Selasa, 14 November 2017

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial

Jakarta,Muhammadiyah Asli. Para Gusdurian mengadakan tahlilan 40 hari wafatnya Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh, Jumat (7/3) malam. Acara yang diniatkan meneladani Rais Aam tiga periode ini dilaksanakan di aula lantai 8 gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 64 Jakarta Pusat.

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial

Para anak muda dari berbagai organisasi tumplek blek memenuhi aula lantai 8 hingga meluber keluar. Acara yang diinisiasi Jaringan Gusdurian ini dimulai dengan tahlil yang dipimpin Abdul Moqsith Ghozali.

Para hadirin tampak khidmat mengikuti tahlil yang di-ruusi dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut. Acara kemudian dilanjutkan diskusi “Fiqih Sosial” yang dimoderatori Ulil Abshar Hadrawi. Diskusi yang dinamakan Forum Jumat Pertama Gusdurian ini menghadirkan dua narasumber, yakni KH Husein Muhammad dan Dr Saiful Umam.

Muhammadiyah Asli

Dalam pemaparannya, Kiai Husein menjelaskan bahwa Mbah Sahal merupakan sosok yang resah terhadap stagnasi Fiqih. Oleh karenanya, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini mencoba melakukan kontekstualisasi Fiqih. “Kiai Sahal menempatkan Fiqih sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum negara,” ujarnya.

Muhammadiyah Asli

Kiai Sahal, lanjut kakak kandung Dr Ahsin Sakho Muhammad ini, memiliki genuinitas fiqih. Dalam Bahtsul Masail, misalnya, ketika menukil ta’bir atau istinbath (penggalian) hukum dari kitab-kitab kuning tidak serta-merta menolak pendapat yang diambil dari ulama semisal Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

“Selama ini kan pendapat dua tokoh tersebut selalu ditolak. Namun, Kiai Sahal berpendapat lain. Beliau meminta untuk tidak menggeneralisir semua pendapat kedua tokoh itu layak ditolak. Bisa jadi, pendapat mereka berdua dapat dijadikan pembanding atau memiliki sudut pandang lain,” terangnya.

Kiai yang aktif di Yayasan Puan Amal Hayati ini menambahkan, Kiai Sahal jelas berpikir tepat sekali lantaran mengamalkan pepatah Arab: “Undzur maa qaala, wa laa tandzur man qaala.” (Perhatikan apa yang dikatakan, jangan siapa yang bicara).

Menurut Koordinator Seknas Gusdurian Indonesia Alissa Wahid, acara ini merupakan pertemuan bulanan pekan pertama civitas Gusdurian. “Diskusi bulanan tadi sebetulnya baru pemanasan. Jadi, mestinya ditindaklanjuti pada pertemuan berikutnya,” ujarnya. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Muhammadiyah Asli Berita, Ulama, Kiai Muhammadiyah Asli

Ini adalah web log Muhammadiyah Asli. Gusdurian Tahlilan dan Diskusi Fiqih Sosial di Muhammadiyah Asli ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Muhammadiyah Asli sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Muhammadiyah Asli. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Muhammadiyah Asli dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock