Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Spiritualitas-Humanistik Kiai

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Sudahkah kita meluangkan sejenak waktu untuk mengingat kiai-kiai kita? Merenungkan keteladanannya? Mengulang kembali wejangan-wejangannya di kehidupan kita? Dan mengirimkan doa kepadanya? Jika belum, saya sarankan untuk memulainya dari sekarang, paling tidak satu kali setiap harinya.

Islam masuk ke Indonesia melalui para sufi. Walisanga adalah ulama-sufi yang menyebarkan Islam menggunakan pendekatan budaya. Islam dikolaborasikan dengan budaya lokal untuk mempermudah orang-orang pribumi memahami ajarannya. Tidak ada penaklukan dan kampanye militer besar-besaran dalam proses islamisasi Nusantara.

Spiritualitas-Humanistik Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas-Humanistik Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas-Humanistik Kiai

Saya menganggap para kiai sebagai pewaris dakwah walisanga.Pendekatan yang mereka gunakan sama, mengawinkan budaya dengan agama, dan mempertahankan nilai-nilai luhurnya. Hal ini menjadi mungkin karena tasawuf sangat mengakar dalam tradisi intelektual mereka.

Tasawuf itulah yang kemudian menguatkan spiritualitas-humanistik sang kiai. Memandang dunia tidak lagi hitam-putih; menilai manusia tidak lagi dari dosa-pahala. Selama nafas masih dikandung badan, kemungkinan menjadi baik selalu terbuka. Pintu taubat selalu terbuka.

Hal itu dicontohkan oleh gaya mendidik para kiai di pesantren atau kampungnya masing-masing. Al-Magfûrlah Kiai Imam Muzani Bunyamin dari Bulus, Kebumen melarang santri-santrinya menyebut seorang santri yang ketahuan mencuri sebagai pencuri. Katanya: “Tidak ada santri mencuri, mereka hanya nyelang ora taren—meminjam tanpa izin.” 

Muhammadiyah Asli

Meski terlihat sepele, dalam konteks pendidikan, kata-kata itu memberikan sentuhan magis tersendiri bagi para santri, khususnya bagi santri yang mencuri. Ia merasa dimanusiakan, sehingga menimbulkan hasrat berubah yang tinggi. Dawuh kiyainya tersebut tidak lain adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak dikeluarkan dari pesantren dan terus menjadi santri.

Sedangkan untuk santri lainnya, dawuh Kiai Muzani tersebut mengajarkan bahwa manusia harus dipahami dengan kasih sayang. Siapapun orangnya berhak mendapatkan pengampunan dan kesempatan selama hidupnya. Jangan mudah memberi label salah, sesat, dan jahat kepada seseorang. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, mereka menjadi orang yang baik.

Mereka hanyalah orang yang sedang berproses menjadi manusia. Dari yang jahat menjadi sedikit jahat; dari yang baik menjadi lebih baik, dan seterusnya. Jika para santritergesa-gesa melabeli mereka sebagai penjahat atau ahli maksiat, mereka akan semakin menjauh, karena santri-santri itu telah menutup pintu bagi mereka. Dakwah adalah pintu yang terbuka. Bisa dimasuki siapa saja, tanpa pilah dan pilih, seperti ucapan Maulana Rumi: 

“Come, come, whoever you are,wanderer, idolater, worshiper of fire,come even though you have broken your vows a thousand times,come, and come yet again. Ours is not a caravan of despair—kemari, datanglah, siapapun kau, petualang, penyembah berhala, pemuja api, kemari mendekatlah meskipun kau telah mengingkari sumpah seribu kali, kemari mendekatlah. Kami bukanlah karavan keputus-asaan.”

Muhammadiyah Asli

Di tempat lain, di daerah Susukan, Cirebon, al-Maghfûrlah Kiai Jahari mengajarkan santrinya makna terdalam dari ketakziman dan praktik langsungnya. Setiap kali beliau menyapu, para santri berebut menggantikannya. Beliau selalu menolak dengan lembut, sembari berkata: “Jika kalian ingin benar-benar membantu, di sudut mushalla masih banyak sapu lainnya. Kenapa kalian memperebutkan sapuku ini, tapi tidak mengambil sapu-sapu itu. Toh, tujuannya sama, membersihkan mushalla.”

Dengan perkataan dan sikapnya, Kiai Jahari memberikan pelajaran berharga. Takzim tidak sesempit itu, tapi lebih pada apa tujuan dari perilakunya. Tujuan dari menyapu adalah kebersihan, bukan sekedar perasaan tidak enak hingga meminta sapu dari tangannya dan menggantikannya.Padahal di dalam mushalla itu masih banyak sapu lainnya. Disampingajaran keteladanannya tentang kemandirian dan tidak suka dilayani.

Ketajaman spiritualitas itulah yang membuat para kiyai sering menampakkan keteladan yang tidak terpikir oleh sembarang orang. Laku dakwahnya pun menarik, sangat inklusif dan tidak alienatif. Mereka tidak mengumbar dalil dalam berdakwah, tapi tindakan mereka yang kemudian dimaknai menjadi dalil.Karena memang, segala laku dakwah mereka berasal dari al-Qur’ân dan al-Hadîts.

Seperti Kiai Jahari yang setiap kali pulang hajatan (kondangan, dan lain-lain) selalu menghampiri penduduk yang kurang mampu dan masih jauh dari agama. Mengajak mereka berbincang tentang berbagai hal. Kemudian memakan berkatnya bersama-sama tanpa sekat. Maklum, berkat kiyai lebih banyak dari berkat pada umumnya. Sehingga dapat disantap oleh orang serumah. Perlahan-lahan anak-anak dari keluarga tersebut dihantarkan orangtuanya untuk mengaji di tempat Kiai Jahari.

Pendekatan pesuasif semacam inilah yang dikembangkan para kiai sedari dulu. Tanpa menghakimi dan menghardik. Keburukan diarahkan sedemikian rupa hingga menuju kebaikan. Mereka menyentuh hati masyarakat dan santri dengan keteladanan dan kelembutan. Membiarkan orang-orang tersebut mengenal kebaikan dengan sendirinya, tanpa paksaan dan kepura-puraan.

Di era yang serba maju ini, saya berharap fungsi sosial kiai dan sentuhan spiritualitas-humanistiknya tidak mengalami degradasi serius. Memang, tidak sedikit orang yang mulai menganggap sebagian kiyai telah kehilangan fungsi sosialnya.Akan tetapi, saya masih menemukan banyak kiai yang memiliki sentuhan itu, terutama di kampung-kampung. 

Jikapun degradasi itu terjadi, saya yakin bahwa para kiai akan menemukan jalannya sendiri atau membangun jembatan untuk melintasinya. Selama mereka dalam proses pendidikannya mengalami persinggungan secara langsung dengan para kiai yang tulus dan rendah hati.

Semoga guru-guru dan kiai-kiai kita selalu dalam lindungan dan rahmat Allah, baik kiai yang pernah mengajar kita secara langsung ataupun kiai yang mengajarkan keteladanan kepada kita dari kisah-kisahnya; baik kiai yang tidak pernah kita cium tangannya ataupun kiai yang tangannyapernah kita cium dengan takzim. Amin Ya Rabb al-‘âlamîn.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, AlaNu, Warta Muhammadiyah Asli

Rabu, 07 Februari 2018

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Oleh Mochammad Maksum Machfoedz

Teramat jelas digariskan tujuan diwajibkannya puasa Ramadlan: la’allakum tattaquun (QS 2-183), agar supaya kalian bertaqwa. Aneka stimulan melengkapi pencapaian tujuan dimaksud, mulai timulasi teknis yang mu’amalah dan hubungan antar-manusia sifatnya, stimulasi ubudiyah dengan aneka asesori ibadah puasa, sampai stimulasi fundamental berkait dengan mentalitas-kejiwaan manusia, urusan character building mendasar.?

Salah satu stimulasi fundamental adalah kemutlakan perintah: I’diluu huwa aqrabu li at-taqwa (QS 5-8), berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Kewajiban memenuhi karakter keadilan tercermin dari kalimat perintah yang absolut sifatnya bagi siapa saja: i’diluu. Begitu absolutnya, sampai lebih 30 kali kata adil diungkap dalam Al-Qur’an, dan bisa disimpulkan dalam QS 16-90: innallaha ya’muru bi al-‘adl, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil; dan ? QS 7-29: qul amara Robbi bi al-qishth, katakanlah ”Tuhanku menyuruhku berlaku adil’.

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Relasi antara penegakan keadilan dan mutu ketaqwaan, dengan demikian menjadi ikatan keharusan yang menyatu dan tidak bisa disempal-sempal ketika dikehendaki siapa saja yang ingin menggapai tujuan puasa Ramadlan. Penegakan keadilan dalam kolektifitas, bermasyakat dan berbangsa juga begitu pentingnya: walau ‘ala anfusikum aw al-walidaini wa al-aqrabiin, in yakun ghaniyyan au faqiiraa (QS 4-135), meskipun terhadap diri sendiri, atau orangtua dan kerabat, kaya maupun miskin.

Begitu pentingnya keadilan dan penegakannya, sampai-sampai sebuah kitab mensarahi ajaran Imam Ibn Qayyim dengan menyimpulkan bahwa: laa tashluhu ad-dun-ya wa al-akhirah illa bi al-‘adl, tidak akan pernah ada kedamaian di muka bumi dan akhirat nanti, kecuali berlandaskan keadilan.

Muhammadiyah Asli

Pentingnya relasi perilaku adil sebagai karakter utama ketaqwaan, dengan demikian menjadi materi yang pantas direnungkan dalam Puasa Ramadlan. Kesiapan menjalaninya tidak lagi semata didasarkan atas kesempurnaan hubungan antar-sesama dalam urusan kemanusiaan dan mu’amalah, serta tidak hanya dilengkapi dengan aneka asesori ibadah seperti tarawih, shalat malam, tadarrus, dan sejenisnya. Akan tetapi, pada saat yang sama dilandasi pula oleh kesiapan berrevolusi mental, berlaku adil dan menegakkan keadilan bagi siapa saja.

Dalam konteks inilah kiranya, perilaku adil yang harus lempeng dan tegak lurus, setimbang, moderat dan menengah, tidak mirang-miring, dan menghargai orang lain, i’tidal-tawasuth-tawazun-tasamuh, bisa dihayati maknanya untuk tidak memungkinkan maraknya rasa benar sendiri, radikalisasi, dan apalagi munculnya aneka gratifikasi.?

Tidak bisa dipungkiri bahwa jabaran dari rasa keadilan tersebut dalam konteks kemasyarakatan dan kebangsaan akan memperkaya bangsa ini melalui puasa Ramadlan, dengan ajaran karakter mendasar al-akhlaq al-karimah dalam urusan berbangsa yang dibingkai dalam mabadi’ khaira ummah: ash-shidiq al-amanah al-‘adalah at-ta’awun al-istiqamah, jujur-amanah-adil-gotongroyong-konsisten, lima karakter dasar bagi masyarakat dan bangsa Indonesia yang beradab.

Pertimbangan pentingnya keadilan itu pula yang kemudian mentradisikan peringatan penegakan keadilan sebagai penutup khuthbah Jum’at semenjak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa dari 717 M sampai 720 M. Pemerintahan berkeadilan Umar menjadi melegenda bukan hanya karena telah berhasil menggeser khothbah dengan tradisi cacimaki selama 60 tahun sebelumnya menjadi seruan keadilan. Umar telah berhasil pula membangun peradaban pemerintahan berkeadilan.

Tentu bukanlah sekedar kerinduan terhadap sejarah Umar, ketika seruan keadilan cicit Umar bin Khatthab ini senantiasa menggelora dalam khutbah sampai kini, dibanding seruan lainnya. Efektifitasnya tentu perlu dibangun melalui gerak-langkah berkeadilan, untuk bisa lebih ngefek, dan mewarnai kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sebagaimana dicontohkannya.

Muhammadiyah Asli

Adalah sebuah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menterjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya untuk mempertanyakan eksistensi keilmuan hukum ketika ketidak-adilan justru kini menjadi raja-diraja. Tantangan yang sama juga dilontarkan serius bagi keilmuan humaniora lainnya, termasuk ilmu filsafat, sosiologi, psikologi, komunikasi, sampai ilmu pendidikan usia dini ketika dekadensi moral justru menjadi-jadi. Perihal yang sama muncul pula sebagai tantangan ilmu ekonomi, dalam terapan ilmu pembangunan, managemen dan akuntasi, yang kini semakin eksploitatif dalam perekonomian.

Krisis ekonomi dan keserakahan akan sumberdaya alam sepenuhnya mulai dari sini. Resource Accounting, Ilmu Akuntansi Sumberdaya dalam menjawab peringatan Allah urusannya dengan kemerosotan dan kerusakan sumberdaya alam masih sangat tidak memadai karena kontaminasi kepentingan jangka pendek dan politisasi. Kemerosotan ini berakibat pada takrif-takrif palsu ekonomi pembangunan dengan segala kebodohan indikator pilihannya yang tidak mencerminkan kemashalatan, jikalau tidak boleh dikatakan justru memicu rusaknya lingkungan hidup.?

Mudah sekali dilihat begitu banyaknya kebijakan tanpa spiritualitas memadai, sampai anti spiritualitas. Hingar bingar liberalistik yang menghamba pada kapitalistiknya ilmu kerekayasaan, melalui berkembang pesatnya ilmu dan teknologi informatika, elektronika, sistem informasi, industri, mekanika dan aneka ilmu keteknikan, sampai keilmuan pangan dan agroindustri, berdalih sangat mulia dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan efisiensi ekonomis. Keilmuan ini jelas sekedar jabaran atas Firman-firman Kauniyyah yang tak terbantahkan. Akan tetapi, apa jadinya ketika nihil basis spiritualitas? Semuanya akan berujung kecongkakan akademik, dan ulah eksploitasi, bukan kemajuan kemashlahatan, tetapi penyebaran kemiskinan yang melawan Firman Tuhan.

Sebagai ilustrasi akademis bisa diangkat kebidangan yang disebut terakhir: pangan dan agroindustri, yang sangat terkait dengan ibadah puasa Ramadlan pada hari ini. Simpati dan empati terhadap segala keterbatasan dalam pemenuhan pangan sebagai kebutuhan dasar, basic need, merupakan salah satu esensi yang melandasinya. Puasa, menahan diri dari makan-minum, merasakan lapar dan dahaga, meski baru merupakan keutamaan manusiawi tingkat awal, membuahkan keutamaan berikutnya sebagai refleksi kepedulian antar sesama, ketaatan ilahiyah tiada tara, sampai kesyukuran paripurna atas segala kebesaranNya. Bukan sekedar simbolisasi.

Kelaparan merupakan keseharian keadaan sang papa, saudara-saudara kita yang sedang tidak beruntung, fakir-miskin sekitar kita. Telah menjadi tanda-tanda zaman, bahwa dalam masyarakat materialistis, sikap abai kalangan luas cenderung mempersalahkan mereka sebagai pecundang akibat kalah perang ekonomis dengan kemenangan para pemilik modal, aghniya’, dalam rivalitas ekonomis dan teknologis. Sungguh asumsi nir-spiritualitas yang memprihatinkan kita semua.

Asumsi itu salah besar karena Islam justru memberikan kasih-sayang sempurna bagi fakir-mikin. Eskalasinya tercermin dalam puasa Ramadan dengan aneka ritual dan peringatan membayar zakat. ? Hakekatnya, sebagian dari harta kekayaan aghniya’ adalah hak fakir-miskin, bukan hak si kaya. Karena itu, harus dibersihkan dan disucikan, tuthahhirukum wa tuzakkiihim biha (QS. 9: 103).?

Secara khusus, pelembagaan zakat fithrah sebagai kepedulian pangan sesama bahkan tidak terpisahkan dari kesempurnaan puasa untuk menggapai maghfirah dan ketaqwaan, sebagai jaminan kembalinya manusia kepada kesucian, al-fithr. Hal ini ditunjukkan dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah untuk setiap jiwa muslim yang mampu, dan harus dibayarkan ? qabla ash-shalah, sebelum shalat Iedul Fitri. Begitu hadits Nabi menyebutkan. Hak atas pangan harus dibayarkan ketika menginginkan kembali ke kesucian, iedul fitri. Untuk hak ini, ijinkan untuk menyebut Ramadlan sebagai Bulan Pangan, syahru ath-tha’am. Bukan menyebutnya ? bulan badhogan bagi abdul buthun.?

Fakta yang dipaparkan mensiratkan besarnya perhatian Islam terhadap hak atas pangan. Tata sistemnya pun dengan demikian harus berbasis kedaulatan, sebagaimana tercermin dalam kepedulian Muhammad terhadap urusan pangan yang sangat istimewa, seperti disabdakan: an-nasu syuraka-u fii tsalatsin: al-mau wa al-kala-u wa an-nar, manusia berserikat dalam tiga perkara: air, tetumbuhan dan api. Berserikat, syurakaa’, mensiratkan bahwa kekuasaan dan kedaulatan urusan ini berada di tangan rakyat, untuk ? sebesar-besarnya kepentingan manusia sebagai kolektifitas, dan pantang eksploitatif.?

Perhatian Allah tentang hak atas pangan, bahkan ditunjukkan dengan menyebut pendustaan agama, yukaddzibu bi ad-din (QS. 107: 1-3), termasuk mereka yang: laa yakhuddlu ala thaami al-miskin, tidak mengajak memberi makan fakir-miskin. Tafsir Qurtubi menyebut makna utama ayat ini: isyaratun ala annahu la yuthimu al-masakin idza qadara, mengisaratkan mereka yang tidak memberi makan ketika mampu.

Banyak pihak menjabarkan ayat ini lebih dari sekedar urusan pangan, tetapi pangan dan perekonomian umumnya. Surat al-maun ini menjadi inspirasi para pemimpin terdahulu, seperti Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dengan syirkah muawwanahnya (gerakan koperasi), yang beliau kembangkan jauh hari sebelum NU dideklarasikan berdirinya oleh beliau.

Begitulah ketakwaan mensyaratkan tumbuhnya kepedulian sosial, mengamanatkan bahwa sebagian rejeki ? harus dinafkahkan (QS. 2: 2), kepada yang berhak, dalam keadaan lapang maupun sempit (QS. 3: 134), agar gini rasio tidak njomplang, serta supaya aset ekonomi tidak terkonsentrasi kepada segelintir orang kaya, kay la yakuna duulatan baina al-aghniyai minkum (QS. 59: 7).

Semoga kita beroleh rahmat untuk lebih manusiawi, semakin peka terhadap mereka yang lemah, terlebih yang paling tersingkir dalam pembangunan, , untuk kemajuan perekonomian bersama. ? Jauhkanlah kami semua ya Allah, untuk tidak justru menari-nari bagai burung bangkai, di atas kelemahan mereka yang sedang tidak beruntung, naudzu billaah..

Sungguh sebagai ilmuwan dan ilmuwan muda, mahasiswa-mahasiswi, sekelumit contoh yang menggambarkan betapa hinanya para ilmuwan, yang sehebat apapun, ketika tidak dilandasi kesiapan spiritualis sudah pasti akan keblinger, akan menjadi the most disadvantaged people, tidak mampu berlaku adil dan tidak bakal masuk dalam kategorisasi Allah sebagai ilmuwan yang ulama’.?

Kedalaman spiritualitas Ramadlan dengan segala paket ibadahnya, menempa kita semua, sebagai civitas akademika untuk insya Allah menjadi lebih komplit ketika tidak semata didukung rasa takut kepada Allah karena berbagai kealpaan hidup yang kita lakukan (khauf), akan tetapi didukung rasa takut nuraniah yang paling dalam kepada Allah, min khasyyatiLlah, yang dilandasi kesadaran, cinta dan penghormatan tulus kepada Allah SWT sebagai Yang Maha Agung, Maha Kuasa dengan segala kekuatannya, dan Maha Tahu dengan kesempurnaan ilmunya.

Rasa takut seperti ini terwujud, menggabungkan penafsiran Shobuni dan Ibn Katsir, liannahum ya’rifunahu haqqa ma’rifatihi li al-‘adlim al-qadiir atam, wa al’ilmi bihi akmal, karena para alim menghayati setulusnya akan keagungan, kesempurnaan kekuasaan, dan tidak terbatas keilmuan Allah.?

Attribut nuraniah khasyyatullah inilah karakterisasi Allah terhadap para ilmuwan yang memiliki basis spiritualitas: innamaa yakhsya Allaha min ibadihi al-ulamaa (QS 35: 28), sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah para alim. Signifikansi sosok ini ditegaskan pula dengan: wa hum min khasyyatihii musyfiquun (QS 21:28), dan karena rasa takutnya kepada Allah, mereka senantiasa berhati-hati.

Semoga Allah berkenan memberikan hidayah, sehingga kita semua tidak akan sekadar menjadi civitas akademika UNUSIA, tetapi civitas akademi yang sekaligus menghayati khasyyatullah, insya Allah.***

Penulis adalah Wakil Ketua Umum PBNU dan Rektor UNU Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Tokoh, RMI NU Muhammadiyah Asli

Jumat, 26 Januari 2018

Ganti Tahun, Fatayat Harus Lebih Berguna bagi Keluarga dan Masyaarakat

Jombang, Muhammadiyah Asli. Pergantian tahun jangan hanya dimaknai perubahan lembaran kalender. Karena kalau hal itu yang mengemuka, maka perjalanan waktu tidak akan memiliki makna. Harus ada capaian positif agar keberadaan diri semakin berarti.

Pesan ini disampaikan Ketua PC Fatayat NU Jombang, Ema Umiyyatul Chusnah saat dikonfirmasi Muhammadiyah Asli terkait pergantian tahun. "Bila hanya perubahan tanggal dan kalender di rumah dan tempat kerja, apa bedanya dengan hari sebelumnya?" katanya, Jumat (2/1).

Ganti Tahun, Fatayat Harus Lebih Berguna bagi Keluarga dan Masyaarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ganti Tahun, Fatayat Harus Lebih Berguna bagi Keluarga dan Masyaarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ganti Tahun, Fatayat Harus Lebih Berguna bagi Keluarga dan Masyaarakat

Bagi Ning Ema, sapaan akrabnya, hal yang sangat penting dan harus menjadi perhatian bersama di pergantian tahun adalah bagaimana keberadaan diri semakin berguna bagi keluarga dan lingkungan sekitar. "Karenanya secara pribadi, para kader Fatayat NU harus memiliki nilai lebih dibandingkan dengan kelompok dan anggota masyarakat yang lain," terangnya.  Karena hanya mereka yang memiliki kelebihan itulah yang akhirnya dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitar, lanjutnya.

Muhammadiyah Asli

Dan seiring dengan sejumlah pelatihan dan pemberian keterampilan yang dilakukan kepengurusannya, hal itu semestinya akan menjadi pembeda antara kader Fatayat NU dengan masyarakat kebanyakan. "Kita telah memberikan pendampingan keterampilan kepada kader di berbagai lapisan kepengurusan. Karenanya hal itu hendaknya dapat dioptimalkan untuk membimbing masyarakat," kata anggota DPRD Jombang ini.

Hal lain yang harusnya melekat pada diri aktifis Fatayat NU adalah memiliki kepedulian dengan kondisi masyarakat sekitar. "Rasa empati adalah sesuatu yang mulai terkikis dalam diri masyarakat kita seiring kecenderungan masyarakat yang serba konsumtif dan hedonis," ungkapnya. Padahal rasa kebersamaan dan rasa memiliki serta tenggang rasa dengan penderitaan sesama merupakan bagian tidak terpisahkan pada diri sebagai muslim dan juga anggota masyarakat.

Muhammadiyah Asli

"Jangan sampai hanya karena kondisi lingkungan yang demikian, akhirnya para kader Fatayat larut yang pada gilirannya meninggalkan jati diri sebagai muslimah dan bangsa yang memiliki empati dan simpatik dengan kondisi sekitar," tandas Sekretaris Komisi A DPRD Jombang ini.

Meskipun sebagai perempuan, para kader Fatayat juga diharapkan memiliki kepedulian dengan ekonomi keluarga. "Sudah tidak jamannya lagi membedakan antara peran perempuan dan laki-laki dalam mencukupi kebutuhan keluarga," ungkapnya. Antara masing-masing bisa saling bersinergi agar keuangan keluarga bisa lebih baik. Apalagi kebutuhan harian dan bulanan hingga pengeluaran eksidentil tidak bisa hanya mengandalkan gaji dan penghasilan suami.

Namun demikian Ketua PC Fatayat NU Jombang periode kedua ini sangat berharap agar peran ekonomi yang juga diambil para perempuan tidak lantas mengurangi apalagi mendegradasi kiprah di sektor domestik. "Soal menyiapkan menu makanan, menyiapkan pakaian suami dan anak, hendaknya jangan diwakilkan kepada pembantu. Sesibuk apapun, tugas ini hendaknya dapat dilakukan oleh para istri," pesan salah seorang pengurus di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini.

Dengan sejumlah tugas yang demikian berat tersebut, tidak ada pilihan lain bagi perempuan khususnya aktifis Fatayat NU untuk membekali diri dengan keterampilan dan kedalaman pengetahuan agama dan penerapannya dalam keseharian. "Kita berharap tahun 2015 akan semakin banyak kader Fatayat NU yang memiliki kepekaan, keterampilan hingga prestasi yang bisa membanggakan diri, keluarga dan masyarakat sekitar," pungkas cucu KH Abdul Wahab Chasbullah ini. (Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kyai, Cerita Muhammadiyah Asli

Selasa, 23 Januari 2018

Sarbumusi: Manajemen Organisasi Buruh NU NTB Harus Baik

Jakarta, Muhammadiyah Asli?



Presiden Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Nahdlatul Ulama (DPP K- Sarbumusi NU) Syaiful Bahri Ansori meminta manajemen organisasi buruh harus baik guna memperkuat gerakan Sarbumusi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sarbumusi: Manajemen Organisasi Buruh NU NTB Harus Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Manajemen Organisasi Buruh NU NTB Harus Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Manajemen Organisasi Buruh NU NTB Harus Baik

Syaiful di Jakarta, Senin (21/8) bersyukur kepengurusan Sarbumusi NU di lima kabupaten/kota di wilayah tersebut telah dikukuhkan oleh Ketua Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Buruh DPP K-Sarbumusi NU Handoko.

"Alhamdulillah, Sarbumusi NU telah ada di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Mataram dan Dompu," ujar Syaiful didampingi Sekretaris Jenderal Eko Darwanto.

Dengan terbentuknya organisasi buruh NU di NTB, Syaiful mengingatkan jajaran pengurus untuk berkiprah positif, memberbanyak anggota, serta menjalin hubungan baik dengan PWNU, PCNU dan semua badan otonom dan lembaga-lembaga NU di semua tingkatan.

"DPP K Sarbumusi NU berharap anggota-anggota kami di NTB untuk memperkuat advokasi hukum bagi buruh. Menjalankan iuran anggota serta berani tampil menjadi bagian dewan pengupahan," kata Syaiful lagi.

Muhammadiyah Asli

Harapan tersebut, kata dia lagi, sesuai dengan keinginan Ketua PWNU NTB ? KH Achmad Taqiuddin agar buruh NU di NTB turut mengembalikan kejayaan dan kebesaran Sarbumusi NU yang sempat memiliki 2,5 juta anggota dan menjadi garda terdepan perjuangan buruh Indonesia.?

Hal tersebut sangat memungkinkan sehubungan Bupati Lombok Barat Barat Fauzan Khalid telah menyatakan kegembiraannya dan berjanji akan senantiasa menjaga hubungan baik antara buruh dan pemerintah, demikian Syaiful Bahri Ansori. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Cerita, Ahlussunnah, Anti Hoax Muhammadiyah Asli

Selasa, 09 Januari 2018

Muslimat DKI Konsentrasi Pendidikan Anak

Jakarta, Muhammadiyah Asli. “Program Muslimat NU Daerah Khusus Ibukota Jakarta konsentrasi ke pendidikan anak usia dini, karena pendidikan merupakan faktor penting masa depan anak. Misalnya pendidikan akhlak dan keimanan mesti sejak usia dini.” ?

Hal itu diungkapkapkan Ketua Umum PW Muslimat DKI Hj. Hizbiyah Rochim saat membuka lomba kreasi anak di Anjungan Provinsi Lampung, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada Sabtu, (26/5).

Muslimat DKI Konsentrasi Pendidikan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat DKI Konsentrasi Pendidikan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat DKI Konsentrasi Pendidikan Anak

“Bukan berarti Muslimat tidak mementingkan bidang-bidang lain. Muslimat DKI juga memberdayakan pengurus-pengurusnya, meningkatkan kualitas guru-guru PAUD binaan Muslimat. Cuma memang konsentrasinya ke pendidikan anak,” ujarnya. ?

Muhammadiyah Asli

Hizbiyah menambahkan, lomba kreasi anak bertema Menuju Anak Indonesia Sehat, Cerdas dan Ceria ini ini merupakan salah satu rangkaian dari peringatan hari lahir (harlah) ke-66 Muslimat NU DKI. Puncak harlah akan berlangsung 19 Juni di Gelora Bung Karno Jakarta.

“Setelah puncak harlah, masih ada satu kegiatan yang akan dihelat yaitu seminar dengan tema Mewujudkan Perempuan sejahtera dan mandiri,” pungkasnya.?

Muhammadiyah Asli

Redaktur : Mukafi Niam

Penulis ? ? : Abdullah Alawi?

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Doa, Nahdlatul, Cerita Muhammadiyah Asli

Selasa, 02 Januari 2018

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam

Di pinggiran perbatasan Kecamatan Dander dan Kota Bojonegoro, tepatnya di Dusun Kedunggayam, Desa Karangsono, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro terdapat satu Pondok Pesantren yang tampak sederhana. Setelah menempuh jarak 10 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, melewati jalan setapak sempit, di tengah rerimbunan pohon bambu dan di sekitar aliran sungai yang bergemiricik lengkap dengan bentangan sawahnya, terlihatlah bangunan Pondok Pesantren Hidayatul Islamiyah yang berdiri sejak tahun 1998 silam.

Sang pendiri, Kiai Khoiri Amin menceritakan, awal mula berdirinya Pesantren yang menempati tanah seluas lebih dari satu hektare ini.

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidayatul Islamiyah, Pesantren yang Menyatu dengan Alam

Dikatakan, semasa awal berdirinya Pesantren? Hidayatul Islamiah santri yang ada hanya dua anak, Surip dan Syarifuddin. Selang beberapa tahun santri pun bertambah meskipun tidak? seberapa banyak.

Muhammadiyah Asli

“Awalnya hanya ada dua santri, Surip dan Syarifuddin, tapi lama kelamaan berdatangan santri dari daerah-daerah di wilayah Bojonegoro hingga ada yang dari luar kota,” jelas bapak empat anak ini.

Diceritakan,? di pondok yang beliau asuh selain memberikan pendidikan yang berbasis wawasan keilmuan umum dan keagamaan juga memberikan wawasan bersosilisasi dengan masyarakat, pengembangan skill santri. Bahkan, santri juga dibimbing dan dibina hingga mereka berumah tangga.

Muhammadiyah Asli

Sebagaimana santri pertama, Surip yang namanya diganti menjadi Syamsul Huda tetap tinggal di Pesantren hingga berumah tangga bahkan sampai akhir hidupnya. “Surip saya ganti namanya jadi Syamsul Huda, dia wafat dan saya kubur di dekat pondok,” ujar kiai lulusan Pesantren Ta’limul Quran, Gresik ini.

Lebih lanjut pengasuh pesantren yang murah senyum ini menceritakan, degradasi moral bangsa menjadi faktor utama didirikannya pendidikan non formal berupa? Pesantren Hidayatul Islamiah dan pendidikan formal setingkat Raudhotul Athfal (RA) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) . Menurut Kiai Choir, begitu beliau akrab dipanggil, perlu perhatian khusus pada karakter bangsa yang kian hari kian bobrok.

“Sekarang banyak anak muda yang LKMD, alias lamar kari meteng disek (melamar belakangan, hamil duluan),” ujarnya dengan nada bergurau tapi serius.

Dikatakan, saat ini moral bangsa sedang dipertaruhkan, menghadapi gencarnya budaya luar. Sebab itu, kiai ini menghimbau agar pendidikan karakter harus benar-benar diterapkan di pendidikan formal, jangan hanya sekadar wacana tanpa ada tindak lanjut. “Moral bangsa harus benar-benar diberi perhatian khusus terutama pada lembaga-lembaga formal,” jelasnya.

“Nak de’ biyen akeh wong bender ra pathi pinter, tapi nak sak iki akeh wong pinter ra pathi bendher,”? ungkapnya berkelakar.

Dia menambahkan, pengaruh luar kerap kali meracuni pikiran masyarakat terutama kalangan remaja.? Sehingga tak jarang mayoritas pemuda lupa akan hakikat kesederhanaan dan bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat sebagai individu sosial.

Suasana Damai

Kegiatan di pondok yang letaknya terasing dari keramaian ini penuh dengan kesederhanaan, namun tetap dengan unsur spiritual yang kental sebagai nutrisi moral. Sehabis Shubuh, kegiatan mengaji kitab sorogan dilakukan. Uniknya kajian ini digelar di mana pun tempatnya, asal menyatu dengan alam. Baik itu di sawah, di sekitar kolam maupun di pekarangan dekat sungai. Tergantung, di mana saat itu sang kiai berada. Hal ini sebagai wujud belajar alami. Hal ini dimaksudkan agar para santri bisa mengamati alam dan mengambil i’tibar dari ayat-ayat kauniyah. “Biar santri tahu, bahwa meraka hidup dengan alam yang wajib dijaga dan dilestarikan,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, kesederhanaan sangatlah tampak dari pondokan-pondokan santri yang terbuat dari kayu sederhana dengan luas sekitar 2x2 meter. Pondokan ini dikenal dengan istilah Rompok. Selain rutinitas kajian kitab wetondan salaf, santri juga belajar hidup dengan kegiatan pelatihan bercocok tanam, perikanan, dan perkebunan. Kegiatan tersebut sebagai analogi bahwa jiwa yang sehat terdapat pada badan yang kuat (Al-Aqlu As-Shalim fil Jismi As-Salim).

“Sebagai bahan latihan bagi santri ketika terjun ke masyarakat, selain itu juga mengingatkan mereka bahwa jiwa yang sehat terdapat pada badan yang kuat,” terang kiai asal Kepohbaru ini.

Selain mengkaji kitab salaf juga dilaksanakan pelatihan mukhadhoroh,? dziba’an, tahlilan dan qosidah burdah di hari-hari khusus. Tak tanggung-tanggung, semua kegiatan, sarana dan pra sarana di pesantren ini tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis.

Santri pun berdatangan tidak hanya dari sekitar Kota Bojonegoro, namun juga berasal dari luar kota seperti Lamongan, Gresik, hingga merambah wilayah Jawa Tengah. (Nidhomatum MR)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Warta, Nusantara, Cerita Muhammadiyah Asli

Minggu, 31 Desember 2017

Suara PMII untuk Pemerintah RI di Hari Buruh Dunia

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik menilai, peringatan hari buruh dunia merupakan momentum tepat terutama pemerintah untuk memperbaiki regulasi yang berpihak pada kesejahteraan pekerja. Dalam rilisnya, PMII meminta pemerintahan Ir Joko Widodo untuk memperhatikan sejumlah hal berikut ini.

Suara PMII untuk Pemerintah RI di Hari Buruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Suara PMII untuk Pemerintah RI di Hari Buruh Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Suara PMII untuk Pemerintah RI di Hari Buruh Dunia

Pengurus harian PB PMII menuntut pemerintahan kini untuk:

1. Momentum Mayday tahun 2015 ini adalah momenteum evaluasi total system perburuhan di Indonesia diawal pemerintahan Jokowi-JK, baik di pemerintahan, pengusaha maupun perlindungan terhadap hak-hak buruh.?

Muhammadiyah Asli

2. Membenahi system perburuhan Indonesia dengan merevisi UU 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Karena UU ini ? terlalu berpihak pada pengusaha dan mempersempit ruang buruh untuk menjadi sejahtera dan UU ini juga sudah banyak pasal yang di review dan diputus oleh MK.

3. Merevisi UU 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di Luar Negeri karena, UU ini lebih banyak mengatur teknis penempatan TKI dari pada perlindungan TKI.

Muhammadiyah Asli

4. Stop diskriminasi dan Kriminalisasi buruh,

5. Stop Politik Upah Murah Buruh?

6. Menuntut Pemerintah untuk Melindungi tenaga kerja Indonesia dari serbuan tenaga kerja asing

7. Mendorong Pemerintah untuk merealisasikan kebijakan yang terkait dengan Jaminan Kesehatan,keselamatan kerja dan hari tua buruh yang tidak memberatkan Buruh

8. Perluas lapangan kerja untuk mengurangi Buruh di Indonesia ke Luar Negeri

9. Mendorong Pemerintah untuk tidak melepas harga BBM yang dikendalikan oleh mekanisme pasar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Pemurnian Aqidah, Syariah Muhammadiyah Asli

Senin, 04 Desember 2017

Ke(tidak)jelasan Sikap PMII terhadap NU

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan diselenggarakan pada Agustus mendatang akan menjadi sejarah baru bagi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Bagaimana tidak, dalam Muktamar tersebut akan juga dibahas hubungan antara PMII dan NU, apakah PMII akan kembali kepada NU secara struktural atau justru PMII memilih berada di luar strukur NU. Tetapi, sejauh mana momentum yang akan menjadi sejarah bagi PMII dalam Muktamar NU tersebut sudah dipersiapkan dan dihadapi oleh PMII?

Desas-desus hubungan PMII-NU sebenarnya sudah lama diperbincangkan, bahkan dituangkan dalam bentuk tulisan di beberapa media. Pro-kontra terhadap status PMII yang akan menjadi bagian struktural NU, pun dijelaskan secara rasional sampai pada pernyataan sikap “iya atau tidak” . Dengan beberapa argumen tersebut tentu juga menjadi bagian pertimbangan dalam menyatakan sikap PMII terhadap NU.

Tetapi yang perlu digaris bawahi, argumen tersebut hanyalah bersifat personal. Penilaian antara kembali atau tidak PMII dalam struktur NU berdasarkan atas pengalaman pribadi dan beberapa catatan tentang sejarah PMII atau NU di banyak literasi. Dari dasar itulah, menjadi sangat penting pernyataan sikap secara konstitutif dari PMII sebagai organisasi apakah akan kembali ke NU atau justru tetap menjaga jarak secara struktural, dan berbaur secara kultural.

Ketakjelasan Sikap

Ke(tidak)jelasan Sikap PMII terhadap NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke(tidak)jelasan Sikap PMII terhadap NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke(tidak)jelasan Sikap PMII terhadap NU

Diakui atau tidak, kedekatan PMII dan NU ibarat ibu dan anak. Lahir dari rahim NU, PMII menjadi sayap kemahasiswaan NU untuk menyebarkan nilai-nilai ke-Islam-an ahlussunah wal jamaah (Aswaja) di tingkat universitas. Hubungan PMII dan NU dalam durasi waktu 1966-1970-an adalah dependensi. Baru pada tahun 1972, PMII mendeklarasikan diri menjadi organisasi independen di Malang akibat dari situasi politik di masa itu.

Kembalinya NU menjadi organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (Kembali ke Khittah 1926) pada tahun 1984 di Situbondo, hubungan PMII dengan NU menjadi interdependensi. Tetapi, bagi NU hubungan interdependensi tidak menjadikan ia (sebagai ibu) lapang hati ‘melepas’ anaknya. Ada banyak asumsi, kenapa NU mengingikan PMII kembali dalam lingkaran strukturnya, yang salah satunya adalah kader muda NU (PMII) semakin liar, baik secara pemikiran maupun tindakan empirik keseharian.

Maka menjadi penting bagi NU merangkul PMII kembali. Sikap liar yang di maksud sebenarnya bukan berarti adanya indikasi PMII keluar dari nilai-nilai Aswaja (NU). PMII tidak pernah mejaga jarak dengan Aswaja (NU). PMII akan selalu dekat dengan ajaran kebenaran Aswaja.

Muhammadiyah Asli

Adalah wajar PMII liar dalam konteks pemikiran, karena diakui atau tidak, PMII sebagai organisasi ekstra parlementer sudah seharusnya menggunakan logika ekstra parlementer. Sehingga, transformasi ajaran-ajaran Aswaja yang mencakup toleransi, seimbang, moderat, dan keadilan dalam perilaku sehari-hari berbeda antara PMII dan NU. Hemat penulis, adalah asumsi keliru jika liarnya PMII dalam konteks berpikir dan perilaku sehari-hari dianggap melenceng dari nilai-nilai Aswaja (NU).

Ilustrasi di atas tentunya sangat subjektif murni dari pengalaman penulis. Maka perlu adanya ketegasan sikap dari PMII sebagai organisasi terkait hubungan PMII dan NU yang akan dibahas pada Muktamar NU Agustus mendatang.

Muhammadiyah Asli

Sayangnya, di tengah munculnya perdebatan apakah kembali ke NU secara struktural atau tidak, responsifitas—terutama—pengurus besar sangat minus. Pengurus besar yang seharusnya merespons dengan cepat, malah justru tidak terlihat lamban. Hal ini menimbulkan sikap mengambang di tataran PMII, meskipun keputusan tersebut masih akan dinyatakan bulan Agustus mendatang.

Sejauh penagamatan penulis, terutama dalam memperoleh informasi terkait agenda pengurus besar dalam merumuskan PMII ke depan, tidak ada yang menyentuh akan perbincangan apakah PMII kembali atau tidak menjadi bagian struktural NU. Dalam website resmi PB PMII, pun penulis tidak menemukannya. Padahal, website tersebut adalah salah satu akses bagi penulis dan kader PMII yang berada jauh dalam pucuk pemimpin kepengurusan untuk mendapatkan informasi terkait PMII.

Dengan demikian, penulis mengusulkan adanya pertemuan seluruh cabang PMII yang dikoordinir oleh PB PMII dalam rangka merumuskan sikap PMII terhadap NU. Keputusan tersebut harus merupakan keputusan seluruh kader PMII, baik kader baru sampai pada kader yang sudah menduduki posisi strategis dalam kepengurusan PMII. Hal ini menjadi penting karena PMII bukan milik segelintir “elit”, tetapi seluruh kader. Sehingga, rekomendasi yang nantinya akan diputuskan terkait sikap PMII terhadap NU, apakah kembali ke NU secara struktural adalah murni hasil dari pemikiran, ide, dan gagasan seluruh kader PMII.

Jangan sampai

Kejelasan sikap PMII apakah kembali atau tidak ke dalam struktural NU tidak hanya ditunggu-tunggu oleh NU, melainkan juga oleh seluruh kader PMII. Jarak waktu sampai bulan Agustus, di mana Muktamar NU akan diselenggarakan, sangat memungkinkan untuk mengakomodir seluruh pemikiran, ide, dan gagasan kader PMII dalam menyatakan sikap. Tetapi dengan adanya fakta di atas, menimbulkan beberapa kecurigaan yang seharusnya tidak perlu terjadi dalam konteks riil.

Asumsi penulis, waktu yang masih relatif panjang itu perlu digunakan semaksimal mungkin, sehingga memperoleh keputusan yang cukup menjadi representasi dari seluruh keinginan dan kebutuhan kader. Takutnya, jika tidak segera dimaksimalkan akan ada keputusan yang justru mendiskriminasi keinginan bahkan kebutuhan kader secara keseluruhan. Keputusan diskriminatif itu terjadi jika keputusan diambil secara sepihak. Sehingga, keputusan yang akan diambil tidak sesuai dengan keinginan seluruh kader (konsensus).

Artinya bahwa, persetujuan yang akan dihasilkan yang semestinya adalah hasil dari persetujuan seluruh kader, justru tidak melibatkan kader secara keseluruhan. Sehingga kader hanya menerima keputusan tanpa persetujuannya dengan adanya pemaksann dari pimpinan tertinggi. Maka dari itu, waktu yang relatif panjang ini harus segera digunakan untuk melakukan diskusi panjang. Sehingga, tidak ada lagi alasan, semisal dengan sempitnya waktu yang dimiliki sehingga hanya melibatkan pimpinan untuk memperoleh keputusan yang cepat.

Dalam pandangan Jurgen Habermas, sebuah persetujuan kehilangan cirinya sebagai keyakinan? bersama, begitu pihak-pihak yang mencapai persetujuan tersebut mengetahui bahwa persetujuan itu dihasilkan dari pemaksaan kehendak yang berasal dari luar proses itu (F. Budi Hardiman, 2009: 36).

Maka dari itu, sikap PMII terhadap NU tidak menginginkan adanya bentuk diskriminasi atau pemaksaan sehingga menciderai proses persetujuan yang akan dibawa dalam muktamar NU Agustus mendatang. Karena, persetujuan ini merupakan momentum bersejarah bagi PMII, apakah independensi, dependensi, atau interdependensi? Wallahu a’lam!

Ahmad Riyadi, Koordinator Penelitian dan Pengembangan PMII Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nasional, Cerita, Habib Muhammadiyah Asli

Senin, 27 November 2017

Menulis Adalah Pertobatan Menjadi Manusia Berpikir

Kudus, Muhammadiyah Asli. Dalam ilmu mantiq (logika), manusia disebut sebagai hayawanun natiq (makhluk yang berpikir), tetapi belum  beranjak sebagai status hayawanun katib wal qori (manusia yang menulis dan membaca) bila tidak mendokumentasikan dalam bahasa yang baik dan mudah dipahami.

"Karena itulah, menulis merupakan sebentuk pertobatan kita menjadi manusia yang yang punya kuasa menyebarkan pikiran maupun gagasan," kata penulis Muda dari el Wahid Center Semarang Nafiul Haris saat menjadi pembicara Latihan Jurnalistik Dasar (LDJ) Forum Komunikasi pimpinan Komisariat (Forkapik) IPNU-IPPNU kecamatan Dawe di Aula SMA Hidayatul Mustafidin Dawe, Kamis (2/5).

Menulis Adalah Pertobatan Menjadi Manusia  Berpikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Menulis Adalah Pertobatan Menjadi Manusia Berpikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Menulis Adalah Pertobatan Menjadi Manusia Berpikir

Di depan peserta yang sebagian pelajar MA/SMA itu, Haris memberikan motivasi dan teknik penulisan. Dikatakan, menjadi penulis itu harus memiliki sikap percaya diri bahwa karya tulis ini sangat bermanfaat, benar dan berdaya tahan.

Muhammadiyah Asli

"Kalau bahasa ekstrim, penulis harus sombong dulu untuk meyakinkan kalau kita punya pikiran dan ide yang layak dibaca khalayak umum," tandasnya.

Muhammadiyah Asli

Untuk menjadi penulis handal, ujar mahasiswa Fisip Hubungan Internasional Unwahas Semarang ini, para pelajar harus mulai memperbanyak membaca. Tanpa membaca, hampir bisa dipastikan akan menjadi serpihan gagasan yang kurang sistematis dan mendalam.

"Menulis itu kelanjutan dari membaca. Ibarat sekeping mata uang, membaca dan menulis itu bersaudara," imbuhnya.

Ditambahkan, untuk merampungkan tulisan harus mendiskusikan tulisan dengan orang lain. Dengan begitu, akan tahu kekurangan karya dan pikiran yang ditulis.

"Yang perlu diingat cara penulisannya, dimulai dari mencari masalah, melengkapinya dengan bahan bacaan, lalu mendiskusikan apa yang telah kita tulis," tandas Haris panggilan akrabnya.

LDJ yang berlangsung Kamis-Jumat (2-3/5) ini dibuka PC IPNU Kudus dengan jumlah peserta 30 pelajar MA/SMA se Kecamatan Dawe. Berbagai materi dasar jurnalistik seperti pengenalan teknik  penulisan  berita, sastra, artikel dan praktek hunting mencari berita.

Disamping M. Nafiul Haris, yang menjadi fasilitator lainnya adalah Pimpinan Umum majalah IPNU-IPPNU Pilar Abdul Rochim dan jurnalis Muhammadiyah Asli di Kudus.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, Cerita Muhammadiyah Asli

Minggu, 12 November 2017

Keterampilan Khusus Modal Kompetensi Remaja

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Keterampilan khusus merupakan modal kompetensi remaja. Dalam persaingan bebas terutama era Asean Community di tahun 2014 kelak, pelajar dituntut tidak hanya bersaing dengan anak sesama bangsanya, tetapi juga anak dari lain bangsa.

Perihal ini dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) Farida Farichah saat ditemui Muhammadiyah Asli usai menyaksikan tayangan perdana film ‘Sang Kiai’ di Cinema XXI, Epicentrum, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/5) sore.

Keterampilan Khusus Modal Kompetensi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Keterampilan Khusus Modal Kompetensi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Keterampilan Khusus Modal Kompetensi Remaja

“Kunci dari keterampilan ialah belajar dengan tekun. Semakin terampil, persiapan mereka semakin matang dalam persaingan hidup ke depan,” kata Farida Farichah yang berkemeja putih dan mengenakan rok panjang hijau.

Muhammadiyah Asli

Di keramaian massa, Farida mengatakan, keterampilan, kecerdasan, dan kemampuan mereka selain menjadi modal persaingan, dapat digunakan untuk memberikan sumbangsih konkret bagi masyarakat sekitarnya.

Muhammadiyah Asli

Momentum 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional (HARKITNAS) yang diilhami gerakan pendidikan dan kebudayaan harus menjadi sebuah lonceng panggilan bagi remaja untuk meningkatkan kemampuan diri sejak dini, kata Farida Farichah.

Karenanya, remaja Indonesia perlu mengambil inti dari peringatan HARKITNAS 2013 ini. Mereka cukup menghidupi kegiatan pendidikan sebagai sarana peningkatan kemampuan diri, dan menggerakkan aktivitas budaya gotong royong dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan-kemampuan yang mereka miliki, pungkas Farida.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Olahraga, Doa Muhammadiyah Asli

Senin, 30 Oktober 2017

Haul ke-114 Kiai Sholeh Darat Digelar Awal Agustus

Semarang, Muhammadiyah Asli. Haul ke-114 waliyullah KH Sholeh Darat akan dipusatkan di masjid yang terletak di Jalan Kakap Darat Tirtor 212 Semarang Utara atau utara stasiun Poncol pada Ahad 10 Agustus 2014 mulai jam 08.00 WIB. Rais Am PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dijadwalkan akan hadir pada acara haul maha mahaguru ulama Nusantara itu.

Haul ke-114 Kiai Sholeh Darat Digelar Awal Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul ke-114 Kiai Sholeh Darat Digelar Awal Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul ke-114 Kiai Sholeh Darat Digelar Awal Agustus

Sehari sebelum acara inti akan ada Khataman Al-Quran dan pembacaan sholawat Maulid Ad-Dzibai oleh para santri se-Kota Semarang.

Adapun tahlilan rutin di makam Sang Wali, diadakan di Kompleks Makam Umum Bergota Semarang, pada 10 Syawal 1435 H yang biasanya dihadiri ribuan orang dari seantero Pulau Jawa.

Muhammadiyah Asli

Panitia megundang seluruh kaum muslimin-muslimat untuk menghadiri acara tersebut, dan mohon bantuan diumumkan  dan mengajak orang lain untuk hadir.

Muhammadiyah Asli

Ketua Takmir Masjid Kiai Sholeh Darat selaku Panitia Haul Ke-114 Khomsin Bisri mengatakan, pihaknya telah mendapat sumbangan dari warga masyarakat berupa tratak, beras, dan air minum dalam kemasan.

Ia mempersilakan para dermawan untuk ikut menitipkan infaq untuk mncari berkah (tabarrukan) Mbah Sholeh Darat.

"Kami telah menerima sumbangan dari masyarakat berupa tratak, beras dan air minum. Kami masih membuka infaq dari para dermawan," tuturnya.

Ia jelaskan, para dermawan bisa datang langsung ke serketariat panitia di masjid Darat setiap saat. Dijamin dilayani 24 jam sehati, 7 hari seminggu.

Adapun untuk wartawan, tokoh atau tamu dari luar kota dan luar negeri yang membutuhkan informasi, dia persilakan menghubungi Sdr Ichwan selaku pembantu bagian Humas.

"Untuk komunikasi yang hemat dan mudah, silakan invite PIN BB  285E03D5," pungkas Khomsin. (Ichwan DS/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nahdlatul, Cerita Muhammadiyah Asli

Sabtu, 28 Oktober 2017

Presiden Jokowi Buka Kongres Ke-17 Muslimat NU Besok

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Presiden RI Joko Widodo direncanakan membuka ? gelaran Kongres Ke-17 Muslimat NU, Kamis (24/11) di Asrama Haji Jakarta Gedung Serba Guna 2 pukul 09.00 WIB. Hal ini diterangkan oleh Wakil Ketua SC Kongres Muslimat NU Nyai Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Rabu (23/11).

Presiden Jokowi Buka Kongres Ke-17 Muslimat NU Besok (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Buka Kongres Ke-17 Muslimat NU Besok (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Buka Kongres Ke-17 Muslimat NU Besok

“Ya, Pak Presiden konfirmasi terkahir akan hadir. Selain itu, Ketua Umum PBNU juga nanti ikut membuka,” ujarnya di tengah proses registrasi peserta.

Nyai Said menerangkan, Kongres ke-17 Muslimat NU yang mengambil tema Dengan Semangat Islam Nusantara, Kita Wujudkan Indonesia Damai Sejahtera? ini dihadiri oleh 34 Pengurus Wilayah, 525 Pimpinan Cabang, dan 4 Pengurus Cabang Istimewa.?

Rangkaian kegiatan Kongres ini akan diawali pembukaan Expo dan Peluncuran Buku berjudul “70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan NU” yang ditulis oleh Dr Hj Sri Mulyati.

Muhammadiyah Asli

“Sekitar 10.000 kader dan anggota Muslimat akan menghadiri pembukaan Kongres besok,” jelas Nyai Said.

Sampai berita ini ditulis, proses registrasi peserta Kongres masih berlangsung di Gedung Serba Guna 1 Asrama Haji Pondok Gede. Proses registrasi Kongres kali melalui dua jalur, jalur online dan offline. Melalui metode registrasi online, proses registrasi terbantu karena bisa mengurangi penumpukan peserta saat registrasi. (Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Cerita Muhammadiyah Asli

Minggu, 22 Oktober 2017

Sejumlah Pandangan Perihal Keistimewaan Lailatul Qadar

Kehadiran lailatul qadar ditunggu oleh siapapun. Bahkan orang sekaliber Nabi Muhammad pun menanti kedatangannya. Namun sayangnya, tidak ada seorang pun yang tahu kapan kepastian harinya. Tampaknya, Allah SWT sengaja merahasiakannya agar manusia senantiasa melanggengkan ibadah di bulan Ramadhan.

Dalam surat Al-Qadar ayat 3 disebutkan bahwa lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan (khairun min alfi syahrin):

Sejumlah Pandangan Perihal Keistimewaan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Pandangan Perihal Keistimewaan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Pandangan Perihal Keistimewaan Lailatul Qadar

? ? ? ? ? ?

Muhammadiyah Asli

Artinya, “Malam kemuliaan (lailatul qadar) itu lebih dari seribu bulan,” (QS: Al-Qadar: 3).

Ulama berbeda pendapat terkait maksud “lebih baik dari seribu bulan” dalam ayat ini. Ibnu Bathal misalnya, dalam Syarah Shahih al-Bukhari mengatakan sebagai berikut:

Muhammadiyah Asli

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Maksud dari ‘lebih baik dari seribu bulan’ ialah mengerjakan amalan yang diridhai dan disukai Allah SWT di malam tersebut, seperti shalat, do’a, dan sejenisnya, lebih utama ketimbang beramal selama seribu bulan yang tidak ada lailatul qadhar di dalamnya.”

Al-Mawardi di dalam kitab tafsirnya An-Nukat wal ‘Uyun memaparkan lebih lengkap tafsiran ulama terkait maksud ayat di atas. Terdapat lima penafsiran populer mengenai maksud “lebih baik dari seribu bulan”: Pertama, Ar-Rabi’ berpendapat bahwa lailatul qadar lebih baik dari umur seribu bulan. Kedua, menurut Mujahid, beramal di lailatul qadar lebih utama dari beramal seribu bulan di selain lailatul qadar. Ketiga, Qatadah mengatakan, lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan yang tidak terdapat di dalamnya lailatul qadar.

Keempat, Ibnu Abi Najih dan Mujahid mengisahkan, seorang dari Bani Israil pernah mengerjakan shalat malam hingga shubuh. Pada waktu paginya, dia berperang sampai sore. Rutinitas ini dilakukannya selama seribu bulan. Kemudian Allah SWT mengabarkan bahwa beribadah pada lailatul qadar lebih baik dari amalan yang dilakukan laki-laki tersebut, meskipun selama seribu bulan. Kelima, ada pula yang berpendapat, beribadah saat? lailatul qadar lebih baik dari kekuasan Nabi Sulaiman selama lima ratus bulan dan kekuasaaan Dzul Qarnain selama lima ratus bulan.

Kendati ulama berbeda pendapat, namun pada hakikatnya semuanya sepakat bahwa? lailatul qadar adalah malam mulia yang sangat baik digunakan untuk beribadah. Dalam sebuah tafsiran dikatakan, kata “seribu bulan” dalam ayat di atas sebenarnya mengisyaratkan sepanjang hari. Artinya, sampai kapanpun keutamaan lailatul qadar tidak tergantikan. Semoga kita diizinkan untuk beramal saleh tepat pada malam yang sarat kemuliaan ini. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Kajian Islam Muhammadiyah Asli

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed

Riyadh, Muhammadiyah Asli. Kepolisian di ibu kota Saudi, Senin (12/12), mengatakan bahwa mereka menangkap seorang perempuan karena melepas jilbabnya di hadapan umum dan mengunggah gambar aksinya di Twitter.

Juru bicara polisi Fawaz al Maiman tidak menyebutkan nama perempuan itu, tetapi beberapa situs web menyebut namanya Malak al Shehri, yang memicu kehebohan di media sosial setelah berpose tanpa memakai jilbab di sebuah jalan utama di Riyadh bulan lalu.

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed (Sumber Gambar : Nu Online)
Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed (Sumber Gambar : Nu Online)

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed

Maiman mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa polisi di kerajaan yang sangat konservatif itu bertindak sesuai dengan kewajiban mereka untuk mengawasi “pelanggaran moral umum.”

Dia mengatakan perempuan itu mengunggah tweet dirinya sedang berdiri di samping sebuah kafe terkenal di Riyadh tetapi tanpa memakai kerudung yang diwajibkan dalam masyarakat Saudi.

Perempuan yang berusia sekitar 20 tahun itu dibawa ke penjara, katanya. Dia juga dituduh “berbicara secara terbuka mengenai hubungan terlarang dengan pria (tanpa ikatan).”

Muhammadiyah Asli

“Polisi Riyadh menekankan bahwa aksi perempuan ini melanggar undang-undang yang diberlakukan di negara ini,” ujar Maiman, mendesak masyarakat untuk “mematuhi ajaran Islam.”

Kerajaan kaya minyak tersebut memberlakukan pembatasan paling ketat di dunia terhadap perempuan dan merupakan satu-satunya negara yang tidak mengizinkan perempuan untuk mengendarai mobil. Demikian laporan AFP. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Anti Hoax, Cerita Muhammadiyah Asli

Minggu, 17 September 2017

Ribuan Santri Kalsel Ikuti Khataman Quran Nusantara Mengaji

Banjarbaru, Muhammadiyah Asli. Ribuan santri di Kalimantan Selatan, mengikuti khataman Al-Quran yang merupakan bagian dari program "Nusantara Mengaji" yang digagas oleh Muhaimin Iskandar.

Pembina program "Nusantara Mengaji" Imam Nahrowi secara khusus datang ke sejumlah Pondok Pesantren di Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Banjarmasin, Sabtu.

Ribuan Santri Kalsel Ikuti Khataman Quran Nusantara Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Kalsel Ikuti Khataman Quran Nusantara Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Kalsel Ikuti Khataman Quran Nusantara Mengaji

"Kami hadir untuk melihat langsung partisipasi santri dalam program "Nusantara Mengaji"," ujar Menteri Pemuda dan Olahraga itu di Pesantren Al Falah Banjarbaru, Sabtu malam.?

Ia mengatakan, "Nusantara Mengaji" merupakan program yang bertujuan mengingatkan santri dan generasi muda untuk mengaji Kitab suci Al-Quran.

Muhammadiyah Asli

Dijelaskan, generasi muda yang menguasai isi dan kandungan kitab suci Al-Quran akan memiliki moral dan mental yang teruji sehingga bisa menghadapi setiap tantangan hidup.

"Program "Nusantara Mengaji" merupakan bagian dari revolusi mental dengan tujuan membangkitkan rasa dan semangat generasi muda agar menguasai Al Quran," ucapnya.

Muhammadiyah Asli

Ditekankan, program nasional itu diikuti 300.000 santri dan masyarakat lain yang tersebar di seluruh pelosok negeri sebagai upaya menghidupkan tradisi Islami.

"Kami ingin santri dan masyarakat seluruh negeri mengikuti kegiatan ini sehingga tradisi mengkhatamkan Al Quran terus terpelihara dan Islam bisa semakin besar," pesannya.

Sementara itu, jumlah santri yang mengikuti "Nusantara Mengaji" dari 3 kabupaten dan kota mencapai 1.000 santri lebih yang berasal dari sejumlah pondok pesantren di Kalsel.

Khataman pertama di kediaman Bupati Banjar Khalilulrahman dengan jumlah santri mencapai 400 orang dan dilanjutkan khataman Al Quran di Pesantren Al Falah sebanyak 700 santri.

Kemudian, Pesantren Darul Ilmi di Banjarbaru yang santrinya telah menamatkan Al Quran sebanyak 50 orang dan di kantor DPC PKB di Banjarmasin juga sebanyak 50 santri.

Terakhir Ahad (8/5) Menpora mengikuti khataman Al Quran yang akan diikuti 400 santri di Pesantren Nurul Hijrah Kota Banjarmasin. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Fragmen, Cerita, Ulama Muhammadiyah Asli

Rabu, 30 Agustus 2017

Sejarah Ilmu Nahwu

Oleh Syafiq Hasyim

Sejarahwan dan sosiolog Muslim, Ibn Khaldun pernah berkata, “Dengan ilmu nahwu dasar-dasar syariah menjadi tampak jelas. Diketahuilah beda antara f?il dari maf?l dan mubtada? dari khabarnya. Jika nahwu itu tidak ada maka maka gelaplah maksud syariah.”

Minggu lalu saya ungkapkan tentang urgensi penguasaan ilmu Nahwu untuk meningkatkan kualitas diskursus keberagamaan Islam kita di ruang publik. Kali ini saya akan mulai berbicara tentang ilmu itu sendiri, yaitu dimulai dengan pembahasan atas pertanyaan, “Kapan sesungguhnya ilmu nahwu ini bermula dan bagaimana hubungannya dengan tradisi awal Islam?”

Sejarah Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Ilmu Nahwu

Sejarah awal ilmu nahwu dapat dilacak melalui istilah Arab al-la?n, kebiasaan orang Arab berbicara salah secara tata bahasa (grammatical). Lalu pertanyaannya, mungkinkah seorang penutur bahasa asli (native) melakukan kesalahan tata bahasa atas bahasanya sendiri? Sangat mungkin dan itu terjadi sejak zaman dulu. Ab? ?ayyib pernah mensinyalir jika kesalahan gramatik biasa terjadi pada orang Arab pedalaman, kalangan pekerja kelas bawah (budak sahaya) dan orang yang terarabkan.

Muhammadiyah Asli

Sahabat Abu Bakar pernah berkata jika dia lebih senang mendengar orang membaca meskipun salah daripada orang yang melakukan kesalahan gramatikal. Tidak hanya Abu Bakar, sahabat Umar bin Kha?b juga sering menjumpai orang-orang di sekitar dia yang berbahasa Arab dengan tata bahasa yang salah dan terkadang membuatnya marah. Misalnya, Umar suatu saat pernah berkata, “Sungguh demi Allah, kesalahan kalian dalam berbahasa lebih berbahaya bagiku daripada kesalahn kalian dalam memanah, Wall?hi lakha?a’ukum fi lis?nikum ashaddu ?alayya min kha?a?ikum fi ramyikum.” Ibn Qutaybah pernah mendengar orang pedalaman Arab azan dimana dia membaca nasab (fathah) pada lafal “ras?la,”dari kalimat komplit, “ashhadu anna muhammadar ras?lall?h.”

Muhammadiyah Asli

Hal di atas adalah sekadar contoh dari sekian banyak riwayat-riwayat lain yang menceritakan mengapa tata bahasa Arab (ilmu Nahwu) itu sudah menjadi perhatian sejak zaman Rasulullah masih hidup. Dunia Arab sebelum al-Qur’an turun sudah mencapai kemajuannya dalam bidang sastra. Karenanya, al-la?n di sini tidak identik dengan kemajuan sastrawi itu, tapi dengan keharusan berbahasa Arab secara benar, berdasarkan hukum-hukum dasar bahasa yang disepakati. Para sahabat Nabi merasa prihatin dengan al-la?n ini karena dampaknya bisa merusak ajaran Islam.

***

Dengan demikian, ilmu nahwu berdasarkan riwayat-riwayat yang diungkapkan di atas gejalanya sudah muncul pada masa awal-awal sejarah Islam. Iraq adalah kawasan dimana ilmu nahwu mulai menemukan identitasnya yang agak jelas. Dari Iraq kemudian berkembang ke kawasan lain sesuai dengan perkembangan Islam sebagai agama baru pada saat itu.

Lalu bagaimana kongkritnya tema-tema nahwu itu disusun?

Pendapat tentang hal ini di kalangan sejarahwan Nahwu terbelah ke dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang berpandangan jika tema-tema nahwu itu dibentuk dari peristiwa-peristiwa kesalahan gramatika masyarakat Arab sendiri. Dari peristiwa-peristiwa al-la?n ini kemudian berkembang pada tema-tema bahasan lain. Pendapat demikian adalah yang dipegang oleh kalangan mayoritas ulama nahwu.

Kedua, mereka yang berpandangan jika tema-tema awal nahwu itu dibangun atas dasar pemikiran (istinb?t), bukan atas dasar kesalahan gramatik yang terjadi di lapangan. Bahan dasarnya adalah prinsip-prinsip umum berbahasa untuk menolak terjadinya kesalahan gramatik di kalangan masyarakat Arab saat itu. Meskipun golongan kedua ini agak siantifik, namun tidak kuat riwayatnya.

Berdasarkan dua hal ini maka sejarah pembentukan ilmu Nahwu berasal dari kawasan Arab. Hal ini sekaligus juga untuk membantah beberapa pendapat para pemikir Eropa yang menyatakan jika ilmu nahwu terbentuk setelah ada persentuhan dengan tradisi Syiriac (Suryani) dan Yunani. Para pemikir Eropa berpendapat demikian karena Iraq adalah dimana Islam bertemu dengan peradaban lain.

Namun demikian, adakah mungkin sebuah ilmu muncul tanpa keterpengaruhan atau proses interaksi dengan tradisi lain?

Di sinilah kemudian muncul pendapat tengah yang menyatakan jika benar sejarah nahwu mulai dari Iraq, murni dari kalangan Islam, namun kemudian berdealektika dengan tradisi lain. Disusun di Iraq, lalu dikembangkan definisi-definisi, lalu bersentuhan dengan budaya bahasa negara lain. Ketika pada masa orang-orang Islam belum mengenai tradisi lain di luar Islam, maka yang muncul dalam ilmu Nahwu awal adalah sangat murni Arab.

Namun keadaan mulai menjadi lain ketika para filosof Islam belajar filsafat Yunani melalui karya-karya terjemahan dalam bahasa Suryani. Perlu diketahui bahwa terjemahan filsafat Yunani dalam bahasa Suryani sangat melimpah di Iraq pada masa itu dan bahasa inilah yang menjembatani para filosof Islam belajar tentang Yunani.

Lalu siapa peletak dasarnya?

Masalah ini menjadi bahasan yang panjang lebar di kalangan para sejarahwan Nahwu seperti Ibn ?al?m dalam ?abaq?t al-shu?ara’, Ibn Qutaybah dalam al-Ma?rif, al-Zuj?j? dalam al-Am?l?, Ab? ?ayyib al-Lughaw? dalam Mar?tib al-na?wiyyin, al-Sayraf? dalam al-Akhb?r al-na?wiyyin al-ba?riyyin, al-Zabid? dalam al-?abaq?t, Ibn Nad?m dalam al-Fahrasat, al-Anb?r? dalam Nuzhat al-alb? dan al-Qaf? dalam Inb? al-ruwwa.

Mereka semua berpendapat jika peletak dasar pertama ilmu ini adalah Imam Ali karamma l-l?hu wajhahu dan Ab? al-Aswad ad-Du’al?. Peneguhan Imam Ali sebagai pelatak dasar ilmu Nahwu justru berasal dari riwayat Ab? Aswad al-Du’al? dimana menurutnya Imam Ali memberikan kata kunci pertama tentang ilmu Nahwu misalnya yang terakit dengan riwayat Imam Ali yang menyatakan jika kalam itu ada tiga isim, fi?il dan huruf. Ad-Dua’l? juga bercerita bahwa Sayyidina Ali lah yang membagi kata benda (nama) menjadi tiga; kata benda lahir (?hir), kata benda tidak lahir (?mir) dan kata benda yang bukan keduanya. Selain Ali, ada juga yang berpandangan jika ilmu Nahwu ditemukan oleh ?Abdur  Ra?m?n b. Hurmuz al-A?raj dan Na?r b. ?im.

Namun menurut mayoritas sejarahwan pendapat ini dipandang lemah. Sejarah yang benar adalah setelah Imam Ali, Nahwi dikembangkan oleh Abu al-Aswad ad-Du’al?. Al-Anb?r? dan az-Zuj?z? meneguhkan ad-Du?ali sebagai pelatak dasar ilmu ini setelah Imam Ali karena dialah yang mentransmisikan hal ini dari Imam Ali. Sudah menjadi kesepakatan di kalangan ulama Nahwu jika ad-Du’al? lah yang pertama memberikan harakat pada mushaf al-Qur’an. Kebenaran ini hampir tidak bisa kita pungkiri sebab hampir semua generasi salaf dan juga khalaf tidak mempermasalahkannya.

Namun demikian, ilmu baru diberikan dengan nama sebagai ilmu Nahwu justru sepeninggal ad-Du’al?. Pada masa dia, nama ilmu Nahwu adalah al-?Arabiyya. Ibn ?ajar dalam kitabnya al-I?bah menyatakan, “awwalu man ?aba?a al-mu?haf wa wa?a?a al-?arabiyyata Ab? al-Aswad,” pertama kali orang yang memberi harakat pada mushaf dan yang meletakkan al-?arabiyya adalah Ab? al-Aswad. Setelah adl-Du’al? mangkat, maka nama untuk al-?arabiyyata digantikan dengan Nahwu. Namun demikian, istilah Nahwu diambil dari pernyataan Ab? al-Aswad di depan Imam Ali.

***

Jika kita bicara ilmu Nahwu, maka sama saja kita membicarakan suatu aliran pemikiran yang sangat penting dalam ini ini yaitu madzhab Ba?rah. Berbicara tentang madzhab Ba?rah sama dengan berbicara tentang upaya pengharakatan al-Qur’an untuk yang pertama kalinya. Ilmu Nahwu yang sekarang ini banyak dipelajari dan dibaca di seluruh dunia termasuk pesantren-pesantren di Indonesia adalah lahir dan berkembang di Ba?rah. Para ahli sepakat bahwa kemunculan cabang ilmu ini adalah untuk melindungi al-Qur’an dari cara pembacaan yang salah. Ingat bahwa al-Qur’an pada awal-awal bukan seperti al-Qur’an yang kita nikmati sekarang, ada harakatnya lengkap. Al-Qur’an pada masa itu adalah gundul, tak bertanda baca.

Bagi para t?bi?n (secara bahasa pengikut sahabat) dan t?bi?it t?bi?n (secara bahasa berarti pengikutnya tabi?n) yang sudah ?mil al-Qur’?n (hafal al-Qur’an) tiadanya tanda baca dalam al-Qur’an tidak masalah, namun bagi mereka yang tidak hafal, maka tanda baca sangat diperlukan di sini. Ab? As?ad adl-Dual? adalah pembangun awal ilmu yang disebut nahwu ini. Ad-Du?al? mengambil inspirasi dari Sayyida Ali (r.a). Ad-Du?al? berkata, “Jika engkau benar-benar telah melihat mulutkan membaca fathah, maka kasihlah tanda baca fat?ah di atasnya, jika mulutku sudah membaca ?ammah, maka kasihlah tanda baca ?ammah di atasnya, jika mulutku membaca kasrah, maka kasihlah tanda baca kasrah di bawahnya (Dikutip dari Ibn al-Na?m, al-Fahrasat, h. 59).

Dalam perkembangannya, menurut Prof. Abduh al-Rajihi dalam kitabnya, Dur?s f?l-Madh?hib al-Nahwiyyah, dikatakan bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh ad-Du’al? tidak hanya berguna untuk menjaga al-Qur’an dari “kesalahan gramatik” dari para pembaca dan penghafalnya, namun memiliki implikasi yang lebih jauh, yakni untuk mencapai prinsip-prinsip Islam yang paling mendalam (h. 10). Jika halnya yang demikian, mari kita mengingat kembali ilmu ini dan menggunakannya untuk membaca Islam –al-Qur’an, Sunnah dan turast. Sebagaimana yang disebutkan tentang peran Abu al-Awad ad-Du’al?; dimana ilmu Nahwu sudah berkembang tidak hanya menjaga kebenaran cara membaca al-Qur’an, kemudian ilmu ini tumbuh untuk memahami al-Qur’an. Bersambung...

 

Bahasan ilmu nahwu ini merupakan bagian kedua. Bagian pertama bisa dilihat di sini. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Hadits, Amalan Muhammadiyah Asli

Sabtu, 15 Juli 2017

Jelekkan Gus Dur, Sekjen Pengda FPI Diteriaki "Turun...!"

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Habib Noval, Sekjen Pengurus Daerah (Pengda) Front Pembela Islam (FPI) diminta turun panggung saat memberikan ceramah agama di Graha Mahbub Djunaidi PB PMII (Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Jakarta, Senin (16/4) malam lalu. Ia diundang oleh Panitia Harlah PMII ke-52 tahun untuk memberikan nasihat di Pengajian Maulid Nabi SAW dan Tasyakuran Harlah PMII ke 52.

Jelekkan Gus Dur, Sekjen Pengda FPI Diteriaki Turun...! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelekkan Gus Dur, Sekjen Pengda FPI Diteriaki Turun...! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelekkan Gus Dur, Sekjen Pengda FPI Diteriaki "Turun...!"

Noval adalah pembicara ketiga setelah Arif Mudatsir Mandan, ketua alumni PMII dan KH. Nuril Huda, seorang pendiri PMII di tahun 1960. Dalam ceramah agamanya, Noval berpesan agar para kader PMII turut partisipasi menegakkan syariat Islam. Untuk hal ini, kader PMII tampak setuju karena PMII adalah organisasi underbouw kemahasiswaan NU yang berhaluan Islam Ahlussunnah wal Jama‘ah dan kesetiaan pada 4 pilar bangsa, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Dalam ceramah panjangnya, Noval menyebut-nyebut sejumlah ideologi yang dianggapnya anti syariat Islam. Liberalisme menjadi dominan dalam isi ceramahnya. Ia membilang sejumlah orang yang dianggap antek liberal. Ulil Abshar Abdalla nama yang kerap disebut. “Kami siap membunuh mereka yang anti syariat,” tandas Noval dengan penuh emosi di atas panggung.

Muhammadiyah Asli

Malam semakin larut, ceramah masih kondusif. Suasana mulai berubah ketika Noval beralih ke nama lain. Gus Dur, sapaan hangat KH AbdurrahmanWahid, presiden ke-4, dikatakan telah menghina Islam. Gus Dur dinilainya telah melanggar undang-undang penistaan agama dengan opini bahwa Alquran adalah kitab porno.

Ceramah yang terlalu panjang dengan larutnya malam semakin tidak proporsional. Gus Dur yang di mata kader PMII sebagai teladan aktivis rakyat, mulai digambarkan Noval dengan sebutan yang tidak pantas. Dari setiap sudut dan jajaran depan, suara yang meminta Noval turun panggung diteriakkan.

Muhammadiyah Asli

Ceramah Noval dinilai tidak sesuai dengan nafas Harlah PMII ke-52 yang bertema ‘Kembalikan Kedaulatan ke Tangan Rakyat’. Bagi kader PMII, Gus Dur adalah aktivis yang memahami jiwa dan karakter rakyat. Karenanya, kader PMII tidak gampang saja menerima hasutan Noval.

Mendengar tuntutan untuk turun panggung, Noval tampak gugup. Di luar dugaan, orasinya mendapat reaksi yang luar biasa. Noval lalu mencoba mengatur diri dengan mengubah isi pembicaraan. Sebelum turun panggung, ia mengucapkan selamat ulang tahun kepada PMII ke-52.

Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW dan Tasyakuran Harlah PMII ke-52 ini juga dihadiri oleh lebih dari 200 kader PMII. Posisi PB PMII di Salemba Tengah, persis di simpang tiga jalanan. Membeludaknya para hadirin yang mengitari panggung, mempersempit badan jalan. Namun begitu, arus lalu lintas tatap mengalir lancer atas bantuan sejumlah kader PMII dan pemuda setempat.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita Muhammadiyah Asli

Senin, 03 Juli 2017

Menyelami Samudera Sayyidina Husein

Oleh Sayyid Abubakar Hasan al-Attas az-Zabidi



Dalam rangka memperingati jatuhnya bulan Muharram, khususnya sebagai pengingat atas syahadah Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib yang wafat pada 10 Muharram 61H, kami menyusun artikel ini, yang berisi testimoni atau pengakuan tokoh-tokoh dunia tentang keagungan Sayyidina Husein dan bagaimana perjuangannya memberi inspirasi bagi manusia. 

Menyelami Samudera Sayyidina Husein (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyelami Samudera Sayyidina Husein (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyelami Samudera Sayyidina Husein

Secara jujur, tokoh-tokoh dunia Barat dan Timur mengakui heroisme Sayyidina Husein dalam peristiwa di medan Karbala. Kekaguman para tokoh dunia terhadap kepahlawannya telah ditunjukkan lewat berbagai bentuk apresiasi, entah lewat tulisan berupa buku, artikel, syair-syair pujian, kutipan-kutipan singkat (quotes), hingga dalam bentuk aksi sosial. 

Charles Dickens berkata, “Jika Husein berperang karena hasrat dunia, maka aku tak mengerti mengapa saudaranya, istrinya, dan anak-anaknya menemaninya. Husein berkorban murni demi Islam.” 

Kita dapat melihat bagaimana perjuangan Sayyidina Husein menjadi pembangkit semangat dan inspirasi bagi tokoh-tokoh revolusi di seluruh dunia. Nama-nama besar seperti Mahathma Gandhi, Soekarno, Dalai Lama, Mao Ze Dong, Che Guevara, hingga filosof sekuler asal Jerman Friedrich Nietzche mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialaminya. 

Dalam pandangan Dalai Lama, perjuangan Sayyidina Husein adalah bentuk nyata dari keberlanjutan risalah yang dibawa datuknya, Nabi Muhammad SAW. Dalai Lama berkata, “Jika sekiranya agama Budha memiliki dua tokoh agung seperti Ali bin Abi Thalib dan putranya Husein, serta memiliki kitab Nahjul Balaghah dan peristiwa Karbala, maka niscaya tidak akan tersisa manusia di muka bumi kecuali menjadi penganut Budha. 

Muhammadiyah Asli

Thomas Carlyle, tidak hanya mengagumi Nabi Muhammad SAW, tetapi ia membaca sejarah secara menyeluruh, termasuk kisah yang dialami Sayyidina Husein. Ia mengatakan, “Pelajaran terbaik yang dapat kita peroleh dari tragedi Karbala adalah bahwa Sayyidina Husein dan sahabat-sahabatnya adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat kepada Tuhannya. Mereka menggambarkan bahwa keunggulan kuantitas tidak lagi dianggap ketika telah nampak jelas kebenaran dan kebatilan. Kemenangan Sayyidina Husein adalah ketika dia tidak menghiraukan jumlah pasukannya yang sedikit. Dari itulah yang membuat saya benar-benar kagum.”

Seorang penulis Kristen berkebangsaan Suriah, Antoine Bara, menghabiskan waktu selama enam tahun untuk melakukan penelitian tentang Sayyidina Husein. Empat tahun dihabiskan mempelajari berbagai macam referensi, dua tahun sisanya ia gunakan untuk menyusun buku yang berjudul Imam Hussein In Christian Ideology. 

Muhammadiyah Asli

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan telah dicetak lebih dari 20 kali. Ketika ditanya tentang penyusunan buku tersebut, apakah itu murni riset atau keinginan khusus belaka, ia mengatakan, “Kedua-duanya. Pada awalnya, menulis buku bertujuan ilmiah akan tetapi ketika saya semakin menyelami lebih dalam dan lebih luas tentang topik sejarah ini, tumbuh sebuah perasaan kebesaran Sayyidina Husein pada diri saya. Manusia ini telah mengorbankan dirinya untuk agama, prinsip-prinsip, dan menyelamatkan Muslim dari penyimpangan dari Islam guna memastikan berlanjutnya pesan dan penyampaiannya dari satu generasi ke generasi lain." 

Ketika orang-orang dari belahan dunia mengapresiasi buku tersebut dan ingin menerjemahkannya, Antoine Bara langsung menyetujui dan tidak mengambil keuntungan dari situ. Ia mengatakan, “Saya tidak menulis buku itu demi profit, melainkan karena keyakinan saya kepada Sayyidina Husein AS."

Ada sekian banyak pernyataan dan apresiasi yang berkaitan dengan perjuangan Sayyidina Husein. Antoine Bara mengatakan bahwa Sayyidina Husein bukan hanya milik umat Muslim, melainkan milik seluruh dunia. Bara mengatakan bahwa Sayyidina Husein adalah “hati nurani agama”. 

Allahumma shalli alaa Sayyidinaa Muhammad wa alaa aali Sayyidina Muhammad...





Penulis adalah Pimpinan Majelis Taklim Al-Habib Abubakar bin Hasan Al-Attas Az-Zabidi yang juga mufti besar Kesultanan Ternate, Maluku Utara

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Hadits, Olahraga, Cerita Muhammadiyah Asli

Minggu, 11 Juni 2017

IPNU-IPPNU Welahan Fokus Gerakkan Ranting

Jepara, Muhammadiyah Asli. Pengurus baru PAC IPNU-IPPNU Welahan kabupaten Jepara selama dua tahun ke depan, akan menghidupkan kembali kepengurusan di tingkat ranting. Setelah dilantik di Masjid Sidiq Al-Hasan desa Sidigede kecamatan Welahan, Sabtu (8/11), mereka menyatakan akan mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk ranting yang menjadi tanggung jawab anak cabang.

Menurut Ketua IPNU Welahan Fahruddin, saat ini dua ranting yang menyatakan siap menghidupkan lagi organisasi pelajar NU ini. Keduanya ialah aktivis pelajar NU di desa Kedung Sari Mulyo dan Welahan.

IPNU-IPPNU Welahan Fokus Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Welahan Fokus Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Welahan Fokus Gerakkan Ranting

“Dua ranting ini dalam waktu dekat akan ada kepengurusannya lagi,” terangnya.

Muhammadiyah Asli

Dari 15 kecamatan yang ada di Welahan, hanya 4 ranting yang aktif seperti desa Teluk Wetan, Brantak Sekarjati, Kalipucang Wetan, dan Sidigede. Minimnya ranting yang aktif dikarenakan masyarakat menganggap IPNU-IPPNU masih dihubung-hubungkan dengan partai politik tertentu.

Muhammadiyah Asli

Berdasar dinamika ini, alumnus pesantren Al-Falah Darus Salam desa Sidigede ini terus melakukan pendekatan. Utamanya menemui pengurus NU di ranting agar menghidupkan maupun mendirikan IPNU-IPPNU.

Bagi dia, IPNU-IPPNU merupakan kegiatan yang sangat positif. “Aktif di IPNU-IPPNU merupakan sarana agar tidak terjerumus ke lembah nista,” tegasnya saat ditemui di Gedung NU Jepara, Senin (10/11). (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Pemurnian Aqidah, Sholawat Muhammadiyah Asli

Kamis, 18 Mei 2017

Nekat, Gus Ipul Akan Diberhentikan Sebagai Ketum GP Ansor

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi meminta Saifullah Yusuf melepaskan jabatannya sebagai ketua umum Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor jika benar-benar bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Jika tidak, maka PBNU akan memecatnya.

“Kalau dia (Saifullah Yusuf, Red) nekat, maka akan diberhentikan. Tentunya melalui rapat di PBNU terlebih dahulu,” tegas Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (16/1).

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur itu bisa memahami langkah Gus Ipul—demikian panggilan akrab Saifullah Yusuf—‘berganti baju’ tersebut sebagai hak pribadi. Namun demikian, ditegaskannya, di dalam aturan organisasi, termasuk badan otonom semacam GP Ansor, tidak diperkenankan pengurusnya rangkap jabatan.

Nekat, Gus Ipul Akan Diberhentikan Sebagai Ketum GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Nekat, Gus Ipul Akan Diberhentikan Sebagai Ketum GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Nekat, Gus Ipul Akan Diberhentikan Sebagai Ketum GP Ansor

“Itu hak Saiful untuk masuk PPP. Tapi jabatan ketua umum GP Ansor-nya harus dilepas dulu. Tidak boleh dan tidak bisa rangkap jabatan,” tegas mantan ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu.

Menurutnya, Gus Ipul yang juga Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal harus memilih salah satu di antaranya. Jika tidak, salah satu konsekuensinya adalah organisasi kemasyarakatan yang ia pimpin pasti akan terbengkalai.

Muhammadiyah Asli

Hasyim juga menegaskan, jika pun Gus Ipul tak masuk dalam pengurus harian PPP, maka diharapkan tak lagi melakukan manuver-manuver politik, sebagaimana dilakukan selama ini. “Meskipun anggota biasa, tidak boleh bermanuver untuk kepentingan politik praktis,” tandasnya.

Sebelumnya, Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan, pihaknya akan segera menentukan sikap tentang posisi Gus Ipul. ”Secepatnya, setelah ada kejelasan tentang posisi Saiful,” katanya. Meski demikian, ketua Dewan Fatwa MUI itu mengatakan bahwa pihaknya masih menungu keterangan Gus Ipul mengenai posisi serta sikap politiknya sekarang.

Meski GP Ansor merupakan badan otonom di bawah NU, kata Ma’ruf, PBNU tidak bisa serta merta mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan atau tidak. Karena itu, akan ditempuh mekanisme musyawarah bersama antara pimpinan GP Ansor dan pengurus PBNU. (rif)

Muhammadiyah Asli

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Cerita, Halaqoh Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock