Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Melanjutkan Rekonsiliasi Alami

Oleh : Abdul Munim DZ

Dalam menghadapi eks-Tapol PKI ini terdapat dua kelompok, yaitu pertama kelompok yang menghendaki adanya rekonsiliasi politik yang didahului dengan pengadilan HAM. Kelompok ini terdiri dari kelompok pewaris PKI garis keras yang didukung beberapa aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kedua, kelompok yang menolak rekonsiliasi dalam bentuk apapun. Kelompok ini didukung oleh beberapa kelompok Islam garis keras, termasuk kalangan TNI garis keras, sehingga benturan dan ketegangan diantara kedua kelompok itu cukup keras, baik pada di tingkat sosial maupun di panggung media.

Mengatasi ketegangan dua kubu yang bersebarangan itu, NU menawarkan rekonsiliasi alami, yaitu rekonsiliasi yang dijalankan berdasarkan prinsip kemanusian, yang tanpa didahului dengan pengadilan. Ini yang disebut dengan rekonsiliasi alami atau rekonsiliasi kultural. Sebab hal itu telah berlangsung sejak tahun 1965 yakni sejak benturan antara NU dengan PKI selesai, langsung terjadi rekonsiliasi di tingkat masyarakat, sehingga kehidupan di masyarakat bawah kembali normal dan kembali harmoni pascaterjadinya tragedi.

Rekonsiliasi secara alami terjadi antara kelompok NU dan bekas PKI dan keluarganya terjadi justru sejak pemberontakan tahun 1965 itu usai. Di Bojonegoro Desa Kunci Dander, misalnya, ada seorang tokoh PKI bernama Karso Lamin punya anak bernama Giyono yang selama ini selamat dari pembantaian karena sekolah SMP di Kota Bojonegoro. Begitu pulang ke desa segera disergap oleh Pemuda Marhaen, dan berusaha membunuhnya, karena Gino anak tokoh PKI, tetapi niat itu dihalang-halangi oleh Pemuda Ansor. Maka diadakan debat di kantor kelurahan antara Pemuda Marhaen dengan Gerakan Pemuda Ansor. Perdebatan itu dimenangkan oleh Ansor, maka sejak itu Giyono serta adiknya Wagiman dilindungi oleh kiai NU dan mulai belajar mengaji di langgar. Selama belajar ngaji Giyono dilindungi, dijemput saat berangkat menjelang maghrib agar tidak diganggu atau dibunuh oleh siapapun, sebab pemuda ini anak seorang tokoh PKI yang diincar Pemuda Marhaen. Begitu pula setelah selesai mengaji malam hari diantar pulang ke rumah, dan rumah itu juga terus diawasi dari jauh agar tidak ada yang menggerebek, termasuk dari TNI. Akhirnya Gino selamat dan menjadi keluarga yang saleh, bahkan kemudian Gino masuk TNI AL. Kemudian adiknya yang lebih kecil Wagiman juga diselamatkan dari serangan massa dan sekarang menjadi polisi di Bogor. Mereka itu semua menjadi Muslim yang taat hingga saat ini.

Melanjutkan Rekonsiliasi Alami (Sumber Gambar : Nu Online)
Melanjutkan Rekonsiliasi Alami (Sumber Gambar : Nu Online)

Melanjutkan Rekonsiliasi Alami

Contoh lain terjadi di Desa Trisulo, Kecamatan Ploso Klaten, Kabupaten Kediri. Di desa ini, 100 persen penduduknya adalah PKI. Pasca peristiwa 65, hampir tidak ada orang yang berani datang ke desa ini. Selama 31 tahun pasca peristiwa 65, di desa tersebut tidak ada ormas. Karena kedekatan kultural dengan NU. ketika ada kematian maka yang membacakan tahlil mendoakan adalah orang-orang NU yang ada di sekitarnya. Demikian juga saat pernikahan, melahirkan anak dan sebagainya. Dengan cara ini, perlahan trauma sejarah warga desa tersebut bisa diobati. Sehingga pada tahun 1997 organisasi yang pertama kali berdiri di desa tersebut adalah NU dan Ansor.

Rekonsiliasi NU-PKI juga dilakukan oleh KH Abd. Rochim Sidik yang pernah menjadi Ketua NU dan MUI Blitar. Beliau dengan beberapa kiai NU lainnya mempelopori gerakan mengasuh anak-anak yatim yang bapaknya menjadi korban PKI 65. Melalui gerakan ini ratusan anak yatim PKI disekolahkan, dimasukkan ke pesantren dan dididik oleh para kiai dan warga. Dengan cara ini banyak anak-anak PKI yang sukses menjadi pegawai negeri, pengusaha, politisi dan sebagainya. Atas perlindungan para kiai ini anak-anak PKI bisa lolos dari tekanan Orde Baru yang sangat ketat dengan sistem litsusnya.

Muhammadiyah Asli

Bukti lain yang mencerminkan terjadinya rekonsiliasi sosial antara kiai dan warga NU dengan massa PKI terjadi di Pekalongan. Setelah peristiwa G-30-S/PKI itu para kiai di Pekalongan banyak mendirikan mushola di pintu-pintu masuk kampung/desa yang ada di sepanjang jalan Pekalongan-Banjarnegara yang menjadi basis PKI. Salah seorang yang melakukan tindakan tersebut adalah KH Anwar Amin (Ayah dari bapak Ashif Qalbihi, Bupati Pekalongan 2016-2021). Hal ini dilakukan dengan tujuan utama yaitu menjadi tempat ibadah kaum Muslim yang ada di desa tersebut dan sekaligus untuk melindungi orang-orang PKI yang ada di desa tersebut dari gerakan pembersihan yang dilakukan oleh aparat Orde Baru. Dengan adanya mushalla di desa tersebut, maka akan menghapus image sebagai desa yang menjadi basis PKI. Selain itu, dengan adanya mushalla-mushalla tersebut, warga masyarakat yang ikut dalam PKI juga bias menyembunyikan identitas mereka dengan menjadi muslim yang baik.

Selain mendirikan mushola di pintu masuk desa, beberapa kiai di Pekalongan juga melindungi orang-orang PKI di desa-desa dari ancaman massa. Selain itu dengan cara mengangkat mereka menjadi pegawai di koperasi NU atau lembaga lainnya. Seperti yang dilaikukan oleh KH Anwar Amin yang mengangkat salah seorang PKI menjadi juru tulis koperasi NU karena orang tersebut pandai mengetik. Selain itu, para kiai juga memberikan kesempatan pada anak-anak PKI untuk belajar di pesantren. Dengan kata lain pada saat itu para kiai NU membuka peluang seluas-luasnya kepada massa PKI untuk masuk dan berlindung ke dalam NU.

Muhammadiyah Asli

Ada dua alasan utama yang mendorong para kiai NU di Pekalongan ini bersikap melindungi rakyat yang menjadi simpatisan PKI. Pertama, karena para kiai melihat bahwa banyak rakyat yang tidak tahu apa-apa tentang PKI. Mereka masuk menjadi anggota PKI hanya karena ikut-ikutan. Terhadap orang-orang yang seperti ini, maka tidak layak mereka dipersekusi bahkan perlu dilindungi. Kedua, para kiai sadar bahwa konflik harus segera diakhiri karena hal itu akan merugikan semua pihak. Oleh karena itu para kiai segera memutus mata rantai konflik tersebut dengan secepat mungkin melakukan rekonsiliasi.

Sejak awal NU melakukan rekonsiliasi alami, karena di NU tidak mengenal adanya dosa warisan apalagi dosa lingkungan. Karena itu NU mengajak bangsa ini agar menerima mereka kembali ke masyarakat dan disantuni agar mereka tidak kembali ke habitanya sendiri yaitu PKI. Dengan adanya hukuman yang telah ditimpakan pada PKI baik dengan Mahmilub dan pembuangan serta pengasingan, dan setelah selesai masa hukumannya mereka dibebaskan, maka bagi NU persoalan 1965 telah selesai. Tidak boleh dibongkar lagi atas nama apapun, karena hal itu akan mengganggu kerukunan nasional. Termasuk menggangu ketenteraman warga eks-PKI yang telah memperoleh rehabilitasi dan perlindungan selama ini.

Rekonsiliasi politik yang didahului dengan pengadilan serta pembongkran kuburan harus ditolak, sebab cara yang ditawarkan lembaga internasional itu bermaksud menyalahkan pemerintah dan NU serta ormas Islam. Hal itu kalau diteruskan akan mengundang pertikaian. Oleh karena itu NU menolak cara itu. Sebaliknya sepakat untuk melanjutkan rekonsiliasi alami yang telah dirintis sejak tahun 1966 yang lalu, yang telah berhasil melakukan pemulihan mental, menciptakan kerukunan dan membangun persatuan yang memuaskan semua pihak, tanpa gejolak. Tradisi itu telah berjalan dengan baik dan lancar selama 50 tahun lebih, walau tanpa publikasi dan tanpa ada dana dari lembaga internasional, masyarakat telah memiliki mekanisme sendiri dalam melakukan rekonsiliasi, baik dalam menentukan cara mapun dalam memenuhi kebutuhan dana.

Sejak awal aktivis NU menyikapi PKI tidak secara gebyah uyah, karena ada beberapa katagori PKI. Ada kelompok PKI yang agresif dan mengancam, menculik dan membantai. Di beberapa tempat ada PKI yang hanya ikut-ikutan dan tidak melakukan kekerasan, terhadap mereka ini NU dan umat Islam tidak melakukan gangguan, bahkan selama masa pemberantasan PKI, mereka itu dilindungi. Dibuatkan masjid atau langgar serta dibimbing melaksanakan kegiatan sosial dan keagamaan. Bahkan kalau ada massa rakyat hendak menyerang mereka, pihak NU melindungi, sehingga mereka aman dalam lindungan NU, mereka itu kemudian kembali bermasyarakat sebagai warga biasa.

Selain itu banyak orang yang dulu tersangkut gerakan PKI tetapi setelah selesai masa hukumannya kembali menjadi manusia yang sangat soleh dan sangat peduli pada lingkungan, ringan menolong orang lain dengan berbagai program sosial dan kemanusiaan. Apalagi kalau selama ini mereka masuk PKI hanya ikut-ikutan tidak tahu apa itu PKI karena mereka dijebak, ditipu dan sebagainya. Mereka disantuni, diterima dengan baik kembali ke masyarakat, justru mereka itu sangat menyesali ketidaktahuannya sehingga mudah terseret dalam arus PKI yang menjanjikan berbagai kekayaan dan fasilitas, tetapi janji itu tidak pernah dipenuhi, karena cara memenuhinya dengan cara merampas dan merampok milik orang lain, akhirnya bukan kekayaan yang didapat, tetapi malah malapetaka yang didapat. Itu yang dikesankan sementara eks-Tapol. Mereka merasa bersalah dan merasa beruntung kesalahan mereka dimaafkan oleh masyarakat, bahkan mau menerima mereka, tanpa ada hukuman sosial, tanpa ada diskriminasi atau dianggap warga tiri di masyarakatnya. Untuk melindungi dan menyantuni mereka itu para ulama dan masyarakat Islam mengeluarkan tenaga, mengeluarkan dana sehingga mereka hidup tenteram dan sejahtera.

Sayangnya langkah itu dianggap sepi oleh kalangan aktivis HAM, dan pejuang demokrasi, justru mengekspos dan mengeksploitasi berbagai penderitaan eks-Tapol sebagai komoditi politik yang dijual ke luar negeri. Karena itu mereka melakukan kerjasama dengan komunitas hak asasi manusia internasional, mereka hendak menjalankan rekonsiliasi dengan caranya sendiri yang meminjam cara bangsa lain yang kebetulan tidak pas, sebiuah rekonsiliasi politik yang dihahului dengan pengadilan. Pelaku kejahatan diadili dulu dinyatakan bersalah lalu minta maaf dan direhabilisitasi serta diberi kompenasi baru saling memaafkan. Itu cara berpikir dan argumen mereka. Bangsa Indoenesia menolak rekonsliasi politik, sebab kasusnya berbeda di sini tidak ada tindakan sepihak baik yang dilakukan TNI maupun Banser NU. Mereka menyerang PKI karena PKI meneyerang mereka sehingga terjadi perang saudara. Dalam perang saudara tidak dikenal siapa pelaku dan siapa korban, karena keduanya menjadi pelaku dan keduanya menjadi korban. Kalau ini diadili maka harus menghadirkan saksi dari masing-masing korban.

Apalagi PKI adalah kelompok yang dalam menyerang NU dan TNI adalah dalam upaya menghancurkan ideologi dan bentuk negara, maka mereka tidak memiliki hak politik untuk membela diri dalam pengadilan. Selain itu pengadilan seperti ini juga akan memakan waktu dan akan semakin menambah ketegangan dan pertengkaran, justru dikhawatirkan apa yang sudah diperoleh PKI selama ini akan hilang kembali, ketika pengadilan menemukan kesalahan PKI. Karena itu, NU menolak rekonsiliasi cara itu, dan tetap mendrong untuk menjalankan rekonsiliasi alami sebagaimana yang telah terjadi. Memang rekonsiliasi seperti itu tidak mendatangkan simpati internasional, dan dengan sendirinya tidak akan mendatangkan dana internasional, sebab semuanya telah terjadi secara otentik, jauh dari formalitas, jauh dari publisitas, sehingga dunia internasional juga tidak memberikan bintang penghargaan dalam bentuk apapun, karena dalam rekonsiliasi ini tidak ada koordinator dan tidak ada tokoh dan tidak juga butuh juru bicara.

Oleh karena itu, menurut NU sumber malapataka dan kontroversi ini adalah pernyataan Komnasham 2012, yang menyebut bahwa langkah yang ditempuh pemerintah dan ormas dalam menyelematkan ideologi negara Pancasila pada tahun 1965 itu disebut sebagai pelanggaran HAM berat yang pelakunya baik militer dan para militer harus diadili. Istilah semena-mena yang digunakan Komnasham yakni pelanggaran Ham berat peristiwa 1965 itu harus dihapus. Kalau pernyataan itu tidak dicabut maka negara akan terus didesak dan diganggu untuk melaksanakan desakan Komnasham yang jelas-jelas melakukan kesalahan itu. Lagi pula bangsa ini sedang melakukan reintegrasi sosial, yang membutuhkan kekompakan. Kalau masih terus direcoki oleh urusan-urusan ribet yang penuh kontroversi seperti itu, negara dan masyarakat tidak bisa bekerja dan berjalan dengan baik, karena harus mengurusi hal-hal yang seharusnya tidak menjadi urusan. Bangsa ini harus mengurus dan menjalankan agenda yang lebih strategis dan lebih bermanfaat.

 

Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Sumber: Abdul Munim, Dz., Menghadapi Manuver Neo-Komunis, Yayasan Prakarsa Kemandirian dan Ketahanan Bangsa, hal. 103

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional, Budaya Muhammadiyah Asli

Senin, 19 Februari 2018

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA

KH Achmad Syaichu dilahirkan di daerah Ampel, Surabaya, pada hari Selasa Wage, 29 Juni 1921. Ia adalah putra bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Chamid dan Ny. Hj. Fatimah. Pada usia 2 tahun ia sudah yatim, ditinggal wafat ayahnya. Sepeninggal ayahnya, Achmad Syaichu bersama kakaknya, Achmad Rifai, diasuh ibunya.

Untuk memperoleh pendidikan agama, Syaichu belajar kepada K. Said, guru mengaji bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Pada usia 7 tahun ia sudah mengkhatamkan Al-Quran 30 Juz. Selain belajar agama, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, sebuah sekolah yang dikelola Muhammadiyah. Tak lama belajar di sekolah ini, oleh H. Abdul Manan, ayah tirinya, dipindahkan ke Madrasah Taswirul Afkar. Lembaga pendidikan ini didirikan KH Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur, dan KH Dachlan Achyat. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal-bakal Nahdlatul Ulama.

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Achmad Syaichu, dari Ranting NU sampai Presiden OIAA

Untuk membantu meringankan beban ibunya yang harus menghidupi putra-putranya, setelah H. Abdul Manan wafat, pada usia kanak-kanak Syaichu sudah sudah mulai bekerja di perusahaan sepatu milik, Mohammad Zein bin H. Syukur. Dan terpaksa untuk beberapa lama ia tidak melanjutkan sekolah.

Muhammadiyah Asli

Syaichu kembali kebangku sekolah sesudah selama dua tahun bekerja dan memiliki bekal yang relatif cukup. Ia masuk Madrasah Nahdlatul Wathan, sebuah lembaga pendidikan yang juga didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Sambil belajar, ia kembali bekerja pada seorang tukang jahit kenamaan di Pacar Keling, Mohamad Yasin. Di Nahdlatul Wathan ia dibimbing seorang guru yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangannya yaitu KH Abdullah Ubaid. Selain itu ia juga berguru kepada KH Ghufron untuk belajar ilmu Fiqh.

Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Ny. Fatimah yang sudah dua kali menjanda diperistri KH Abdul Wahab Chasbullah. Di bawah bimbingan ayah tirinya itulah Syaichu berkembang menjadi pemuda yang menonjol. Kepemimpinannya mulai tumbuh.

Muhammadiyah Asli

Sekolah sambil bekerja seolah-olah menjadi pola hidup pemuda Syaichu. Setamat dari Nadlatul Wathan, ia kembali bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut. Selama bekerja dibengkel itu, ia melakukan kegiatan dakwah di lingkungan kawan-kawan sekerja.

Setahun kemudian, 1938, KH Abdul Wahab Chasbullah mengirimkan Syaichu ke Pesantren Al-Hidayah, Lasem asuhan KH Mashum. Selama di pesantren ini, ia menjadi santri kesayangan Mbah Mashum. Sesudah 3 tahun belajar di Lasem, ia terpaksa harus boyong ke Surabaya, karena ia terserang penyakit tipes (typus) yang cukup serius.

Pada tanggal 5 Januari 1945, pada usia 24 tahun, Syaichu mempersunting Solchah, putri Mohamad Yasin, penjahit kondang asal Pacar Keling yang pernah menjadi majikannya. Sesudah berkeluarga, ia membuka home industry sepatu di rumahnya, dengan 15 orang karyawan.

Ketika terjadi penyerbuan tentara Sekutu ke kota Surabaya, ia bersama istrinya mengungsi ke Bangil. Pada tahun 1948, sesudah Surabaya kembali aman, ia pulang ke kota kelahirannya. Mulailah ia terjun sebagai sebagai pengajar di Madrasah NU. Di samping mengajar, ia juga menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan. Itulah awal mula Syaichu mulai terlibat di organisasi NU.

Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya periode 1948-1950, ia ditunjuk sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum (Tanfidziyah), bersama KH. Thohir Bakri, KH. Thohir Syamsuddin dan KH. A. Fattah Yasin. Karier Syaichu di organisasi terus menanjak dengan cepat. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Kota Besar Surabaya.

Awal tahun 1950-an ia mendaftarkan diri menjadi pegawai pemerintah dan bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala. Baru setahun di Pengadilan Agama, ia pindah ke Kantor Agama Kotapraja Surabaya.

Pada tahun 1953, Syaichu terpilih menjadi ketua LAPANU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Dan pada pemilu 1955, ia diangkat menjadi anggota DPR dari Fraksi NU, dan pada tanggal 25 November 1958 ia ditunjuk sebagai Ketua Fraksi NU. Dalam kurun waktu 15 tahun sejak ia menjadi anggota DPRDS di Surabaya, akhirnya ia mencapai puncak karir di gelanggang politik, dengan menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966. Di NU sendiri ia pernah menjadi salah seorang ketua PBNU, sampai tahun 1979 (ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang).

Kepemimpinan dan ketokohan KH. Achmad Syaichu tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga sampai ke level internasional. Pengakuan itu terbukti dengan dipilihnya KH. Achmad Syaichu sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) dalam konferensinya yang pertama di Bandung, tanggal 6-14 Maret 1965. KH. Achmad Syaichu yang di kenal sebagai pengagum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu berhasil mengembangkan misi dakwah Islamiyah dan misi perjuangan bangsa Indonesia dalam pentas politik internasional.

Sekian lama KH. Achmad Syaichu menekuni dunia politik, tak menyurutkan perhatian dan minatnya dalam dunia dakwah Islamiyah. Malahan semangat mengembangkan dakwah Islamiyah itulah yang dijadikan motivasi dalam keterlibatannya di pentas politik. Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, ia mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkannya menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren.

Pesantren Al-Hamidiyah yang kini berdiri cukup megah di daerah Depok, merupakan saksi bisu yang menunjukkan betapa besar dan luhurnya cita-cita yang dikandung KH. Achmad Syaichu. Dari pesantren juga berakhir di pesantren. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian, RMI NU, Internasional Muhammadiyah Asli

Jumat, 09 Februari 2018

Jemaah Haji asal Blitar Aktivis Muslimat NU Wafat di Madinah

Blitar, Muhammadiyah Asli

Kabar duka dari Madinah. Rubiyah, salah seorang Jemaah Haji asal Kauman, Srengat, Kabupaten Blitar dikabarkan wafat pukul 23.00 waktu setempat di Rumah Sakit Al-Ansor Madinah Munawaroh. Subuh tadi jenazah yang merupakan kader Muslimat NU Srengat itu di sholati di Masjid Nabawi Madinah.

Jemaah Haji asal Blitar Aktivis Muslimat NU Wafat di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jemaah Haji asal Blitar Aktivis Muslimat NU Wafat di Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jemaah Haji asal Blitar Aktivis Muslimat NU Wafat di Madinah

Kabar ini disampaikan oleh Ketua KBIH Al-Kamal ? Kunir Wonodadi Blitar, H Muhammad Lutfi. “Siangnnya dibawa ke rumah sakit. Karena mengeluh badannya tidak enak. Tepat pukul 23.00 waktu Madinah beliau di kabarkan wafat,” ungkap Gus Upik panggilan akrab Ketua LKKNU Kabupaten Blitar ? itu melalui telepon selulernya, Sabtu (20/8).

Menurut Gus Upik, saat berangkat 16 Agustus lalu, almarhumah masih tampak sehat. Begitu juga ketika tiba di Madinah, Rubiyah masih sehat. “Bahkan bersama-sama 217 ? jamaah Al-Kamal, saat melaksanakan Arbain masih tampak sehat. Baru kemarin sore mengeluh sakit dan langsung dirujuk ke RS Al-Anshor Madinah,” ungkap Lutfi.

Tahun ini Calon Jemaah Haji asal Kabupaten Blitar yang berangkat ada 689 orang. 190 ikut jamaah KBIH Al-Kamal Kunir Wonodadi Blitar, sisanya ikut KBIH lain dan ada juga yang mandiri. Sebelum berangkat 6 orang dinyatakan gagal berangkat dengan berbagai sebab. Tiga orang meninggal dan 3 orang lantaran sakit.

Muhammadiyah Asli

Kepala Seksi Haji Kemenetrian Agama Kabupaten Blitar, Syaichul Munib saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa itu. “Tadi pagi saya mendapat informasi itu. Semoga khusnul khotimah dan masuk sebagai hajjah yang mabrur,” ungkap Syaichul Munib. (Imam Kusnin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional, Pondok Pesantren Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli

Minggu, 04 Februari 2018

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia

Jakarta, Muhammadiyah Asli - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) menandatangani kerja sama dalam pelayanan jasa perbankan di Muamalat Tower, Kuningan, Jakarta, Senin (20/6) sore. Secara konkret NU DKI Jakarta akan membuka gerai Muamalat di lokasi yang jaringan berjejaring dengan NU DKI Jakarta.

Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah menyambut baik kerja sama kedua pihak ini. Ia mendukung gerai-gerai Muamalat untuk hadir di pelosok-pelosok DKI Jakarta.

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DKI Jakarta Jalin Kemitraan dengan Bank Muamalat Indonesia

Alhamdulillah penandatanganan kesepakatan antara kedua pihak ini berjalan lancar. Saya akan berkomitmen bahwa setelah kesepakatan ini seluruh transaksi PWNU mesti pakai Bank Muamalat Indonesia,” kata H Saefullah.

Muhammadiyah Asli

Ia berharap sosialisasi layanan perbankan berbasis syariah ini dikemas dengan bahasa yang sederhana.

“Saya sebagai Ketua PWNU sudah memulainya. Sejak ini saya menutup semua rekening bank lain,” kata H Saefullah.

Muhammadiyah Asli

Tampak hadir Rais Aam NU KH Makruf Amin, pengurus harian PWNU DKI Jakarta, dan jajaran Direksi Bank Muamalat serta Pimpinan Cabang Bank Muamalat Se-Jabodetabek. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Pondok Pesantren, Nusantara, Internasional Muhammadiyah Asli

Sabtu, 03 Februari 2018

Ana Mustafidah, Santri Sukses Perancang Busana

Surabaya, Muhammadiyah Asli. Ana Mustafidah tertarik dengan dunia mode pakaian muslimah sudah sejak belia. Saat merengek minta baju untuk lebaran, ternyata sang ibu tidak langsung membelikan. Yang diberikan malah potongan kain untuk dijahit sendiri.

Ana Mustafidah, Santri Sukses Perancang Busana (Sumber Gambar : Nu Online)
Ana Mustafidah, Santri Sukses Perancang Busana (Sumber Gambar : Nu Online)

Ana Mustafidah, Santri Sukses Perancang Busana

"Saat itu saya masih berusia 12 tahun," kata Ana kepada Muhammadiyah Asli, Senin (30/3). Ditemui di salah satu gerainya di mall City of Tomorrow (Cito) Surabaya,  Mbak Ana, sapaan akrabnya menegaskan bahwa itulah awal yang melecut semangatnya sehingga menjadi perancang busana muslimah.

Bakatnya semakin terasah ketika nyantri di  pesantren Salafiyah Bangil Pasuruan Jawa Timur. Dalam kegiatan pentas seni, imtihan atau hari besar Islam yang diiringi dengan pementasan di pesantren, maka para pengurus memercayakan desain busaha kepadanya. 

Muhammadiyah Asli

"Berbekal benang dan jarum, saya memperbaiki sendiri baju yang robek, atau sekedar iseng memodivikasi baju yang sudah ada," kenang istri dari H Farmadi Hasyim ini. Dan enam tahun berada di pesantren menyelesaikan pendidikan formal dari MTs hingga Aliyah menjadi waktu yang sulit dilupakan.

Muhammadiyah Asli

Tidak berhenti pada kegiatan rancang busana, perempuan kelahiran Malang 7 Mei 1979 ini juga mengajak para santri untuk membuat aksesoris. "Dari mulai gelang, bros, pernak-pernik pentas, serta sejumlah kerajinan tangan,"ungkapnya.

Setelah menikah dan menempati kontrakan di Surabaya, anak pertama dari lima bersaudara ini semakin serius melatih kemampuan dengan mengikuti sejumlah kursus. "Sembari menjadi guru ngaji di musholla di kawasan Margorejo, saya kursus menjahit," katanya.

Agar ilmu serta pengalaman yang didapat segera bisa diterapkan, seluruh koleksi baju milik suami serta putra semata wayangnya dikerjakan sendiri. "Seluruh baju koleksi saya, anak dan suami adalah hasil kreasi saya sendiri," katanya sembari tersenyum. Kalaupun harus membeli baju di luar, paling hanya jenis kaos, lanjutnya.

Akibat "promosi berjalan" ini, order pembuatan baju dari tetangga dan teman dekat mulai berdatangan. "Alhamdulillah mulai ada order menjahit pakaian," katanya. Dan dari kepercayaan ini juga yang akhirnya membesarkan hatinya untuk serius menekuni dunia rancang busana muslimah. Di rumah yang dihuni bersama sang suami yakni di kawasan Perumahan Graha Al-Ikhlas Sidoarjo, dibukalah Majmal Boutique yang menjadi ciri khas dari karya yang dibuatnya.

Kini namanya semakin berkibar. Sejumlah kegiatan fashion show kerap diikuti. Pemilihan putri jilbab, tren busana saat pergantian tahun atau pameran busana muslimah kerap diikuti. Dan sejumlah juara berhasil ia raih dari keikutsertaan tersebut. Karenanya tidak berlebihan kalau banyak kalangan memercayakan pakaian muslimah kepadanya. Tercatat beberapa anggota DPR RI memesan baju untuk berbagai acara kepadanya. Sejumlah rumah sakit Islam di Surabaya juga mempercayakan hasil desainnya.

Pelanggan dari luar negeri juga ada baik di Malaysia maupun sejumlah buruh migran di Hongkong. "Kalau pelanggan dari Malaysia karena kebetulan mereka pernah kuliah di Surabaya," ungkapnya. Sedangkan untuk WNI di Hongkong didapat lantaran berkah sang suami yang kerap mengisi ceramah di sana, lanjutnya.

Menjelang Ramadhan dan hari raya seperti ini, order rancangannya semakin banyak. Baik untuk pribadi maupun acara fashion show di sejumlah mall dan pertokoan modern. "Ini sedang menyiapkan rancangan untuk fashion show di Kaza Mall dan Grand City Super Mall Surabaya dalam waktu dekat," katanya. Tidak jarang, ibu dari Abdun Nashir ini juga dipercaya sebagai juri acara serupa.

Kendati jadwal dan order rancangan busana nyaris tanpa jeda, Mbak Ana masih menyisakan waktu untuk tetap mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran di tempatnya tinggalnya. "Ada 30 orang yang ngaji di sini," terang pengasuh rubrik busana di Tabloid Modis ini. Setiap hari Senin hingga Jumat tepatnya ba’da Sholat Magrib, para ibu yang merupakan tetangganya rutin belajar ngaji dan tanya jawab masalah agama kepadanya.

Di sela-sela acara ngaji, ia juga merangsang para ibu untuk memanfaatkan waktu dengan menjahit. Tidak jarang, ibu-ibu jamaahnya diajak mengikuti acara fashion show dengan menunjukkan hasil karya mereka. "Tentu kalau menang, mereka akan mendapat imbalan dari kerja kerasnya," pungkas ibunda dari Abdun Nasir Almuhajjalin ini. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional, Olahraga Muhammadiyah Asli

Senin, 22 Januari 2018

Wapres JK Berharap Pesantren Bisa Terus Membawa Kebaikan

Jombang, Muhammadiyah Asli. Wakil Presiden (Wapres) Indonesia, Jusuf Kalla berharap Pesantren bisa terus membawa dan mendidik santrinya ke arah yang lebih baik. Hal ini disampaikan Wapres saat mengisi seminar di Pondok pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang, Jawa Timur, Ahad (29/10).

"Kita punya modal jumlah umat Islam yang banyak tetapi tidak diiringi oleh akhlak yang baik dan benar. Semoga pesantren bisa terus membawa santrinya ke arah yang lebih baik. Data yang saya punya kita punya 800 ribu lebih masjid," jelasnya.

Wapres JK Berharap Pesantren Bisa Terus Membawa Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres JK Berharap Pesantren Bisa Terus Membawa Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres JK Berharap Pesantren Bisa Terus Membawa Kebaikan

JK menambahkan, ia menemukan banyaknya pejabat yang korupsi. Ini tentu tidak sejalan dengan kuantitas pemeluk Agama Islam dan peribadatan yang tinggi. Dengan jumlah masjid terbanyak di dunia, mengalahkan negara-negara timur tengah seharusnya Indonesia lebih baik akhlaknya.

JK menyebutkan, di pusat juga banyak anak buahnya yang terjerat praktek korupsi. Sikap korup ini menjadi fenomena unik di negara Indonesia yang agamis.

Muhammadiyah Asli

"Anak buah Pak Karwo kemarin banyak yang tertangkap KPK ya, Alhamdulilah Pak Karwo tidak. D Jakarta juga banyak, Anak buah Pak Gubenur juga anak buah kita," bebernya.

Bahagia menurut JK yaitu bahagia dunia akhirat, bukan hanya akhirat saja, apa lagi hanya bahagia dunia. Sehingga nanti bisa menumbuhkan kemakmuran dan keadilan.

Muhammadiyah Asli

JK juga meminta generasi muda dan sarjana tidak mengharapkan jadi PNS semata. Disebabkan jumlah yang lulus dari bangku kuliah tidak sebanding dengan lowongan PNS. Kebutuhan untuk PNS hanya puluhan ribu orang, sedangkan yang lulus sarjana hampir 1 juta orang.

"Dulu PNS diterima 120 ribu, sekarang hanya 30 an ribu saja. Sedangkan setiap tahun ada 900 ribu lebih lulusan kampus," bebernya.

Menurut JK, kunci sukses berada pada diri sendiri. Tentang bagaimana setiap individu meningkatkan kualitas diri dan kemampuan masing-masing. Tidak ada kesuksesan yang jatuh dari langit.

"Bagaimana mau berhasil?, ya tergantung diri kita masing-masing," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional, Ulama Muhammadiyah Asli

Senin, 25 Desember 2017

Substansi haji harus Tetap Ibadah, bukan Wisata

Mekkah, Muhammadiyah Asli. Wakil Amirul Hajj Hasyim Muzadi mengatakan, makna substansi haji harus tetap ibadah bagi perbaikan `intuisi basiroh` (detakan hati yang paling dalam), jangan sampai kehilangan makna apalagi mengarah hanya ke urusan pariwisata.

Substansi haji harus Tetap Ibadah, bukan Wisata (Sumber Gambar : Nu Online)
Substansi haji harus Tetap Ibadah, bukan Wisata (Sumber Gambar : Nu Online)

Substansi haji harus Tetap Ibadah, bukan Wisata

"Intuisi basiroh adalah `black box` ibarat dalam pesawat, dan tidak mudah rusak serta terkontaminasi," kata Hasyim saat menyampaikan makna haji secara hakiki menjawab pertanyaan wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) di Mekkah, Arab Saudi, Kamis.

Fisik memang penting, tapi jangan kegiatan manasik lebih dipentingkan daripada substansi ibadahnya.?

Muhammadiyah Asli

Ada tiga faktor terkait haji, masing-masing niat, bekal, dan intuisi basiroh. Niat, semua jemaah mampu melaksanakannya. Bekal, ujarnya, harus `halal` dalam penyediaan kebutuhan bekal termasuk ongkos naik haji dan makan serta minuman yang dikonsumsi.

Muhammadiyah Asli

Faktor terpenting adalah substansi ibadah yang diharapkan akan berdampak positif bagi perilaku para jemaah haji setelah kembali ke kampung halamannya. Para haji itu diharapkan menjadi hamba Allah yang agamis dan mahluk sosial yang keberadaannya berimbas kebaikan bagi lingkungan keluarga terdekatnya.

"Misalnya, kalau satu tahun 200.000 jemaah haji dan setiap jemaah memiliki lima anggota keluarga terdekat yang terdampak kebaikan, maka satu juta orang setiap tahun berperilaku amanah," ujarnya.

Hasyim menambahkan, pelaku kejahatan koruptor di Indonesia itu relatif tidak banyak, namun dampak yang ditimbulkan lebih dari kejahatan kriminaltas biasa.?

"Penjahat kerah putih itu (white collar crime) memberi dampak negatif lebih dibanding dampak yang diberikan oleh penjahat kerah biru (blue collar crime) yang melakukan kejahatan jalanan," kata Hasyim yang akan menjadi penghotbah wukuf pada ibadah haji tahun ini.?

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber ? : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Halaqoh, Pendidikan, Internasional Muhammadiyah Asli

Sabtu, 09 Desember 2017

Christine Hakim: Mbah Hasyim Bukan Hanya Milik NU

Surabaya, Muhammadiyah Asli. Ada pengalaman khusus yang dialami aktris ternama Christine Hakim saat memerankan Nyai Kapu alias Nyai Masruroh (istri Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, Rais Akbar PBNU) dalam film "Sang Kiai" yang disutradarai Rako Prijanto.

"Saya tidak hanya mengandalkan kemampuan akting, karena saya merasa berat dalam memainkan peran itu. Saya pun berkunjung ke Desa Kapurejo di Kediri yang merupakan daerah kelahiran istri Mbah Hasyim Asyari," ucap aktris kelahiran Jambi itu.

Christine Hakim: Mbah Hasyim Bukan Hanya Milik NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Christine Hakim: Mbah Hasyim Bukan Hanya Milik NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Christine Hakim: Mbah Hasyim Bukan Hanya Milik NU

Ia menceritakan hal itu saat bedah film di hadapan ratusan pelajar SMP-SMA di Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU (YTPSNU) "Khadijah" Surabaya yang dipimpin Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa, 18 Mei lalu.

Muhammadiyah Asli

"Di Desa Kapurejo itu, saya sempat shalat malam agar diberi petunjuk dalam memerankan Nyai Kapu. Allah SWT menerima doa saya, sehingga saat pengambilan gambar seperti ada tangan Tuhan yang menuntun saya untuk berperan dan seolah-olah saya hidup di zaman itu," ujarnya.

Didampingi sutradara Rako Prijanto dan aktor Ikranegara (pemeran KH Hasyim Asyari) dan Agus Kuncoro (pemeran KH Wahid Hasyim), peraih enam Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik itu mengaku dirinya merasa malu setelah bermain dalam film yang dirancang selama tiga tahun dan akan diputar di bioskop pada 31 Mei 2013.

Muhammadiyah Asli

"Kita harus malu dengan Mbah Hasyim, karena apa yang kita lakukan sekarang, ternyata tidak ada apa-apanya dengan apa yang beliau lakukan," tuturnya dengan tatapan menerawang.

Dia menganggap Mbah Hasyim tidak hanya menderita akibat penjajahan, melainkan juga menderita kelaparan akibat penjajah memblokade jalur distribusi makanan kepada pribumi.?

"Buktinya, Nyai Kapu pernah menjual kain batik untuk membeli beras," ujar aktris yang sudah membintangi 35 film sejak 1974 hingga 2013 itu.

Dengan suara bersemangat, aktris Indonesia pertama yang menjadi juri dalam Festival Film Cannes di Prancis itu menyatakan Mbah Hasyim bukan hanya milik warga NU, melainkan milik bangsa dan negara, bahkan dunia.

"Itu karena kekuatan angkatan perang penjajah yang bersenjata lengkap itu harus tunduk kepada para santri Mbah Hasyim yang bersenjata ala kadarnya, sehingga para penjajah pun memperhitungkan beliau," paparnya.

Film yang juga menampilkan nuansa romantis dan peran wanita dalam perjuangan melawan penjajah itu membuktikan bahwa spiritual dan agamis itu sangat berperan dalam perjuangan menegakkan NKRI. Film itu "meluruskan" sejarah yang menghilangkan peran kiai atau ulama.

"Mbah Hasyim mengajarkan jihad dalam arti yang benar dan utuh. Saat ditanya Bung Karno tentang hukum membela negara dari penjajah, Mbah Hasyim menyatakan fardlu ain (wajib bagi setiap pribadi)," kata aktris Indonesia pertama yang main film Hollywood berjudul Eat Pray Love bersama artis Julia Roberts di Bali itu.

Tidak hanya tegas dalam berbicara, Mbah Hasyim juga merupakan sosok yang berani dalam tindakan. Saat penjajah Jepang melarang untuk hormat kepada "Merah Putih", sang kiai itu menolak untuk "menyembah" matahari. "Kita bisa bangga jadi orang Indonesia," urainya.?

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber ? : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional Muhammadiyah Asli

Minggu, 03 Desember 2017

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan

Bogor, Muhammadiyah Asli. Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Bogor mengelar acara santunan kepada anak yatim di Pesantren Sunanul Huda, Kecamatan Lewiliang, Bogor, Jawa Barat, Ahad (5/7). Kegiatan sosial ini merupakan agenda rutin Muslimat NU Bogor.

“Kegiatan ini kami lakukan rutin hampir setiap bulan di kediaman ayah kami dan kami merasa senang bisa berbagi dengan sesama. Kami mengundang hampir 400 anak yatim di setiap kegiatan,” kata Ketua PC Muslimat NU Bogor Nita Sari.

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan

Nita berharap kegiatan ini bisa juga dilaksanakan oleh setiap Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU yang ada di Kabupaten Bogor. Pihaknya mengajak kepada masyarakat Muslim di bulan yang penuh rahmat ini untuk selalu ingat dengan mereka yang kurang beruntung.

Muhammadiyah Asli

Program yang digagas H Sasmita, ayah kandung Nita Sari, ini dinilai cukup meringankan beban mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Kegiatan digelar di kediaman H Sasmita di Pesantren Sunanul Huda.

Muhammadiyah Asli

Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kabupaten Bogor Lukmanul Hakim yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, selaku pengusaha ia mendorong agar kegiatan mencintai anak yatim ini tidak hanya berlangsung di bulan Ramadhan dan bersifat ceremonial belaka. Tetapi, lebih mengarah kepada jangka panjang misalnya melalui beasiswa atau yang lainya.

Selain ketua HPN Bogor, hadir pula Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nu (IPNU), tokoh masyarakat, dan aparat pemerintah setempat. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional Muhammadiyah Asli

Rabu, 29 November 2017

Ahlul Halli Wal Aqdi Turunan dari Pasal Musyawarah Mufakat

Mataram, Muhammadiyah Asli. Penerapan Ahlul Halli Wal Aqdi yang kini sedang di godok NU berdasarkan hasil Pra Muktamar yang telah diselenggarakan pada tanggal 9-10 April lalu di Ponpes NU Al-Mansuriah Bonder Praya Barat Lombok Tengah ditanggapi positif oleh Ketua PCNU Kota Mataram Ust Fairuz Zabadi, SH ketika ditemui Muhammadiyah Asli di kediamannya Jl Raya Pagutan Kota Mataram.

Ahlul Halli Wal Aqdi Turunan dari Pasal Musyawarah Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahlul Halli Wal Aqdi Turunan dari Pasal Musyawarah Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahlul Halli Wal Aqdi Turunan dari Pasal Musyawarah Mufakat

Menurutnya, Ahlul Halli Wal Aqdi telah ia suarakan pada Konferwil PWNU NTB tahun 2011 lalu ketika terpilihnya Drs TGH Acmad Taqiuddin Mansur (Ketua PWNU NTB sekarang) di Ponpes NU Darunnajah Kecamatan Lingsar Lombok Barat.

“Hanya saja istilahnya yang berbeda, dan AHWA bukanlah hal baru tapi itu adalah turunan dari istilah Musyawarah Mufakat yang ada di AD/ART NU, itulah spiritnya awalnya AHWA,” katanya. 

Muhammadiyah Asli

Saat itu ia memasang spanduk dibeberapa sudut jalan dan juga di arena Konferwil dengan tulisan “bermusyawarahlah” dengan tujuan untuk mengajak kepada para muktamirin baik cabang maupun wilayah agar mengedepankan Musyawarah.

Muhammadiyah Asli

Lebih lanjut kata fairuz, saat itu telah berjalan ketika memilih Syuriyah walaupun pada akhirnya belum bisa mengahsilkan Syuryiah dengan cara Musyawarah. “Artinya pemilihan langsung alternatif terakhir pada saat itu,” kenangnya.

Meskipun demikian, imbuhnya, upaya itu telah di coba hanya saja tidak dapat berjalan sesuai dengan harapan karena belum ada juklak maupun juknis tentang muysawarah. “Yang ada kan hanya tentang pemilihan langsung saja di Tatib persidangan. Karena itu, juklat/juknis tentang Musyawarah perlu dirumuskan,” pintanya.

Ahlul Halli Wal Aqdi menurutnya, lahir untuk menghindari kekhawatiran pada ulama dan agar mendapatkan hasil yang baik dengan cara yang baik. “Tapi, yang terpilih menjadi tim AHWA nanti adalah calon-calon Rais Aam, agar 9 orang AHWA bermusyawarah memilih satu di antara mereka untuk menjadi Rais Aam,” sarannya.

Kalau AHWA boleh memilih dari luar itu, maka AHWA sama artinya dengan panitia seleksi (Pansel). “Untuk apa menyeleksi ulama? Mereka sudah jelas orang baik. Oleh karena itu, AHWA yang dipilih harus calon-calon Rais Aam,” ulangnya. (Hadi/Fathoni)          

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Kajian Islam, Santri, Internasional Muhammadiyah Asli

Minggu, 26 November 2017

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Arus deras globalisasi telah menghasilkan dampak positif dan negatif dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kenyataan ini harus disiasati agar umat Islam tidak hanyut yang mengakibatkan hilangnya identitas sebagai bangsa.

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa

“Dalam upaya memperbaiki kehidupan berbangsa di tengah kegalauan globalisasi ini, NU mengajak untuk kembali membangun karakter dan jati diri bangsa ini,” seru Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam acara halal bihalal dan peluncuran Munas dan Konbes NU, Selasa (4/9), di Jakarta.

Menurutnya, kondisi ini juga menuntut adanya keterbukaan budaya. Namun, di era globalisasi kemampuan umat beragama dalam beradaptasi akan selalu dibutuhkan.

Muhammadiyah Asli

“NU sejak lama sudah lama punya prinsip pertahankan budaya, petahankan tradisi, pertahankan jati diri, tapi juga ambil ilmu-ilmu yang semakin maju,” tandasnya.

Muhammadiyah Asli

Dalam acara yang dirangkai dengan Halal Bialal ini, Kang Said menjelaskan tentang relevansi tema Munas dan Konbes NU yang digelar di Cirebon, 14-17 September 2012 mendatang. Tema tersebut adalah Kembali ke Khittah Indonesia 1945, Meningkatkan Khidmat NU Menuju Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur.

“Yang tiada lain adalah kembali pada semangat Proklamasi, kembali kepada nilai-nilai Pancasila dan kembali berpegang pada amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,” tuturnya.

Dengan kembali ke nilai dasar, demikian Kang Said, kita akan selamat dari gelombang globalisasi. Bahkan sebaliknya, mengendalikan globalisasi untuk menciptakan negara yang berdaulat, adil dan makmur sebagaimana dicita-citakan 67 tahun lalu. 

“Perlu kita segarkan dan tegaskan kembali saat ini,” pungkasnya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nahdlatul, Daerah, Internasional Muhammadiyah Asli

Kamis, 23 November 2017

Sunan Ampel Restui Berdirinya NU

Cirebon, Muhammadiyah Asli. Para ulama pendiri NU jelas bukan sembarang ulama. Mereka orang-orang khos yang memiliki kualitas keimanan yang luar biasa di zamannya. 

 

Sunan Ampel Restui Berdirinya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sunan Ampel Restui Berdirinya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sunan Ampel Restui Berdirinya NU

Salah satu pendiri jamiyyah Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Hasbullah, selain pendirian NU kepada kepada KH Hasyim Asyari, beliau meminta persetujuan waliyullah tanah Jawa. Yaitu Kanjeng Sunan Ampel. 

Dituturkan salah satu putra Mbah Wahab, KH Hasib Wahab, ayahnya itu menulis surat kepada Sunan Ampel dalam Bahasa Arab. Surat tidak dilipat tapi digulung seperti nawala di zaman kerajaan kuno. Lalu dibungkus kain terus dimasukkan ke dalam makam Sunan Ampel di Surabaya.  

"Mbah Wahab bilang ke beberapa kyai dan pendereknya, jika surat itu dalam tiga hari hilang dari tempat dia memasukkan, berarti Sunan Ampel merestui berdirinya NU," ujar penerus Kiai Wahab mengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang ini. Dia ceritakan kala diwawancarai di sela sarapan pagi di lokasi Munas & Konbes NU di Ponpes Kempek Palimanan Cirebon, Ahad (16/9). 

Muhammadiyah Asli

Tutur Kiai Hasib, setelah tiga hari memasukkan surat tersebut, Mbah Wahab ziarah lagi ke makam Sunan Ampel. Malah membawa rombongan lebih banyak. Ternyata nawala tersebut tak berada di tempatnya lagi. Akhirnya Kiai Wahab mantab, lalu pulang dan segera menemui KH Hasyim Asyari agar segera mendeklarasikan berdirinya NU. 

Muhammadiyah Asli

"Suratku wis diterima Kanjeng Sunan Ampel. Berarti direstui untuk melanjutkan dakwah Islam di Nusantara, " ujar Kiai Hasib menirukan ucapan ayahnya yang dia dengar dari penuturan sahabat Mbah Wahab yang pernah bercerita kepadanya.  

 

Kontributor: Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Nahdlatul, Daerah, Internasional Muhammadiyah Asli

Selasa, 21 November 2017

Wapres: Tak Banyak yang Miliki Pengalaman Seperti KH Idham Chalid

Jakarta, Muhammadiyah Asli

Wapres Jusuf Kalla berpendapat tak banyak orang yang memiliki pengalaman seperti yang dimiliki oleh Mantan Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid dengan berbagai peran dan jabatan yang disandangnya.

“Beliau memiliki pengabdian dan pengalaman yang begitu beragam, begitu besar, begitu banyak, saya kira tidak banyak orang yang memiliki pengalaman seperti KH Idham Cholid,” katanya dalam peluncuran buku ”Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah” di Jakarta, Kamis (6/3) malam.

Wapres: Tak Banyak yang Miliki Pengalaman Seperti KH Idham Chalid (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres: Tak Banyak yang Miliki Pengalaman Seperti KH Idham Chalid (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres: Tak Banyak yang Miliki Pengalaman Seperti KH Idham Chalid

Ketua Umum Golkar ini menjelaskan setidak-tidaknya Idham Cholid yang telah memimpin NU selama 28 tahun ini dalam karirnya selalu berada dalam tiga sosok, yaitu ketua NU sebagai ormas, NU sebagai parpol dan sebagai pejabat negera. Putra Kalsel tersebut juga pernah memimpin tiga partai yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Idham Cholid juga pernah menduduki tiga jabatan menteri, yaitu wakil perdana menteri, menkopolkam, dan menteri sosial. Di posisi legislatif, ia juga menduduki berbagai jabatan mulai dari anggota DPRD Kalsel, DPR dan MPR. “Wajar jika kita mempelajari, mengambil hikmahnya,” katanya.

Mengenai kemampuannya membawa NU dalam berbagai situasi, Jusuf Kalla berpendapat hal ini dikarenakan ia merupakan orang moderat yang selalu berada ditengah disertai sikap kesantunan sehingga bisa diterima oleh semua fihak.

“Hanya kesantunan yang bisa menjaga kemoderatan. Kalau pandangannya ekstrim, tentu orangnya juga ekstrim. Hanya orang yang memahami banyak orang yang bisa mengerti,” imbuhnya.

Muhammadiyah Asli

Pengenalannya secara pribadi dengan Idham Chalid telah terjadi sejak ia tinggal di Makassar yang mana orang tuanya, H. Kalla merupakan tokoh NU setempat dan ketika ke Sulsel, Idham Chalid kadangkala berkunjung ke rumahnya. “Sekali-sekali acara NU di rumah orang tua saya, saya mendengar pembicaraan kepartaian atau apa saja. Jadi banyak hal yang menjadi pelajaran,” katanya.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Jusuf Kalla juga mendoakan agar Idham Chalid yang saat ini terbaring sakit dapat diberi keselamatan, rahmat dan hidayah. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Internasional, Syariah, Meme Islam Muhammadiyah Asli

Jumat, 17 November 2017

LPPNU Kembangkan Kurikulum Berbasis Spiritualitas

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) kini tengah mengembangkan kurikulum sekolah lapang yang berbasis spiritualitas dalam upaya konservasi sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan.

Penyusunan kurikulum ini dilakukan bersama-sama di Jakarta pada 6-8 Agustus dengan mengundang sejumlah pengurus cabang LPPNU di Banten, DKI, Jabar dan Jateng bagian barat serta bekerjasama dengan Hanns Seidel Foundation.

LPPNU Kembangkan Kurikulum Berbasis Spiritualitas (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Kembangkan Kurikulum Berbasis Spiritualitas (Sumber Gambar : Nu Online)

LPPNU Kembangkan Kurikulum Berbasis Spiritualitas

Ketua LPPNU Ahmad Dimyati menjelaskan yang dimaksud berbasis spiritualitas adalah menilai pengelolaan pertanian sepenuhnya sebagai bagian dari ibadah. “Kita tak melihatnya sekedar sebagai khutbah atau ceramah, tetapi melibatkan aspek tasawwuf,” katanya dalam acara pembukaan, Jum’at (6/8).

Muhammadiyah Asli

Karena itu, dalam upaya penyusunan materi tersebut, LPPNU melibatkan tim yang berasal dari Jamiyyah Tarikat Al Mu’tabarah An Nahdliyyah, lembaga NU yang membidani masalah tarekat.

Dimyati menjelaskan, lembaganya diberi amanah oleh PBNU untuk melakukan pembangunan pedesaan, pemeliharaan sumberdaya alam dan pengembangan energi hayati. Pendekatan yang dilakukan tak semata-mata soal pengetahuan dan manajerial agribisnis, tetapi melibatkan semangat spiritualitas dan keruhanian.

Muhammadiyah Asli

“Semangat spiritualitas menjadi jiwa dai LPPNU, bukan sekear berbudidaya tanaman atau memperjualbelikan hasil, tetapi benar-benar beribadah kepada Allah,” tandasnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Amalan, Internasional, Pesantren Muhammadiyah Asli

Kamis, 16 November 2017

Konferensi Internasional ICIS Digelar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah

Situbondo, Muhammadiyah Asli. Konferensi internasional yang diprakarsai International Conference of Islamic Scholars (ICIS) pekan depan digelar di pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Konferensi bertaraf internasional ini bertujuan meneguhkan sekaligus memperkenalkan nilai-nilai moderat yang dimiliki Islam.

Konferensi Internasional ICIS Digelar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Internasional ICIS Digelar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Internasional ICIS Digelar di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah

Salah seorang panitia KH Misbahussalam mengatakan, konferensi yang berlangsung pada (28-30/3) akan dihadiri perwakilan ulama dari mancanegara termasuk negara-negara Timur Tengah. Antara lain dari mereka adalah Syekh Wahbah Az Zuhaili (Syiria), Ali Jumah (Mesir) Syekh Muhammad Yisif (Mufti Maroko), Syekh Abdul Karim Ad-Dhibaghi, Syekh Hasani Lancene bin Muhammed.

“Sedangkan dari dalam negeri di antaranya KH Qurais Syihab, KH Maruf Amin, KH Tholhah Hasan, dan peserta dari pengasuh pesantren,” ujarnya ? usai mengikuti rapat persiapan di pendopo pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jumat (21/3).

Muhammadiyah Asli

Kiai Misbah menambahkan, konferensi tersebut paling tidak diharapkan dapat menghasilkan putusan untuk memberi masukan dan manfaat terhadap kondisi negara-negara Timur Tengah yang saat ini terus menerus dilanda konflik.

“Ini mungkin merupakan sumbangan pemikiran bagi negara-negara untuk keluar dari konflik yang berlatar belakang sentimen keagamaan,” ungkapnya.

Muhammadiyah Asli

Sementara itu, Sekjen ICIS KH Hasyim Muzadi menuturkan, pesantren asuhan Kiai Azaim itu dipilih untuk memenuhi permintaan almarhum KH Fawaid Syamsul Arifin. Diceritakannya, almarhum ? KHR Achmad Fawaid As’ad pernah mendatangi rumahnya seraya meminta agar dalam satu abad pesantren yang diasuhnya itu ? diselenggarakan pertemuan ulama internasional.

“Pesantren ini sangat bersejarah. Di tempat ini pernah diselenggarakan Muktamar NU 1984 yang mencetuskan nilai-nilai Islam moderat dan Khitthah NU,” tukasnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

?

Foto: Dokumentasi ICIS III di Jakarta, 2008

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional, Halaqoh, Kajian Muhammadiyah Asli

Rabu, 15 November 2017

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) meminta pemerintah menetapkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Gas (BBG) dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat. ? Menurutnya, percuma membuat dua harga, yaitu harga subsidi dan harga komersial jika daya beli tidak meningkat.

Pernyataan ini disampaikan dalam Diskusi Panel Ahli PP ISNU bertema LPG Naik, Salah Siapa? Di gedung PBNU, Selasa (14/1) yang juga dihadiri oleh Ali Mundakir (VP Corporate Communication Pertamina), Said Didu (mantan Sekretaris Menteri BUMN), dan Darmawan Prajodjo (pengamat energi).

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU: Harga BBM/BBG Harus Sesuai Daya Beli Masyarakat

Sebelumnya, Pertamina menaikkan harga jual LPG non subsidi tabung 12 kg sebesar 68 persen atau 3.959 per kg, yang kemudian di protes masyarakat sehingga diturunkan lagi kenaikannya hanya 1.000 per kg.

Muhammadiyah Asli

Ia menjelaskan, rakyat tetap akan kembali ke harga yang lebih murah sesuai dengan kemampuan daya beli. Dengan kata lain, potensi migrasi ke tabung elpiji 3 kg sangat besar jika harga jual non-subsidi sepenuhnya dilepaskan ke mekanisme pasar. Ujungnya subsidi meningkat.

Muhammadiyah Asli

Ia meminta agar UU Migas yang menjadi tonggak liberalisasi industri migas nasional dirombak. Dalam UU tersebut, fungsi Pertamina tidak lagi mengemban tanggung jawab pelayanan publik. Pertamina juga tidak boleh sepenuhnya komersial sesuai dengan UU tersebut karena BUMN ini istimewa dibandingkan dengan BUMN lain, yaitu menangani barang publik yang strategis karena migas bukan hanya penting bagi negara, tetapi juga menguasai hajat hidup orang banyak.

“Terlalu berisiko melepaskan ke mekanisme pasar dengan ? kalkulasi bisnis komersial biasa bagi BUMN yang menangani komoditas yang strategis. Menggunakan kalkulasi bisnis biasa terbukti tidak efektif, karena toh Pertamina tetap harus menjual barang non subsidi (LPG 12 kg) di bawah harga keekonomian mengingat daya beli masyarakat.”

Kerancuan konsep saat ini, menurut Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini membuat semua pihak melanggar UU. Pemerintah melanggar UU Migas karena menganut rezim liberalisasi harga BBM/BBG yang terlarang menurut keputusan MK. Pemerintah juga melanggar UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas karena mematok rugi harga jual barang komersial Pertamina tanpa menetapkan selisihnya sebagai subsidi. Disisi lain, Pertamina juga melanggar UU BUMN dan UU Perseroan Terbatas karena menjual komoditas komerasial di bawah biaya produksi yang merugikan perusahaan bertahun-tahun, padahal sebagai perseroan, Pertamina harus untung. Dan jika rugi, kerugiannya tidak bisa langsung dipotong dengan pengurangan dividen ke pemerintah karena akan mengacaukan sistem akuntansi keuangan negara.

Menurut Ali Masykur, sialng sengkarut soal penetapan harga elpiji non-subsidi ini merefleksikan kekacauan tat kelola migas nasional yang harus dirombak total, dengan konsep yang lebih sejalan dan seiring dengan konstitusi. (mukafi niam)

Foto: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Syariah, Pesantren, Internasional Muhammadiyah Asli

Selasa, 14 November 2017

Lakpesdam NU Batang Adakan Diskusi Peran Strategis Medsos

Batang, Muhammadiyah Asli. Penyebaran paham radikalisme yang semakin luas akhir-akhir ini tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi khususnya penggunaan media sosial seperti twitter, facebook, dan youtube. Hampir semua informasi dapat masuk kepada seseorang nyaris tanpa sensor melalui perangkat gawai seperti komputer tablet dan ponsel pintar yang semakin murah.

Oleh karena itu, PC Lakpesdam NU Batang pada 6 Juni 2015 lalu mengadakan Diskusi bertajuk ‘Ideologisasi dan Peningkatan Kapasitas Aktivis Media Sosial NU untuk Mempromosikan Islam Rahmatan Lil Alamin’ di Gedung PCNU Batang, Jawa Tengah dengan Narasumber Savic Ali, Pimred Muhammadiyah Asli dan Tata dari Sekretariat Jaringan Gusdurian.

Lakpesdam NU Batang Adakan Diskusi Peran Strategis Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Batang Adakan Diskusi Peran Strategis Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Batang Adakan Diskusi Peran Strategis Medsos

Nur Faizin, Sekretaris PC Lakpesdam NU Batang menjelaskan, bahwa tujuan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan para aktivis media sosial NU tentang strategi pemanfaatan media sosial sebagai sarana kampanye dan promosi Islam rahmatan lil aalamiin.

Muhammadiyah Asli

Dalam materinya, Savic Ali memaparkan, bahwa media sosial adalah produk zaman modern yang tidak bisa lagi dinafikan peran strategisnya dalam menyampaikan informasi. "Barangsiapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia," tegas Savic.

Sedangkan, Tata dari Seknas Gusdurian menjelaskan bahwa gerakan di media sosial saja belumlah memadai untuk melakukan sebuah gerakan perubahan. "Harus disertai dengan gerakan di dunia nyata dengan mengonsolidasikan semua stakeholder," jelas Tata.

Muhammadiyah Asli

Wakil Ketua PCNU, Drs M Kamal Yusuf, menyambut baik dengan adanya kegiatan tersebut karena media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana dakwah. PCNU berharap kepada Lakpesdam NU untuk mengonsep strategi dakwah dengan pemanfaatan media sosial untuk menyebarkan ajaran Islam yang ramah ke seluruh penjuru dunia. (Arif Hakim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Daerah, Internasional Muhammadiyah Asli

Minggu, 12 November 2017

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri

Saya teringat dulu—kira-kira tahun 2006 atau 2007, saya lupa—ketika dengan semangatnya seorang teman mengajak saya untuk menonton acara Ngaji Bareng Gus Dur yang disiarkan oleh sebuah televisi lokal Jawa Timur langsung dari Masjid Sunan Ampel Surabaya. Teman saya ini pecinta berat Gus Dur, dan karena tahu bahwa saya juga mengidolakan sang tokoh bangsa itu maka dengan semangatnya ia memanggil saya.

Dalam acara itu Gus Dur menyampaikan beberapa pokok materi tentang agama, masalah kebangsaan, dan kenegaraan. Ini bisa dipandang salah satu cara Gus Dur untuk mendidik masayarakat dalam kedewasaan berpolitik.

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri

Di akhir acara dibukalah kesempatan bagi yang mau bertanya. Ada sekirtar 4 sampai 5 penanya. Pertanyaan mereka bervariasi, ada yang bertanya tentang peningkatan taraf hidup petani, sikap sebagai seorang warga negara bahkan sampai pada masalah mengapa Gus Dur bekerja sama dengan Israel. Semua itu dijawab dengan jelas oleh Gus Dur. Beberapa hal penting diuraikan secara panjang lebar sehingga memakan waktu hampir separuh waktu tanya jawab.

Muhammadiyah Asli

Namun di sini saya tidak ingin menjelaskan semua pertanyaan dan jawaban itu sedetail-detailnya. Saya hanya akan membahas satu bagian dari wacana Gus Dur yang disampaikan waktu itu dan saya rasa cukup menarik.

Ketika menyampaikan masalah tentang bagaimana kita bersikap terhadap pemimpin, Gus Dur mengatakan bahwa bagaimanapun seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat itu haruslah dihormati. Bahkan ketika dianggap salah pun tetap harus dihormati sebagai seorang pemimpin rakyat.

Muhammadiyah Asli

Adalah menarik membahas cerita Gus Dur ketika itu di masa sekarang. Karena beberapa waktu terakhir ini publik diramaikan dengan masalah memilih pemimpin yang baik.

Diceritakan bahwa Gus Dur pernah diajak kakek yang sekaligus diaggap guru yang sangat berpengaruh baginya, yakni KH Bisri Syansuri untuk berkunjung (silaturrahim) kepada seorang kepala desa. Gus Dur kaget karena kepala desa yang dimaksud ternyata beragama Nasrani. Kemudian Gus Dur memberanikan dirinya untuk bertanya: “mengapakah sang guru harus mengunjungi kepala desa itu, padahal dia non-Muslim?”

Kemudian jawaban sang guru pun disampaikannya, bahwa meskipun non-Muslim tapi kita harus tetap menghormatinya. Kemudian Gus Dur lalu menyimpulkan di depan para jamaah bahwa bagaimanapun seorang pemimpin harus dihormati.

Namun demikian, saya memiliki dua kesimpulan lain di samping hal itu. Pertama: bahwa kasus kepemimpinan non-Muslim di Indonesia (yang mayoritas Islam) adalah sudah lama terjadi. Kedua bahwa para ulama terdahulu tidak mempersoalkan pemimpin non-Muslim, dan hal inilah yang teramat penting untuk kita pelajari saat ini.

Adalah bisa dibayangkan, bagaimana seorang KH Bisri Syansuri yang merupakan orang yang teguh memegang fiqih (jurisprudensi Islam) yang ketat-ketat, tapi tak mempersoalkan kepemimpinan non-Muslim di desanya. Seorang ulama besar murid dari ulama besar pula baik dari Indonesia sendiri maupun Timur Tengah. (Ahmad Nur Kholis)



Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Sholawat, Olahraga, Internasional Muhammadiyah Asli

Sabtu, 11 November 2017

NU Mesir: Sarjana NU Jangan Kemarab Keminggris

Kairo, Muhammadiyah Asli. Demi menggugah kembali rasa nasionalisme warga NU, Lembaga Seni dan Kebudayaan Nahdlatul Ulama (LSBNU) PCINU Mesir bekerjasama dengan Tebuireng Center Kairo membedah film yang menceritakan perjuangan pendiri NU Hadrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, “Sang Kiai”.

NU Mesir: Sarjana NU Jangan Kemarab Keminggris (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Mesir: Sarjana NU Jangan Kemarab Keminggris (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Mesir: Sarjana NU Jangan Kemarab Keminggris

Acara yang diadakan pada Jum’at, 14 Maret di Aula sekretariat PCINU Mesir ini juga mengangkat diskusi tentang NU terkait kebangsaan dan pesantren. Pembicara kali ini menghadirkan Wakil Katib Syuriah PCINU Mesir, Ahmad Ginanjar Sya’ban (Kang Aceng).

Sekitar 20 orang kader NU Mesir mengikuti acara ini dengan seksama. Dimulai dengan pemutaran Film setelah shalat maghrib berjamaah yang dipimpin ketua PCINU, Khozin Dipo. Dilanjutkan dengan dialog terkait NU dan keindonesiaan.

Muhammadiyah Asli

Kang Aceng, dalam kesempatan ini menyinggung banyak hal terkait pesantren sebagai salah satu pilar utama dalam mengkader paham Ahlussunnah wal Jama’ah dan komponen penting dalam membina warga NU yang militan.

Muhammadiyah Asli

Kang Aceng mengatakan bahwa NU didirikan untuk menjadi salah satu representasi Islam yang menjadi ciri khas Indonesia. Guru-guru dan kiai NU banyak yang belajar di negeri Arab, namun tak lantas menjadikan Indonesia menjadi ‘’kemarab” (kearab-araban). Demikian juga diharapkan sarjana Barat tak menjadikan warga NU menjadi “keminggris” (kebarat-baratan).  

Karena menurutnya, salah satu ciri bangsa yang besar adalah bangga  terhadap kebudayaan dan tradisi yang kita miliki. Dan ini yang harus dimiliki oleh anak Indonesia sekarang ini, yang mudah sekali "meniru-niru" bangsa lain—bahkan sudah lupa terhadap sejarah bangsa sendiri.

Namun demikian, bukan berarti kita harus menafikan peradaban bangsa lain, akan tetapi perlu, guna memperkaya wawasan. Kang Aceng juga menekankan pentingnya pesantren membekali santrinya untuk menghadapi hal-hal yang waqi’iyyah atau kekinian.

Diskusi menjadi semakin menarik, berbagai wawasan kemudian dilontarkan peserta terkait NU dan kiprahnya untuk Indonesia. Sedikit menyinggung tentang kritik terhadap Film “Sang Kiai” juga disampaikan. Tepat pukul 22.15 waktu setempat, acara ditutup dengan makan bersama. (Mabda Dzikara/Abdullah Alawi)

        

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Internasional Muhammadiyah Asli

Kamis, 09 November 2017

Tim Rukyat NU Lihat Hilal di Sejumlah Lokasi

Jakarta, Muhammadiyah Asli. Tim rukyatul hilal Lajnah Falakiyah NU yang disebar di sejumlah lokasi di Indonesia berhasil melihat hilal, diantaranya di Bukit Condrodipo Gresik, Pelabuhan Rabu Sukabumi dan Pesantren Al Hidayah Basmal Jakarta Pusat.

Tim Rukyat NU Lihat Hilal di Sejumlah Lokasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Rukyat NU Lihat Hilal di Sejumlah Lokasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Rukyat NU Lihat Hilal di Sejumlah Lokasi

“Dengan demikian, bisa dipastikan Idul Fitri akan jatuh pada, Senin 28 Juli 2014,” kata wakil ketua LFNU Nahari Muslih di gedung PBNU, Ahad sore.

Bukan hanya tim dari LFNU, menurut Nahari, tim rukyatul hilal dari Kementerian Agama juga telah melihat hilal, diantaranya di Makassar Sulawesi Selatan. 

Muhammadiyah Asli

Temuan tersebut, kata Nahari, menjadi masukan bagi sidang isbath yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. 

Terlihatnya hilal di sejumlah lokasi ini terjadi mengingat ketinggian hilal sudah diatas 2 derajat, yang menjadi batas minimal bulan bisa dilihat dengan mata telanjang. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli

Muhammadiyah Asli Berita, Makam, Internasional Muhammadiyah Asli

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock