Gorontalo, Muhammadiyah Asli. Salah satu tradisi Gorontalo adalah tumbilotohe atau disebut tradisi pasang lampu. Tradisi tersebut dimulai pada hari ke-27 malam Ramadhan yang diadakan setiap tahun. Pada saat itu, rumah, jalan, dan persawahan dipenuhi lampu botol.
Keramaian tumbilotohe mengalami pasang surut setiap tahunnya. Hal itu disebabkan kelangkaan dan naiknya harga bahan bakar minyak tanah yang mengakibatkan masyarakat tidak terlalu banyak memasang lampu botol saat tumbilotohe.
| NU Muda Gorontalo Banjir Orderan Lampu untuk Tumbilotohe (Sumber Gambar : Nu Online) |
NU Muda Gorontalo Banjir Orderan Lampu untuk Tumbilotohe
Kekhawatiran itu, menjadi salah satu perhatiaan anak-anak Muda NU Gorontala dalam menjaga dan merawat tradisi tersebut. “Sayang jika tradisi yang sudah ratusan tahun itu hilang hanya akibat kelangkaan dan naiknya bahan bakar minyak tanah,” ungkap Djemi Raji melalui siaran pers yang diterima Muhammadiyah Asli (15/6).Muhammadiyah Asli
Menjawab persoalan itu, tambah pegiat Gusdurian Gorontalo ini, anak-anak muda NU yang tergabung dalam Jaringan Ekonomi dan Politik NU (Jempol NU), melakukan langkah kreatif untuk memenuhi kebutuhan pesanan lampu botol. Mereka mendasain lampu dengan mengunakan tenaga listrik.Menurut Kepala Biro Ekonomi Jempol NU Gorontalo Hery Ibrahim, kreativitas yang mereka ciptakan adalah untuk meminimalisir pengunaan bahan bakar minyak tanah yang belebihan dan menekan polusi akibat pengunaan lampu botol. Sementara tradisi tersebut tetap dipertahankan.
Muhammadiyah Asli
“Kami berharap, produk yang kami ciptakan ini mendapat perhatian pemerintah agar masyarakat Gorontalo lebih bersemangat dalam memeriahkan tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun,” lanjutnya.Hingga hari ini, Hery menambahkan, banyak yang telah memesan lampu botol hasil ciptaan mereka. “Orderan lampu botol tercatat ada 800 set. Harga per setnya 400 ribu,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)
?
Dari Nu Online: nu.or.id
Muhammadiyah Asli Kiai, AlaSantri, Tegal Muhammadiyah Asli

EmoticonEmoticon