbingan yang dimaksudkan adalah bimbingan keagamaan dan pendampingan keruhanian.

"Kami berterima kasih kepada seluruh teman-teman BMI dan para pengurus asosiasi BMI yang berpartisipasi dalam pelaksanaan peringatan Nuzulul Quran dan MTQ BMI ini," tandas Bambang

Penulis : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli AlaNu Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock